
Sementara Noah, dia sedang sakit. Dia terlalu banyak menyalahkan dirinya hingga seminggu ini dia jatuh sakit akibat kurang nutrisi yang dia cerna. Na4fsu makan pun menurun, hingga Noah sudah seminggu ini terbaring lemas di atas tempat tidur. Sekaligus dia seringkali membenturkan kepalanya ke dinding sampai meninggalkan bekas luka di pinggir dahinya. Berkali-kali Noah telah dirujuk untuk cek psikologisnya, namun Noah menolak keras.
"Noah, ini aku bawakan bubur, tolong di makan ya," ucap Nerin memasuki kamarnya, dia sangat kasihan melihat suaminya itu sedang tidur membelakanginya. Tetapi Noah tidak bergerak sedikitpun, membuat Nerin segera bangkit dari kursi dan membalikkan tubuh Noah. Sontak, bubur di tangannya jatuh dan tumpah.
"Noah, Noah!" Nerin mengguncang lengan Noah, namun tetap tidak ada respon. Nerin pun keluar memanggil pelayan setelah merasakan suhu tubuh suaminya panas, demamnya semakin tinggi hingga dia pun dirujuk ke rumah sakit.
Setelah mendapat perawatan, Oma Liana pun izin keluar kepada Nerin yang sedang duduk di samping Noah. Dia senang sekali mendapat menantu seperti Nerin yang sabar akan mental Noah yang hancur. Namun setelah keluar dari ruangannya, hari ini dia tidak sengaja bertemu dengan Rafa yang sedang jalan dari ruangan Dokter. Oma Liana pun menahan Rafa untuk berhenti dan menyuruh Rafa jangan salah paham pada Noah. Keduanya duduk bersama dan mengobrol sebentar.
"Rafa, berhenti ya dendam sama Noah. Ini sudah dijelaskan oleh polisi jika Delsi yang menikam Sheila. Jangan salah paham lagi ya, Nak," kata Oma Liana mengelus punggung Rafa yang menunduk. Dia kasihan melihat Rafa yang sedang kacau selama ini. Bahkan terlihat jelas dia tidak terlalu merawat dirinya, rambut acak-acakan, hingga kantong mata terlihat jelas sedikit muncul.
"Hiks... hiks,"
Tangis, Rafa selalu menangis.
"Rafaa..." lirih Oma Liana tidak tega.
"Oma, aku terlalu takut, aku takut Oma, aku takut kehilangannya," kata Rafa sesugukan. Tiba-tiba pundaknya ditepuk dari samping, seketika itupun, dia berdiri memeluk Nyonya Mira yang datang berkunjung.
"Rafa, kuatkan dirimu, Nak. Kau harus sabar, Nak," ucap Nyonya Mira mengelus punggung putranya yang dari dulu memang cengeng.
"Mami, ini salahku, setiap dia dalam bahaya, aku selalu datang terlambat, aku tidak becus melindunginya. Hiks..."
"Sudah jangan menangis, kau sudah berusaha yang terbaik, sekarang tenanglah," ucap Nyonya Mira membelai rambut Rafa. Nyonya Liana tersenyum merasa lega melihat Rafa telah berhasil ditenangkan.
"Oh ya, Mami ke sini bareng siapa?" tanya Rafa mengusap air matanya pakai tissu.
"Tuh sama anak-anakmu," jawan Nyonya Mira menengok lalu nunjuk ke anak kembar Rafa yang dituntun oleh Tuan Raka.
"Loh, kenapa Mami bawa ke sini?" kaget Rafa diam di tempat.
"Tenang, Mami sudah cari alasan, kalau Mommy mereka sakit demam saat diperjalanan pulang, jadi kamu jangan kuatir." Nyonya Mira mengedipkan mata, dia sangat pandai memprediksikan sesuatu dengan tepat.
"Eh, itu Daddy!" seru Rain berhasil melihat mereka. Ketiga anak kembar bergegas lari ke arah mereka. Rara melompat ke Rafa lalu mencium pipi ayahnya.
"Daddy, kita rindu sama Daddy dan Mommy, tapi kenapa Mommy bisa sakit?" tanya Rara yang digendong oleh Rafa.
"Hmm, kita sudah lama tunggu kabar Daddy loh," lanjut Rain cemberut.
"Apa sakit Mommy tidak parah, Daddy?" sambung Rein tampak khawatir setelah diberitahu jika Ibu mereka sakit demam oleh Nyonya Mira.
"Em... itu," ucap Rafa menurunkan putrinya.
"Mommy kalian cuma demam biasa, dia nanti cepat sembuh kok," tambah Rafa tersenyum manis, menyembunyikan raut sedihnya.
"Kalau begitu, Daddy bawa kita ke Mommy,"
"Baiklah."
Rafa pun membawa tiga anaknya. Melihat keluarga kecil putranya, Nyonya Mira berbalik memeluk suaminya, dia menangis tidak tega melihat keluarga itu yang bisa saja tidak akan lama bertahan akibat kondisi Manda belum stabil dengan luka sobek yang mengalami infeksi dan sekarang beberapa upaya telah Dokter coba untuk sepenuhnya untuk menyembuhkan luka tusuk itu yang belum kering. Bahkan akan memakan waktu sekitar tiga minggu untuk mendapatkan hasilnya.
Triple R telah sampai di depan ruangan Manda, Rafa membawa masuk tiga anaknya. Seketika mereka terkejut melihat Manda menggunakan alat bantu pernafasan.
"Ah itu, Mommy kalian agak sesak nafas jadi pakai begitu," jawab Rafa agak bodoh memberi alasan.
"Terus kenapa Mommy tidak bangun?" tanya Rain tampak tidak percaya.
"Mommy kalian lagi tidur, kita jangan berisik ya," jawab Rafa membelai rambut mereka. Triple R masih belum percaya, mereka pun mengajak Manda bicara membuat Rafa agak was-was akan ketahuan bohong.
"Mommy, ini kami datang jenguk, Mommy cepat sembuh ya, kita sudah kangen mau dengar cerita pengantar tidur Mommy," ucap Rain, si bungsi mencium tangan Ibunya.
"Oh ya, Rara bawa kalung loh, Mommy pakai ya," kata Rara meletakkan liontin berlian ke telapak tangan Ibunya.
"Ini ada jam tangan juga buat Mommy, ini hadiah dari kita karena Mommy sudah baik merawat kami," ucap Rein memasangkan jam tangan itu ke Manda. Setelah bicara, Manda tetap belum sadar.
Melihat anak-anaknya, Rafa jatuh terduduk ke lantai, dia tidak kuasa menahan tangisnya mendapat tiga anak yang sangat menyayangi Ibu mereka. Triple R berbalik, mereka terkejut mendapati Rafa sesugukan.
"Daddy kenapa?"
Pluk!
Rafa memeluk ketiganya, dia meminta maaf merasa bersalah.
"Daddy jangan nangis, Mommy kan cuma demam biasa, pasti Mommy cepat sembuh," kata Rara mencium pipi Rafa dengan lembut, bergantian Rain juga, kecuali Rein mengeluarkan jam tangan yang sepasang dengan Manda.
"Daddy, ini hadiah dari kita, terima kasih Daddy sudah jadi ayah yang sayang sama kita," ucap Rein tersenyum lalu memasangkan jam tangan itu ke Rafa. Rafa mengangguk, dia memeluk tiga anaknya. Suasana terasa mengharukan. Tiba-tiba ketiganya terkejut dengan kedatangan Noah yang memang dari awal sudah berniat ingin ke rumah sakit.
"Noah?"
Tatapan Noah sangat tajam pada Manda, serta kalung di genggaman tangan wanita itu. Noah pun melihat Rafa, dan anak-anak. Noah mendekat membuat Rafa berdiri melindungi Triple R. Masih mengira Noah itu jahat. Namun kedatangan Noah bukan ingin itu, dia datang untuk mengatakan yang sebenarnya, jika dia dan Manda bukanlah dari dunia ini, serta mengatakan jika dunia ini berada di kepala Manda. Yang artinya mereka hanyalah ilusi belaka.
"Ilusi belaka? Apa kau sedang gila? Dengan perasaan nyata ini kau kira aku dan anak-anakku hanyalah ilusi selama ini? Kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu itu, bedebah!"
"Kau tidak usah percaya, cukup lihat kenyataannya, Rafa. Tapi jika kau tidak mau melihatnya, maka bacalah buku ini dan sekarang aku akan buktikan bahwa kalian ini hanyalah ilusi," Noah menepis Rafa lalu memberikan Diary milik Manda yang telah dia sisipkan ke dalam bajunya dari awal.
"Ini..." Rafa terkejut Noah memiliki Diary milik istrinya. Noah tersenyum melihat ekspresi Rafa yang telah diprediksi. Mungkin alasan mengapa dia tidak akur selama ini karena dia bukanlah keponakan aslinya Rafa. Noah mendekati Manda, dia meraih sisi lain lionting itu. Rafa yang sibuk dengan pikirannya tersadar setelah tiga anaknya mencoba menjauhkan Noah yang tampak ingin mengecup kening Manda.
"Noah!" ujar Rafa menarik Noah, namun Noah berhasil mendorong Rafa hingga dia dapat lolos mengcup kepala Manda lalu berbisik, membisikkan sesuatu hingga berlian yang tadi terdapat bercak darah seketika bersih dan mulai bercahaya. Mata Triple R dan Rafa melebar merasa terkejut dan terdiam seakan terhipnotis, namun seketika Noah jatuh ke lantai tidak sadarkan diri, bersamaan liontin berlian itu hilang!
"Noaahhhhh!" Nerin yang datang langsung histeris melihat Noah tergeletak di lantai. Triple R terkejut ketika mesin Elektrokardiogram tiba-tiba memunculkan ritme jantung yang tidak normal.
"Daddy, Mommy-Mommy!"
Rafa tersentak, dia pun begitu panik hingga bergegas memanggil Dokter, begitupun Nerin yang juga panik. Triple R pun disuruh keluar bersama Nerin dan Rafa untuk menunggu dan berdoa. Kini di dalam ruangan di depan mereka terdapat dua pasien yang tiba-tiba mengalami kritis secara bersamaan dan kini Dokter tengah berusaha semaksimal mungkin mengembalikan keadaan.
"Hiks hiks... Mommy kenapa, Daddy?" tangis Rara memeluk ayahnya, sedangkan Rain malah menangis di pelukan Nerin. Tangis dua bocah itu telah mewakili Rein yang sedang mencoba positif thinking. Namun sekuat apa pun, tangisnya pecah juga. Dia telah tahu jika selama ini Ibunya sakit parah, Rein pun terguncang hebat hingga jatuh pingsan setelah Dokter keluar dan mengatakan jika pasien tidak tertolong. Rafa menerjang masuk, dia langsung mendorong suster yang ingin menutupi tubuh istrinya.
"Sheilaaaaa! Ku mohon jangan tinggalkan aku, sayang hiks..."
Air matanya jatuh berderai mengenai pipinya. Rafa memeluk erat tubuh istrinya, dia belum rela. "Ku mohon buka matamu, sayang," isak Rafa, namun percuma saja. Dokter pun menyuruh Rafa untuk keluar, tetapi Rafa tidak mau melepaskan istrinya. Rara dan Rain di luar yang mendengar teriakan ayahnya semakin histeris. Nyonya Mira dan lainnya bergegas menenangkan cucu mereka. Sedangkan Noah selamat dari kritisnya.