
"Kakak, apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa tidak turun memilih baju untuk besok?"
Rara menghampiri kakaknya yang sedang duduk menatap laptop yang dibawa tadi. Bocah cilik itu duduk di dekat Rein.
"Hm, ini semakin jelas," gumam Rein menyentuh dagunya.
"Jelas kenapa, Kak?" tanya Rara bingung.
"Lihatlah, ini rekaman cctv di rumah Bibi jahat itu, dia keluar buru-buru seperti sedang ingin menemui seseorang. Aku ingin meretas ponselnya, tapi aku tidak tahu nomor Bibi jahat itu," jawab Rein sedikit berdecak.
"Wah, kakak kau hebat sekali sampai menjebol sistem keamanannya. Kakak, kau tidak takut akan dicari oleh ayahnya jika ketahuan? Kau bisa saja masuk polisi!" kata Rara sangat kagum.
"Tenanglah Rara, aku punya nama samaran, lokasiku juga sudah aku amankan. Mereka tidak akan bisa memecahkan nama dan lokasi asliku, kakakmu ini sudah hebat di dunia hackers."
Rein menyombongkan dirinya diberi tepukan tangan oleh Rara.
"Ngomong-ngomong apa Mommy sudah sampai?"
"Belum, Kak. Memangnya kenapa?"
"Ayo kita turun, sepertinya Mommy sudah dekat," ucap Rein menutup laptopnya kemudian menyimpannya baik-baik di dalam laci.
"Bagaimana kakak tahu?" tanya Rara turun dari tempat tidur.
"Aku sudah memberi alat pelacak di ponsel Mommy," jawab Rein tersenyum miring. Dia seperti menganggap Ibunya adalah buronan yang harus diawasi setiap saat.
"Wah pantas saja tadi kakak menelpon, rupanya kakak Rein tahu kalau Mommy belum berangkat ke sini," kagum Rara bertepuk tangan lagi.
"Itulah, Mommy dan Daddy kalau sudah berdua saja, mereka langsung asik bersama dan pastinya lupa sama kita," celetuk Rein memonyongkan mulutnya merasa telah dikalahkah dari ayahnya itu. Keduanya pun turun mencari Rain, adik bungsu mereka yang asik lompat sana sini melihat setelan baju untuk mereka bertiga bersama nenek dan kakeknya.
"Rara dan Rein sini sama Oma, sayang!" panggil Nyonya Mira menyuruh dua anak itu mendekatinya.
"Kenapa Oma?" tanya keduanya serempak.
"Fufufu, kalian semakin besar ya, dua bulan lalu Oma masih ingat kalian masih kecil. Tidak disangka Ayah kalian benar-benar merawat cucu Oma dengan baik," jawab Nyonya Mira tertawa.
"Hmm, Daddy memang yang terbaik!" seru Rara ikut tertawa.
"Sini Oma pakaikan baju," pinta Nyonya Mira memanggil Rain juga. Seketika ketiganya pun berjajar di depan Nenek dan tentunya Kakek mereka yang lagi diam-diam makan manisan.
"Nah sudah selesai," ucap Nyonya Mira telah usai memasangkan baju untuk mereka.
"Oma, kenapa kita pakai ini sekarang? Bukannya dipakai besok?" tanya Rain sambil melonggarkan sedikit kerah lehernya.
"Karena Oma mau foto cucu Oma. Kebetulan juga Oma dan Opa kalian sedang pakai baju ini juga, ayo kita foto bareng, iya kan sayang?" terang Nyonya Mira menepuk pundak suaminya.
Pak!
Uhuuuk uhuukk
Tuan Raka sampai terbatuk-batuk ditepuk secara tiba-tiba, dia pun menoleh dengan mulut yang penuh dengan manisan. Mata Nyonya Mira seketika berapi-api, dia marah melihat suaminya itu sedang curi-curi manisan.
"Sayang!" pekik Nyonya Mira langsung menjewer telinga suami tercintanya itu.
"Aduuu aduuuh, ampun sayang! Lain kali tidak diulang lagi," ringis Tuan Raka kesakitan.
Tiga anak kembar terperanjat melihat kakek mereka dimarahi, mereka diam-diam menertawai pasangan tua ini. Walau muka Tuan Raka agak galak dan dingin, rupanya dia lemah bila di samping istrinya.
"Kamu ya sudah dibilangi jangan terlalu makan manisan! Kenapa masih bandel!" celoteh Nyonya Mira melipat tangan sambil mendengus.
"Manisan ini kan tidak mengandung banyak kadar gula sayang, nggak apa-apa lah suamimu ini makan sedikit," keluh Tuan Raka mengelus telinganya yang sudah lama jadi korban cubitan istrinya.
"Oma, kenapa Opa tidak boleh makan?" tanya Rara duduk di pangkuan Nyonya Mira.
"Rain tau, pasti gigi Opa sudah ompong kan jadi Opa dilarang makan manis-manis," Tunjuk Rain ke pipi kakeknya.
"Lah, mana ada ompong! Cucu Opa jangan bicara asal ya," timpal Tuan Raka mencubit gemas dua pipi Rain.
"Hahahaha, kok ngomong gitu?" tawa Nyonya Mira, kecuali Rein yang sedang menatap ke pintu utama, dia menunggu orang tuanya yang belum datang juga sore ini.
"Karena gigi Rain sudah ompong nih, Oma!" sahut Rain memperlihatkan gigi bolongnya.
"Puftt," Rein diam-diam menertawai kepolosan adiknya yang jujur sekali.
"Hahaha, Rain sudah semakin besar ya, giginya sudah bolong satu," tawa Tuan Raka mengelus kepala Rain.
"Eh, kalau gigi sudah ompong memangnya bikin orang cepat besar ya, Opa?" tanya Rara sedikit iri pada Rain yang dapat pujian dari kakeknya.
"Hm, benar sekali. Rara dan Rein giginya masih utuh atau sudah ada yang bolong?" Tuan Raka balas bertanya.
"Hmm, kami masih utuh, Opa." Rara dan Rein menjawab serempak.
"Yahh kalau begitu kalian belum besar dong," ucap Tuan Raka tersenyum miring. Rara dan Rein mendengus mendengar ucapan kakeknya.
"Hihihi, Rain duluan yang besar," tawa Rain cekikikan dan meledek Rara habis-habisan.
"Oma, Rara juga mau ompong, Rara nggak mau Rain cepat tumbuh duluan," rengek Rara merajuk ke Nyonya Mira.
Tuan Raka menjerit dicubit lengannya oleh istrinya itu.
"Sayang, jangan ngomong sembarangan lagi! Bikin suasana jadi rusuh nih!" celetuk Nyonya Mira tidak terima. Rein menertawai mereka yang berdebat.
"Baiklah, sini kita foto bareng!"
Tuan Raka bangkit dan menyuruh fotografer yang telah dipanggil untuk mengambil gambar mereka. "Ayoo senyum," kata fotografer pada Triple R. Rara dan Rain tersenyum lebar kecuali Rein yang tersenyum kecut.
Ckrek!
Fotografer menyimpan hasil foto-fotonya. Dia pun pamit pulang untuk membuat album foto itu. Fotografer pun keluar dan tidak sengaja berpapasan dengan Rafa, Manda dan Valen.
"Nona Valen?"
Valen tersentak, dia pun berhenti diikuti oleh Manda dan Rafa.
"Ini sungguh Nona Valen?" Fotografer itu terkejut mendapati mantan selebriti yang terlibat kasus kriminal ada di depan matanya. Valen menelan ludah, dia agak trauma untuk berurusan dengan kamera setelah diwawancarai massa sebulan yang lalu.
"Ahh, kamu fotografer ya?" tanya Manda menunjuknya.
"Benar, Nona Sheila. Saya dipanggil untuk memotret anak-anak anda, dan sekarang apa Nona Sheila sungguh yang membebaskan Nona Valen dari penjara?" tanya Fotografer itu merasa dapat info baru untuk temannya agar dapat diterbitkan ke perusahaan berita.
"Ah rupanya sudah tersebar luas ya," cengir Manda garuk-garuk pipinya.
"Kenapa Nona Sheila membebaskan Nona Valen?" tanya fotografer itu lagi.
"Karena ...." Manda berhenti, dia tidak tahu mau jawab apa, apalagi bukan dia yang bebaskan.
"Karena Nona Sheila wanita yang baik, saya sangat bodoh telah memanfaatkannya enam tahun ini, dan kini saya ingin menebus kesalahan saya padanya. Dia bahkan telah menganggap saya sebagai temannya Nona Sheila." Valen maju menjelaskan dengan ragu.
"Haha, itulah. Aku hanya ingin belajar nyanyi jadi ya aku bebaskan," sambung Manda merangkul lengan Valen. Rafa tercengang mendengar alasan bodoh Manda yang malah bilang ingin belajar nyanyi. Rafa menepuk jidatnya jika istrinya mungkin ERROR.
"Wah bagus sekali, tetapi apa Nona Valen masih berhubungan dengan Nona Delsi? Saya dengar Nona Delsi juga ikut sebagai tersangka, dan sampai sekarang jadi buronan di seluruh kota. Apa kalian memang awalnya berteman?" tanya fotografer itu semakin penasaran.
"Cih, nih orang banyak tanya-tanya juga. Tapi bagus juga sih, dia bisa memancing Valen untuk mengatakannya," gumam Rafa sedikit gregetan ingin rasanya mau menonjok orang itu.
Manda dan Valen terdiam, dia pun menatap Valen yang tidak dapat menjawabnya. "Teman? Aku tidak pernah menganggapnya teman, begitupun Delsi sebaliknya tidak pernah berkata begitu. Kecuali Sheila yang hari ini tiba-tiba katakan itu padaku," batin Valen melihat Manda yang tersenyum padanya.
"A-aku,"
"Astaga, maaf. Sepertinya aku harus pergi, waktuku hari ini sangat padat, maaf telah mengganggu kalian," ucap fotografer pun pergi dari sana, dia harus bergegas memberi info ini jika Sheila dan Valen telah berdamai. Valen menghela nafas lega dalam hatinya dia terselamatkan.
"Apa sih tuh orang, kayak lagi kejar marketing saja asal pergi gitu," celetuk Manda kesal.
"Sayang ayo kita masuk," tarik Rafa membawa Manda masuk ke dalam rumah. "Valen! Ayo masuk juga!" panggil Manda menengok ke belakang. Valen mengangguk, dia pun mulai deg-degan menginjakkan kakinya ke rumah Tuan Raka.
Tiga anak yang sedang sibuk dibantu oleh pelayan untuk mengganti pakaiannya, mereka terkejut dengan kedatangan Ibu dan ayahnya. Senyum mereka langsung merekah, Rara lari dan cepat lompat ke Rafa, sontak dia pun ditanggap oleh sang Daddy.
"Mommy dan Daddy dari mana saja?" tanya Rara sedikit merajuk.
"Hehehe Daddy kamu ini habis berkelana ke dalam goa sama Mommy, sayang," jawab Manda sekali lagi membuat Rafa melongo. Bisa-bisanya dia katakan itu pada Rara, tapi mau bagaimana pun Rara tidak paham.
"Oh ya, coba tebak Mommy ke sini bareng siapa?" tanya Manda kini menghampiri dua anaknya yang lain. Dia pun duduk di sofa kecuali Rafa naik ke lantai atas untuk memanggil orang tuanya.
"Hm, sama Daddy dong Mom," jawab Rein pasti.
"Hihihi salah, coba kalian lihat ke pintu," tawa Manda menunjuk ke arah pintu utama yang terbuka lebar. Ketiga anak menoleh, mereka terkejut Valen masuk menghampiri mereka.
"Halo, Rain," ucap Valen tersenyum manis. Rain ingin menghampirinya tapi dia tidak mau dimarahi oleh dua kakaknya lagi hingga dia pun mengabaikan Valen. Valen tentu terkejut tidak ada yang menyapanya.
"Apa ini, kenapa tiba-tiba aku kesal?" batin Valen melihat Manda, serasa dia sedang dipermalukan di depan para pelayan. Manda mendesis, dia tahu Valen pasti akan berpikir salah. Dia pun bangkit dan mengajak Valen duduk.
"Ayo Val, kita duduk sama-sama, sepertinya Ibu dan ayah mertuaku sedang berada di atas. Kau tunggu saja di sini," ajak Manda menariknya duduk.
"Anak-anak, mulai sekarang kalian harus baik ya sama Bibi Valen," tambah Manda.
"Untuk apa? Tante ini jahat, Mom!" cetus Rein.
"Eh, tidak jahat kok, Tante Valen sudah baik, dia bahkan temannya Mommy. Kalian nggak boleh bilang gitu lagi."
"Baik, Mom."
Rara dan Rein pun bersalaman tanda berdamai kecuali Rain yang hanya memberi Valen sebutir permen karet. "Nih, buat Tante," ucap Rain dengan datar. Manda dan dua kakaknya jadi terkejut dengan sikap acuh Rain. "Terima kasih, Rain." Valen menerimanya dan tak lupa tersenyum walau harus menerima sikap Rain begitu.
Manda pun pamit ke atas meninggalkan dua anaknya, dia menarik Rein naik ke lantai atas. Valen terdiam ditatap oleh Rara dan Rain. Sontak dua orang tua yang ditakutinya berjalan menuruni anak tangga. Valen pun menunduk deg-degan, dia serasa tidak punya nyali untuk mengangkat dagunya.
"Tch, rupanya ada tamu tak diundang ya..."
Nyonya Mira dan Tuan Raka berdecak tidak karuan.
___
Kalau saja bukan target🤧author sudah tamatkan kemarin lalu. Tapi mau gimana lagi, author harus paksakan tambah alurnya🤧terima kasih banget buat kalian yang masih betah🌹. Btw masih ada 15 ribu kata yang harus author selesaikan. Jujur, jadi penulis itu emang susah😭hisss...