
Seketika raut wajah Pangeran Diaz menjadi pucat setelah mendengar jawaban dari ibu mertuanya itu. Tangannya gemetar hingga membuat hadiah yang di bawanya jatuh ke lantai.
Begitu pula dengan Ratu Arni yang terkejut mengetahui putrinya yang sudah menikah dan juga memberinya seorang cucu perempuan.
“Kau bilang Zoya punya seorang putri bersama mu ?” tanya Ratu Arni yang di jawab dengan anggukan oleh sang pangeran.
“Bagaimana cucu ku sekarang ? Apakah dia cantik ?” tanyanya kembali.
“Ya... dia cantik, ibu...” jawab sang pangeran singkat sambil mengambil kembali hadiah yang dia bawa tadi.
Ratu Arni merasa senang mendengar kabar itu. Di sisi lain dia juga sedih karena tidak bisa melihat putri dan cucunya sekarang.
“Jika Zoya tidak kesini... maka dia pergi kemana ? Bagaimana mereka berdua di luar sana ? Tak ada pengawal yang melindungi mereka... ini salah ku... percaya begitu saja pada ucapan Zoya.” batinnya yang gelisah dan terus memikirkan istri dan anaknya itu.
Karena Putri Zoya dan Orion kecil tak ada di istana Samudera Dewata, Pangeran Diaz memilih segera pamit.
“Ibu ini ada sedikit hadiah dari ku untuk ibu. Tolong maafkan Zoya dan aku sebelumnya karena perilaku kami berdua.”
“Ya... anak ku... tolong beritahu Zoya jika aku merindukan dia dan cucuku.” ucapnya pada Pangeran Diaz lalu memeluknya.
“Ya ibu...”
Pangeran Diaz menyerahkan bingkisan kecil pada Ratu Arni lalu berpamitan dan segera keluar dari istana Samudera Dewata itu.
Di luar istana Samudra Dewata, Pangeran Diaz mencoba melacak keberadaan istrinya. Dia mencari jejak aroma istrinya yang masih tersisa di udara. Karena jejak itu akan menghilang setelah 1 x 24 jam di udara dan tak bisa di lacak lagi.
Dia berjalan ke jalanan menuju ke arah timur. Di sana dia menemukan aroma samar sang putri bersama Orion kecil.
“Zoya... tunggu aku.... aku akan menemukan mu sayang.”
Pangeran Diaz bergerak cepat menyusuri aroma istrinya itu. Dia melompat lalu terbang sambil terus melacak aroma sang putri yang membawanya ke suatu tempat. Dimana di tempat itu ada di tengah keramaian.
Pangeran menapakkan kakinya ke daratan dan mulai berjalan kaki untuk menghindari hal-hal yang tak di inginkan dan agar tidak menarik perhatian para manusia yang menghuni tempat itu.
Dia terus berjalan menyibak keramaian untuk menemukan aroma istrinya yang menjadi semakin samar di tengah keramaian karena tertutup oleh aroma banyak manusia di sana.
Namun pangeran bergerak cepat dan akhirnya dia tiba di depan sebuah rumah kecil sederhana.
“Zoya... apa kau ada di dalam sana ?” tanyanya setelah melacak bau sang putri yang berhenti di rumah kecil itu.
Putri Zoya yang saat itu sedang ada di dapur dan merebus air untuk di pakai mandi Orion kecil, mencium aroma suaminya.
“Diaz apakah itu kau...? Apa kau bisa melacak keberadaan ku ?” gumamnya yang merasa senang mencium aroma orang yang paling di nantikan nya.
Dia lalu mematikan kompor dan segera berjalan ke depan. Tak sabar rasanya dia ingin segera membuka pintu itu untuk memastikan apakah benar itu aroma suaminya.
“kriek...”
Putri Zoya membuka pintu dan melihat sosok yang di dicintainya kini ada di hadapannya. Dia benar-benar tidak percaya pada apa yang di lihatnya itu.
Putri Zoya berlari dan langsung memeluk suaminya itu. Dia segera menarik suaminya masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kembali.
“Zoya... akhirnya aku menemukan mu. Aku khawatir sekali pada mu sayang.” ucapnya dan langsung memeluk erat istrinya itu di balik pintu sambil mencium bibirnya.
Mereka berdua lalu duduk di kursi dan ngobrol. Suara mereka pun akhirnya membangunkan Orion kecil yang tertidur di kamar.
“Itu seperti suara ayah... apa ayah kemari...?” Orion terbangun setelah mendengar suara ibunya yang berbicara dengan seseorang dan menurutnya suara itu adalah suara ayahnya. Dia pun langsung turun dari tempat tidur dan benar saja, dia melihat ayahnya yang duduk di sebelah ibunya.
“Ayah...!” teriak Orion kecil sambil berlari menghampiri ayahnya.
“Putri kecil ayah.... sini nak....” ucap sang pangeran memanggil Orion yang kemudian mendekat dan duduk di pangkuannya.
“Ayah... apa ayah mau menjemput kami pulang?” tanyanya riang.
“Orion mau tinggal bersama ayah dan ibu di villa kita ayah...”tambahnya sambil bermanja-manja pada ayahnya.
“Nak, sebenarnya...” menatap istrinya karena bingung mau beralasan apa pada putrinya itu.
“Sayang... ayah masih sibuk. Masih banyak urusan yang harus di selesaikan ayah. Ayah akan selalu berkunjung kemari. Dan kalau semua urusan ayah sudah selesai, kita akan pulang bersama.” jelas Putri Zoya panjang lebar.
Pangeran Diaz dan Putri Zoya menemani Orion kecil bermain sampai malam dan sampai anak itu mengantuk.
Pangeran membaringkan Orion yang tertidur di kamar. Setelah itu pangeran mengajak istrinya masuk di kamar lain.
“Zoya... kau tahu aku hampir frustasi mencari mu setelah mengetahui kau tidak ada di istana Samudera Dewata.” ucapnya berbaring di sebelah istrinya sambil menyentuh wajah cantik istrinya itu.
“Kau ke istana ? Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu ? Apa mereka marah pada mu ? Atau melakukan hal buruk pada mu ?” tanyanya khawatir kalau saja orang tuanya tidak memperlakukan suaminya itu dengan layak.
Pangeran Diaz menggeleng lalu membelai rambut istrinya.
“Aku hanya bertemu dengan ibu saja. Dan aku bilang padanya kalau kita sudah menikah dan mempunyai seorang putri. Ibu sepertinya sudah tak marah lagi pada mu sayang, dia bilang ingin bertemu dengan mu dan Orion.” jelasnya sambil menarik tubuh istrinya ke atas tubuhnya dan memeluknya.
“Aku tahu jika ibu bisa menerima ku. Tapi ayah... aku tidak yakin dia bisa menerimaku. Sudah jangan bahas itu dulu sayang, aku tidak akan lama di sini. Besok sebelum pagi aku harus kembali ke villa. Sekarang kita habiskan malam ini berdua.” ucapnya mencium bibir istrinya dan akhirnya membuat istrinya merintih.
Sebelum fajar menyongsong Pangeran Diaz bangun dan segera mengenakan bajunya. Dia mencium Putri Zoya untuk membangunkannya seperti yang biasa ia lakukan setiap harinya.
Putri Zoya seketika bangun dan segera memakai bajunya.
“Sayang aku pergi dulu. Tunggu aku... Nanti malam aku akan kembali kesini.” ucap pangeran Diaz keluar dari kamar lalu masuk ke kamar Orion dan mencium keningnya lalu pergi.
Pangeran Diaz keluar dari rumah itu tanpa sepengetahuan warga sekitar kembali ke villanya.
Sementara itu Dewan Konstitusi Vampir kembali mengirim petugasnya untuk mengawasi pergerakan Pangeran Diaz dan Putri Zoya dari kejauhan sesuai perintah dari ketua Buana tanpa sepengetahuan mereka dan melaporkan setiap kejadian pada ketua Dewan Konstitusi vampir.
BERSAMBUNG....