
Beberapa hari berlalu. Sudah dua hari lamanya Putri Zoya dan pangeran Diaz berada di istana Samudra Dewata. Mereka memutuskan untuk pulang hari ini.
Tampak mereka bertiga sudah bersiap untuk pulang setelah berkemas.
“Kami pulang dulu ayah ibu...” ucap Pangeran Diaz dan Putri Zoya duduk bersamaan saat berpamitan pada Raja Agastya dan Ratu Arni.
Orion kembali menghampiri nenek dan kakeknya untuk memeluknya untuk terakhir kalinya.
“Kakek... nenek... aku kembali dulu...” ucap Orion berpamitan pada kakek dan neneknya. berat rasanya dia kembali ke rumahnya setelah sekian lama tak bertemu dengan mereka berdua.
“Ya nak... kami tunggu kunjungan mu selanjutnya...” jawab Kakek dan nenek Orion bersamaan.
Mereka bertiga keluar dari istana Samudra Dewata dan kembali ke negeri anubis.
“tap... tap... tap...”
Setelah jauh dari Kerajaan Samudra Dewata mereka bertiga segera melompat ke udara dan melesat dengan cepat keluar dari wilayah itu.
Setelah melewati hutan belantara yang cukup luas mereka pun akhirnya tiba di negeri Anubis.
“Akhirnya kita sampai juga...” ucap Putri Zoya saat menginjak negeri anubis dan, sudah merasakan rindu pada rumahnya walaupun pergi selama dua hari saja.
Sementara itu Orion teringat pada Galen setelah melewati akademi tempatnya bersekolah.
“Galen bagaimana ya kabarnya...sedang apa dia sekarang ?” batin Orion yang merindukan sosok kekasihnya itu.
Orion terus berjalan dan berhenti saat melewati jalanan ke rumah Galen.
“Ayah... ibu... apa aku boleh pergi sebentar ke rumah Galen ?” tanya gadis itu pada Ayah dan ibunya yang sedang asyik mengobrol sendiri.
“Aah... ya sayang tentu saja kau boleh ke sana...” jawab Pangeran Diaz menoleh sebentar ke belakang menatap Orion.
“Terima kasih ayah... ibu...” jawab Orion lalu masuk ke Jalanan yang menuju ke rumah Galen.
Tak beberapa lama kemudian Orion tiba di rumah Galen. Dia berdiri di depan pagar hitam dan bermaksud mengetuknya dengan koin yang barusan diambilnya dari saku baju. Namun belum sempat Dia mengetuknya, Galen segera berlari keluar dari rumah setelah mencium aroma khas Orion ada di depan rumahnya.
“Orion... kau mana saja dua hari ini... aku mencari mu ke rumah tapi rumahmu kosong.” ucap Galen saat membuka pagar rumahnya dan langsung menarik gadis itu masuk ke rumah.
“Apa kau merindukan ku.. ?” tanya Orion sambil tersenyum menatap Galen.
“Sangat... sangat... aku sangat rindu sekali padamu...” jawab Galen langsung memeluk gadis itu dan mencium dahinya.
“Aku juga rindu padamu...” balas Orion menyentuh pipi Galen dan lagi itu langsung mencium bibirnya.
“Kau belum cerita padaku kau dari mana...” ucap Galen setelah mengakhiri ciuman mereka.
“Lebih baik kita masuk saja aku akan jelaskan di dalam...” balas Orion menarik Galen segera masuk ke rumah lalu duduk di kursi panjang yang ada di ruang tamu.
Galen merangkul Orion yang duduk di sebelahnya karena masih merasa rindu pada kekasihnya itu.
“Aku ke rumah nenek dan kakek bersama ayah dan ibu lalu menginap sebentar di sana.” baju Orion bercerita pada Galen sambil duduk bermanja di pangkuan lelaki itu.
Galen ikut tersenyum senang mendengarkan cerita dari Orion.
“Kau jangan salah sangka aku tidak ke istana Bulan Dingin tapi ke istana Samudra Dewata.” jelas Orion yang merasa Galen mengira dirinya menginap di istana Bulan Dingin.
“Oh begitu...” jawab Galen singkat.
Tak lama kemudian Orion mengakhiri ciuman mereka dan kembali duduk di samping Galen sambil menyandarkan kepalanya ke bahu lelaki itu.
“Sayang... besok aku mau menemui Ayah sebentar apa kau mau ikut ?” tanya Galen tiba-tiba pada gadis itu.
“Galen... sebenarnya aku merasa sedikit canggung bertemu dengan ayahmu...” jawab Orion menolak secara halus ajakan dari Galen karena entah kenapa dia merasa jika Raja Edwin tidak bisa menerima dirinya.
Galen bisa membaca dari mata Orion jika gadis itu merasa tak nyaman berada di istana Cawan Suci meski tanpa perlu diungkapkan dengan kata-kata padanya.
“Ehm... sebenarnya aku ke sana mau ngajak kamu ke kolam harapan.” ucap Galen membujuk Orion supaya gadis itu mau ikut dengan dirinya.
“Kolam harapan... ???” tanya Orion yang penasaran apa sebenarnya kolam harapan itu. Dan gadis itu pun mengangguk tanda setuju karena ingin melihat kolam harapan.
Keesokan harinya Galen menjemput Orion di rumahnya. mereka berpamitan pada Pangeran Diaz dan Putri Zoya, mereka segera meluncur dan melesat dengan cepat menuju ke negeri amulet.
Tak beberapa lama kemudian mereka tiba di negeri amulet. Setelah lama berjalan Orion yang penasaran pada kolom harapan sama sekali belum melihat sebuah kolam saat perjalanan mereka.
“Galen... kau bilang mau mengajakku ke kolam harapan...” ucap Orion yang dari tadi menoleh ke samping kanan dan kiri di sepanjang jalan.
“Ya sebentar lagi akan sampai...” balas Galen yang tahu jika kekasihnya sudah tak sabar lagi ingin melihatnya.
Galen berhenti di depan sebuah kolam yang ada air terjun di bagian tengah kolam. Di kolam itu ada patung dewi Venus yang membawa mangkuk besar.
“Ayo kita lemparkan koin ke mangkuk itu konon katanya apapun keinginannya akan terkabul jika koin bisa masuk tepat ke mangkuk itu.
Orion dan Galen melemparkan koin ke mangkok Dewi Venus.
“cring...” Mereka terjemah segera memejamkan mata dan mengatur kan tangannya sembari berdoa dalam hati dengan khusyuk.
Setelah acara melempar koin di kolam harapan selesai, Galen segera kembali ke istana untuk menemui ayahnya sebentar.
“Sekarang ayo kita ke istana Cawan Suci...” ajak Galen setelah selesai memanjatkan doa di sana.
“Galen... aku...” jawab Orion ingin menolak tapi tak enak.
“Apa yang kau takutkan di sana...? Ada aku di sampingmu, tak akan ada apapun yang terjadi padamu di sana.” jawab Galen yang tahu jika kekasihnya itu enggan pergi ke sana dan dia menduga gadis itu tahu apa yang di pikirkan oleh ayahnya.
Galen segera menarik tangan orang lalu melesat dengan cepat menuju ke istana. Tak lama kemudian mereka tiba di sana.
Di dalam istana tampak Raja Edwin yang sedang bicara pada ajudan kepercayaannya. Lelaki itu menyuruh pengawalnya untuk memberitahu Galen tentang acara perjamuan yang akan diadakan minggu depan.
Di luar istana tampak ramai, beberapa warga yang ada di sana terlibat dalam suatu percakapan.
“Kau sudah dengar belum mengenai aturan baru dari Dewan Konstitusi Vampir mengenai amulet tidak murni dan semacamnya yang boleh tinggal di sini ?” tanya seorang amulet pada temannya.
“Ya... kurasa sebentar lagi akan ada banyak perkawinan campuran dan keturunan campuran di sini.” jawab amulet lainnya kemudian berlalu.
“Apa... apa benar yang mereka katakan tadi... aku baru mendengarnya.” batin Galen yang sengaja mendengar percakapan dua amulet tadi dan lelaki itu tampak senang sekali mendengarnya.
“Orion kau dengar apa yang mereka katakan barusan... itu artinya kau boleh tinggal di sini, kau diterima di sini dan yang terpenting kita bisa menikah.” ucap Galen yang tersenyum lebar menatap Orion.
“Benarkah itu yang kau katakan... ?” tanyanya dan Galen mengangguk.
Mereka berdua tampak senang dengan kabar aturan baru itu.
BERSAMBUNG...