
Beberapa hari berlalu. Tanpa sepengetahuan Orion, Galen masih selalu membuntutinya dan mengawasinya dari kejauhan.
Suatu hari Orion sedang duduk sendiri di taman. Dia menatap bunga-bunga beraneka warna yang tumbuh dan mekar di taman itu. Pikirannya melayang jauh mengingat kembali keinginannya untuk bertemu dengan ayahnya. Namun semenjak kejadian terakhir kali yang membuat dirinya membawa masalah untuk para werewolf, dia pun mengurungkan niatnya dan membuang jauh-jauh rasa kerinduan ataupun rasa penasaran pada sang ayah. Dia mengubur rasa itu dalam-dalam karena tak mau membuat masalah lagi untuk siapapun.
“Ayah.... aku hanya ingin sekali saja bertemu denganmu untuk mendengarkan penjelasan mu pada ku. tapi sepertinya kita tak akan pernah bisa bertemu sampai kapanpun.” ucapnya sambil tersenyum sambil menatap bunga-bunga yang menari dengan indahnya tertiup oleh angin.
Tanpa Orion ketahui, Galen duduk di bangku yang ada di belakang gadis itu yang di pisahkan oleh taman selebar tiga meter. Lelaki itu duduk memakai topi hitam untuk menyamarkan diri menghindari kejaran para gadis anubis yang selalu lengket dengannya. Dia bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh Orion meskipun itu pelan sekali.
“Jadi kau ingin bertemu dengan ayah mu... apa iya saat itu kau menyusup ke sana hanya ingin bertemu dengan pangeran Diaz dan tak ada maksud lain ?” batin lelaki itu setelah mendengar apa yang diucapkan Orion.
“Hah...” Pangeran Galen menghembuskan nafas perlahan. Entah kenapa tiba-tiba dadanya menjadi sesak merasa kasihan pada gadis itu yang terdengar sangat rindu pada sosok ayah yang tak pernah ditemuinya sedari kecil.
Dia pun kembali teringat pada sosok ayahnya. Selama Pangeran Galen ada di istana dia selalu membantah perkataan ayahnya dimana di satu titik dia tidak ingin melihat ataupun bertemu ayahnya seumur hidupnya yang berbanding terbalik dengan kasus Orion.
“Ah... kenapa aku jadi memikirkan ayah ?” batinnya yang tersadar dari lamunan sesaat nya dan mencoba menepis rasa bersalah pada ayahnya lalu kembali fokus pada misinya.
“Sebelum aku melaporkan hal ini anggota tim siluman lainnya, ada baiknya aku selidiki lagi apakah benar motifnya sederhana seperti itu...” batinnya lagi lalu kembali mengintai Orion.
Sementara gadis itu yang masih hanyut dalam lamunannya tak menyadari ada seseorang di belakangnya yang mengawasi dirinya sedari tadi.
“tap... tap...” Galen memutuskan untuk menghampiri Orion.
Baru beberapa langkah dia berjalan, dari kejauhan dia melihat Ariel yang sedang berjalan menuju Orion. Karena tak mau berurusan dengan manusia serigala itu Pangeran Galen pun mengurungkan niatnya dan segera pergi dari sana.
“Brengsek... kenapa serigala sialan itu selalu datang disaat aku mau mendekati gadis itu ?!” gumamnya merasa kesal setelah pergi dari taman itu dan melihat ke arah mereka yang kini duduk berdua di taman.
Keesokan paginya Galen mengikuti Orion yang sedang berjalan ke perpustakaan. Lagi-lagi langkahnya terhenti saat melihat Ariel yang datang dari kejauhan menyusul gadis itu.
“Sial... kenapa si serigala itu selalu saja menempel terus pada gadis itu. Sepertinya dia tidak memberikan kesempatan orang lain untuk mendekatinya.” gumamnya. Pangeran Galen berbalik dan segera mundur lalu pergi sejauh jauhnya dari sana.
Sudah beberapa kali selama beberapa hari ini Pangeran Galen selalu gagal saat ingin mendekati gadis itu. Hingga pada suatu pagi dia melihat gadis itu keluar dari toilet wanita.
Setelah Orion berjalan agak jauh dari toilet, dia pun segera mendekati gadis itu saat melihat tak ada ada Ariel yang selalu menempel di sisinya. Dengan cepat dia pun melesat dan sudah ada di depan gadis itu.
“Ah.... Galen... ?!”
Orion terkejut sekali saat melihat tiba-tiba lelaki itu ada di depannya dan mengagetkannya.
“Ah apa aku mengagetkan mu...” tanyanya saat melihat ekspresi terkejut di wajah gadis itu. Namun gadis itu hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya untuk menjaga perasaan lelaki itu.
Galen yang hafal jika beberapa menit lagi pasti si serigala itu akan datang, tiba-tiba melakukan tindakan nekad. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu dia menjadi kalap.
“Ada apa...” tanya Orion pada lelaki itu. Pangeran Galen tidak menjawab dan melihat ke sekitar setelah itu dia membekap mulut Orion sebelum gadis itu mulai berbicara lagi. Dia menuntun Orion berjalan dengan cepat sambil menutup bibirnya dan memegang erat tangannya ke suatu lorong gelap yang sepi.
Tak lama kemudian kalian melepaskan tangan dari bibir Gadis itu dan melepaskan kan tangannya.
“Hah... hah...” Orion menghirup nafas dalam-dalam setelah merasa kesulitan nafas sebelumnya.
Gadis itu mundur dan menjauh dari kaleng karena dia merasa takut jika lelaki itu akan melakukan sesuatu hal yang buruk padanya setelah apa yang diperbuatnya barusan.
Wajahnya terlihat pucat saat melihat lelaki itu kembali mendekatinya.
“Aku harus lari dari sini sebelum dia melakukan kan sesuatu yang buruk padaku...” batin anak itu yang terus berjalan mundur dan akhirnya memutuskan untuk lari di lorong yang gelap itu.
“Orion... tunggu... !” teriak Galen yang mengejar gadis itu dan berhasil meraih bahunya.
Orion tampak gemetar saat lelaki itu berhasil menangkapnya.
“Lepaskan aku psiko ! Apa yang mau kau lakukan pada ku ?!” ucapnya sambil mendorong tubuh Galen mendorong dari dirinya.
Galen baru menyadari apa yang telah dilakukannya pada gadis itu. Rupanya tindakannya itu sudah membuat gadis itu ketakutan. Dia sendiri tidak tahu kenapa dia mendadak bisa terobsesi pada Orion.
“Ah... maaf Orion... jangan salah paham. Aku bisa jelaskan ini semua padamu. Aku... aku tidak bermaksud melakukan hal ini padamu. Aku hanya ingin bicara sendiri denganmu tanpa gangguan dari temanmu itu.
“Apa... ???” tanya gadis itu heran bukan main pada apa yang barusan diucapkan oleh Galen.
“Sungguh kau membuatku takut setengah mati... ku kira kau mau melakukan hal buruk padaku...” ucapnya lagi sambil menghirup nafas dalam-dalam dan sedikit merasa lega setelah mendengar penjelasan dari Galen.
“Ya... aku tahu aku salah... tapi tolong percaya pada ku. Aku tak punya niat buruk sama sekali padamu. Aku hanya tak nyaman saja jika ada Ariel saat berada di dekatmu.” jelasnya yang membuat Orion masih bingung pada ucapannya itu.
Galen kembali menjelaskan pada Orion bahwa dirinya memang benar-benar tidak ada motif lain dan dia hanya ingin bicara dengan gadis itu. Orion mencoba mempercayai ucapan lelaki itu.
“Jadi apa yang mau kau bicarakan dengan ku ?” tanyanya kembali pada Galen.
“Em... aku hanya ingin bicara santai saja denganmu dan lebih mengenalmu...”
Orion mengernyitkan dahinya mendengar ucapan dari Galen dan mencoba mencerna kata-katanya.
“Orion bisakah kita lebih sering bertemu sendiri tanpa adanya Ariel ?” tanyanya tiba-tiba.
“Ha... ?” ucapnya yang semakin bingung sambil tertawa tertahan menatap lelaki itu. Mereka pun akhirnya berjalan keluar menyusuri lorong gelap yang panjang itu sambil mengobrol ringan.
BERSAMBUNG...