
Saat itu Orion keluar dari kelas dan berjalan menuju ke kelas Ariel untuk mengajaknya ke kantin bersama. Namun ternyata kosong saat dia melihat ke dalam kelas. lalu dia pun berbalik dan menuju ke kelas Galen namun rupanya lelaki itu juga tidak ada di kelas. seketika terbersit pikiran buruk dalam benaknya.
“Ariel tak ada di kelas Galen juga tak ada di kelas. Apa jangan-jangan mereka bertemu... ? kawan kalau mereka berdua sampai bertemu dan...”
Orion segera berlari menyusuri jalanan untuk mencari dua lelaki itu. dia khawatir jika mereka berdua bertemu akan terjadi perkelahian lagi seperti sebelumnya, apalagi mungkin Ariel mengetahui jika dirinya sudah jalan dengan Galen.
“Kira-kira ke mana mereka berdua sekarang... ?” batinnya terus menyusuri jalan dan mencari di seluruh akademi namun tidak menemukannya.
“Ada satu tempat yang belum aku lihat, apa mungkin mereka ada di sana...” batin gadis itu setelah teringat ada lapangan yang terletak di belakang kampus dan biasanya sepi di sana.
Tanpa pikir panjang dia pun segera berlari menuju ke lapangan di belakang kampus. Benar sekali sesuai dugaannya. Setibanya di sana dia melihat dua lelaki itu kembali berkelahi.
“Ariel... ! Galen...hentikan ! apa yang kalian lakukan di sana ?!” teriak Gadis itu dari kejauhan. Dia segera berlari menghampiri mereka berdua.
“Orion... ?!” ucap Ariel dan Galen bersamaan menatap gadis itu dan menghentikan perkelahian mereka sejenak. Orion sekarang sudah ada di tengah mereka berdua untuk melerai perkelahian itu.
“Galen... Ariel... kumohon kalian berdua berhenti berkelahi ! Sudah kubilang Aku tak suka melihat orang bertengkar seperti ini !” ucapnya menatap Ariel dan Galen bergantian berharap mereka berdua mengerti dan bisa diajak berkomunikasi.
Ariel yang sudah gelap mata dan tak bisa menahan emosinya lagi pada Galen meskipun sudah mencoba menahan emosinya.
“Orion... kau minggirlah dulu ! Biar ku selesaikan urusanku dengan Galen secara laki-laki !” ucapnya dengar keras dan meminta Gadis itu menyingkir dari mereka berdua agar tidak terkena imbas kemarahan mereka berdua.
“Galen... kau jangan meladeni Ariel. Lebih baik ayo kita pergi sekarang.” ucapnya pada Galen dan menarik tangannya untuk pergi dari sana dan meninggalkan Ariel.
Galen mengangguk dan mengikuti perkataan Orion, diapun memegang tangan Gadis itu dan meninggalkan Ariel. namun Ariel ya emosinya amarahnya belum rada menarik kembali Galen dan kembali melayangkan pukulan.
“Buk... jangan kabur kalau Galen ! Kak jangan bersembunyi di balik seorang wanita !” ucapnya memancing amarah dan membuat emosi Galen kembali tersulut saat mendengarnya. Dia pun berbalik dan meladeni Ariel kembali.
Kini Galen yang sudah menahan sabarnya dari tadi sudah tak bisa bersabar lagi. Jika tadi dia sama sekali tak melakukan perlawanan dan hanya menahan serangan dari Ariel. Kini dia membalas serangan itu dan mulai melancarkan pukulan bertubi-tubi padanya.
“buk... bak... buk...” baku hantam terjadi kembali di antara mereka berdua.
Orion yang melihat Ariel babak belur dan tak tega melihatnya kembali melerai perkelahian setelah ucapannya tidak didengarkan oleh mereka berdua.
“buk...” Pukulan keras yang diayunkan oleh Galen pada Ariel mengenai Orion dan membuat gadis itu sampai jatuh terpental.
“Orion... !” teriak mereka berdua saat melihat gadis itu ambruk ke tanah. Mereka berdua mengakhiri perkelahian dan mendekati Orion untuk memastikan kondisinya.
Orion duduk dengan memegang mukanya yang lebam terkena pukulan dan bibirnya yang berdarah.
“Maafkan aku Orion aku tak bermaksud melukai mu.” ucap Galen menyesal meladeni Ariel dan membuat Gadis itu terluka karena dirinya.
“Dengan begini kalian berdua tak akan berkelahi lagi seterusnya.” ucapnya menahan sakit menatap mereka berdua bergantian.
“Orion... ayo ikut aku aku akan mengobati mu.” ucap Ariel sambil memegang tangan gadis itu dan mengajaknya dari sana. Namun Galen menyingkirkan tangan lelaki itu dari Orion.
“Sudah Ariel... kau pergi saja. Dengar aku tak mau melanjutkan ini lagi denganmu. Sekarang biar Orion aku yang urusi.”
Galen langsung membopong tubuh gadis itu dan membawanya ke tempat duduk yang ada di pinggir lapangan dan membaringkannya di sana.
Sementara itu Ariel pergi dari lapangan dan berjalan dengan gontai kembali ke kelasnya.
“Apa yang sudah aku lakukan ? karena patah hati aku malah melukai gadis yang ku sayangi...” ucapnya menyesal karena tak bisa menahan emosinya.
Kembali ke Orion dan Galen yang masih ada di lapangan. Orion merasakan dirinya sudah lebih baik dari sebelumnya dan tidak merasakan pusing lagi.
“Wajah mu bengkak begitu, kau tak bisa kembali sekarang. Absen saja setelah ini. Biar aku rawat luka mu sekarang di rumah ku.” ucap Galen memberi saran.
“Tapi...”
“Tak ada tapi-tapian. kau tunggu di sini sebentar Aku akan kembali ke kelas untuk mengambil tas mu dan juga tasku. Tunggu aku di sini.” jawabnya lalu berdiri dan segera pergi menuju ke kelas.
Beberapa saat kemudian Galen datang dan membawakan tas Orion dan menghampirinya.
“Ayo naiklah ke punggungku aku akan menggendong mu.” ucapnya nya pada Orion. Gadis itu menolak dan langsung menggenggam tangannya.
“Aku tak apa, kau tak perlu menggendong ku. Aku masih bisa jalan.” jawabnya menolak tawaran dari lelaki itu. mereka berdua pun akhirnya berjalan bersama menuju ke rumah Galen.
Sesampainya di rumah Galen, dia meminta gadis itu untuk berbaring di kamarnya.
“Tunggu sebentar aku akan ambilkan es.” ucapnya keluar dari kamar dan menuju ke belakang.
Di belakang Galen mengambil air dan menggunakan sihir es untuk membuat es. Setelah itu dia kembali masuk ke kamar dan membawa semangkuk es serta handuk kecil.
“Orion... maafkan aku telah melukaimu. Kau harus segera pulih atau aku tidak tahu bagaimana harus berhadapan dengan ibumu nanti.” ucapnya sambil mengompres luka Orion dengan es. Gadis itu hanya tersenyum sambil memegang tangan Galen.
“Apa yang kau rasakan sekarang ?” tanyanya sambil menaruh kembali mangkuk es ke meja.
“Aku sudah lebih baikan dari sebelumnya. kau tak perlu khawatir aku akan segera sembuh dan ibuku tak akan memarahi mu.” ucapnya tersenyum menatap kekasihnya itu sambil duduk.
“Maafkan aku...” ucap Galen kembali meminta maaf lalu mengecup kening gadis itu.
Tak di sangka tiba-tiba gelang yang di pakai Galen menyala dan berkedip hijau.
“Galen... kenapa gelang mu tiba-tiba bersinar ?” tanya Orion saat melihat gelang di tangan lelaki itu masih berkedip hijau.
Seketika Galen langsung menarik tangannya dari wajah Orion dan menyembunyikan dalam saku celananya. Wajahnya tampak panik.
“Orion sebentar... aku mau keluar dulu.” ucapnya berdiri dan keluar dari kamarnya menuju ke ruang tamu.
Galen menarik tangan dari saku celananya dan menatap gelang itu.
“Pangeran Galen bagaimana misi kita apa ada informasi ?” suara dari balik gelang yang masih berkedip hijau itu.
“Belum ada tuan Krish, aku masih ada urusan sekarang, nanti aku akan mengabari mu jika ada informasi lebih lanjut.” jawabnya pelan agar suaranya tidak terdengar Orion.
“Baik... kalau begitu bulan darah menunggu informasi selanjutnya.” ucap suara dari gelang di tangan Galen yang kemudian menghilang saat gelang itu tak lagi bersinar.
“Sial kenapa mereka menghubungiku di saat seperti ini menyebalkan sekali !” ucapnya merasa kesal.
Orion dari kamar mendengar suara Galen berbicara, dia pun segera keluar dari kamar dan menghampirinya.
“Galen... aku mendengar kau bicara dengan seseorang barusan...” ucapnya menghampiri dan duduk di sebelah Galen.
Galen tampak terkejut mendengar pertanyaan gadis itu dan gelagapan.
“Kau salah dengar aku tidak bicara dengan seseorang, aku hanya bicara sendiri tadi.” jawabnya dan mencoba mengalihkan perhatian gadis itu agar tidak membahasnya lagi dengan mencium keningnya lagi.
BERSAMBUNG....