Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 95 Kekecewaan Orion


Orion melangkah pelan nyaris tak bersuara masuk ke rumah Galen. Dia terus berjalan ke belakang hingga menemukan lelaki itu ada di ruangan sebelah tempat tidurnya. Galen berdiri membelakanginya. Tak jauh dari tempatnya berdiri ada tiga ekor kelinci yang mati dan tergeletak di lantai.


“Kenapa ada kelinci mati di sini ?” batinnya heran saat melihat tubuh kelinci itu yang kering seperti kehabisan darah. Perasaannya mulai tidak enak dan berbagai pikiran ane mulai muncul di benaknya tentang Galen.


Jantungnya berdegup kencang saat semakin mendekati Galen.


Sementara itu Galen sudah selesai menghisap dua ekor kelinci lainnya dan menjatuhkannya ke lantai.


“buk...” dua ekor kelinci lainnya yang mati terjatuh di lantai. Orion semakin terlihat pucat melihat dua ekor kelinci lainnya mati dan terlepas dari tangan Galen.


Tiba-tiba Galen teringat jika tadi dia lupa menutup pintu dan pagar rumahnya. Dia berbalik untuk menutup pintu rumah. Namun seketika langkahnya terhenti dan kakinya menjadi berat saat melihat Orion yang sudah berdiri di hadapannya tanpa dia ketahui kapan gadis itu masuk ke rumahnya.


Galen seketika langsung mengelap bekas darah di sudut bibirnya. Dan terlihat tak bisa berkata apa-apa di depan kekasihnya.


“Galen... bibir mu... kau menghisap darah ?” tanyanya tak percaya melihat sesosok lelaki yang ada di depannya yang kini bermata merah dan sambil kembali menatap kelinci yang tergeletak di lantai.


“Jadi kau... kau amulet ?” tanyanya lagi dan tubuhnya tampak berguncang.


Galen maju menghampiri Orion namun gadis itu berjalan mundur dan menampik tangan kalian saat lelaki itu memegang tangannya.


“Orion... dengarkan penjelasan ku dulu.” Galen kembali memegang tangan Orion untuk menjelaskan semuanya padanya.


“Apa lagi yang mau kau jelaskan sekarang... ? aku tak menyangka kau sudah menipuku dan merahasiakan identitas mu pada ku. Padahal aku aku berniat memberitahukan identitas ku padamu meskipun kau menggagalkan niat ku dan kau bilang bisa menerima ku apa adanya...” ucapnya keras dan terus berusaha melepaskan tangan dari genggaman tangan Galen yang sangat erat.


“Orion tenangkan dirimu. Aku akan jelaskan semuanya padamu. Aku minta maaf... aku sudah ada niat untuk menjelaskan hal ini padamu, namun aku menunggu waktu yang tepat. Dan ternyata kau mengetahui ini duluan...” ucapnya sambil memeluk erat gadis itu. Orion menolak pelukan Galen dan mendorong tubuhnya karena merasa kesal dan marah yang bercampur menjadi satu. Namun tenaganya masih jauh di bawah Galen sehingga dia hanya bisa diam dalam pelukannya.


“Galen... aku benar-benar kecewa padamu. Kau tak perlu menjelaskannya lagi padaku. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi sekarang !” ucap Orion dengan nada tinggi dan mengerahkan segenap kekuatannya kembali mendorong tubuh Galen.


“Bruk...” Galen terhempas ke lantai oleh tenaga Orion dan segera berdiri menghampiri gadis itu. Namun Orion yang merasa kesal dari hatinya telah tertutup oleh amarah berlari keluar dari rumah Galen lalu melesat dengan cepat ke udara kembali ke rumahnya.


“Orion.... tunggu...” teriak Galen.


Dia lalu berlari keluar dari rumah dan mengejar Orion sampai ke rumah gadis itu. Galen melihat orang yang akan masuk ke rumah dia segera menarik tangan gadis itu untuk menghentikan langkahnya. Namun lagi-lagi Orion menghempaskan tangan Galen.


“Galen... pergilah ! jangan temui aku lagi !” ucapnya dengan wajah kecewa dan sedih menatap lelaki itu lalu segera masuk ke rumah dengan cepat.


“Argh... Orion... kenapa kau tak mau mendengarkan penjelasan ku ?” ucapnya hanya bisa menatap kepergian gadis itu tanpa bisa melakukan apapun.


Setelah pintu rumah Orion tertutup, Galen segera melesat dan kembali ke rumahnya dengan rasa sesal yang mendalam karena terlambat mengungkapkan jati dirinya pada Orion. Seandainya saja dia lebih dulu megungkapkan nya pasti hal itu tak akan terjadi.


Di lain tempat, Orion yang sudah masuk ke rumah kembali ke kamar dan melihat ibunya sudah terlelap. Gadis itu masih merasa kesal dan kecewa berat pada Galen dan membuat pikirannya kacau.


Orion lalu duduk di depan jendela menatap bulan yang masih berwarna merah.


“Galen aku benci pada mu ! tega sekali kau menutupi identitas mu sebagai amulet di depanku. Apa kau benar-benar mencintaiku... ?” gumamnya dengan mengembuskan nafas berat dengan tatapan kosong masih melihat bulan.


Setelah dua jam duduk di jendela, gadis itu pun memutuskan untuk memejamkan mata di samping ibunya.


Pagi harinya Orion bangun dengan malas dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah gontai. Selesai bersiap dia pun berjalan ke ruang tamu dan ternyata di sana sudah ada Galen yang menunggunya duduk di kursi bersama dengan ibunya.


“Orion... kau sudah siap ? Ayo kita berangkat bersama.” ajaknya sambil tersenyum pada gadis itu seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Orion tak membalas senyumnya dan malah membuang pandangan darinya.


Galen yang mengetahui gadis itu masih marah padanya segera berdiri dan memegang tangan Orion, lalu berpamitan pada Putri Zoya.


“Ayo kita segera berangkat...” ucap Galen lagi mengajak Orion untuk segera berjalan, namun gadis itu menampik tangan Galen.


Putri Zoya yang melihat hal itu menjadi terkejut karena tak biasanya putrinya terlihat marah seperti itu pada Galen. Dia pun ikut berdiri dan menghampiri mereka berdua.


“Galen... Orion, apa kalian bertengkar ?” tanyanya menatap mereka berdua bergantian. Orion hanya diam saja tak menjawab pertanyaan ibunya.


“Tidak ibu Zoya... hanya ada kesalahpahaman kecil saja di antara kami. Benar kan Orion ?” jawab Galen pada ibunya Orion lalu menatap Orion. Sebelum banyak pertanyaan lagi kalian pun segera menarik tangan orang dan cepat-cepat pergi dari rumahnya.


“Ibu... kami berangkat dulu...” ucap Galen berpamitan pada Putri Zoya dan menuju ke luar rumah.


Putri Zoya mengantar mereka sampai ke depan rumah. Dia melihat Orion yang di tengah jalan melepaskan tangannya dari Galen dan masih terlihat marah pada lelaki itu.


“Ada masalah apa sebenarnya mereka berdua ? Kenapa bisa sampai membuat Orion semarah itu ? Tapi tak apa mereka masih muda. Mungkin memang mereka berdua tidak cocok dan sebentar lagi mereka akan putus.” gumamnya tersenyum tipis menatap Orion dan Galen lalu kembali masuk ke rumah setelah mereka berdua hilang dari pandangannya.


Di Sepanjang jalan Galen terus meminta maaf dan berusaha membujuk Orion agar tidak marah padanya. Namun usahanya sia-sia belaka.


“Orion... kenapa kau dari tadi diam dan tak mau menjawab satupun pertanyaan ku padamu ?” tanyanya sambil berjalan mendahului gadis itu dan berada di depannya karena sedari tadi Orion yang memalingkan muka darinya.


“Minggir Galen... kau menghalangi jalanku !” jawab Orion yang akhirnya mau membalas perkataan Galen. Karena masih kesal dia pun berlari dan meninggalkan Galen sendirian.


BERSAMBUNG....