Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 59 Menyusul Orion


Orion melihat pengawal istana itu berjalan ke tempatnya berada sekarang. Gadis itu semakin takut melihat pengawal itu sudah berjalan semakin dekat dengannya. Dia berpikir apa yang harus dilakukan agar pengawal itu tidak menemukannya.


Dia menatap ke atas dan tanpa pikir panjang gadis itu langsung melompat ke atas dibalik semak pohon.


“Sekali lagi Tuhan... tolong lindungi aku tolong jangan sampai aku tertangkap basah oleh pengawal itu....” batinnya dalam hati sambil terus berdoa semoga ada keajaiban lagi yang terjadi pada dirinya.


“tap...” pengawal penjaga itu berhenti tepat di bawah pohon. namun tiba-tiba pengawal menjaga satunya memanggil dirinya.


“Hey cepat kembali ada sesuatu yang mendesak sekarang. Cepat kembali dan bantu aku !” Teriak pengawalan penjaga gerbang lainnya pada pengawal itu.


“Sialan kau... ! Apa kau tidak tahu aku ini sedang mencurigai ada seorang penyusup yang masuk ke sini dan memeriksanya... ?!” ucap pengawal penjaga itu yang kesal karena belum selesai memeriksa, rekannya sudah memanggilnya dan menyuruhnya untuk kembali.


Pengawal itu akhirnya berbalik dan berjalan cepat kembali ke pintu gerbang.


Sedangkan Orion masih ada di atas pohon dan mengawasi dari atas, kakinya yang gemetar sekarang menjadi stabil kembali dan nafasnya juga menjadi stabil.


“Syukurlah aku selamat kali ini...terima kasih Tuhan...” ucapnya pelan sambil tersenyum kecil.


Tiba-tiba dalam sekejap di depan Istana itu kosong tanpa penjaga. Mereka berdua masuk kedalam istana entah ada perintah apa atau masalah apa.


Tak lama kemudian satu pengawal keluar lalu masuk ke ruangan lain dan memanggil pengawal lainnya yang merupakan seorang kusir.


“Siapkan kereta dalam waktu sepuluh menit. Ratu Bonita akan melakukan kunjungan ke istana Hantu Perak...!” ucap pengawal tadi pada kusir itu.


“Ya....” jawab kusir itu lalu segera pergi dan menyiapkan kereta kuda untuk sang ratu.


Lima menit kemudian sebuah kereta kuda yang mewah dan besar sudah menunggu di depan pintu gerbang istana itu.


“Jadi ratu dari kerajaan ini akan keluar sebentar lagi...” ucapnya mendengarkan percakapan dua pengawal itu dari balik pohon.


Gadis itu semakin antusias mendengar percakapan itu menurutnya jika ratu kerajaan itu keluar berarti anggota keluarga kerajaan lainnya juga pasti akan keluar. Mungkin saja dia akan melihat ayahnya nanti.


Beberapa saat kemudian Ratu Bonita keluar dan berjalan menuju ke kereta kuda yang telah disiapkan untuknya. Langkahnya terhenti saat seseorang lelaki memanggilnya.


“Ibu... apakah aku perlu ikut dengan ibu... ?” ucap lelaki itu.


Orion memasang mata saat melihat pangeran yang keluar itu dia mengamati sosok lelaki itu.


“Sepertinya dia bukan ayahku. Tak mungkin ayahku semuda itu. Mungkin saja dia adiknya.” ucapnya saat mengintip dari balik pohon sosok lelaki yang mengikuti Ratu itu.


“Asoka.... kau tak perlu ikut bersama ibu. Ini hanya kunjungan biasa saja. Aku akan baik-baik saja.” ucapnya melarang Pangeran itu ikut serta dengannya.


Sesaat kemudian Pangeran itu mundur dan setelah sang ratu masuk, kereta itu pergi meninggalkan istana megah yang besar itu.


“Selalu saja ibu bersikap seperti itu padaku. perlakuannya pada ku selalu berbeda dengan perlakuannya pada kakak. Coba saja misal tadi kakak Diaz yang meminta menemaninya, pasti ibu akan mengizinkannya.” ucapnya mengeluh kemudian pergi masuk kedalam istana kembali setelah melihat kereta kuda hilang dari pandangannya.


“Jadi dia memang bukan Ayahku dia adalah adik ayahku... lalu dimana ayah ku...” batinnya penasaran setelah mendengar apa yang diucapkan oleh pangeran itu.


Kedua penjaga lainnya saat itu bercakap-cakap setelah Pangeran Asoka ke dalam.


“Menurutku memang hanya Pangeran Diaz yang dewasa dan cocok untuk menggantikan posisi Raja Agastya di kemudian hari. Namun sayang sejak kejadian itu pangeran tak pernah sekalipun menampakan kan diri di istana ini.” jawab penjaga itu pada temannya.


“Jadi ayah ku tidak tinggal di istana ini... kalau tidak tinggal di sini lalu dia tinggal dimana...dan kejadian apa yang mereka maksud ?” batin Orion yang semakin penasaran setelah mendengar percakapan dua penjaga itu.


“Sayang sekali pangeran hanya mengurung diri di Villa Jantung Emas sampai sekarang ini dan tidak tahu apa yang dilakukannya sampai detik ini...” ucap penjaga itu lagi.


Kedua penjaga itu kemudian menghentikan pembicaraan mereka dan melanjutkan tugas mereka menjaga pintu gerbang.


“Villa jantung emas... jadi Ayahku tinggal di sana... tapi aku tidak tahu dimana villa itu berada. Bagaimana aku mencari tempatnya ?” batin gadis itu kembali penasaran dengan apa yang diucapkan kedua penjaga gerbang itu sambil tetap bersembunyi di atas pohon.


Sementara itu di lain tempat Ariel sedang melesat cepat menyusuri jalan yang sudah dilewati orang yang sebelumnya. Dia melewati hutan yang luas sekali dan melewati perkampungan manusia.


“Ternyata jauh sekali tempatnya...” gumam anak itu terus melesat dan semakin mempercepat langkahnya di udara.


Beberapa saat kemudian setelah dia melewati kerajaan manusia dan juga hutan yang lebat sekali sampailah dia di tempat yang tertutup oleh rimbunan sulur yang menutupi seluruh bangunan itu.


“Apakah di sini istana Bulan Dingin itu.... dibalik rerimbunan sulur ini ?” gumamnya lalu mendarat dan mulai berjalan menyisir area itu.


Dia masih merasakan aroma yang kuat dari Orion di sana. Dia Lalu menyusuri jalan itu dan berhenti di salah satu dinding dan aroma gadis itu menghilang di sana.


“Kenapa aromanya hilang di sini...” tanyanya sambil menyentuh sisi dinding itu dan tiba-tiba saja bagian yang di sentuhnya itu terbuka ke samping.


“Pintu....” Ariel langsung masuk melewati pintu itu dan seketika pintu itu tertutup otomatis.


Setibanya di dalam sana dia kembali berjalan pelan dan mengamati keadaan sekitar sambil melacak aroma keberadaan Orion. Untung saja keadaan di sana sepi dan tak ada yang mengawasi jadi dia bisa leluasa berjalan.


“Aromanya masih kuat di sekitar sini...” gumamnya terus berjalan mengikuti aroma tubuh gadis itu dan dia berhenti tepat di bawah pohon dimana aroma itu tercium kuat sekali di sana.


Ariel langsung menatap ke atas pohon dan melihat gadis itu memang ada di sana. Dengan cepat dia naik ke atas pohon dan menyentuh bahunya yang membuat gadis itu terkejut sekali dan ketakutan menatapnya.


Orion menoleh ke belakang dan keterkejutannya sedikit berkurang setelah melihat orang yang menyentuh bahunya bukanlah pengawal amulet melainkan Ariel.


“Argh.... Ariel.... kau membuat ku terkejut sekali. Ku kira aku tertangkap oleh penjaga negeri ini.” jawabnya bernafas lega menatap sosok temannya itu.


“Ariel apa kau gila... Apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya. Ayo kita cepat kembali sebelum mereka menyadari keberadaan kita.” ucap anak itu menarik tangan Orion dan mengajaknya segera pergi dari sana.


“Tidak... aku masih ingin mencari ayahku... aku harus menemukan ayah, baru aku pergi dari sini.” jawabnya menolak ajakannya sambil melepaskan tangan lelaki itu dari tangannya.


Penjaga pintu gerbang istana yang sebelumnya memeriksa pohon itu kali ini tersadar jika dia melewatkan sesuatu hal. Dia teringat kembali jika sebelumnya dia mau memeriksa pohon yang dicurigai nya ada penyusup itu.


“Sebentar... aku mau memeriksa pohon yang ada di sana.” ucap penjaga gerbang itu pada temannya.


Lelaki itu kemudian berjalan menuju ke pohon tempat dimana Orion dan Ariel masih berada di sana.


BERSAMBUNG....