
Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba, Manda dan Rafa sudah siap berangkat ke pernikahan Noah dan Nerin bersama anak-anak kembarnya. Dari masalah Valen ini, Manda jadi lupa dengan Noah dan Nerin dan sekarang dia harus fokus hari ini pada Noah dan Nerin.
"Daddy, kok Mommy belum turun juga, ini kan sudah jam delapan pagi, nanti kita kesiangan tiba di rumah Oma nih," ucap Rain sedikit merajuk.
"Mungkin Mommy masih dandan," sambung Rara sambil mengunyah permen karet.
"Tunggu saja, pasti Mommy akan turun," tambah Rein sambil duduk santai memainkan ponselnya.
"Hm.. tapi ini sudah lama Ibu kalian belum turun. Baiklah, kalian tunggu sini, Daddy akan ke atas." Rafa pun berjalan menaiki tangga, dia juga sudah jenuh menunggu Manda.
"Sayang, keluarlah!" panggil Rafa mengetuk pintu kamar. Berkali-kali pun tetap saja belum terbuka. Rafa pun greget ingin masuk, tapi lebih cepat pintu itu terbuka. Dia diam terpana dengan istrinya yang tersenyum manis.
"Hehehe, aku lama ya?" cengir Manda mengoyangkan kepalanya ke kiri kanan.
"Tidak, kau sangat cantik."
Manda tersentak, bukan itu jawabannya, tapi Rafa malah reflek memujinya.
"Ahhh, aku kan dari dulu emang cantik. Kamu jangan puji aku terus deh," ucap Manda malu-malu mengenakan gaun berwarna biru laut dengan kilauan dari mutiara kecil di gaun itu.
"My Princess, you beutifull!"
"Hahaha, sudah deh! Ayo kita turun ke anak-anak." Manda melingkarkan kedua tangannya ke leher Rafa.
"Boleh nggak aku cium?" pinta Rafa berkedip-kedipkan mata.
"Nggak, boleh! Nanti make up aku luntur!" tolak Manda melepaskan Rafa. Tapi Rafa merangkul tubuh istrinya. Dia berbisik ke telinga Manda. Tiba-tiba Manda membola, dia cemberut dapat bisikan Rafa.
"Ahhhh.. sayang."
Manda mendes4ah ketika Rafa mengecup lehernya, mengigit leher istrinya.
"Ahhh kamu kenapa jahil banget sih, kan leherku merah nih!" gerutu Manda.
"Hmm... aku tidak jahil, aku cuma kasih tanda kalau kau milikku. Aku khawatir dan tidak mau seseorang mengganggu istriku! Kalau ada sampai menyentuhnya, dia patut di hukum telah melecehkan istri Presdir Rafandra. CEO perusahaan hotel yang termasyur di kota ini. Perusahaan Grop ANDRAMONS terbesar di seluruh kota di negara ini, dan dunia!"
Manda tertawa merasa lucu melihat Rafa menyombongkan dirinya.
"Kalau Papimu sengaja menyentuh tanganku, apa kamu akan hukum dia?" tanya Manda iseng ingin mengetesnya.
"Tentu saja, hukum tetap hukum! Papi kan sudah punya Mami, jadi dia harus dihukum karena tidak tahu diri!"
"Hihihi, ulululu ekspresi suamiku lucu banget deh. Patut jadi anggota penegak hukum nih," gemas Manda mencubit dua pipi suaminya.
Tap!
Keduanya tiba-tiba tersentak ketika hentakan kaki yang banyak berasal dari sebelah mereka. Manda dan Rafa menoleh dan langsung cengengesan melihat tiga anaknya berkacak pinggang sudah lama menunggu.
"Ihhh Daddy ngeselin! Katanya mau panggil Mommy turun, malah adik main cubit-cubitan! Nanti kita telat nih!" Ketiganya merajuk.
"Hahaha, aduh... maaf ya sayang. Yok kita berangkat ke sana cepat."
"Eits, tunggu Mommy!" tahan Rara.
"Hm, kenapa Rara?" tanya Rafa ke puntrinya.
"Mommy sangat cantik hari ini," puji Rara tersenyum.
"Tapi bagus kalau Mommy pakai berlian yang dulu Rara kasih, tapi kenapa Mommy tidak pakai itu? Apa Daddy tidak bikin kalung buat Mommy?"
Manda tersadar, dia hampir lupa dengan liontin berlian birunya.
"Berlian? Berlian apa nih?" tanya Rafa dan dua anak lelakinya.
"Haha, cuma berlian biasa, Rara pernah kasih tapi aku sudah lupa taruh di mana," jawab Manda berbohong.
"Yah, Mommy kok lupa sih," desis Rara agak kecewa.
"Maaf ya sayang, Mommy sudah ceroboh. Tapi Rara jangan sedih, nanti Mommy cari setelah kita dari sana."
"Baik, Mommy."
Rara pun menarik Ibunya turun duluan, kecuali Rafa dan dua anaknya yang penasaran masih berdiri di tempat.
"Daddy, Kak Rein, Rain, ayo sini!" panggil Rara menyadarkan mereka. Sontak ketiganya cepat menyusul.
Setelah sampai ke lokasi pernikahan Noah, si kembar terkagum-kagum dengan resepsi pernikahan yang megah dan besar, bahkan ini lebih besar dari pernikahan Ibu dan ayah mereka. Itu karena banyak tamu yang datang. Ketiganya pun pamit untuk mencari sepupu mereka. Manda mengizinkan asalkan mereka dikawal oleh penjaga. Mereka pun paham lalu masuk duluan.
"Sayang, kayaknya Noah serius deh nikah sama Nerin," bisik Rafa mulai jalan masuk bersama Manda.
"Hm, sepertinya begitu. Apa mereka sudah move on ya sama kita?"
"Eh, move on sama kita? Kok rasanya agak aneh sayang?" kaget Rafa berhenti.
"Aneh kenapa?" tanya Manda tidak paham.
"Ya anehlah, Nerin sih wajar move on sama aku, tapi kamu malah bilang move dari kita, harusnya kamu bilang Nerin sudah move dariku, bukan kita!" jawab Rafa meluruskan.
"Lah jadi aku salah nih?" tanya Manda menunjuk dirinya.
"Ya salahlah, sayang."
"Ih, aku nggak salah tau!" protes Manda.
"Eh, kok malah sewot?" bingung Rafa merasa aneh.
"Siapa yang sewot? Aku ini tidak salah sudah bilang gitu, kamu jangan ejek aku dong!" cetus Manda tampak tidak terima.
"Lah kan Noah sama kamu nggak ada hubungan sayang, kamu jangan marah ginilah," kata Rafa nunjuk ke dalam.
"Ih siapa bilang, Noah itu mantan aku tau!" ujar Manda marah, dan sontak kaget.
"Apa, mantan? Noah mantan kamu? Sejak kapan kalian pernah pacaran?" Tunjuk Rafa agak shock.
"Astaga, apa yang sudah aku katakan nih?" batin Manda menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sheila! Jujur, kapan kalian pacaran?" desak Rafa.
"Emhh... itu, sejak SMA! Nah itu, dia itu dan aku pernah pacaran, hm..." jawab Manda terpaksa jujur.
"Sheila, tega banget kau ya sayang sama aku!"
"Loh kok aku?" tunjuk Manda ke dirinya.
"Iyalah, dulu kamu bilang aku cinta pertamamu, dan sekarang rupanya kamu mantan Noah, sudahlah aku mau pulang." Rafa berbalik kesal, dia merasa Manda telah munafik selama ini.
"Lah jangan dong, nanti anak-anak marah," tahan Manda memeluknya dari belakang membuat sebagian tamu heran melihatnya.
"Bodo amat,"
"Iiih kalau aku diculik atau anak-anak diculik gimana? Kamu mau bodo amat terus?" celoteh Manda merentangkan tangan di hadapan Rafa.
"Kamu nggak mau kan aku seperti Valen kemarin malam?" tambah Manda mencoba menahan Rafa.
"Ya sudah, ini demi anak-anak," ucap Rafa balik kembali dan masuk dengan sesal teramat sesal.
"Lah, demi aku nggak ada nih?" tanya Manda jalan di sampingnya.
"Hmp, bodo amat!" jawab Rafa jalan cepat mencari anak-anaknya.
"Hiiissss, kok ngambek sih! Dia saja punya mantan, aku nggak marah gitu, hisss... dasar suami kok baperan banget!" celetuk Manda dalam hati. Dia pun menyusul Rafa.
Kini dua insang di atas aula telah dipertemukan, Nerin tampak berdebar-debar di pasangkan cincin pernikahan. Hari ini, jam ini, menit ini, detik ini, keduanya pun resmi menjadi suami istri setelah mengikat janji suci pernikahan. Manda bertepuk tangan kecil melihat Noah mengecup kening Nerin. Dia membayangkan kalau Nerin adalah Helena. Tapi dalam benak Manda, Nerin tetaplah Nerin, pengantin wanita yang cantik dan anggun melebihi Helena.
Rafa pun semakin kesal melihat Manda tersenyum. Dia pun menutup kedua mata istrinya itu.
"Loh kenapa nih?" tanya Manda ke Rafa.
"Tau ah, bodo amat!" jawab Rafa masih ngambek.
Triple R tersentak melihat dua orang tuanya tampak tidak akur. "Huftt, orang dewasa memang sulit dimengerti. Tadi di rumah Mommy dan Daddy mesra-mesraan, sekarang kayak kucing dan tikus." Rein dalam hati geleng-geleng kepala.
"Se-selamat atas pernikahan kalian," ucap Manda tersenyum manis pada kedua pengantin.
"Te-terima kasih Sheila, dan maaf aku pernah jahat padamu," balas Nerin tersenyum manis juga.
"Hahaha, santai saja. Orang jahat mah nggak akan jahat terus, akan ada waktunya dia bakal tobat kan?" ucap Manda sedikit sindir. Noah tersenyum kecil mendengarnya, dia tahu sifat Manda yang suka nyindir ke orang yang jahat padanya, seperti dia dulu, disindir sebagai sampah.
"Oh ya, kalian ini sangat mengejutkan loh buat kami, kenapa ya kalian tiba-tiba menikah? Padahalkan dulu Nerin itu-"
"Karena kami saling mencintai, Sheila," potong Noah merangkul pinggang Nerin. Manda terkejut, bukan karena pernyataan Noah, tapi dirinya dipanggil Sheila.
"Wahh, kemajuan yang sangat pesat. Semoga kalian bahagia dunia dan akhirat. Kami permisi dulu ya," ucap Manda menarik Rafa. Dia bahagia sekali karena Noah alias Rangga sudah melupakannya. Rafa yang ditarik cuma cemberut saja.
Acara pernikahanpun usai, sebagian tamu telah pulang dan sebagian lagi mengobrol dengan keluarga besar Noah. Anak kembar Manda masih betah ingin tinggal. Rafa dan Noah duduk di sebuah bangku panjang. Dia kepo dengan hubungan Noah dengan Manda dulu yang pernah pacaran. Noah tentu terkejut ditanya soal itu. Dia pun jujur untuk memanasi Rafa.
"Oh rupanya Sheila sudah kasih tahu ya, hmm... ini sangat mengejutkan," ucap Noah.
"Nggak usah banyak bacot, katakan apa benar kalian pernah pacaran sejak SMA?" tanya Rafa gregetan.
"Ya gitulah, kami pernah pacaran. Emang kenapa, kamu cemburu udah tau?" balas Noah tanya.
"Nggak, bodo amat." Rafa berpindah ke tempat anak-anaknya berada.
"Dih, ketus banget jawabnya. Dasar laki-laki vangsat'!" Noah meneguk anggurnya sambil melihat Nerin yang bicara pada Manda. Noah pun mengeluarkan kalungnya, dia pun bangkit ingin memberikannya pada Manda. Namun sekilas saja Manda sudah tidak ada di dekat Nerin.
"Nerin, kemana Sheila?" tanya Noah ke istrinya itu.
"Em, buat apa cari istri orang?" selidik Nerin tidak suka.
"Aduh jawab aja napa," kata Noah kesal ditatap begitu.
"Jawab dulu, kau cari Sheila buat apa?" tanya Nerin.
"Nih, kalungnya jatuh, aku mau kasih dia," jawab Noah memberikan kalungnya.
"Wah, bukannya ini puanyamu?" Nerin mengambilnya.
"Ini asli bukan punyaku, ini punya Sheila. Jadi dari pada kamu terus curiga, lebih baik kau kasih sendiri," ucap Noah.
"Ya sudah, aku ke toilet dulu, Manda tadi ke sana." Nerin pun membawa kalung itu, menyusul Manda. Noah pun mangut-mangut lalu duduk menunggu mereka. Tiba-tiba dia sekilas melihat seseorang pelayan tampak ingin ke toilet, dan Noah awalnya mengabaikan itu, tapi dilihat terus menerus pergerakannya mencurigakan, Noah pun bangkit ingin mengikuti pelayan itu sebelum dia hilang.
"Hufft, kepalaku mulai sakit nih, ssss... mungkin ini terlalu banyak pikiran," ringis Manda memijit kepalanya habis buang air besar. Dia hanya sendirian di toilet umum itu dan tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, Manda pun menoleh lalu berkata.
"Siapa?"
"Shei, ini aku Nerin, apa kau baik-baik saja?"
Manda pun membukanya dan langsung tersenyum.
"Cuma agak pusing sih, tapi sudah baikan. Kenapa ke sini?" tanya Manda.
"Ini, Noah mengembalikan kalungmu." Manda terdiam menatap kalung itu. "Ini punya kamu kan?" tanya Nerin agak ragu.
"Hahaha, rupanya dia yang temukan kalungku, untung saja tidak diambil orang lain. Kau beruntung punya suami yang baik sekali, terima kasih ya, Nerin." Manda memujinya.
"Haha, sama-sama. Kalau begitu aku duluan lagi ya," ucap Nerin pamit ingin kembali untuk bersalaman pada tamu yang tersisa. Manda mengangguk lalu masuk ke toilet lagi untuk memperbaiki make upnya.
Nerin pun menghela nafas, dia agak gengsi meminta maaf ke Manda soal di kolam renang. Dia pun berjalan ke lorong dan sontak berpapasan dengan pelayan yang memakai topi hingga wajahnya tidak jelas dilihat. Pelayan itu pun menunduk, lalu melewati Nerin. Nerin ingin menghentikannya, dia ingin tanyakan apa para tamu telah pulang atau tidak, tapi setelah berbalik, dua matanya melihat pelayan itu mengeluarkan pisau. Nerin membola, dia gemetar lalu mundur cepat. Dia keluar mencari Rafa untuk melihat Manda di dalam toilet. Dia agak cemas setelah melihat pelayan itu tampak mencurigakan. Jika saja dia tidak hamil, mungkin Nerin bisa mencegatnya, tapi Nerin tidak mau ambil resiko.
"Nerin, ada apa denganmu?" tanya Noah meraih tangan Nerin yang keluar dengan ketakutan.
"No-noah, co-coba kamu ke dalam, barusan aku lihat ada pelayan bawa pisau dan Sheila ada di dalam, aku khuwatir pelayan itu orang jahat!"
Noah terperanjat mendengarnya, dia pun bergegas masuk sedangkan Nerin pun lanjut mencari Rafa.
"Sudah aku duga, pelayan itu pasti-"
Bersambung...
Dikit lagi tamat🤧dan bakal ada yang meninggol salah satunya🤧