Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 117 : Manda


Pov Manda_


Kepalaku terasa sangat berat, sampai-sampai kedua mata ini tidak dapat aku buka saking menahan denyutan yang terasa mulai pusing. Ingatan terakhir itu masih samar-samar ku ingat dan kemudian dengan perlahan ku buka dua mata ini dengan sedikit paksaan.


Putih dan masih samar-samar yang aku lihat, mungkin aku sedang berada di surga? Oh salah, itu terlalu jauh untuk dibayangkan. Aku buang jauh-jauh pikiran itu kemudian dengan pelan-pelan aku mengangkat tangan kananku ke atas. Rupanya aku sedang berada di rumah sakit dengan tangan yang diinfus. Pakaian seperti pasien pada umumnya.


"Ke...kenapa aku di sini?"


Aku berpikir sejenak.


"Aku ada di rumah sakit, dan itu mungkin karena aku habis ditusuk oleh Delsi? Tapi kemana semua orang?"


Aku beranjak duduk lalu membuka alat pernafasan kemudian ku raih kantong infus dan sebuah syall abu-abu di atas meja. Aku pun memakainya lalu turun dari brankar. Dua kaki yang berpijak di lantai ini sangat jelas tubuhku begitu lemah. Dengan bantuan dinding, aku berjalan sambil berpegangan pada dinding di sampingku itu. Langkahku menuju ke pintu yang berada di depanku.


Nafasku agak sesak, namun terasa ada yang beda. Rasanya punggung yang ditusuk harusnya bisa kurasa sakit, namun sama sekali tidak ada rasa nyeri apa-pun.


Cklek!


Pintu akhirnya dapat kubuka sendiri. Ku condongkan kepalaku keluar kemudian menengok ke kanan dan ke kiri.


"Kemana Rafa dan yang lainnya?"


Aku masih mencari sosok suami dan anakku, namun yang ada di depan mata hanyalah orang lain yang lewat silih bergantian.


"Apa mungkin mereka lagi di ruang Dokter?"


Aku pun dengan berani keluar dan membawa kantong infus, berpikir mungkin mereka ada di sana. Namun setiap melangkah, aku melirik orang di sekitarku tampak sedang takjub. Aku merasa aneh ditatap seolah-olah mereka melihatku seperti benda yang menakjubkan.


"Cih, apa yang mereka pikirkan tentangku? Ada apa dengan tatapan mereka? Apa mungkin aku telah berbuat kesalahan?"


Cepat-cepat aku berjalan dan menyusuri lorong-lorong di depanku. Tidak lupa dua mataku terus mencari keberadaan Rafa dan si kembar. Namun aku pun berhenti dikala merasa ada yang janggal.


Aku pun berlari cepat mencari kembali Rafa setelah tubuhku merasa ada getaran aneh. Tanpa menoleh, aku terus berlari ke depan, hingga tak sengaja seseorang yang berjalan dari arah lain langsung kutabrak.


"Ahhhh...."


Aku terjatuh ke lantai, sementara orang yang aku tabrak tidak jatuh sama sekali, dia cukup kuat menahan efek tabrakan tadi. Akan tetapi, aku sangat terkejut karena itu adalah Nerin. Aku segera berdiri menatapnya dengan sedikit gelisah. Gelisah karena memikirkan pernikahannya dengan Noah yang mungkin telah aku kacaukan akibat insiden di toilet. Tetapi, saat aku mau tanyakan soal Noah dan Rafa, dia sangat cepat bicara duluan dan setelah itu aku sangat terkejut mendengar ucapannya.



...[Visual Nerin/Helena]...


"Oh Manda?"


"Manda? Dia memanggilku Manda? Bukankah harusnya, Sheila?" pikirku ada yang beda.


"Ne-nerin, maaf tadi aku sudah menabrakmu, apa kamu terluka?" tanyaku ingin buktikan yang ada di dalam kepalaku. Aku berpikir dia itu Nerin, tapi dugaanku sangat salah.


"Hah, Nerin? Sejak kapan namaku begitu? Kau jangan coba-coba meledekku!" ujarnya marah dan sedikit mendorongku ke belakang. Untung saja aku dapat menjaga keseimbangan untuk tidak jatuh lagi.


"Be-bentar, namamu sungguh bukan Nerin?" tanyaku sekali lagi.


"Heh, apa ini. Kau sengaja seperti orang amnesia di depanku agar kau dapat menghinaku sesuka hati?" kata Helena merasa bahwa Manda sedang sandiwara lupa ingatan.


"Ti-tidak, aku tidak amnesia. Aku ini Sheila, harusnya kamu panggil aku Sheila bukan Manda, Nerin!" ujarku masih berpikir jika dia adalah Nerin.


"Hahaha, Sheila? Apa kau sedang berkhayal jadi orang lain agar aku tidak marah padamu?" tawa Helena kemudian berdecak.


Aku menunduk, meremas rambutku dengan kuat.


"Helena? Apa mungkin dia ini Helena? Jika begitu, apa aku sudah kembali lagi?" pikirku bertanya-tanya.


"Katakan! Siapa kau!" tambahku meraih kerah lehernya dan meminta dia jujur.


"Manda! Kau kurang ajar sekali, kau pikir aku ini penjahat yang bisa kau tarik sembarangan, ha!" bentaknya kesal padaku.


Seketika itu pun dadaku semakin sesak setelah mendengar pernyataannya.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Aku-aku tidak seharusnya ada di sini!"


Helena terlonjak kaget melihatku jongkok dan meracau dengan segala macam perkataan aneh. Helena ketakutan dan ikut berjongkok. Mungkin dia berpikir telah melukai perasaanku hingga merasa bersalah, ditambah tatapan semua orang tertuju pada kami.


"Hei Manda, ada apa denganmu?"


Helena menarik bahuku untuk melihatnya, sontak dia makin terkejut melihatku menangis.


"Manda... apa yang terjadi padamu?" Helana kembali bertanya. Dia terlihat khawatir, mungkin karena kondisi mentalku terlihat aneh yang tiba-tiba menangis.


"Katakan, siapa kau?" ucapku dengan bergetar dengan air mata berderai turun.


"Manda, aku-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu barusan. Sebenarnya aku ke sini mau datang meminta maaf padamu, maafkan aku telah merusak hubunganmu dengan Rangga."


Mendengarnya berkata demikian, air mataku pecah. Aku menangis bukan karena permintaan maafnya, tapi aku belum percaya telah kembali dan meninggalkan Rafa dan tiga anakku lagi. Helena terus minta maaf dan memelukku.


"Maaf Manda, aku telah khilaf."


Tangisku semakin pecah, aku pun mencari kalung berlian itu, namun tidak ada sama sekali. Aku tertunduk menangis sesugukan. "Apa kalung itu telah jatuh? Atau jangan-jangan aku sedang bermimpi?" Ku tepuk berkali-kali dada yang terasa makin sesak ini. Aku belum siap untuk kembali di dunia ini.


"Manda tenanglah," ucap Helena meraih tanganku. Ku tatap dua matanya, dia tampak tulus minta maaf. Tapi dengan kata maaf, apa kebahagiaan itu akan aku rasakan lagi?


Aku menyapu air mataku, lalu tersenyum dengan paksa. Aku tidak lagi marah padanya, aku telah ikhlas. Tapi bagaimana dengan Rangga?


"Helena, sudah berapa hari aku dirawat?" tanyaku ingin tahu.


"Setelah kau koma lima bulan, kau kembali dirawat, dan sudah seminggu kau tidak sadarkan diri setelah kau alami komplikasi. Tapi rupanya kau malah sadar hari ini, aku beruntung dapat bertemu denganmu dan meminta maaf padamu. Maaf Manda, aku telah menyakitimu."


Kali ini Helena yang menangis. Tatapan mata yang basah itu sangat mirip dengan Nerin. Aku pun memeluknya, benar-benar sudah melupakan masalah kami yang lalu.


"Ka-kalau begitu, gimana kabar Rangga?" tanyaku dengan suara serak. Helena berdiri dan membantuku juga. Helena pun menjelaskan sambil sedikit menunduk.


"Rangga, dia telah siuman beberapa hari yang lalu," lirih Helena tampak belum kuat untuk jujur.


"Syukurlah," ucapku merasa lega dan ingin mengunjunginya namun Helena menangis.


"Hiks... dia berhasil siuman, tapi dia amnesia. Dia tidak ingat apa-pun, bahkan dia lupa denganku dan orang tuanya."


Aku terguncang mendengarnya, ini sangat mengagetkan. "Jika dia amnesia, itu artinya dia mungkin tidak ingat sama Rafa dan anak-anakku?" batinku merasa cukup hancur. Padahal aku ingin tahu mengapa bisa kembali ke dunia ini, tapi nyatanya Rangga malah amnesia.


"Kau tidak bohong kan?" tanyaku belum yakin.


"Aku sungguh tidak bohong." Helena menggelengkan kepalanya. Dia mungkin merasa sakit karena perjuangannya menunggu Rangga sadar malah hasilnya menyakitkan. Seketika kami berdua menoleh setelah seorang pria memanggil kami.


"Helen, kenapa kau menangis?" tanyanya dengan lembut memeluk Helena di depan mataku. Dia adalah Rangga, dan tampak tidak ada sedikit pun lirikan mata untukku. Pria yang memakai baju yang sama denganku itu benar-benar tidak mengenalku.


"Rangga, ini aku lagi ketemu sama teman lama," jawab Helena menunjukku. Saat itulah dua mata kami bertemu. Rangga tersenyum biasa lalu kembali melihat Helena.


"Helen, jangan jauh-jauh dariku. Sekarang kita kembali," ajak Rangga menarik tangan Helena ingin membawanya pergi. Helena menengok ke belakang, dia terlihat sangat bersalah padaku, tapi aku cuma memberinya senyuman pahit dan melihat keduanya pergi.



"Hiks...hiks... apa tidak ada kesempatan lagi untukku kembali?" isakku pergi membawa kantong infus. Sekarang kemana lagi kaki ini harus melangkah? Rafa dan Triple R telah tiada di sisiku, lantas apa gunanya aku ada di sini?


Sekali lagi aku menengok ke belakang dan Rangga sama sekali tidak menengok. Padahal banyak sekali yang ingin aku tanyakan padanya.


Pov berakhir_