
Di istana bulan tampak Ratu Bonita sedang duduk berdua bersama Raja Netra di balkon istana.
“Sayang... sudah berhari-hari tak ada kabar dari putra kita padahal kau sudah merubah aturan yang mungkin saja jika dia tahu akan senang karena nya.” ucap Ratu Bonita berdiri dan berjalan ke pagar di tepi balkon.
“Yang penting aturan itu sudah berubah sebagai permintaan maaf ku padanya. Cepat atau lambat nanti dia juga akan tahu sendiri dan dia akan segera ke sini.” balas Raja Netra tak beranjak dari duduknya dan menatap langit yang terlihat dari balkon.
Tak beberapa lama kemudian Pangeran Diaz tiba di istana bulan dingin. Dia berjalan dengan cepat memasuki gerbang istana.
Ratu Bonita tak sengaja menatap ke bawah dimana gerbang istana bisa dilihat dari tempatnya berdiri sekarang.
“Siapa malam-malam begini ke istana... dan ada perlu apa... ?” batin Ratu Bonita saat melihat ada seseorang yang masuk melewati pintu gerbang tapi tidak jelas Siapa yang masuk karena cepat.
“tap... tap... tap...” suara langkah Pangeran Diaz di dalam istana.
Lelaki itu masuk ke ruang utama dan mencari ayahnya Atau ibunya, namun dia tak menemukan mereka berdua di sana.
“Kemana ya ayah atau ibu...” batinnya keluar dari ruang utama dan mencari ke tempat lain namun masih tak menemukan mereka juga.
Saat berjalan lagi dia berpapasan dengan Bruno dan bertanya padanya.
“Bruno apa kau tahu di mana ayah dan ibu sekarang ?”
“Oh... Pangeran Diaz... salam...” jawab lagi itu sambil memberi hormat.
“Raja Netra, sepertinya tadi berada di balkon bersama Ratu Bonita.” jawab lelaki itu setelah mengingatnya.
Pangeran Diaz segera berjalan menaiki tangga dan menuju ke balkon meninggalkan Bruno sendiri.
Ratu Bonita menoleh ke belakang setelah lelah menatap gerbang istana yang terlihat dari sana. Dan kata-kata terkejutnya dia saat melihat lelaki yang barusan masuk ke balkon.
“Diaz.... ?!” ucap Ratu Bonita terperanjat.
Seketika Raja Netra ikut menoleh ke belakang untuk melihatnya. Lelaki itu segera berdiri saat Pangeran Diaz menghampirinya.
“Ayah... apa benar ayah yang telah merubah aturan agar aku dan keluarga aku bisa tinggal di sini...?” tanya lelaki itu pada Raja Netra yang tampak senang melihat kedatangannya meskipun terkejut.
Raja Netra mengangguk pelan sambil tersenyum menatap Pangeran Diaz.
“Terima kasih ayah sudah membantuku kali ini. Aku tak menyangka ayah melakukannya.” ucap lelaki itu membalas senyuman ayahnya.
“Itu sebagai permintaan maaf ayahmu untuk mu, nak.” ucap Ratu Bonita ikut menghampiri Pangeran Diaz.
Raja Netra yang biasanya terlihat angkuh dan berpendirian teguh di depan semuanya kini terlihat lemah dan rapuh di hadapan putranya sendiri.
“Ya... aku minta maaf padamu karena telah membuatmu kecewa. sampaikan aku juga untuk Orion.” ucap lelaki itu yang tanpa merasa bersalah dan meminta maaf dengan tulus.
“Ayah... tak perlu minta maaf padaku...” jawabnya lalu memeluk ayahnya dengan hangat.
“Jadi apa kau bersedia menggantikan ayah ?” tanya lelaki itu.
“Ya ayah...” jawab Pangeran Diaz singkat.
Raja Netra tampak berseri-seri mendengar jawaban dari putranya.
“Jadi cepatlah ajak istri dan putri mu ke sini...” ucap Raja Netra lagi sambil tersenyum lebar.
Pangeran Diaz mengangguk dan mereka melanjutkan obrolan dengan Ratu Bonita sampai larut malam.
Satu minggu kemudian di sore hari.
Galen yang sudah berpakaian rapi dan tampak menawan dalam balutan pakaian khas seorang pangeran menjemput Orion di rumah.
“tok... tok...” Suara Galen mengetuk pintu setelah sampai di depan rumah Orion.
“Itu pasti Galen...” ucap Orion menoleh ke belakang melihat ibunya yang membantunya mengenakan gaun berwarna merah marun.
“Sudah selesai nak, kau tempat cantik sekali malam ini.” ucap Putri Zoya sambil tersenyum setelah menarik resleting orang yang di atas.
Orion berjalan cepat dan membuka pintu. Dia terpana saat melihat galeri yang benar-benar berbeda dari biasanya.
“Galen... kau terlihat tampan sekali hari ini.” ucap gadis itu memuji kekasihnya dan menyentuh pipinya.
“Orion... kau juga terlihat sangat cantik malam ini.” ucapnya balas memuji kecantikan Orion dan menyentuh dagunya.
Galen kemudian mencium bibir merah Orion sambil memeluknya.
Tak beberapa lama kemudian mereka berdua mengakhiri ciuman mereka saat mendengar suara langkah kaki menuju ke ruang tamu.
“Ayah... ibu....kami berangkat dulu.” ucap Orion berpamitan pada ayah dan ibunya yang berdiri di belakangnya.
“Jaga Orion...” ucap Pangeran Diaz pada Galen.
“Ya... tentu saja aku akan menjaga gadis keras kepala ini dengan baik...” balasnya sambil menggenggam tangan Orion dan tersenyum menatap gadis itu.
Tak berapa lama kemudian mereka berjalan menuju ke istana Cawan Suci.
Orion tampak kesulitan berjalan mengenakan gaun dan Galen melihatnya. Dia pun menarik tubuh Orion dan menggendongnya.
“Galen... apa yang kau lakukan ?” ucap Orion yang kaget saat lagi itu menggendong tubuhnya.
“Aku tahu kau kesulitan berjalan. Pegangan yang erat !” balas lelaki itu sambil tersenyum.
“Galen apa kau tidak lelah nanti... Aku tak mau menjadi beban mu.” ucap Orion menolak dan berusaha turun.
“Kau memang gadis keras kepala. Ikuti saja ucapan ku. Aku tak merasa lelah sama sekali menggendong gadis secantik dirimu.” ucap Galen bersikeras dan memper erat pelukannya.
Orion pun menurut pada Galen. Dia menurunkan kedua tangannya pada leher Galen dan Galen lalu melompat ke udara dan melesat dengan cepat sambil menggendong Orion.
“Apa kau tidak merasa lelah... jika maka turunkan lah aku.” pinta Orion yang merasa tak tega pada lelaki itu.
“Jika begitu maka berikanlah aku tambahan energi agar aku tidak merasa lelah...” ucap Galen sambil terus melesat dengan cepat di udara.
“Kau minta apa...” jawab Orion balas bertanya.
“Ku rasa kau sudah tahu apa yang ku mau...” jawab lelaki itu tersenyum menatap Orion.
Orion mendekatkan wajahnya dan mencium lembut bibir Galen.
Sementara itu di istana Cawan Suci sudah terlihat ramai.Di dalam istana sudah berkumpul para putri yang cantik dari berbagai kerajaan yang menunggu kedatangan kalian dan menunggu acara perjamuan dimulai.
Tampak Raja Edwin yang terlihat cemas dan sering menatap keluar istana dari balkon tempat diadakannya acara rapat jamuan makan malam itu.
“Kenapa Galen belum datang juga... apa dia tidak mau datang malam ini...” tanya Raja Edwin dalam hati yang tampak cemas dan gelisah jika Galen tidak datang dan terpaksa harus membatalkan acara perjamuan malam kali ini.
Raja Edwin melihat William yang melintas di dekatnya dan memanggilnya.
“William... coba cari Pangeran Galen di depan, apa dia sudah datang ?” ucap Raja Edwin berbisik pada lelaki itu.
Tak menunggu lama William pun segera turun dan mencari Pangeran Galen di depan istana.
“Akhirnya kita sampai... berkat ciuman mu di sepanjang jalan, sayang.” ucap Galen menurunkan Orion saat tiba di depan gerbang istana Cawan Suci
“Sepulang dari acara perjamuan makan malam nanti kau harus memberiku hadiah atas jasa ku tadi...” bisik Galen lirih di telingaku Orion.
“Kau ini... dasar mesum.” jawab Orion sambil tersenyum kecil dan memerah pipinya.
Galen menganggap erat tangan orang yang dan berjalan masuk ke istana. Di tengah jalan dia bertemu dengan William.
“Ah... Pangeran Galen...Raja Edwin sudah menunggu kedatangan mu di atas.” ucap lelaki itu saat bertemu dengan Galen dan menatap Orion lalu mencoba menyembunyikan kekalutannya.
Galen pun segera berjalan bersama Orion menuju ke tempat perjamuan makan malam berlangsung. Sementara itu William tampak pucat dan berharap semoga acaranya berlangsung lancar.
BERSAMBUNG...