Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 58 Istana Bulan Dingin


Ariel bergegas ke rumah Orion. Bahkan dia tak mengindahkan panggilan ayahnya.


“Ariel.... tunggu...!” panggil Fredi.


namun dana itu terus berlari keluar dari rumahnya dan hanya menoleh ke belakang melihat ayahnya.


“Ingat pesan ayah... kau jangan pernah pergi ikan negeri amulet ! atau sesuatu yang buruk akan terjadi !” teriak ayahnya keras agar anak itu mendengarnya.


Anak itu kembali menoleh ke belakang setelah mendengar apa yang diucapkan ayahnya.


“Ya ayah...” jawabnya singkat lalu kembali bergegas ke tempat Orion.


Beberapa saat kemudian dia tiba di depan rumah gadis itu. Dia melihat pintu rumah itu masih terkunci setelah mencoba membukanya. Sebenarnya mudah saja baginya untuk membuka paksa pintu itu namun hal itu tak mungkin dilakukannya karena tak mau dianggap melakukan hal yang tidak sopan.


“Kenapa pintunya terkunci... apa dia tidak ada di rumah atau dia ketiduran ?” batik anak itu yang mulai mengkhawatirkan Orion.


“tok...tok... tok...”


Suara Ariel mengetuk pintu dengan keras dan cepat.


“Orion.... apa kau ada di dalam ? Tolong jawab aku atau buka pintunya.... !” ucapan itu setelah tidak ada yang merespon ketukan pintunya.


“Ah... Apa yang harus kulakukan apa aku harus menerobos masuk ke rumah ini ? Atau aku harus menunggunya?” gumamnya yang merasa dilema harus melakukan apa.


Sambil berpikir langkah apa yang harus di ambilnya, dia pun duduk di kursi panjang yang ada di depan rumah itu. Dia melirik jam tangan di tangannya.


“Lebih baik aku tunggu sebentar. mungkin sepuluh menit lagi Ibu Zoya datang. Semoga saja tidak selama itu....” ucapnya setelah melihat jam tangan dan menyandarkan bahunya di kursi panjang itu.


Lelaki itu tampak terlihat gelisah, dia sering menoleh ke jalan untuk melihat apakah Ibu Zoya sudah datang.


Dia semakin cemas melihat ibunya Orion yang belum datang. Dan kecemasan itu terlihat dari kakinya yang di ketukkan berulang kali berulang ke tanah.


Lima menit kemudian tampak dari jalanan ibunya gadis itu datang.


“Ariel... selama kau ada di luar apa Orion tidak ada di dalam ?” tanyanya pada anak itu setelah melihat dia duduk sendiri di depan pintu rumah yang tertutup.


Ariel berdiri melihat ibu Zoya datang.


“Aku tidak tahu ibu... aku sudah mengetuk pintu berkali-kali namun tak ada jawaban. Mungkin Orion tidur...” ucapnya menjelaskan pada wanita itu.


“klak...”


Putri Zoya membuka pintu dan mempersilahkan anak itu masuk setelah pintu terbuka.


Ariel duduk di kursi menunggu dalam cemas. sedangkan Putri Zoya mencari Orion di dalam.


“Orion... sayang.. Ibu pulang. Kau ada di mana ? Ariel menunggumu di depan...” panggilnya perjalanan menuju ke kamar tidur anak itu.


Karena lama tak ada jawaban dia pun menaruh tas yang dipegangnya kemeja lalu masuk ke kamar.


“Orion...” panggilnya saat melihat ruang itu kosong yang membuatnya terkejut sekali.


“Nak... kau ada di mana ?” tanyanya kembali namun tak ada respon juga.


Putri Zoya pun bergegas keluar dari kamar itu dan mencari ke setiap sudut ruangan di rumah itu namun tak menemukan putrinya.


“Ariel aku tak menemukan Orion di manapun di rumah ini...” ucapnya bingung dan khawatir pada putrinya yang menghilang itu.


“Ah... apa yang ku takutkan terjadi juga. Dia pasti pergi ke negeri amulet.” batinnya yang tambah khawatir setelah mendengar ucapan dari ibu Zoya.


“Apa kamu tahu dimana Orion ?” tanya kembali pada anak itu.


“Tenang ibu Zoya... aku akan mencari Orion dan segera membawanya pulang. Mungkin saja dia keluar rumah tak jauh dari sini. Aku akan pergi mencarinya sekarang.” ucapnya lalu berdiri dan segera keluar dari rumah itu.


“Ya baiklah... Ibu mengandalkan mu tolong cepat aja aneh itu pulang ke rumah sebelum malam tiba.” pencet yang berdiri dan pengantaran itu keluar dari rumah.


Ariel lalu mencoba melacak aroma dari itu yang ada di jalan. dengan indra penciuman yang tajam dia menemukan arah kemana Orion pergi.


“Pasti ini adalah jalan menuju ke negeri Amulet itu.” gumamnya dan berjalan menyusuri jalan itu sambil terus melacaknya dengan menggunakan indra penciumannya.


Karena tak sabar dia pun melompat ke udara dan melesat dengan cepat menyusuri jalan yang panjang itu.


Sementara itu Orion yang sekarang sudah ada di depan negeri amulet mulai penasaran dengan tempat yang tertutup itu.


“Bagaimana caranya masuk ke sana ?” batin aneh itu sambil melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari jalan masuk menuju ke sana.


Karena merasa tak menemukan jalan masuk, dia pun berjalan mengitari area yang tertutup itu dan berhenti di sisi yang terlihat berbeda dari sisi lainnya. Di mana di sisi itu tumbuhan yang merambat terlihat tidak sama dengan letak tumbuhan lainnya yang ada di dekatnya.


“tap....” Orion menyentuh Sisi yang berbeda yaitu dan dan dia terkejut saat melihat sisi yang dia sentuh itu terdorong mundur.


“gradak...” tiba-tiba Sisi yang disentuhnya tadi terbuka seperti pintu yang digeser ke samping kiri.


“Jadi ini pintu masuknya...” Dia segera masuk ke pintu yang terbuka itu. Setelah dia masuk pintu itu tertutup secara otomatis.


Dia berjalan pelan mengawasi sekitar di area itu apakah ada yang memperhatikannya atau tidak.


“Kenapa di sini sepi sekali ya... tak ada satupun orang di sini. lalu mereka semua ada di mana?” batinnya yang merasa aneh Saat memasuki area itu.


Dia terus berjalan dan akhirnya menemukan sebuah bangunan. Untung saja ada pohon besar di dekatnya Jadi dia bisa mengintai keadaan dari balik pohon itu.


Terlihat seorang lelaki keluar dari rumah. Dia berjalan menuju ke pohon tempatnya bersembunyi.


“Celaka... aku ketahuan... tolong aku Tuhan...” batin gadis itu langsung setelah mengetahui ada seseorang yang datang ke arahnya dan dia hanya bisa diam serta memejamkan matanya berharap keberuntungan menghampiri dirinya.


Lelaki itu terus berjalan mendekati pohon itu namun di tengah jalan tiba-tiba keluar seorang anak kecil dari rumahnya dan memanggilnya.


“Ayah... tolong ibu...” Teriak anak itu dari kejauhan yang membuat ayahnya menoleh ke belakang. tanpa pikir panjang lelaki itu berbalik dan masuk ke rumah.


“Hah... aku selamat... terima kasih Tuhan...” jamnya bernafas lega saat melihat lelaki itu menjauh darinya.


Orion lalu kembali berjalan sambil mengamati keadaan sekitar. karena keadaan aman dan sepi dia terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di sebuah bangunan megah dan besar sekali.


“Apakah itu istana Bulan Dingin ?” batinnya tersenyum bersemangat mengetahui dirinya sudah menemukan apa yang dicarinya.


Dia melihat dari kejauhan ada pengawal yang menjaga pintu gerbang masuk istana itu.


“tap...” seorang pengawal menatap ke arah balik pohon yang berada jauh dari istana karena merasakan kehadiran seseorang.


BERSAMBUNG....