Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 100 Kemarahan Orion


Setelah Orion sampai ke rumah. Dia kembali berpikir tentang hal yang barusan terjadi dan apa yang diucapkan oleh para amulet tadi padanya.


Gadis itu duduk di kursi dengan gelisah. Di satu Sisi dia terpikirkan pada keselamatan Galen. Di lain sisi dia hatinya bergejolak menyadari fakta jika motif Galen mendekatinya adalah karena dia mendapat misi untuk menyelidikinya.


“Bisa-bisanya aku jatuh cinta pada orang yang seharusnya aku benci ?Untuk apa dia menyelidiki ku ? Haruskah aku tetap melanjutkan hubungan yang tak semestinya terjalin ini... ???” ucapnya lirih merasa kesal pada dirinya sendiri yang begitu mudahnya terkena bujuk rayu Galen.


Orion masih duduk menatap ke depan dengan tatapan kosong. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


Di lain tempat Galen yang selesai bertarung bergegas ke rumah Orion untuk melihat keadaannya sekarang.


“Hey kau mau ke mana ?” ucap Ariel menarik bahu Galen dan menahannya yang membuatnya berhenti berjalan.


“Tentu saja menemui Orion.” jawab Galen menatap Ariel.


“Katakan padaku siapa sebenarnya tiga amulet tadi ? Dan apa hubungannya dengan mu ? lalu Kenapa mereka mengejar Orion... ?” tanya Ariel pada Galen dengan tatapan menyelidik.


Galen diam sejenak dan memandang Ariel. Dia berpikir apakah dia perlu menceritakan masalah itu padanya.


“Huft... ceritanya rumit. Aku harus menemui Orion dulu untuk menjelaskannya.” jawab Galen sambil menghela nafas berat dan tak mau bercerita pada Ariel.


Ariel tidak mendengar jawaban dari Galen yang membuatnya semakin penasaran dan membuatnya menarik kesimpulan sendiri jika Galen terlibat dengan tiga amulet itu sebelumnya.


“Apa kau sebelumnya bekerja sama dengan tiga amulet tadi untuk menangkap Orion ? Apa yang akan terjadi pada mu jika Orion mengetahui fakta yang sebenarnya ?” tanya Ariel kembali setelah mempunyai pikiran buruk pada lelaki itu. Galen hanya diam tak bisa menyangkalnya lalu segera pergi meninggalkan Ariel.


“Galen... ingat jika kau tetap bekerja sama dengan para amulet itu untuk menangkap Orion atau kau menyakitinya... tunggu saja kau akan berakhir di tanganku !” ucap Ariel mengancam Galen lalu segera pergi dari tempat itu.


Tak berapa lama kemudian Galen tiba di rumah Orion.


“tok... tok...” suara Galen mengetuk pintu. Dari ruang tamu Orion mendengar suara pintu yang diketuk dan dia yakin itu pasti adalah Galen. Dia enggan untuk membuka pintu dan hanya menatap kosong kearah pintu.


“tok... tok...” Galen kembali mengetuk pintu karena tak ada jawaban dari Orion. Dia yakin jika gadis itu ada di rumah dan mendengar ketukan pintunya.


“Orion... ini aku... tolong bukakan pintunya aku akan jelaskan semuanya padamu.” ucap Galen kembali sambil terus mengetuk pintu rumah gadis itu.


Orion akhirnya bangkit dari duduk dan menuju ke pintu. Di depan pintu dia membatalkan niatnya untuk membukanya dan bersandar ke pintu.


“Orion.... kumohon padamu bukakan pintunya. Aku tahu kau mendengar ku.” ucap Galen lagi sambil terus mengetuk pintu dan Orion masih tak melontarkan sepatah kata pun mendengar panggilan Galen.


“Maaf Galen... aku tak ingin bertemu denganmu.” batin Orion sambil menyentuh pintu dengan tatapan kosong.


Karena masih juga tak ada jawaban Setelah lama mengetuk pintu, Galen pun dengan terpaksa membuka pintu itu secara paksa.


“klik....” Pintu yang terkunci itu terbuka setelah Galen menggunakan segenap kekuatannya untuk membukanya. Dia melihat Orion ada di balik pintu saat pintu terbuka.


“Orion... apa kau baik-baik saja ?” tanyanya saat melihat gadis itu dan mendapati ada luka pada tubuhnya.


“Orion... kumohon jangan bersikap begitu padaku. Kau mungkin marah padaku, tapi jangan jauhi aku. Aku akan jelaskan semuanya padamu sekarang.” ucap Galen mengejar Orion yang masuk ke dalam dan menarik tangannya.


“Tolong beri aku waktu dan dengarkan penjelasan ku.” ucap Galen membalik tubuh Orion yang membelakangi dirinya dan tak mau menatapnya.


“Galen kurasa tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Karena semuanya sudah jelas. Intinya kau mendekatiku hanya untuk menjalankan misi mu, entah misi apa itu.” balas Orion yang akhirnya mau membalas perkataan Galen.


“Orion tidak seperti itu, dengarkan penjelasan ku dulu...” sanggah Galen dan mencoba menjelaskan semuanya pada Orion.


“Sudah cukup Galen. Aku tak mau mendengar penjelasan dari mu lagi. Kau tidak benar-benar mencintaiku bukan, jadi buat apa kita melanjutkan hubungan kita ini ?” balas Orion langsung ke pokok permasalahan.


“Ya aku minta maaf pada mu. Awalnya aku memang mendekatimu karena menjalankan sebuah misi. Namun kau membuatku terpikat dan kau benar-benar membuat ku jatuh cinta padamu. Aku akan mundur dari misi ini dan menerima konsekuensinya demi diri mu...” ucapnya lagi sambil menyentuh pipi Orion dengan lembut.


Gadis itu menggenggam tangan Galen yang masih berada di pipinya sambil memejamkan mata. Apa yang ada di hati dan yang diucapkannya berbeda. Dia masih menyukai lelaki itu namun nalarnya tak bisa menerima apa yang sudah di lakukan Galen padanya. Dia pun lalu menyingkirkan tangan Galen dari wajahnya.


“Galen ku mohon hentikan ini semua. Tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Aku butuh waktu sendiri untuk merenung dan menjernihkan pikiranku.” ucap Orion lalu berjalan pergi meninggalkan Galen. Namun Galen mengikuti gadis itu berjalan dan memeluknya dari belakang.


“Aku akan memberikan waktu merenung untukmu Orion. Aku akan menunggumu. Ku harap itu tak lama dan kau tak akan meninggalkan diriku.” ucap Galen yang masih menggenggam tangan Orion lalu melepasnya.


Galen pergi dari rumah Orion menuju ke rumahnya. Sedangkan Orion diam-diam melihat garis yang berjalan dari balik jendela rumahnya. setelah kepergian Galen, Orion masuk ke kamar mandi dan menyalakan shower lalu duduk di bawah nya dan membiarkan guyuran sama itu membasahi seluruh tubuhnya.


Dua jam sudah gadis itu berada di bawah guyuran shower hingga akhirnya dia merasa menggigil dan memutuskan untuk mematikan shower.


Orion berjalan dengan gontai dan masuk ke kamarnya setelah berganti dengan pakaian hangat dan duduk di tempat tidurnya.


“Galen... kau membuatku bimbang... dan tak bisa berpikir jernih.” ucapnya lirih lalu membenamkan kepala pada tumpukan bantal yang ada di sana.


Putri Zoya pulang dari rumah makan lebih awal hari ini karena semua pekerjaannya sudah beres.


“kriek...”


Suara Putri Zoya membuka pintu kamar dan masuk. Dia mendapati Orion yang duduk melamun menatap jendela dengan tatapan kosong, kemudian menghampirinya dan duduk di sebelahnya. sebagai ibu Dia sangat peka dan tahu jika baterai nya sedang ada masalah hanya dengan melihat penampilannya saat ini.


“Orion... kenapa kau melamun ? Apa ada masalah ? ceritakan pada ibu mungkin Ibu bisa membantu...” ucap Putri Zoya.


Orion tersenyum kecil menatap ibunya untuk menyembunyikan kesedihannya.


“Tidak ada bu... aku hanya ingin istirahat sebentar saja.” jawab Orion singkat karena tak mau membuat ibunya khawatir padanya. Tampak putri Zoya hanya menghembuskan nafas mendengar jawaban dari Orion karena baterainya tak mau berbagi cerita padanya.


“Baiklah tidurlah nak... ibu tak akan mengganggu.” timpal Putri Zoya. Dia lalu keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk membuatkan Orion minuman pereda stres karena tahu jika putrinya hanya ingin sendirian saja saat ini.


BERSAMBUNG...