
Pangeran Diaz yang melihat kejadian barusan merasa sangat kecewa pada ayahnya.
“Ayah... tak ku sangka ayah melukai perasaan Orion seperti itu. Padahal aku datang kesini sebenarnya untuk memberitahukan pada ayah jika aku bersedia menggantikan posisi ayah. Namun sekarang aku sama sekali tak ingin menempati posisi itu.” ucapnya panjang lebar pada ayahnya kemudian berjalan keluar dari ruangan itu tanpa berpamitan pada siapapun ada di sana.
“Orion... tunggu ayah nak... !” teriak nya memanggil dan berlari mengejar Orion.
Ratu Bonita dan Pangeran Asoka ikut merasa tak senang pada apa yang barusan Raja Netra ucapkan pada seseorang yang telah menolongnya.
“Diaz... tunggu nak, jangan pergi... !!” teriak Raja Netra memanggil Pangeran Diaz agar kembali, namun lelaki itu sama sekali tak menjawab atau pun menoleh padanya.
“Sayang... apa yang kau lakukan ?” tanya Ratu Bonita menatap tajam ke arah suaminya.
Raja Netra tampak diam dan tertunduk menyesali apa yang telah ia ucapkan hingga membuat putranya marah pada dirinya.
“Ayah... kenapa ayah bersikap seperti itu pada cucumu sendiri ?Tanpa bantuan darah dari Orion... aku tidak tahu pada apa yang akan terjadi pada ayah...” tambah Pangeran Asoka yang merasa seharusnya ayahnya tak mencampuradukkan masalah pribadi dengan etika seorang raja yang seharusnya tahu berterima kasih.
Sementara itu di luar istana Pangeran Diaz hasil mengejar Orion. Meskipun tak meneteskan air mata gadis Itu tampak sedih yang terlihat dari sorot matanya yang pendar.
“Orion... apa kau baik-baik saja... ?” tanya Pangeran Diaz dan Orion mengangguk sembari tersenyum menatap ayahnya.
“Aku tahu kau kecewa dan sedih atas perlakuan kakek mu. Ayah minta maaf pada atas nama Raja Netra.” ucapnya lagi menatap putrinya yang mencoba terlihat kuat di depannya.
“Ayah tak perlu seperti itu...” jawabnya sambil mempercepat langkahnya agar segera keluar dari negeri amulet.
“Jangan kau masukkan dalam hati ucapan kakek mu. Memang orangnya seperti itu.” ucap Pangeran Diaz untuk menenangkan hati Orion.
“Ya ayah...” jawabnya singkat dan terus berjalan sambil menghindari tatapan ayahnya.
“Ayah... aku benar-benar menyesal telah membawa Orion kesini. Ternyata kok masih bisa belum menerima keluargaku.” batinnya kecewa berat dan pembagian tak ingin kembali lagi ke sana selamanya.
“Ayo cepat kita pulang ke rumah. ibumu pasti sudah menunggu.” ucapnya. Orion hanya mengangguk dan mereka berdua melesat dengan cepat menuju ke negeri anubis.
Di tengah perjalanan menuju ke rumah meminta izin kepada ayahnya untuk ke rumah Galen sebentar, dan mereka pun berpisah di tengah jalan.
“Galen...” Panggil Orion saat sudah berada di depan pagar rumah Galen.
Galen yang sedang berada di dalam kamar dan sedang rebahan bisa mendengar suara sekecil apapun, terlebih suara dari orang dihafalnya.
“Orion... !!” ucapnya saat melesat dengan cepat dan berada dan sudah berada di depan pagar.
Galen melihat Orion tempak sedih.
“Masuk lah dulu, ada masalah apa kau bisa ceritakan padaku.” ucapnya dan menggandeng tangan Orion masuk ke dalam rumah setelah membuka pagar.
Di dalam rumah, Galen mengajak Gadis itu duduk di kursi ruang tamu.
“Sayang kau tampak sedih... apa ada yang mengganggu pikiran mu atau apa ?” tanya Galen merangkul Orion yang duduk di sampingnya.
Gadis itu lalu menceritakan kejadian saat di negeri amulet barusan.
“Galen... aku ikut menemani Ayah ke istana bulan dingin. Di sana Raja Netra terluka... bla-bla...”
“Sudah... kau tak perlu menitikkan air mata mu yang berharga untuk hal seperti itu...” tambahnya sambil menghapus buliran bening di sudut mata Orion.
Galen memeluk Orion dan dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya di dadanya, sekedar untuk meratapi kekesalan dan ketidak beruntungnya selama ini.
Beberapa minggu berlalu. Di istana Bulan Dingin tampak Raja Netra sudah sehat kembali seperti sebelumnya. Lelaki itu terlihat sering melamun dan merawat sendiri setelah kejadian beberapa minggu yang lalu.
Suatu ketika Raja Netra duduk termenung di ruang baca. Dia menaruh buku yang selesai dibacanya di meja begitu saja tanpa menatanya.
“Apa benar selama ini aku keterlaluan pada Diaz dan keluarganya... ?” batin lelaki itu menatap kosong ke jendela.
Raja Netra kembali mengingat sumbangsih Pangeran Diaz selama ini pada kerajaan juga. Selain itu Pangeran Diaz juga tidak pernah meminta sesuatu apapun padanya, dan lebih sering berusaha sendiri.
“Aku memang benar-benar keterlaluan... selama ini aku menutup mata dan telingaku pada masalah yang mendera mu demi kepentingan publik...” gumam Raja Netra yang sudah menyadari kesalahannya dan merasa menyesal.
Raja Netra tahu tak ada gunanya jika dia bersikeras mencari dan menemui Pangeran Diaz saat ini. Dia pun niat untuk memperbaiki kesalahannya.
Tak berapa lama kemudian tanpa sepengetahuan anggota keluarga yang ada di kerajaan lelaki itu keluar dari istana dan menuju ke tempat dewan konstitusi vampir berada.
“Salam Yang Mulia Raja Netra...” ucap beberapa anggota dewan yang ada di sana yang menyambut kedatangan Raja mereka.
“Ya...” jawab Raja Netra gimana sambutan mereka sembari tersenyum ke arah mereka.
Lelaki itu terus berjalan menuju ke ruangan ketua dewan konstitusi vampir berada.
“Salam Yang Mulia Raja Netra. Apakah yang membawa Yang Mulia Raja datang ke sini.” ucap ketua dewan direksi yang terkejut saat mengetahui kedatangan Raja Netra sambil meletakkan semua laporan yang sedang dipelajarinya kemeja.
“Ketua Desmon... ada sesuatu yang ingin ku bahas denganmu.” ucapnya menghampiri ketua Dewan Konstitusi Vampir pengganti ketua Buana yang merupakan pilihannya sendiri dan masih ada hubungan kekerabatan dengannya.
“Ya Yang Mulia Raja Netra mari kita bicara...” jawab ketua Desmon berdiri dari duduknya. Dia lalu mengajak Raja Netra untuk duduk di kursi yang ada di ruangannya.
Mereka berdua duduk berhadapan di sudut ruangan itu. Raja Netra tampak serius dan mulai perbedaan menyampaikan maksudnya.
“Ketua Desmon sebenarnya... ini terkait dengan saxion maksud ku tentang aturan mengenai amulet berdarah tidak murni atau campuran yang melarang mereka untuk tinggal di sini. Menurutku aturan itu tak berdasar dan hanya isapan jempol yang dikarang oleh leluhur kita.” ucapnya mengambil nafas panjang di tengah percakapannya untuk melanjutkan perkataannya dan menyambung lagi kalimatnya.
“Apakah ketua Desmon bisa membantu ku untuk merubah aturan itu ? aku sangat berharap sekali ketawa Desmon bisa membantuku....” lanjut Raja Netra.
Sementara itu ketua Desmon tampak diam dan berpikir lama. Sebenarnya berat bagi lelaki itu untuk merubah aturan dari leluhur mereka yang berarti akan merubah semua tatanan kehidupan di negeri amulet, namun karena Raja Netra sudah banyak membantunya terpaksa dia tak bisa menolak permintaan dari sepupunya itu.
“Baik Raja Netra aku akan membantu Yang Mulia Raja, namun itu semua butuh proses tentunya. Aku harap Raja Netra bersedia bersabar untuk menunggunya.” jawab lelaki itu membuat Raja Netra tersenyum lebar menatapnya.
“Aku tidak tahu apa yang bisa kuberikan pada ketua Desmon sebagai balasannya. Aku benar-benar berterima kasih pada ketua.” jawab Raja Netra menepuk bahu lelaki itu.
“Tak perlu sungkan Yang Mulia Raja...” balas ketua Desmon kembali tersenyum.
Setelah tak ada yang dibicarakan lagi, Raja Netra keluar dari ruang dewan konstitusi vampir. Lelaki itu tampak lega dan tenang karena Ketua Desmon bersedia membantunya, dan itu artinya dia bisa membawa kembali Pangeran Diaz ke istana Bulan Dingin.
BERSAMBUNG....