
Galen menggenggam erat tangan Orien dan menaiki tangga menuju ke tempat diadakannya acara perjamuan makan malam.
Raja Edwin tampak cemas dan memperhatikan sekitar. Rasa hadirnya hilang seketika setelah melihat Galen datang.
“Akhirnya kau datang juga. Ayah kira kau tidak hadir di acara perjamuan kali ini.” ucap Raja Edwin menghampiri Galen yang baru saja menapakkan kakinya di ruangan itu dan tidak tahu jika Orion masih berjalan di belakang Galen menaiki tangga.
“Ya Tentu saja aku akan datang ayah... tapi sebenarnya ini acara untuk merayakan apa...” jawab Galen sembari bertanya karena sama sekali tidak mengerti.
Galen melihat ke sekitar dan para undangan yang datang semuanya adalah seorang gadis.
“Ayah kenapa para undangan yang hadir malam ini semuanya adalah seorang wanita... ?” tanya Galen pada ayahnya tanpa rasa curiga sedikit pun.
“Sebenarnya malam ini adalah acara perjamuan makan malam untuk mencarikan...”
Kalimat Raja Edwin terhenti saat melihat Orion masuk dan sekarang berdiri di samping Galen.
“Orion... ?” ucap Raja Edwin yang terkejut dan seketika terlihat cemas.
Orion yang dampak gugup saat bertemu ayahnya Galen, secara tak sadar memegang lengan Galen.
“Ayah.... aku mengajak serta Orion ke sini.” ucapnya sambil tersenyum dan menggenggam tangan Orion.
“Salam Raja Edwin...” ucap Orion memberi salam pada lelaki itu.
Raja Edwin tersenyum menjawab salam dari gadis itu. Lelaki itu kemudian beralih menatap Galen.
“Galen ke sini sebentar... ada yang mau ayah katakan padamu.”
Galen melepas genggaman tangannya lalu melangkah maju dan lebih mendekat pada ayahnya.
“Sayang tunggu sebentar di sini. Aku akan segera kembali...” ucap Galen.
Orion mengangguk meskipun sebenarnya dia tak ingin Galen meninggalkan dirinya sedetikpun di tempat itu.
“Orion... aku ada urusan sebentar dengan Galen. Kau boleh duduk dulu menunggu Galen.” ucap Raja Edwin untuk memisahkan sementara Orion dengan putranya.
“Silahkan Raja Edwin... aku akan menunggu Galen di sini...” jawab Orion sambil tersenyum.
Galen mengikuti Raja Edwin berjalan ke tengah di mana di sana banyak wanita cantik yang berkumpul dan menunggu acara dimulai.
Sementara Orion mencari tempat duduk di dekat meja makan dan meminum segelas minuman yang sudah disediakan di sana sambil menunggu kedatangan Galen kembali.
Saat Galen jalan ke tengah para wanita itu menatapnya dan beberapa di antara mereka berbisik dan juga berbicara secara langsung.
“Jadi dia adalah Pangeran Galen... jadi tidak rugi bagi ku untuk mengikuti acara pemilihan putri untuk di jadikan pendampingnya.” ucap salah seorang putri yang berbisik pada putri lainnya.
“Ya... ternyata dia memang tampan...” balas seorang putri yang juga berbisik.
Seorang putri berjalan melewati Galen dan sepintas menatapnya.
“Ku harap nanti kau memilih ku..” ucap seorang putri lirih.
Galen menoleh ke belakang dan tempat mendengar apa yang dikatakan oleh wanita tadi.
“Apa yang dimaksud wanita tadi ?Memilih.... apa ini adalah...” batinnya terkejut.
“Galen ini adalah acara mu...ayah sengaja mengundang banyak putri dari berbagai kerajaan. Kau bisa pilih salah satu dari mereka sebagai calon istrimu nanti.” ucap Raja Edwin menjelaskan pada Galen.
Seketika Galen terlihat syok dan tampak terkejut mendengar pernyataan dari ayahnya. Dia pun berhenti untuk bicara pada ayahnya.
“Ayah... apa yang sebenarnya ayah rencanakan ? Ayah memintaku untuk memperistri salah satu dari mereka... ? Tidak ayah... aku tidak mau, aku hanya mencintai Orion.” ucap Galen menolak.
“Galen... Orion itu merupakan saxion, amulet jenis rendah yang akan memperburuk keturunan mu nanti.” terang Raja Edwin menjelaskan poin utama kenapa dia mencarikan calon istri yang lebih baik dari Orion.
Galen tidak mendengar apa yang diucapkan oleh ayahnya. Dia merasa kesal pada tindakan ayahnya yang mengadakan acara pernikahan istri tanpa memberi tahu dirinya sebelumnya. Dia berbalik dan berjalan menuju ke tempat Orion menunggunya.
“Ku mohon... jangan mempermalukan ayah. Kau mulai saja acaranya, setidaknya kau sambut mereka semua.” ucap Raja Edwin memohon.
Melihat wajah ayahnya yang memelas, Galen pun tak tega melihatnya dan dia pendingin membuat ayahnya malu di depan umum.
“Ayah... baiklah kali ini aku akan turuti permintaan Ayah. Tapi aku sudah putuskan bahwa aku hanya akan memilih Orion.” bisik Galen lirih di telinga ayahnya.
Galen kembali ke tengah di tempat para putri sedang berkumpul.
Sementara itu Orion sedari tadi menatap ke sekitar dan menunggu Galen yang tak kunjung kembali.
“Galen ke mana... kenapa dia lama sekali ?” gumamnya lirih sambil berdiri dan melihat di tengah keramaian untuk mencari keberadaan kekasihnya.
Beberapa orang putri berjalan melewati Orion dan bercakap-cakap.
“Aku baru pertama kali melihat Pangeran Galen dan ku rasa aku langsung jatuh hati padanya pada pandangan pertama. Ku harap dia memilihku sebagai istrinya nanti.” ucap seorang orang wanita pada temannya.
“Aku juga ingin Pangeran Galen memilih ku. Jadi ku rasa kita harus bersaing secara fair untuk menentukan siapa yang pantas menjadi pendamping dari Pangeran Galen.” jawab wanita lain sambil tersenyum dan berlalu melewati Orion.
“Apa aku tidak salah dengar... apa yang mereka bilang tadi... jadi acara ini adalah acara pertemuan untuk mencari pendamping hidup Galen ?!” batin Orion sangat terkejut dan tidak senang dengan apa yang barusan didengarnya.
Orion berjalan maju menuju ke tengah untuk memastikan kebenarannya sendiri.
Sementara itu Galen yang merasa cemas dan takut jika Orion melihatnya nanti akan salah paham segera memulai acaranya.
“Semuanya yang hadir di sini acara perjamuan makan malam kali ini dimulai. Silahkan untuk mulai menyantap hidangan yang kami sajikan.” ucap Galen membuka acara tanpa menyebutkan bahwa acara itu adalah acara pemilihan calon istri untuk dirinya.
Para gadis yang merupakan putri dari berbagai kerajaan yang berkumpul di sana segera menyantap hidangan yang tersaji di depan mereka.
Dari kejauhan Putri Shirein yang sedari tadi melihat Galen dari kejauhan berjalan mendekati lelaki itu karena dia merasa tertarik pada Galen, walaupun sebelumnya dia tak ingin menghadiri acara perjamuan pesta makan malam ini.
“Salam Pangeran Galen...” ucap Putri Shirein menyapa Galen setelah berada di dekatnya.
“Salam...” jawab Galen balas menyapa seorang putri yang tidak dikenalnya sama sekali.
“Perkenalkan aku Putri Shirein dari istana Pasir Emas...” ucap putri itu memperkenalkan dirinya.
“Salam Putri Shirein...” balas Galen dengan melempar senyum pada gadis itu. Sejenak Galen memandang wajah sang putri yang menurutnya paling cantik di antara para putri yang hadir saat itu. Namun baginya yang tercantik tetaplah Orion.
Putri Shirein yang tak tahu jika Galen sudah mempunyai kekasih, mengajaknya berdansa di saat musik mengalun lembut di sana.
“Pangeran Galen... maukah kau berdansa sebentar denganku... ?” tanya sang putri menaruh gelas yang dipegangnya kemeja dan memegang tangan Galen.
Galen pun menjadi dilema. Dalam hati dia tak ingin berdansa dengan Putri Shirein, tapi dia juga tak ingin mencoreng nama ayahnya di muka umum.
Karena tak ada jawaban dari lelaki itu, Putri Shirein menganggap Galen menyetujuinya dan dia pun langsung memegang pinggang dan tangan Galen lalu menggiringnya untuk berdansa.
Di saat bersamaan Orion melihat Galen yang sedang berdansa dengan seorang gadis di depan matanya.
“Galen... kau... apa yang kau lakukan... ?!” ucap Orion sangat terkejut dan syok melihat pemandangan yang tak ingin di lihatnya.
“prang... !” Gelas di tangan Orion seketika terlepas dari tangannya. Gadis itu seketika berlari meninggalkan tempat perjamuan makan malam dengan berderai air mata.
Galen tersentak saat mendengar bunyi gelas yang pecah dan melihat Orion yang berlari dari sana.
“Celaka... Orion melihat ini dan dia salah paham padaku... !” batin Galen yang merasa bersalah.
“Maaf Putri Shirein aku pergi dulu...” ucap Galen menyingkirkan tangan Putri Shirein dari tubuhnya.
Galen dan mempedulikan Putri Shirein dan pergi meninggalkan acara jamuan makan malam saat itu untuk mengejar Orion.
BERSAMBUNG...