Istri Reinkarnasi, CEO Kejam

Istri Reinkarnasi, CEO Kejam
Bab 89 : Hilang


Cklek!


Rafa masuk ke ruang rawat istrinya, dia terlihat lelah namun seketika kaget melihat tiga anaknya tertidur bersama anak kecil.


"Eh, siapa anak ini?" gumam Rafa mendekatinya.


"Dia anaknya Senja," sahut Manda mengejutkan Rafa.


"Loh sayang, kenapa tidak tidur juga?" Rafa mendekati Manda yang sedang terbaring menatapnya. 


"Tidak bisa tidur, aku khawatir padamu," jawab Manda menggenggam tangan Rafa.


Chup! Rafa mencium kening Manda lalu duduk di sampingnya. 


"Istirahatlah," lirih Manda menyentuh pipi Rafa.


"Nanti setelah aku dapatkan pendonor untukmu, sayang." 


Manda beranjak duduk, memeluk Rafa dari samping lalu berkata: "Anak kecil itu lucu kan?" tanya Manda menatap anak Senja.


"Ya, dia menggemaskan. Tapi di mana orang tuanya?" 


"Keluar."


Rafa sedikit kesal mendengarnya, bukan ke Manda tapi ke Senja yang meninggalkan anak mereka di sini.


"Pufft, jangan cemberut gitu, saudara angkatku tidak akan lama keluarnya," tawa kecil Manda sambil bersandar ke lengan Rafa.


"Saudara angkat? Senja itu saudara angkatmu?" tanya Rafa sedikit terkejut mengetahuinya. Manda mengangguk dan kemudian memejamkan mata merasakan ketentraman di hatinya. Baru saja beberapa detik, tiba-tiba ponsel Rafa berdering. Rafa segera mengangkatnya, sontak dua matanya membola.


"Benarkah ada pendonor yang cocok?" kaget Rafa sangat senang mengetahuinya. Dia pun mengecup kening Manda lalu berkata: "Aku keluar sebentar dulu ya sayang,"


"Mau kemana?" tahan Manda sejenak.


"Dokter menemukan pendonor cocok untukmu, tidak lama lagi kau akan dioperasi dan setelah itu kita bisa pulang bersama-sama," jelas Rafa lalu  mengecup kening Manda kemudian bergegas pergi untuk mengurusnya.


"Yah, dia pergi lagi. Baru juga mau dimanja, dia malah pergi." Manda cemberut ditinggal kembali. Tapi seketika tersenyum mendengar kabar baik itu. Tidak lama kemudian Senja datang bersama suaminya. Wanita itu menangis sesugukan menghampiri Manda hingga keempat anak yang di sofa terbangun dari tidurnya.


"Eh, kenapa denganmu?" tanya Manda heran dipeluk olehnya.


"Dia sangat kaget," jawab Suami senja.


"Loh, kaget karena apa?"


"Kaget karenamu, Manda."


"Aku? Kenapa denganku?" Tunjuk Manda pada dirinya sendiri.


"Hiks, kata Dokter aku cocok jadi pendonormu. Kau akan sembuh, Manda."


Dua mata tiga anak kembar yang mendengarnya langsung melebar. Triple R mendekati Senja lalu bertanya ulang. Senja mengangguk berkali-kali. Ketiganya tersenyum sumringah lalu melihat Ibunya. Mereka senang ada harapan untuk Ibunya.


Braaak!


Semuanya tersentak kaget segera menoleh ke arah pintu. Senja dan Suaminya membola dapat bertemu langsung dengan Rafandra yang sedang ngos-ngosan karena habis berlari mengejar mereka.


"Ka-kalian, apa kalian baru saja mengajukan donor sumsung ke Dokter barusan?" tanya Rafa pada mereka.


"Itu benar, istri saya bersedia ingin membantu," jawab suami Senja dengan ramah lalu mengecup kepala istrinya.


"Terima kasih, aku senang kalian mau membantu. Katakan saja, apa yang kalian inginkan?" ucap Rafa di samping Manda sambil menggenggam tangan istrinya itu. Dia tidak mau berhutang budi pada Senja sehingga dia tidak akan keberatan memberi apa-pun untuk mereka.


"Haha, kami tidak menginginkan hadiah apa-pun dari anda, Presdir," sahut Suami Senja sedikit tertawa.


"Loh Papa, kamu kan bisa minta pekerjaan sama dia. Papa lupa kalau Papa kemarin habis dipecat sama Bos itu?" cetus Senja agak kecewa merasa suaminya bodoh sudah menolak.


"Sayang, aku tidak mau pakai cara semudah itu. Itu terlalu besar untuk diminta." Suami istri saling berdebat membuat Manda tertawa kecil melihat mereka.


"Rafa, angkat saja Suami Senja sebagai karyawanmu. Sepertinya cuma kau harapan mereka." Manda merangkul lengan Rafa, keinginannya pun terwujud. Rafa menawarkan pekerjaan pada mereka. Begitu terkejutnya pasangan ini dan Manda setelah Rafa bicara.


"Kau sepertinya dapat dipercaya, apa kau mau menjadi sekretarisku?"


Senja dan suaminya saling tatap, kemudian permintaan Rafa disetujui langsung. Senja sangat bahagia suaminya dapat pekerjaan tetap dan lumayan menjanjikan masa depan keluarga kecilnya. Triple R senyum-senyum melihat orang tua mereka mengobrol.


Tanggal operasi telah ditentukan, Senja dan keluarganya pamit pulang bersiap untuk hari menegangkan itu. Manda yang bersandar pun memanggil Rafa.


"Kenapa sayang?" tanya Rafa duduk di kursi samping Manda.


"Ada apa dengan Sekretaris Jho samapi-sampai kau jadikan suami Senja sebagai sekretarismu?"


Rafa diam sejenak lalu menghembuskan nafas ringan, dia pun menjelaskan dengan suara agak kecewa.


"Penghianat, dia diam-diam telah bersekongkol dengan Nerin. Aku tidak sengaja membuka ponselnya dan menemukan obrolan chatnya dengan Nerin. Selama ini dia telah bekerja pada Nerin untuk mematai-mataiku," jelas Rafa mulai emosi mengingat empat hari lalu dia iseng membuka isi ponsel Sekretarisnya.


"Terus, kamu pecat dia?" tanya Manda agak terkejut suami tampannya dikhianti oleh Jho.


"Ya aku memecatnya langsung. Penghianat seperti dia tidak bisa aku percayai lagi. Bisa saja dia diam-diam bersekongkol lagi dengan orang lain untuk menjatuhkan aku."


"Sabar ya, ini sudah ujian untuk kita lalui." Manda mengelus punggung tangan suaminya itu. Rafa mencium tangan Manda dan mengangguk paham.


"Yeeey, jadi Mommy akan sembuh kan, Daddy?" tanya Rara sudah berseri-seri. "Itu benar, Mommy kalian akan sembuh sayang." Rafa menjawab sambil mengacak-acak rambut ketiga anaknya. Manda di antara mereka sangat senang. Untung saja Senja datang menjadi malaikat penyelamatnya. Cuma dia sedikit sedih karena buku Diary lamanya hilang.


Tidak, Diary Manda tidaklah hilang. Diary Manda tidak sengaja dipungut olehnya setelah habis mengamati Manda di rumah sakit. Buku itu kini berada di tangan Noah dan sekarang Pria itu amat sangat terkejut setelah membaca isi Diary itu.


"Manda? Ini sungguh dia?" Noah tercengang di kamarnya. Dia meremas buku Diary itu kuat-kuat.


"Jadi selama ini dia juga ada di sini? Terus kenapa dia tidak memberitahuku waktu di mobil saat itu? Oh benar, ini bagus sekali. Aku dan dia bisa hidup di dunia ini bersama. Ternyata kita ditakdirkan untuk hidup di sini, Manda."


Noah beranjak, dia meletakkan Diary Manda di atas meja dan kalung miliknya. Noah masuk ke kamar mandi untuk bersiap menemui Manda.


"Kali ini, kita tidak akan dipisahkan!"


"Anak yang kau lahirkan selama ini, bukanlah anakmu."


"Kau hanya milikku, bukan pria itu."


Braak!