
Orion yang masih dalam perawatan setelah terluka parah tidak masuk ke akademi selama beberapa pekan sampai lukanya sembuh.
Terlihat Putri Zoya dan Pangeran Diaz mengganti perban dan mengobati beberapa lukanya.
“Sayang...beristirahatlah setelah ini. Ibu sudah siapkan semua keperluan mu.” ucap Putri Zoya pada Orion setelah selesai memasangkan beban pada tubuhnya.
“Ibu dan ayah akan ke rumah makan sebentar setelah ini dan akan segera kembali.” ucap Putri Zoya lagi menatap Orion lalu beralih menatap suaminya.
Menyadari akan berada di rumah sendirian dia pun, menarik tangan ayahnya yang berjalan di belakang ibunya karena takut jika masih ada serangan mendadak dari amulet lainnya.
“Kalian berdua... tunggu... jangan tinggalkan aku sendiri. Tolong temani aku di rumah.” ucap Orion lirih karena masih merasa lemas.
Ayah dan ibunya berhenti dan berbalik menatap Orion.
“Baiklah ibu akan menemanimu hari ini dan tidak ke rumah makan..” jawab Putri Zoya berinisiatif untuk menutup rumah makannya sehari.
“Tidak... ibu tetap ke rumah makan saja biar Ayah yang menemaniku.” jawab Orion pada ibunya.
Putri Zoya beralih menatap suaminya yang tersenyum padanya.
“Sayang kau pergilah ke rumah makan biar aku yang menjaga Orion.” jawab Pangeran Diaz meminta istrinya untuk segera bersiap dan duduk di samping putrinya.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan pergi sekarang.” jawab Putri Zoya keluar dari kamar Orion dan bersiap untuk berangkat ke rumah makan.
Di luar kamar Orion, Putri Zoya berhenti sebentar dan melihat putrinya yang terlihat mulai manja pada suaminya.
“Orion ternyata sudah membuka hati untuk ayahnya...” batinnya tersenyum lebar merasa senang melihat berdua yang sudah akur sebagai ayah dan anak lalu segera berangkat menuju ke rumah makan.
Di lain tempat tampak Galen yang berangkat sendiri ke akademi tanpa Orion. Dia berjalan sendirian di tengah keramaian masih dengan rasa sedih.
Dari belakang Galen tampak Ariel yang berjalan tergesa-gesa setelah melihat kalian berada tak jauh di depannya.
“Hey tunggu Galen... !” teriak Ariel pada lelaki itu. Galen berhenti gambar bayi setelah melihat ada Ariel yang memanggilnya.
“Tumben kau sendirian. Dimana Orion ?” tanya Ariel setelah sampai di samping Galen dan berjalan bersama. Dia melihat Galen yang tampak sedih.
“Ada apa... Kenapa kau terlihat murung? nama terjadi sesuatu pada kalian berdua?” tanya Ariel lagi karena tak mendapatkan jawaban dari Galen.
“Kami berdua tak ada masalah hanya saja Orion... dia terluka parah.” ucap Galen masih dengan mata yang sayu menatap Ariel.
“Apa... Orion terluka... apa yang terjadi padanya... ?” tanya Ariel yang tampak sangat terkejut mendengar penuturan dari Galen.
“Jika saja aku tidak datang terlambat menyelamatkannya mungkin saja dia tidak akan terluka saat.... bla - bla...” Galen menceritakan tentang kejadian panjang lebar pada Ariel. Tampak lelaki itu juga ternyata khawatir setelah selesai mendengarkan cerita dari Galen.
Karena kelas mereka berbeda mereka pun berpisah di tengah jalan.
“Nanti siang aku akan ikut dengan mu saat ke rumah Orion.” ujar Ariel menepuk bahu Galen lalu berjalan menuju ke kelasnya.
“Ya...” jawab Galen kemudian melanjutkan perjalanan masuk ke kelasnya.
Siang harinya Ariel menunggu Galen yang baru keluar dari kelas. Mereka berdua kemudian menuju ke rumah Orion bersama. Dan beberapa saat kemudian mereka berdua tiba di depan rumah gadis itu.
“tok... tok... tok...” Ariel mengetuk pelan pintu rumah Orion.
Dari dalam rumah Pangeran Diaz masih menyuapi Orion makan bubur dan hanya menjawabnya dari dalam.
“Mungkin itu Galen ayah... biar dia buka sendiri pintunya.” ucap Orion yang menahan ayahnya untuk tetap menyuapi dirinya.
“Ya tolong masuklah.... aku masih menyuapi putri ku.” teriak Pangeran Diaz dari dalam rumah.
Mendengar perkataan dari Pangeran Diaz, Ariel dan Galen pun segera masuk ke rumah dan tanpa sungkan membuka pintu rumah itu sendiri.
Mereka berdua duduk di ruang tamu, menunggu seseorang datang menemui mereka.
Pangeran Diaz menaruh mangkok berisi bubur yang sudah kosong kemeja dan meminta Orion untuk istirahat kembali karena kondisinya masih belum pulih.
“Orion... kau di sini saja. Biar Galen yang kemari.” ucap Pangeran Diaz sambil membaringkan Orion kembali ke tempat tidur.
“Pangeran Galen tolong ke sini sebenar !” teriak Pangeran Diaz kembali memanggil Galen.
Tak berapa lama kemudian Galen masuk ke kamar setelah mendengar panggilan dari ayahnya Orion dan meninggalkan sendiri Ariel di ruang tamu.
“Orion... bagaimana keadaan mu hari ini... apa kau sudah merasa baikan ?” tanya Galen menghampiri Orion dan duduk di dekatnya.
“Ya sudah lebih baik dari sebelumnya...” jawab Orion tersenyum menatap Galen sambil memegang tangannya.
Pangeran Diaz yang pernah muda segera keluar dari kamar putrinya untuk memberikan mereka berdua privasi dan tak mau mengganggu mereka.
“Orion... Ayah ambilkan minum dulu sebentar untuk Pangeran Galen.” ucap Pangeran Diaz pada Orion lalu keluar dari kamar.
“Pangeran Diaz tak perlu mengambilkan aku minuman.” ucap Galen pada ayahnya Orion. Namun lelaki itu tetap keluar kamar.
Di keluar kamar Orion, Pangeran Diaz mencium ada aroma werewolf di rumahnya saat berjalan.
“Apa ada penyusup lagi yang masuk ke sini...” batin lelaki itu lalu perjalanan ke asal sumber aroma itu dan sampailah dia di ruang tamu.
Tampak Pangeran Diaz dan Ariel sering terkejut saat bertemu. Pangeran Diaz yang mengira Ariel adalah penyusup menatapnya dengan tatapan tidak senang.
“Kau werewolf... kenapa kau datang ke sini ? Apa kau berkomplot dengan amulet ?” tanya Pangeran Diaz pada Ariel dengan nada tinggi.
Ariel tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh lelaki yang tak dikenalnya itu dan hanya menatapnya saja.
“Siapa lelaki ini ? Dia seorang amulet... apa dia saudaranya ibu Zoya atau mungkin...” batinnya menatap lelaki itu dan masih menebak identitasnya.
Karena Ariel diam saja dan tak menjawab pertanyaannya, Pangeran Diaz pun bersiap melayangkan pukulan pada Ariel.
Kembali ke Galen yang masih berada di kamar Orion.
“Orion....kau mau sesuatu ? Aku akan mencari kan mu. Kau makanlah yang banyak dan istirahat yang cukup agar segera sembuh.” ucap Galen sambil membelai rambut Orion.
“Aku tidak ingin apa-apa Galen. Aku hanya ingin kau selalu berada di sampingku.” ucapnya tersenyum dan Galen seketika mencium bibirnya.
“buk... !” terdengar suara bersisik dari arah ruang tamu.
Galen dan Orion segera mengakhiri ciuman mereka.
“Ariel... aku lupa memberitahumu dan Ayahmu jika Ariel ikut ke sini untuk menjenguk mu. Aku meninggalkan nya di ruang tamu.” ucap Galen seketika berdiri dan keluar dari kamar Orion dan berjalan cepat menuju ke ruang tamu.
“Ariel... !” ucap Galen memanggilnya saat tiba di ruang tamu dan melihat anak itu sedang menahan pukulan dari Pangeran Diaz. Dengan cepat Galen melerai mereka berdua.
“Tahan Pangeran Diaz...dia adalah Ariel teman nya Orion.” ucap Galen menjelaskan pada ayahnya Orion. Seketika lelaki itu menarik kembali serangannya.
Mereka bertiga kemudian duduk di kursi. Galen lalu menjelaskan pada ayahnya Orion jika Ariel merupakan teman Orion sejak kecil dan sudah seperti kakaknya sendiri.
“Ariel ini adalah Pangeran Diaz, ayahnya Orion...” ucap Galen menjelaskan pada Ariel dan terlihat Ariel mengangguk setelah mendengarkan ceritanya dan tersenyum menatap ayahnya Orion.
“Maaf kalau begitu...nak. Aku tidak tahu jika kau adalah sahabatnya putriku. Ku kira kau adalah penyusup dan salah satu teman Krish.” ucap Pangeran Diaz meminta maaf pada Ariel setelah mendengar penjelasan dari Galen.
“Ya tak apa... aku ke sini ingin menjenguk orang yang bagaimana keadaannya paman ?” tanya Ariel yang sama sekali tak marah pada lelaki itu yang salah paham padanya.
“Dia ada kamar... kau boleh melihatnya sekarang.” jawabnya sambil tersenyum pada Ariel.
Mereka bertiga pun berdiri dan berjalan bersama menuju ke kamar Orion.
BERSAMBUNG...