Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 110 Bertemu Ayah


Orion masih menunggu jawaban dari Galen yang masih diam menatapnya dan tampak bingung mau berkata apa.


“Galen... bagaimana ?” tanya Orion lagi sambil mengguncang tangan Galen.


“Orion... itu... aku ada urusan di sana. Lalu bagaimana denganmu apa aku harus membuat mu menunggu ku di sana ?” balas Galen kemudian menolak secara halus agar gadis itu tak ikut dengannya untuk menghindari masalah yang mungkin akan terjadi.


“Galen... aku mau menunggumu. Seberapa lama pun aku tetap mau menunggumu di sana. Dan aku janji tidak akan membuat masalah selama di sana.” ucap Orion bersikeras dan tetap ingin ikut bersamanya.


Galen tampak diam dan berpikir mencari alasan lain agar Orion tidak ikut dengannya.


Orion jadi merasa ada sesuatu yang janggal pada Galen karena lelaki itu lama sekali menjawabnya dan membuatnya menjadi curiga.


“Galen ku rasa kau keberatan mengajak ku ke sana karena kau akan bertemu gadis cantik lain kan ?” tanya Orion tiba-tiba yang menjadi cemburu tanpa sebab dan menduga Galen ada janji dengan wanita selain dirinya.


“Apa kau bilang... ? Tidak bukan seperti itu Orion. Kau jangan salah paham. Selama ini aku tak pernah dekat dengan gadis lain selain diri mu.” jelas Galen yang terkejut mendengar tuduhan tak berdasar dari Orion.


“Tak apa jika kau tak ingin mengajak ku ke sana aku tetap bisa ke sana dengan Ariel atau ke sana sendiri.” balas Orion yang terlihat kesal dan sebal dengan Galen lalu melepas tangannya dan berlari meninggalkan lelaki itu.


Melihat Orion yang marah dan salah paham padanya, Galen segera mengejar gadis itu.


“Orion... tunggu ! Dengarkan aku... aku benar-benar tidak menemui seorang wanita di sana. Kau bisa buktikan sendiri nanti di sana. Dan lagi kau jangan ke sana dengan serigala itu.” ucapnya sambil menarik gadis itu dan membuatnya berhenti dan berbalik menatapnya.


“Jadi... itu artinya kau setuju mengajakku ke sana ?” tanyanya kembali pada Galen. Galen akhirnya menganggukkan kepalanya dengan berat hati dan terpaksa daripada kekasihnya pergi bersama lelaki lain.


Orion tersenyum setelah Galen bersedia membawanya serta ke sana. Amarahnya reda seketika dan diapun menggenggam tangan Galen dengan erat lalu berjalan memasuki pintu gerbang Akademi sambil berbisik lirih di telinga.


“Terima kasih sayang... aku akan memberimu hadiah nanti setelah kita kembali dari sana. Kau boleh minta apa pun pada ku.” bisik gadis itu lirih.


Mata Galen terlihat bersinar terang mendengar apa yang di ucapkan Orion barusan padanya.


“Ingat janji mu itu Orion, apapun yang ku minta kau akan menuruti nya.” balas Galen balik berbisik lirih di telinga gadis itu dan tersenyum lebar. Orion hanya mengangguk menanggapinya.


Satu minggu kemudian di hari Sabtu dimana mereka libur, bebas dari tugas akademi dan ibunya Orion sedang tak ada di rumah.


“tok... tok...”


Terdengar suara ketukan pintu dan Orion yang sudah menunggunya sedari tadi segera membukakan pintu.


“Galen.... aku sudah lama menunggumu.” ucap Orion menarik lelaki itu masuk ke rumah dan mengajak nya duduk sebentar.


Beberapa saat kemudian Galen mengeluarkan kantong hitam dari saku bajunya dan membukanya.


“Galen apa itu ?” tanya Orion saat melihat kantung hitam yang pernah dilihatnya di rumah Galen.


“Kau menurut saja padaku. Ini adalah bubuk ajaib untuk menyamarkan aroma saxion yang ada pada tubuhmu.” jawab Galen sambil mengeluarkan isinya dan menabur kan setengahnya ke tubuh Orion.


Dalam hitungan detik bubuk yang ada di tubuh Orion itu hilang seketika.


“Galen tak ada perubahan yang terjadi padaku.” ucapnya setelah melihat tak ada yang terjadi apapun pada dirinya.


“Ini tidak bisa merubah mu hanya menyamarkan aroma mu saja. Biar ku periksa kalau kau tak percaya.” ucap Galen lalu memasukkan kantung hitam itu ke saku celananya. Dia lalu mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Orion.


“Aku tidak pernah mengambil keuntungan sedikitpun dari mu...” balas Galen lalu beralih mencium bibir Orion.


Lima belas menit kemudian mereka keluar dari rumah dan menuju ke negeri amulet. Galen melesat di belakang Orion dan melihat di sekitar untuk. berjaga-jaga jika ada yang mengikutinya atau ada hal main yang tak diinginkan.


Setelah melewati beberapa hamparan hutan yang luas mereka pun akhirnya tiba di negeri amulet.


“Orion... kau jangan gugup dan bertingkah biasa saja. Aku akan ke Istana Cawan Suci dulu sebentar.” ucapnya pada gadis itu yang tampak gugup dan melepas kaca mata hitam yang di pakai Orion. Orion hanya mengangguk dan menggenggam erat tangan Galen.


Mereka kemudian berjalan masuk melewati pintu masuk utama negeri amulet yang berada tak jauh dari istana Bulan Dingin berada dan terus berjalan menuju istana Cawan Suci.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di istana Cawan Suci. Orion yang baru pertama kali ke sana melihat dengan takjub keindahan bangunan istana itu.


“Salam Pangeran Galen...” ucap dua pengawal di depan istana secara bersamaan saat melihat Galen yang datang sambil memberi hormat. Sementara Galen hanya tersenyum menatap dua pengawal itu lalu mengajak Orion masuk.


“Orion... kau tunggu di sini dulu.” ucap Galen meminta Orion untuk menunggunya sebentar di sebuah ruang khusus tamu vip. Dia lalu keluar setelah gadis itu duduk menuju ke ruangan kerja ayahnya.


“Kemana ayah... apa mungkin sedang ada urusan lainnya ?” batinnya saat melihat ruangan itu kosong dan hanya ada setumpuk laporan di mejanya.


Karena tidak melihat ayahnya di ruangan itu dia pun mencarinya ke istana utama namun tidak menemukannya juga.


“Padahal aku ke sini untuk menanyakan misi yang dulu sempat ayah bilang padaku. Ya sudah kalau begitu mungkin lusa aku akan balik ke sini lagi.” gumamnya lalu keluar dari sana dan kembali ke tempat Orion menunggunya.


“Galen... kau sudah kembali ?” tanya Orion yang merasa lelaki itu hanya pergi sebentar saja.


“Aku mencari ayahku namun dia tidak ada. Ayo kita segera pergi dan menemui ayah mu.” ucap Galen pada Orion. Mereka berdua kemudian keluar dari istana.


“Tolong bilang pada ayah jika tadi aku mencarinya.” ucap Galen pada dua pengawal di depan istana.


“Baik pangeran...” balas dua pengawal itu sambil melihat gadis yang ada di sampingnya karena selama ini Pangeran Galen tak pernah mengajak seorang gadis ke istana.


Galen mengajak Orion menuju ke gereja yang ada di dekat Vila jantung emas, tempat tinggal Pangeran Diaz.


Tak beberapa lama kemudian mereka tiba di gereja dan masuk ke sana.


“Galen kenapa kau mengajakku ke sini ?” tanya Orion yang merasa bingung.


“Aku sering melihat Pangeran Diaz berada di sini. Jika beruntung kita bisa bertemu dengannya di sini.” bisik Galen lirih di telinga Orion.


Orion hanya menurut saja pada Galen yang mengajaknya duduk dan mendengarkan ceramah keagamaan di sana.


Galen menatap ke sekeliling mencari keberadaan ayahnya Orion dan dia menemukan Pangeran Diaz yang sedang duduk di kursi paling depan.


“Orion itu Pangeran Diaz...” bisik Galen lagi di telinga kekasihnya sambil memberitahukan tempat duduk ayahnya yang kebetulan saat itu sedang menoleh ke belakang.


Orion menatap lelaki yang di tunjuk oleh Galen dengan perasaan campur aduk dan menggenggam erat tangan Galen.


BERSAMBUNG....