
Beberapa waktu berlalu. Setiap hari Raja Edwin membuka gulungan berisikan lukisan para putri cantik yang akan dijodohkan nya dengan Galen. Lelaki itu tampak bingung memilih wanita cantik dari sekian jumlah para wanita yang ada.
Hingga pada suatu ketika dia tampak berhenti menatap sebuah gulungan yang barusan dibukanya dan terpaku menatapnya.
“Gadis ini kurasa berkarakter kuat dan juga cantik. Mungkin dia cocok sekali menjadi pendamping Galen.” gumamnya lalu memisahkan golongan itu sendiri dari gulungan lainnya.
“Putri Shirein dari istana Pasir Emas....” Raja Edwin membaca nama yang tertera di bawah lukisan itu kembali saat meletakkannya di tempat khusus di ruangannya.
Setelah menyimpan gulungan itu Raja Edwin keluar dari ruangannya untuk mencari ajudan kepercayaannya.
“Raja Edwin... apa Yang Mulia Raja mencari ku ?” tanya seorang lelaki saat melihat Raja Edwin berjalan di sekitar ruangannya.
“Frans kebetulan sekali ada sesuatu yang ingin ku bicarakan denganmu.” Raja Edwin menghampiri ajudan kepercayaannya itu yang baru saja keluar dari ruangannya.
“Salam Yang Mulia Raja... ada hal penting apa yang ingin Raja Edwin sampaikan padaku...” jawab lelaki itu sambil memberi penghormatan pada rajanya.
“Ya... ikutlah ke ruangan ku sekarang.” ajak Raja Edwin. Dia pun kembali ke ruangannya dengan Frans mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruangan, dia menuju ke tempat di mana dia menyimpan satu gulungan tadi lalu mengambil gulungan itu dan menyerahkannya pada Frans.
“Coba kau lihat ini. Bagaimana menurutmu gadis ini ?” tanya Raja Edwin saat menyerahkan gulungan tadi.
Frans segera menerima gulungan dari tangan Raja Edwin. Lelaki itu tampak diam melihat lukisan seorang gadis cantik di tangannya di mana kecantikannya tampak berbeda dari para gadis umumnya yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata untuk memujinya.
“Apa ini pilihan dari Raja Edwin untuk Pangeran Galen ?” tanya lelaki itu belum selesai melihat golongan tadi dan menyerahkannya kembali pada Raja Edwin.
Tampak Raja Edwin mengangguk dan tersenyum lebar menatapnya.
“Bagaimana menurutmu... ? tanyanya yang tak sabar mendengar pendapat dari ajudan kepercayaannya.
“Luar biasa... Raja Edwin... gadis ini sangatlah cocok menjadi pendamping Pangeran Diaz.” balas Frans.
“Tapi itu pendapat kita, tidak tahu bagaimana dengan Galen suka atau tidak. Jika dia tidak tidak suka maka bisa memilih yang lain
Tampak Raja Edwin tersenyum setelah mendengar pendapat dari lelaki itu. Dia pun segera merealisasikan idenya dan menyampaikan pada ajudan nya.
“Frans... aku bermaksud segera mempertemukan mereka berdua. Kirim undangan pada semua putri dari kerajaan untuk menghadiri acara perjamuan satu bulan ke depan.” ucap Raja Edwin memberi perintah pada ajudan kepercayaannya.
“Baik yang Mulia Raja. Perintah yang mulia akan segera aku laksanakan secepatnya.” balas Frans kembali memberi hormat pada Raja Edwin.
Raja Edwin kembali tersenyum dan berlalu kembali ke ruangannya. Sedangkan Frans mulai bergerak melaksanakan titah dari Raja Edwin.
Lelaki itu memanggil beberapa anak buahnya untuk membantu mengirimkan undangan ke seluruh kerajaan sesuai perintah Raja Edwin.
Sedangkan di lain tempat tampak Pangeran Diaz yang sedang duduk santai bersama istrinya di kebun yang ada di belakang rumah. Mereka berdua duduk bersandar di bawah pohon besar yang teduh.
“Sayang... sudah lama aku tak kembali ke Villa jantung emas. Apa kau mau menemaniku ke sana ?” tanya Pangeran Diaz pada istrinya yang terlihat menikmati angin sepoi-sepoi di siang hari yang terik.
“Sayang... bukannya aku menolak ajakan mu tetapi kau tahu sendiri identitas ku di pandang di sana.” jawab Putri Zoya menolak ajakan dari suaminya dengan berat hati.
Wanita itu berpindah menyandarkan tubuhnya pada Pangeran Diaz.
Sebenarnya dia tahu jika lebih nyaman dan damai hidup di tempat yang sekarang daripada tinggal di istana yang penuh dengan kesibukan dan berbagai masalah.
“Itu artinya kau mau menerima tawaran ayah menggantikan posisinya, sayang... ?” tanya Putri Zoya sambil mengalungkan tangannya ke leher Pangeran Diaz.
“Kau akan menjadi ratu setelah ini jika aku menggantikan posisi ayah.” goda Pangeran Diaz sambil memegang istrinya.
“Sayang... apa yang kau lakukan...” ucap Putri Zoya saat Pangeran Diaz mencium lehernya.
“Tak ada... rasanya lama sekali kita tidak mempunyai waktu bersama seperti ini.” jawab nanti itu kemudian mencium bibir Putri Zoya.
Dua jam setelahnya Pangeran Diaz memutuskan untuk segera berangkat ke negeri amulet. Lelaki tampak keluar dari kamar setelah selesai bersiap.
“Sayang aku pergi dulu menemui ayah. Kau janji akan selalu mendukung dan memberikan kekuatan kan... ?” tanya Pangeran Diaz sebelum dia keluar dari rumah.
“Ya sayang... aku akan selalu mendukungmu apapun itu.” jawab Putri Zoya tersenyum lebar lalu mengikuti suaminya berjalan keluar rumah untuk mengantarkan kepergian nya.
Terlihat Putri Zoya melambaikan tangan pada Pangeran Diaz.
“Sayang cepat kembali... !!” teriak Putri Zoya pada suaminya yang sudah jauh berjalan di depan.
Tak lama kemudian datanglah Orion dan Galen yang baru pulang dari akademi. Mereka percuma Melihat Putri Zoya berdiri sendiri di sana.
“Ibu... apa yang ibu lakukan sendirian di luar sini ?” tanya Orion tiba - tiba menyadarkan ibunya yang tampak menatap kosong jalanan di depannya.
“Orion... Galen... kalian sudah pulang rupanya.” ucap Putri Zoya berbalik, menatap Orion Dan Galen.
“Ibu hanya mengantar ayah saja...” jawabnya sambil tersenyum.
“Ayah pergi ke mana Ibu ?” tanya balik Orion yang tak tahu menahu apa saja urusan ayahnya di luar sana.
“Ahh... ayah mu ke istana bulan dingin menemui Raja Netra. Ayah mu ada sedikit urusan di sana.” jawabnya memberitahukan pada Orion namun Orion kurang peka dan tidak tanggap pada apa yang diucapkan oleh ibunya dan menganggapnya urusan biasa saja.
“Baiklah ibu masuk ke dalam dulu...” ucapnya meninggalkan Galen dan Orion sendiri di luar rumah.
Setelah ibunya masuk rumah, Orion menarik tangan Galen dan mengajaknya masuk ke rumah.
“Orion... aku langsung pulang saja. Nanti sore aku ke sini lagi dan mengajak mu jalan-jalan.” ucap Galen yang menolak ajakan Orion.
“Baiklah... aku akan menunggumu. Sampai ketemu sore nanti...” balas nya melepaskan tangan Galen lalu segera masuk ke rumah.
Sementara itu Pangeran Diaz masih dalam perjalanan menuju ke negeri amulet. Dia melewati hamparan hutan belantara yang luas dan melihat ke jalanan di mana dia saat ini memasuki wilayah anubis, tepatnya kerajaan Samudra Dewata.
“Ahh... apa sebaiknya aku mampir sebentar untuk menemu ayah dan ibu sebelum aku ke istana Bulan Dingin.” batin lelaki itu saat sudah berada di depan istana tempat istrinya dilahirkan.
“Aku tak akan lama... hanya singgah sebentar saja di sana...” gumamnya lirih lalu berjalan mendekati pintu gerbang.
Di depan pintu gerbang, para pengawal yang menjaga pintu gerbang istana mengetahui sosok lelaki itu merupakan suami dari Putri Zoya langsung memberikannya jalan padanya tanpa meminta izin pada raja maupun atau mereka terlebih dulu.
BERSAMBUNG....