
Mendengar putrinya dirawat lagi, kedua orang tua Manda bergegas ke ruangannya. Keduanya semakin takut dan cemas tiba-tiba diberitahu oleh satpam saat mengurus administrasi.
"Duh, Pah! Ini gara-gara kamu kelamaan urusnya," desis Ibu memarahi Ayah.
"Mah, Papah lagi urus pembayaran dan tanya-tanya ke teman Papah soal berlian yang waktu itu dikasih ke Papa!" tukas Ayah duduk di ruang tunggu bersama Ibu.
"Berlian? Apa itu induk kalung yang Papa hadiahkan ke Manda?" tanya Ibu sedikit terkejut.
"Benar, harusnya Papa tidak buatkan induk kalung untuknya," jawab Ayah menunduk.
"Loh kenapa, Pah?" tanya Ibu penasaran dan was-was.
"Berlian itu keramat, tidak seharusnya Papa berikan ke Manda! Berlian itu pembawa kesialan," jawab Ayah dengan sedikit keras.
"Kalau gitu, kenapa Papa ambil?" Ibu berdiri dengan kesal.
"Ini salah Papa, Papa terlalu terbuai dengan berlian itu, jadi memintanya. Manda pasti sudah diberikan kutukan sampai asmanya selalu kambuh." Ayah menjelaskan info yang dia dapat dari temannya. Ibu duduk kembali dia mulai menangis. Ayah disamping memeluknya, dia merasa bersalah sudah membuat istrinya menangis sepanjang hari.
Cklek!
Ruang rawat Manda terbuka, kedua orang tua Manda bergegas mengahampiri Dokter Rafael yang menangani putrinya. Ibu dan Ayah kaget karena Dokter itu baru dilihatnya.
"Dokter, bagaimana putri saya?" tanya Ibu cemas.
"Oh jadi ini orang tuanya," batin Rafael lalu sedikit tersenyum.
"Putri kami kenapa, Dok?" tanya Ayah ikut cemas.
"Bapak dan Ibu tidak usah cemas, Manda cuma pingsan, mungkin beberapa hari dia akan sadar lagi," jawab Rafael gugup. Dia terpaksa bohong. "Maaf, sebenarnya dia tidak berada di dalam tubuhnya. Kesadarannya hilang dibawa oleh berlian itu." Rafael membatin merasa bersalah harus merahasiakan.
"Syukurlah, kami benar-benar takut dia akan koma lagi. Kami tidak mau menunggu lima bulan." Ucapan Ayah mengagetkan Rafael hingga dia diam mematung.
"Lima bulan? Selama itu dia diserap oleh berlian? Apa yang sudah diminta oleh gadis itu? Kemana dia dibawa?" batin Rafael bertanya-tanya. Benar, berlian itu seperti perantara setan. Jika meminta sesuatu maka tentu ada bayarannya, seperti tumbal. Mungkin Manda saat berharap untuk masuk ke dalam Novelnya dia dengan tidak sengaja memohon saat kalung itu ada di dekatnya. Itulah mengapa dia berpindah demensi.
"Kami boleh masuk kan, Dok?" tanya Ibu ingin melihat Manda. Rafael mempersilahkan keduanya. Ia pun dan yang lainnya pergi ke ruangan untuk membahas kondisi Manda yang aneh. Tetapi Rafael bergegas keluar, dia tidak bisa tinggal diam saja menunggu berlian itu muncul. Dia harus bawa kembali sukma Manda ke dalam tubuhnya lagi.
Lalu bagaimana dengan Manda? Benar sekali, dia sedang berada di tempat yang asing. Dia perlahan membuka mata dan seketika matanya sakit terkena silauan lampu yang terang. Manda beranjak, dia melihat sekelilingnya seperti ruang rawat.
"Aku di ruanganku? Tapi kenapa beda?" pikir Manda mengira dia berada di ruang rawat sebelumnya tapi dugaannya salah. Sekarang dia berhasil kembali.
"Aduh sakit, kenapa kepalaku nyeri banget," rintih Manda menepuk sedikit kepalanya. Setelah sakitnya perlahan mereda. Manda pun mengerjap-erjapkan matanya. Dia menatap sekitarnya yang memang asing.
"Sepertinya aku berada di ruangan lain. Oh ya, tadi kayaknya penglihatanku hilang, apa aku pingsan ya?" gumam Manda mencabut jarum infusnya dengan pelan.
"Auuuu, sakit!" ringis Manda mengusap bekas infusnya. Setelah itu, dia pun berjalan keluar. Namun saat melewati pintu, dia berhenti dan kaget mendengar suara tidak asing itu berasal dari sampingnya.
"Hei, jangan paksakan diri dulu. Kamu baru sadar kan? Jadi masih butuh istirahat, harusnya kamu tahu itu."
Reflek Manda menoleh ke arah suara itu. Dia terdiam cukup lama menatap lelaki itu tersenyum ke arahnya.
"Ra-rangga?" Mulut Manda serasa bergerak sendiri mengucap nama itu. Tapi dia bukan Rangga, melainkan orang lain.
Noah terperanjat kaget, dia tampak meringis saat Manda menyebut nama itu.
"Rangga? Namaku bukan Rangga, namaku Noah!" kata Noah mendekatinya. Kali ini Manda yang terperanjat kaget.
"Apa, Noah? Ka-kamu serius? Kamu tidak bohong kan?" tanya Manda. Dia belum sadar telah berpindah berkat berlian itu.
"Kamu lagi ngomong apa sih? Kamu kan tahu aku sepupunya Rafa," ucap Noah mulai merasa tidak pusing lagi.
"Ya Tuhan, apa aku kembali?" batin Manda tiba-tiba menunduk. Dia senang dan sedih terikat dengan dua dunia. Dia denang dapat kembali ke dunia ini dan sedih harus membuat kedua orang tuanya menderita.
"Hei kenapa menangis? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Noah melihat Manda terisak-isak.
"Tampar aku, tampar aku, Noah!" ujar Manda meminta.
"What, kau gila ya? Kau mau aku dicincang sama Rafa? Mana mungkin aku berani," tolak Noah keras.
Manda menatap Noah dengan sembab, dia tahu Noah tidak akan lakukan itu, begitupun Rangga dulu yang tidak akan melukainya tapi Manda sudah merasakan disakiti oleh lelaki yang dulu mencintainya. Lalu bagaimana dengan Noah? Apa dia berani menyakiti seorang wanita seperti Rangga?
Noah pun panik, dia secepatnya menghubungi Rafa untuk segera ke ruang rawat Manda. Rafa yang lagi menemani tiga anaknya untuk cek up kondisi kesehatan bergegas ke ruangan istrinya, dia senang mendengarnya sudah siuman dari pingsannya selama tujuh belas hari.
"Tenanglah, jangan menangis." Noah menenangkan Manda, dia membantu Manda berdiri.
"Apa kamu bermimpi buruk?" tambah Noah bertanya. Manda menunduk menggengam kuat tangannya. Tiba-tiba dia merasakan ada benda di dalam genggamannya itu. Seketika dia membola menatap berlian itu ada ditangannya.
"Berlian ini?" Tangan Manda bergetar, dia tiba-tiba ketakutan. Dia pun sadar sepenuhnya jika berlian ini seperti benda portal gaib.
"Wah, berlian yang cantik." Noah terpukau melihatnya, dia terbuai dengan berlian itu. Manda pun tanpa pikir lagi, dia memberikannya ke Noah.
"Ambillah kalau kamu mau," ucap Manda menyodorkannya sambil mengusap matanya.
"Sungguh kamu berikan untukku?" kaget Noah menunjuk dirinya. Manda mengiyakan saja, dia pun berniat untuk tinggal di sisi suami dan anak kembarnya dari pada kembali ke dunia aslinya.
Noah pun perlahan mengambil. Keduanya menyentuh berlian itu di sisi lain. Tiba-tiba cahaya kecil perlahan muncul, tetapi seketika hilang saat tangan Manda tidak menyentuh lagi berlian itu ketika suara Rafa mengagetkannya.
"Sheilla!"
Pluk!
Rafa memeluknya, dia mendekap tubuh istrinya.
"Hei, kamu sudah siuman. Aku sangat khawatir, aku merindukanmu, sayang,"
Chup!
Rafa mencium kening Manda, dia kembali mendekapnya ke dalam pelukan hangat itu. Rafa sangat bahagia dapat memeluk istrinya lagi. Dia sangat khawatir selama tujuh belas hari ini.
Manda terisak, dia menenggelamkan kepalanya ke pelukan itu, dia memeluk erat Rafa. Aroma ini benar-benar milik suaminya.
"Aku juga merindukanmu, hikssss."
Melihat keduanya berpelukan, Noah pergi meninggalkan mereka. Dia merasa aneh, rasanya sakit, sesak melihat Manda dipeluk di depan matanya.
"Huuuh, apa yang terjadi padaku?" pikirnya pergi membawa berlian itu.
Setelah mencurahkan rindu mereka, kini giliran tiga anak kembarnya yang menangis melihat Ibu mereka berdiri sehat bugar di depan mata mereka. Rein, Rara dan Rain memanggil Ibu mereka dengan tangisan.
"Mommy,"
"Kalian… anak-anak Mommy," ucap Manda berlutut dan memeluk ketiganya. Dia senang dengan tangis bahagianya memeluk tiga anak kembarnya lagi.
"Mommy, kami takut kehilangan Mommy,"
Mommy jangan pingsan lagi,"
"Mommy! Janji jangan tinggalkan kami, hiks."
Ketiganya mencium pipi Manda bergantian. Air matanya jatuh berderai. Suasana ini sangat mengharukan. Serasa mereka sudah lama tidak bertemu.
"Maafkan, Mommy. Janji Mommy nggak akan tinggalkan kalian."
Chup!
Chup!
Chup!
Mommy sayang kalian.
Kami juga sayang sekali sama Mommy.
Bersambung. Jangan lupa dilike👍ya biar Manda semangat lanjut bercerita tentang dunia halunya😄.
Sebenarnya author sedih karena banyak yang tidak like cerita ini alias banyak pembaca gelap. Tolong ya semangati Author biar Manda lanjut terus❤thank and see you all.