Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 80 Pembubaran Misi


Sementara itu Galen masih di rumah Orion setelah gadis itu selesai merawat luka bengkak di wajahnya. Dia melihat sekeliling rumah itu sambil menunggu Orion yang masuk ke belakang mengembalikan semangkok es batu dan handuk kecil yang tadi di pakainya.


“Aroma amulet lain tercium di rumah ini, mungkin itu adalah aroma Putri Zoya istrinya Pangeran Diaz.” gumam Galen yang mencium aroma kuat amulet di rumah itu.


Beberapa saat kemudian Orion kembali dan duduk di samping Galen membawa beberapa obat untuk luka luar.


“Apa lagi yang akan kau lakukan padaku ?” tanya Galen melihat Orion meneteskan obat pada kapas.


“Ada sedikit luka di wajah mu. Aku akan menutupnya agar tidak terjadi infeksi pada luka mu. Kau diam saja jangan bergerak.” ucapnya lalu mengoleskan kapas pada luka di wajah kering setelah itu menutupnya dengan plester.


“Orion... apa kau di rumah ini sendirian ?” tanyanya sambil menunggu gadis itu selesai merawatnya.


“Ibu ku ada di rumah makan, mungkin sebentar lagi akan pulang.” jawabnya sambil menempelkan plester lagi pada wajah Galen.


“Kalau ayahmu di mana dia... ?” tanyanya memancing dan mencoba mengorek informasi dari gadis itu.


Orion selesai menempel plester pada luka di muka Galen dan tampak terdiam mendengar pertanyaan dari lelaki itu.


“Ah... ayah ku... aku sudah lama sekali berpisah dengan ayahku, tolong jangan tanyakan hal itu, aku tak mau membahasnya.” ucap gadis itu menundukkan kepala sambil memegang sisa plester yang tak terpakai.


“Ah... maaf kalau begitu... aku tak tahu jika itu akan membuatmu sedih.” ucapnya yang kecewa karena tak berhasil mengorek informasi dari gadis itu.


Orion mencoba tersenyum di depan Galen meskipun sebenarnya dia merasa sedih sekali dan lelaki itu mengetahui kesedihan Orion namun dia tak bisa berbuat apapun.


Beberapa saat kemudian Galen yang merasa sudah berada lama di rumah Orion minta izin untuk pulang. Di depan pintu, mereka bertemu dengan Putri Zoya.


“Orion... siapa lelaki itu ?” tanya sang putri berbisik lirih di telinga Orion.


“Ah ibu... ini Galen teman ku satu akademi.” ucapnya memperkenalkan Galen pada ibunya.


Galen tersenyum dan terus menatap ibunya Orion yang baru pertama kali dia jumpai.


“Jadi ini Putri Zoya... pantas saja Pangeran Diaz tergila-gila padanya.” batinnya menatap wanita cantik di hadapannya itu.


Putri Zoya mengajak Galen untuk masuk ke rumah, namun dia menolaknya secara halus karena harus segera pulang.


Putri Zoya meninggalkan mereka berdua di luar agar leluasa ngobrol, namun Galen langsung berpamitan pada Orion.


“Terima kasih sudah merawat lukaku. Sampai ketemu besok.” ucapnya lalu pergi meninggalkan Orion.


Gadis itu segera masuk ke rumah dan menutup pintu setelah lelaki itu hilang dari pandangannya. Di dalam rumah, ibunya sudah menunggu di kursi dan mulai menanyakan berbagai hal tentang Galen padanya.


Sementara itu di tengah jalan pulang yang dipakai Pangeran kanan tiba-tiba berkedip lagi menyala hijau.


“Ya bulan darah masuk...” ucap Pangeran Galen menerima pesan suara infrasonik itu.


“Pangeran... kami baru saja mendapatkan perintah dari tuan Bruno. Sepertinya misi kita sudah berakhir dan hanya perlu memantau keberadaan jadi saxion itu saja. Jika kau ingin kembali ke negeri amulet maka segeralah kembali.” ucap Krish dalam gelombang infrasonik.


Pangeran Galen segera melesat cepat ke udara dan menuju ke tempat tinggalnya sementara yang ada di negeri anubis. Selama perjalanan dia berpikir apa benar misi ini telah berakhir ? Ataukah itu hanya keputusan sepihak dari timnya. Karena menurutnya tak mungkin jika seorang Raja Agastya begitu cepat mengakhiri misi tanpa hasil.


“Dari awal jika dipikir lagi misi ini sebenarnya hanya sebuah lelucon bodoh yang bertujuan untuk mempermalukan diriku saja, bukan ? Jika misi ini berakhir seharusnya aku merasa senang...” gumamnya lagi setelah berpikir.


Beberapa saat kemudian Pangeran Galen tiba di rumah kecil yang dia sewa selama tinggal di negeri anubis.


“brak...” dia membuka pintu dan berjalan cepat segera masuk ke kamarnya.


Dia duduk dan segera melakukan kontak kembali dengan tim siluman.


“Tim siluman.... masuk.” ucap tiba-tiba dari seseorang saat sudah tersambung dengan seseorang dari gelang yang berkedip di tangan Pangeran Galen.


“Tuan Krish apa benar yang kau bilang tadi tentang misi ini... ?” tanya nya pada salah satu anggota tim siluman melalui gelombang infrasonik.


Karena lama tak ada jawaban Pangeran Galen pun mengulangi pertanyaannya.


“Bagaimana... ?”


“Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya. Kami membubarkan misi ini.” jawab Krish masih melalui gelombang infrasonik.


“Jadi katakan padaku misi ini benar-benar telah berakhir atau belum ?” tanyanya lagi pada Krish mulai tidak sabar.


“Ku ulangi lagi perintah dari Raja Netra hanya memantau saja. jadi buat apa kita capek-capek melakukan pekerjaan ini... ? Lebih baik kita kembali ke kehidupan kita dan bersantai... haha... ” ucapnya lagi sambil tertawa.


“Jadi kalian bertiga sendirilah yang memutuskan menghentikan misi sampah ini ?” tanya Pangeran Galen lagi pada Krish.


“Ya kami rasa data perlu melanjutkan misi ini. Jadi sampai sini dulu saja pangeran Galen, kembalilah ke negeri amulet.” ucap suara itu mengakhiri percakapan mereka dan setelahnya gelang di tangan Pangeran Galen sudah tidak bersinar menyala hijau lagi.


“Hiss....apa yang harus kulakukan sekarang ? Aku tahu jika melanjutkan misi sampah ini mungkin aku akan merasa bosan. tapi jika aku berhenti, apa yang akan dilakukan tuan Bruno padaku jika mengetahui hal ini ? Dasar mereka bertiga sudah angkat kaki dan bersenang-senang...” gumamnya dengan mengepalkan tangan karena merasa kesal dengan anggota tim siluman yang bertindak sesuka hati mereka.


Pangeran Galen mulai merasakan ada yang aneh pada wajahnya. Dia pun lalu pergi ke depan cermin dan melihat mukanya di mana di sana masih terpasang beberapa plester.


“Ah... apa sebaiknya kutarik saja semua plester dari mukaku ini ? Rasanya aneh sekali...” ucap sang pangeran setelah mengetahui penyebab dirinya merasa tidak nyaman.


Dia memegang plester di mukanya dan dan berniat menarik benda lengket itu dari sana karena merasa risih. Namun dia teringat pada usaha Orion yang berusaha merawat lukanya tadi.


“Ah biarkan saja benda ini menempel satu atau dua hari di muka ku dan setelah itu baru aku akan membuangnya.” gumamnya membatalkan menarik plester itu dari mukanya.


Dia pun kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Pikirannya kini teralihkan pada sosok Orion yang mulai menyita pikirannya.


“Orion... ku rasa kau tak seperti yang kebanyakan amulet katakan tentang diri mu.” ucapnya lagi sambil membayangkan senyum gadis itu.


Entah kenapa dia mempunyai pandangan dan penilaian sendiri pada gadis itu yang bertolak belakang dengan pandangan para amulet padanya.


BERSAMBUNG....