
Keesokan harinya Pangeran Diaz melakukan pencarian lagi di daerah itu. Kali ini dia mencari lebih jauh lagi untuk menemukan istri dan putrinya dengan mengerahkan pengawal yang lebih banyak. Tapi dia masih belum menemukan juga istri dan putrinya.
Pangeran Diaz tetap melakukan pencarian selama satu bulan lamanya dan tidak membuahkan hasil juga hingga akhirnya dia menyerah mencari istri dan putrinya itu.
“Sayang apakah ini takdir kita... hanya sebentar saja kita di pertemukan dan kembali dipisahkan. Rasanya tidak adil. Aku harap kalian berdua masih hidup dan kita akan berjodoh serta di pertemukan kembali...” ucapnya merasakan duka yang mendalam dan menanggungnya sendiri atas kepergian dua orang yang dikasihinya itu.
Pangeran Diaz kembali ke villanya dengan bermuram durja setelah gagal mencari keberadaan istri dan putrinya. Dia larut dalam kesedihan dan hari-harinya terasa menyiksa baginya.
Satu bulan kemudian putri Zoya keadaannya sudah kembali sehat seperti sedia kala. Dia bisa beraktivitas seperti biasanya dan juga kemampuannya sudah kembali.
Suatu pagi sang putri melihat nenek Hera akan pergi mencari kayu bakar seperti biasanya di hutan. Merasa menjadi beban dan tanggung jawab dari seorang nenek yang berusia lanjut dia pun tergerak hatinya untuk membalas budi dari nenek Hera selama ini.
“Nenek bolehkah aku ikut menemani nenek mencari kayu bakar di hutan ?” tanya sang putri bergegas mengejar nenek yang keluar dari rumah.
Nenek Hera berhenti dan berbalik sambil tersenyum menatap sang putri.
“Tidak perlu nak nenek sudah terbiasa mencari kayu bakar sendiri di hutan. Kau di rumah saja menunggu rumah dan menjaga Orion.” ucap nenek itu lalu berbalik dan kembali berjalan keluar dari rumah.
“Nenek kumohon biarkan aku membantu nenek kali ini, anggap saja aku membalas budi pada nenek dengan bantuan ku yang kecil ini.” ucap sang putri bersikeras.
Karena Putri Zoya yang sudah dia anggap sebagai putrinya itu bersikeras mau membantu nenek, akhirnya nenek Hera mengizinkan sang putri untuk ikut dengannya pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Beberapa saat kemudian mereka berdua tiba di sebuah hutan. Selama mereka berjalan mereka hanya menemukan sedikit kayu bakar tidak seperti biasanya.
“Nenek ada apa dengan nenek... kenapa nenek kelihatan sedih ?” tanya Putri Zoya saat berjalan bersama melihat wajah nenek yang terlihat sendu.
“Tidak ada nak, hanya saja hari ini kita hanya sedikit sekali mendapatkan kayu bakar.” ucap sang nenek sambil mengambil beberapa kayu yang ada di hutan itu.
Putri Zoya diam dan berpikir sejenak, dia mencari ide agar bisa menyenangkan hati nenek yang telah menolongnya selama ini.
“Nenek tunggu dulu disini aku akan mencari kayu bakar di sebelah sana. Mungkin di sana masih ada kayu bakar yang belum diambil oleh orang lain.” ucapnya sambil menunjuk ke suatu arah.
Nenek Hera pun diam menunggu Putri Zoya sambil duduk dan mengikat kayu bakar yang telah didapatnya. Sementara itu putri Zoya berjalan sendiri masuk ke hutan lebih dalam.
Dia berhenti di tengah pepohonan yang rimbun. Sang Putri menempelkan tangannya pada satu batang pohon dan membuat pohon itu tumbang serta membuatnya menjadi beberapa potongan kayu. Lalu dia melihat pohon lain yang ada di sekitarnya dan melakukan hal yang sama sampai terkumpullah banyak kayu bakar.
“Ah... nenek nanti pasti akan senang melihat banyak kayu yang kubawa ini...” ucapnya tersenyum sambil mengumpulkan kayu bakar itu dan membawanya keluar lalu menuju kembali ke tempat nenek Hera berada.
“Nenek lihat ini aku mendapatkan banyak kayu bakar. Kita bisa menjualnya besok ke pasar.” ucapnya menunjukkan kayu yang didapatnya pada nenek.
“Tapi bagaimana kau bisa mendapatkan kayu bakar sebanyak ini nak ?” tanya nenek yang merasa senang dan tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun pada sang putri.
“Mungkin aku sedang beruntung saja nenek hari ini karena aku menemukan banyak sekali kayu bakar di dalam sana tadi.” ucap sang Putri menjelaskan pada nenek itu.
“Taruh di sana saja nak kayu bakarnya.” ucap nenek itu pada sang putri setelah sampai rumah untuk menaruh kayu bakar yang mereka dapatkan tadi ke gudang yang ada di belakang rumah.
Tanpa menjawab sang putri segera pergi ke gudang belakang rumah dan menaruh semua kayu bakar itu. Dia duduk sejenak di kursi yang ada di sana untuk melepas setelah Selama perjalanan tadi.
Tiba-tiba dia merasa seluruh badannya terasa panas, darah yang mengalir di tubuhnya mulai memanas.
“Celaka... ! Saat aku sembuh peredaran darahku kembali normal dan aku sekarang kembali merasakan haus. Apa yang harus aku lakukan ? Seandainya saja kau ada disini sayang... pasti aku tak akan menderita seperti ini.” ucapnya kembali mengingat suaminya dan merasa sedih. Dia juga berpikir mungkin suaminya saat ini juga sedang menderita sama dengan seperti apa yang dia alami sekarang.
Semakin lama darah di tubuhnya semakin memanas dan dia harus menghentikan rasa hausnya itu untuk menghindari dia menghisap darah manusia.
Sang Putri melihat ke sekeliling dan mencari apa yang bisa memuaskan dahaganya saat itu.
“Kaakk... kakk...”
Putri Zoya melihat ada seekor burung gagak yang bertengger di sebuah pohon di dekatnya.
“Mungkin darah burung gagak itu bisa mengobati dahaga ku kali ini.”
Putri Zoya berjalan menghampiri pohon di mana burung gagak itu berada sambil melihat ke sekeliling sebagai antisipasi tidak ada orang yang mengetahui dirinya menghisap darah binatang itu.
Setelah dirasa aman dan tak ada orang di sana yang melihatnya sang putri pun mulai beraksi. Dengan cepat dia menangkap burung gagak itu dan langsung menghisap darahnya sampai habis agar dia tidak merasakan dahaga lagi di malam harinya.
“Kaak... kaak...”
Suara burung gagak yang kesakitan setelah darahnya terhisap sampai habis. Burung itu seketika mati dan putri membuangnya begitu saja di bawah pohon lalu meninggalkannya.
Sebelum dia masuk ke rumah dia membersihkan sisa darah yang menempel di bibirnya sampai bersih agar tidak ketahuan oleh yang lainnya.
Beberapa saat kemudian Orion kecil tidak sengaja pergi ke belakang rumah sekedar untuk menghirup udara segar. Dia berjalan di sekitar pohon dan mendapati sesuatu yang tergeletak di tanah.
“Apa ini... ? Burung gagak mati... kenapa dia mati di sini... ?” tanyanya polos dan mengambil burung itu.
Kebetulan nenek Hera mau menjemur baju di belakang rumah dan dia melihat Orion kecil memegang seekor burung.
“Orion apa yang kamu pegang itu nak ?” tanya sang nenek pada Orion kecil lalu menghampirinya dan melihat anak itu membawa seekor burung gagak yang mati dan kering seperti terhisap habis darahnya.
Wajah nenek itu seketika terlihat pucat dan takut karena burung gagak hitam merupakan pertanda buruk. Dia Lalu mengambil burung yang mati itu dari tangan Orion kecil dan membuang jauh dari tempatnya dengan harapan kesialan itu pergi dari rumahnya.
BERSAMBUNG....