
Percakapan antara Raja Netra dan Ratu Bonita seketika terhenti saat melihat ada Pangeran Diaz yang masuk ke sana.
“Salam...ayah dan ibu...” ucap Pangeran Diaz memberi salam saat bertemu dengan kedua orang tuanya.
“Ya nak... beberapa waktu aku tidak bertemu denganmu....” ucap Ratu Bonita yang tersenyum pada putranya setelah sekian lama tak bertemu dengannya.
“Ya... aku ada sakit urusan di luar Ibu.” jawab Pangeran Diaz singkat.
Tiba-tiba Raja Netra terdiri dari singgasana dan menghampiri putranya. Lelaki itu lalu menarik Pangeran Diaz dan mengajaknya duduk di kursi singgasana.
“Ayah... apa yang ayah lakukan ?” tanya Pangeran Diaz menarik tangannya dan berhenti berjalan, menolak ajakan ayahnya untuk duduk di kursi singgasana.
“Sayang... duduklah bersama ayah mu. Mungkin ada yang mau dibicarakan nya denganmu.” ucap Ratu Bonita yang melihat baterainya menolak untuk duduk di singgasana dan mencoba membujuknya.
Mendengar penuturan ibunya Pangeran Diaz pun kembali berjalan dan sekarang duduk di kursi singgasana di sebelah ayahnya.
“Bagaimana rasanya duduk disini, anak ku ?” tanya Raja Netra tiba-tiba saat Pangeran Diaz sudah duduk dengan nyaman.
“Kurasa duduk di mana pun sama saja ayah.” balasnya singkat dan mengerti apa yang dimaksud oleh ayahnya.
“Nak... kau salah. Dengan duduk di sini memberikan penghormatan tertinggi pada mu. Semua ada dalam genggaman tanganmu.” jawab Raja Netra.
Pangeran Diaz sama sekali tak merespon perkataan ayahnya yang menatapnya dengan tersenyum.
“Nak... kau aku mulai merasa lelah duduk di sini. Aku ingin ada yang menggantikan aku. Dan kurasa kaulah yang paling cocok.” ucap Raja Netra lagi mengutarakan keluh kesah dan maksudnya namun tetap saja pangeran Diaz tidak merespon nya.
“Aku... maaf ayah aku tidak tertarik untuk menjadi penerus ayah. Mungkin ayah bisa menunjuk Asoka sebagai pengganti ayah... ” jawab Pangeran Diaz merespon dengan dingin.
“Kau....” ucap Raja Netra tertahan seiring dengan menahan rasa kesalnya pada putranya.
“Sayang... kau ini bagaimana. Harusnya kau senang mendapatkan tawaran yang diinginkan oleh sebagian warga amulet.” ucap Ratu Bonita mendukung suaminya sambil menyentuh bahu Pangeran Diaz.
Pangeran Diaz menatap kedua orang tuanya secara bergantian sebelum mengutarakan maksud kedatangan sebenarnya.
“Ayah... aku tidak menolak tapi... aku belum siap menerima mandat itu darimu.” jawab lelaki itu agar tidak membuat kedua orang tuanya kecewa padanya.
“Ayah... sebenarnya tujuan ku datang kemari adalah untuk membicarakan suatu hal.” ucap Pangeran Diaz menatap ayahnya yang raut muka nya sudah berubah dan tak menyimpan rasa kesal padanya.
Raja Netra tampak penasaran pada apa yang akan di bicarakan oleh putranya.
“Ya katakan saja...” jawab Raja Netra sambil menyandarkan tubuhnya ke singgasana.
“Ayah... aku ingin minta bantuan pada mu. Aku ingin ayah mengizinkan istri dan putriku tinggal di negeri amulet ini.”
Raja Netra tampak terkejut sekali mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Pangeran Diaz dan raut mukanya berubah kembali menjadi kesal.
“Apa...?? Apa kau sadar pada apa yang kau minta ?!” tanya Raja Netra yang melihat Pangeran Diaz mengangguk.
“Tenanglah sayang...” ucap Ratu Bonita mencoba menenangkan suaminya agar tidak emosi.
Raja Netra diam dam tampak berpikir. Memang dirinya bisa dan punya kuasa untuk membawa menantu dan cucunya kembali ke amulet, namun semuanya tidak semudah membalikkan telapak tangan dan pasti ada pergolakan ataupun penolakan nantinya.
“Ayah... apa kau tak merasa iba padaku ? Bagaimana hidupku tanpa ditemani oleh istri dan anakku. Dan yang terparah apa ayah tahu bagaimana kehidupan istri dan anakku yang selalu diburu ?” ucap Pangeran Diaz menjelaskan pada ayahnya apa yang di rasakan nya selama ini.
Raja Netra diam dan tak merespon permintaan Pangeran Diaz. Namun dari matanya tampak jika lelaki itu bisa merasakan kesedihan yang selama ini dirasakan oleh putranya. Dalam hati dia juga merasa bersalah karena memisahkan mereka dan mengabaikan hati nuraninya demi kepentingan warga negeri amulet.
“Tunggu.... !!” teriak Raja Netra untuk menghentikan Pangeran Diaz.
Pangeran Diaz berhenti dan berbalik lalu menghadap ayahnya.
“Ya ayah...”
“Aku bisa mewujudkan keinginan mu asal kau mau menggantikan posisi ayah...” ucap Raja Netra
“Sayang... terima saja tawaran ayah mu ?!” ucap Ratu Bonita berdiri dari duduknya dan menghampiri Pangeran Diaz untuk membujuknya.
Pangeran Diaz tampak diam dan tak bisa memberikan jawaban. Dia bisa memberikan jawaban sesegera mungkin pada ayahnya untuk saat ini.
“Nak... jika kau mau menuruti permintaan ayam dan kau menjadi penguasa di negeri amulet, maka kamu bisa merubah aturan sesuka hatimu.” ucap Ratu Bonita berbisik lirih di telinga putranya untuk membujuknya.
“Ayah... aku tak bisa menjawabnya sekarang. Aku harus memikirkannya lebih dulu.” ucapnya kemudian pergi dari sana dan keluar dari istana.
Ratu Bonita dan Raja Netra saling menatap setelah kepergian Pangeran Diaz.
“Bersabarlah dan tunggu saja jawaban dari putramu, sayang...” ucap Ratu Bonita kembali menghampiri suaminya dan duduk di sebelahnya.
Sementara itu di lain tempat di istana Cawan Suci.
Galen kembali menemui Orion yang berada di suatu ruangan di istana itu.
“tap... tap...” Orion mendengar suara langkah seseorang masuk ke ruangan. Dia pun segera berdiri dan keluar dari ruangan itu.
“Galen...” panggil Orion setelah melihat yang datang ternyata memang Galen.
"Apa pelayan di sini udah membawakan minuman untukmu ?” tanya Galen yang berhenti di depan pintu ruangan dan melihat ke arah dalam.
“Ya sudah... aku sudah menghabiskannya karena kau lama sekali.” ucap Orion menghampiri Galen. Dia melihat raut muka Galen yang tampak sedih setelah meninggalkan dirinya tadi.
“Galen... apa ada yang terjadi... kau nampak sedih...” ucap Orion menatap mata galian yang tanpa menyimpan kesedihan.
“Ah... tak ada sayang. Jika kau sudah selesai lebih baik kita kembali pulang sekarang.”ajak Galen tiba-tiba sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya.
“Ayo kita pulang...” jawab Orion tersenyum saat Galen memegang tangannya.
Mereka berdua lalu berjalan menuju ke ruangan Raja Edwin untuk berpamitan.
“Ayah... kami mau kembali dulu.” ucap Galen pada ayahnya yang masih terlihat sibuk di ruangannya.
Raja Edwin berdiri dan menghampiri mereka berdua meninggalkan sebentar pekerjaannya yang masih setumpuk.
“Ya hati-hati di jalan...” balas lelaki itu sambil tersenyum dan mengantar mereka berdua sampai ke luar istana.
setelah kepergian Galen dan Orion Raja Edwin kembali masuk ke istana dan kembali ke ruang kerjanya.
“Sepertinya aku harus mencarikan seorang putri untuk Galen dari kerajaan lain.” batin lelaki itu sambil tersenyum lalu kembali mengerjakan tugasnya yang masih setumpuk.
BERSAMBUNG....