Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 93 : Tinggallah


Sudah tiga jam berlalu, operasi belum selesai juga. Rafa yang masih menunggu di luar berkali-kali mendatangi tiga anaknya, dia kuatir Triple R berkeliaran di rumah sakit. Tapi untungnya, Sekretaris atau Kakak iparnya yang kini menggantinya untuk melihat anak-anak mereka.


"Huftt, semoga saja hasilnya memuaskan dan Sheila dapat sembuh setelah ini, dia sudah lama menderita di keluarga William. Inilah saatnya aku membahagiakan dia selamanya. Ya Tuhan, semoga istriku kembali seperti sediakala."


Rafa mengusap wajahnya, dia pun menunduk dan merenung. Dia mulai berpikir tentang Noah yang tiba-tiba ingin menikahi Nerin.


"Apa mereka punya rencana dibalik semua ini?" pikirnya sedikit resah. Resah karena mantannya sendiri akan menjadi Tantenya nanti.


"Cih, mereka menyebalkan!"


Setelah meneguk air untuk melegakan tenggorakannya. Rafa teringat dengan ucapan Manda lalu. Rafa menyentuh dagunya, dia pun menatap pintu ruang operasi yang tidak jauh darinya.


"Apa yang sebenarnya kau ingin jelaskan padaku, Shei? Mengapa kau selalu berkata omong kosong yang tidak masuk akal, seakan-akan kau seperti orang lain saja," gumam Rafa menghela nafas ringan kemudian melihat ponselnya.


"Entah, kemana lagi Valen pergi. Jika dia tidak berada di rumah Ayahnya, lantas ke mana dia bersembunyi? Serta siapa yang sudah membebaskan dia?"


Semua pertanyaan ini berputar-putar di dalam kepala Rafa. Dia bingung dengan yang terjadi akhir-akhir ini. Noah yang ingin menikahi Nerin, Valen yang kabur dari penjara, serta Delsi yang tidak diragukan lagi berada di kota ini dan pastinya mengincar Manda. Rafa meremas rambutnya, dia cukup pusing sekarang. Tapi dia akan semampunya melindungi Manda dan anak-anaknya.


Tiba-tiba Rafa secepatnya menengok ke arah pintu yang terbuka. Dua brankar dikeluarkan dari dalam oleh perawat. Mereka membawa keduanya ke ruangan lain. Dokter menghampiri Rafa yang ingin ikut, tapi dicegatnya cepat.


"Tenanglah, Presdir. Mereka berdua baik-baik saja, operasinya berjalan sangat dengan baik dan keduanya sedang butuh istirahat jadi tidak dapat untuk diganggu sementara," jelas Dokter dengan tenang.


"Syukurlah, terima kasih, Dok!"


Dokter terdiam melihat pria di depannya tersenyum senang mendengarnya. Dokter pun turut senang melihat Rafa tampak mengkhuatirkan istrinya. Untung saja Senja memiliki fisik yang sangat baik, hingga seratus persen cocok untuk Manda. Dokter menepuk bahu Rafa untuk ke ruangan Senja dan Manda, dia harus lanjut melakukan pemeriksaan berikutnya.


Rafa mengangguk, dia pun duduk dan diam-diam menangis. Tiba-tiba saja dua matanya basah mendengar laporan Dokter. Rafa mengusap dua matanya, dia harus ke ruangan anak-anaknya untuk memberitahu pada mereka jika Manda dan Senja telah usai dioperasi.


Setelah sampai, ketiga anaknya berdiri dan bergegas menghampirinya. Raut wajah mereka ingin tahu apa yang akan diucapkan sang Daddy.


"Daddy, kenapa ke sini?" tanya mereka serempak.


Rafa berlutut, dia memeluk, merangkul, mengecup kepala anaknya, serta tak lupa membelai rambut mereka. Dia pun berkata dengan terharu. "Mommy kalian sudah dioperasi, Ibu kalian tidak akan lama lagi bisa kembali pulang ke rumah, ini berkata doa kalian sayang," jawab Rafa mencium pipi mereka lagi.


"Benarkah? Mommy akan sembuh?"


"Apa Mommy tidak akan sakit lagi?"


"Mommy tidak akan menderita lagi kan, Daddy?"


Ketiga anaknya itu bergantian melontarkan ucapannya ke Rafa. Rafa mengangguk cepat. Anak-anak memeluknya, kemudian berlari keluar untuk mencari Ibu mereka. Rein tidak ketinggalan, dia ikut berlari untuk mengawasi dua adiknya. Kini tinggal Rafa dan Kakak iparnya serta anaknya yang ditimang.


"Terima kasih, berkat kalian anak-anakku kembali ceria," ucap Rafa tulus pada pria di sampingnya.


"Saya juga berterima kasih kepada Presdir sudah mau memilih saya bekerja bersama anda," balasnya tersenyum ke Rafa.


Rafa menepuk bahu kakak iparnya, dia pun berkata: "Santai saja, kau tidak perlu memanggilku, Presdir. Kau adalah suami dari kakak angkat istriku, kau juga termasuk keluargaku. Terima kasih, Daaren."


"Sama-sama, Rafa."


Kedua pria itu semakin akrab. Bukan antar bawahan dan atasan, melainkan antara keluarga juga. Rafa dan Daaren pun menyusul si kembar.


Sementara di mansion Tuan Alkazein, sore ini keluarga Nerin telah sampai. Mereka disambut dengan ramah oleh Opa Alka dan Oma Liana, tidak lupa orang tua Rafandra ikut menyambutnya dengan senang hati. Tidak seperti Nerin yang gugup dan tegang berada di antara mereka. Sementara Noah hanya menunduk dan menatap terus menerus kalung di yang terpasang di lehernya. Nerin penasaran mengapa Noah kadang berbeda-beda. Nerin merasa jika Noah bisa bersikap lembut, kemudian kembali kasar.


"Delapan tahun yang lalu, dia begitu jengkel padaku, bahkan tidak menyukaiku. Tapi kenapa dia harus bersusah payah menikahiku? Padahal dia bisa saja mengabaikan aku atau menyuruhku untuk aborsi. Tapi dia ingin mempertahankan janin di rahimku. Sebenarnya, mengapa kau seperti ini? Apa karena kau anggap aku Helena? Atau masih ingin balas dendam padaku?" Semuanya berkecamuk di benak Nerin. Dia kuatir dan takut akan dipermainkan setelah menikah.


"Nerin, apa kalian sungguh ingin menikah?" sahut Papa Nerin kepadanya. Nerin menunduk, dia melirik sebentar Noah yang tidak bicara.


"Nerin, apa Noah memaksamu?" tambah Oma Liana ingin tahu.


"Aduh, kenapa tambah tegang gini, kalau aku salah bicara pasti masalah ini akan makin runyam dan Noah tidak akan melepaskanku. Tidak mungkin kan aku bilang sedang hamil ke Papa, bisa-bisa aku dibunuh sama Papa sudah mencoreng nama keluarga," batin Nerin gelisah luar biasa.


"Nak, ayo katakan, apa Noah memaksamu atau kalian-" ucap Papa Nerin terputus akibat Noah menyahut.


"Kami saling mencintai, karena itulah saya ingin menikahinya. Saya bersungguh-sungguh dan tidak akan mempermainkan putri anda,"


Nerin terhenyak, dia cukup terkejut mendengarnya. Tapi dia juga sedikit kagum pada Noah yang tampak gagah di depan ayahnya.


"Sungguh? Nerin baru sebulan di sini, dan kalian sudah yakin ingin menikah?" sekali lagi Papa Nerin bertanya untuk keputusannya nanti.


"Ya, Pah, Mah. Aku ke pergi ke sini untuk bertemu Noah, kami sudah lama mencintai, hingga aku sendiri datang untuk menemuinya," ucap Nerin mulai cari alasan akibat Noah diam lagi.


"Jadi begitu, pantas saja kau buru-buru terbang kemari. Tapi bukan kamu kan yang minta untuk dinikahi, Nerin?" tanya Mamanya kali ini curiga.


"Bu-bukan, aku tidak pernah minta untuk dinikahi. Noah sendirilah yang datang kepadaku dan ingin serius padaku, Mah."


Nerin gemetar menjawab pertanyaan Ibunya. Kedua orang tua Nerin merasa lega melihat putrinya tampak baik-baik saja. Mereka pun setuju untuk menikahkan Noah pada putrinya. Pembicaraan pernikahan pun selesai, mahar yang telah disediakan akan dikirim secepatnya ke kediaman keluarga milik Nerin. Waktu pernikahan cukup mengejutkan Noah dan Nerin karena waktu mereka hanya seminggu, dan itu sangat cepat.


"Ya sudah, terima kasih untuk hari ini. Keluarga kalian sangat ramah, kami tidak salah untuk menikahkah mereka," ucap Papanya Nerin pamit ingin pergi.


"Kami juga berterima kasih kalian ada waktu untuk terbang kemari. Untuk hal lain, kami pasti akan mengurusnya," ucap Kakek Alka yang berada di samping istrinya pada mereka.


"Baiklah, kalau begitu Nerin tinggallah di sini sementara," ucap Papanya membuat Nerin tersentak begitupun Noah dan juga lainnya.


"Ke-kenapa aku harus tinggal, Pah?" tanya Nerin pada kedua orang tuanya.


"Nak, mansion kita harus direnovasi sebagian. Kau tinggallah baik-baik di sini," jawab Papanya.


"Benar, sekalian kau bisa menjalin baik dengan mertuamu, bukankah begitu?" tambah Mamanya Nerin pada semua keluarga Tuan Alkazen. Oma Liana meraih tangan Nerin, dia tersenyum sangat ramah dan lemah lembut membujuknya.


"Tinggallah, Nak."


"Ba-baiklah, Tante," ucap Nerin pun setuju.


Kedua orang tua Nerin pun menuju ke arah mobil mereka lalu melambai ke Nerin dan kemudian pergi ke mansion mereka untuk secepatnya bersiap merenovasi ulang tempat tinggal mereka.


Nerin dan Noah bertatap muka, keduanya langsung memalingkan wajah ke arah berlawanan membuat Oma Liana dan Opa Alka mengernyit heran. Begitupula Tuan Raka dan Nyonya Mira, tidak ketinggalkan Marsya yang jadi mata-mata gosip buat Ibunya nanti.


"Hmm, mereka ini sungguh saling mencintai?" Itulah yang ada dibenak mereka. Tapi mereka segera mengabaikan setelah Nerin diajak ke lantai dua oleh Oma Liana. Tuan Raka dan istri serta Marsya pamit pulang. Kini tinggal Noah dan Papanya yang bertatap muka.


"Sekarang jujurlah sama Papi," ucap Opa Alka tegas. Noah mendesis, dia tahu ayahnya pasti sudah mengetahui alasan dia menikahi Nerin. Noah alias Rangga tahu jika bapak tua itu dapat menebak isi hatinya.


"Jujur apa?" Noah mencoba mengabaikannya.


"Cukup, Papi sudah tahu semuanya. Kau menikahi Nerin karena kau telah menghamilinya," ucap Opa Alka sedikit kecewa. Dia semakin mendekati Noah, rasanya ingin memukul kepala putra keduanya itu. Dia merasa dua putranya selama ini tidak ada yang becus. Sama-sama menghamili istrinya sendiri sebelum nikah.


"Oke, aku tidak sengaja dan bermaksud untuk menghamilinya. Aku mabuk, jadi aku menidurinya, maaf sudah mengecewakan Papi," lirih Noah sedikit gemetar. Dia tahu bapak palsunya ini cukup galak, bahkan kursi saja bisa melayang ke arahnya.


"Huft, Papi pikir kau akan lebih baik dari kakakmu, Raka. Rupa-rupanya kau sama saja dengan kakakmu itu, terutama dengan Rafandra. Anak dan ayah itu sama sepertimu, sangat mengecewakan Papi!" tuturnya marah-marah ke Noah sambil memukul lipatan koran ke tubuh Noah.


Nerin di dekat tangga cukup terkejut melihat Noah dipukul koran, dia diam-diam tertawa seperti sedang menonton anak kecil yang lagi dihukum. "Rupanya masih ada yang lebih keras dan kasar darinya, puft." Oma Liana yang melihatnya juga tertawa kecil, dia pun menyentuh tangan Nerin dan berkata.


"Semoga kau betah tinggal di sini, Nak Nerin. Anggap saja rumah sendiri," ucap Oma Liana sangat lembut. Nerin menunduk, dia sedikit bimbang. "Baiklah, sepertinya tidak ada salahnya aku memulai hidupku yang baru di keluarga ini. Tapi kalau aku Oma Liana tau aku hamil, apa dia akan marah?" batin Nerin gelisah.


"Kemarilah, Tante akan mengantarmu ke kamar." Oma Liana menarik Nerin, dia membawanya meninggalkan suaminya yang masih mengoceh di bawah sana bersama Noah.