Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 53 Gigitan Manis


Ariel yang menatap gadis itu kembali dengan tangan kosong mencoba untuk membesarkan hatinya.


“Kenapa kau melepaskan kucing itu ?” tanya lelaki itu saat melihat gadis itu kembali melompat masuk ke rumah melalui jendela.


“Aku tidak tega membunuh binatang lembut itu... aku merasa berdosa menyakiti binatang yang tak punya salah itu.” ucapnya pada Ariel.


“Ah... seharusnya aku tahu itu kalau kau tak akan mampu melukai binatang itu sedikitpun. Kau hanya butuh setetes darah saja dan itu tidak akan membuat binatang yang kau hisap itu mati.” ucapnya menerangkan pada Ariel kalau dia tak butuh darah banyak untuk menghapus dahaganya itu.


Orion menggelengkan kepalanya tanda menolak masukan dari Ariel.


Apa benar di hanya butuh setetes darah saja? Bagaimana dia jika tidak bisa mengontrol dirinya dan menghisap darah binatang itu sampai habis lalu membuat binatang itu mati ? Masih berat baginya menerima kenyataan kalau dia butuh darah untuk bertahan hidup.


“Ariel apa kau tahu cara mengatasi dahaga ku ini... maksudku apa kau tahu cara lain selain menghisap darah ?” tanyanya pada lelaki itu karena sudah merasa semakin haus sekali dan tak kuasa menahannya.


Ariel hanya diam mendengarkan pertanyaan gadis itu. Pikirannya kemudian melayang dan membayangkan hal yang tidak-tidak membuat wajahnya menjadi bersemu merah.


“Ah... kurasa kau harus belajar menghisap darah binatang dulu. Cara lain yang kau maksud itu... emm... kau belum cukup umur.” ucapnya menolak memberi tahu cara lain yang dimaksud Orion.


Gadis itu tampak semakin lemas mendengar perkataan Ariel barusan. Dia tidak tahu bagaimana caranya agar tega menghisap binatang yang baginya lembut itu.


“Apa kau mau menghisap darah manusia... aku akan mengajarimu?” ucapnya tiba-tiba saat melihat ada orang yang lewat di depan mereka.


“Apa... kau gila ya? Kenapa kau menyarankan ide tak masuk akal itu padaku? Atau jangan-jangan selama ini kamu menghisap darah mereka...” tanyanya yang curiga pada temannya itu setelah melakukan sesuatu hal di belakangnya tanpa dia ketahui.


Ariel hanya tersenyum tipis melihat gadis itu terlihat shock mendengar ucapannya. Tak Ada cara lain selain mengajarinya berburu binatang.


“Baiklah jika kau tidak mau menghisap darah manusia. Padahal sebenarnya yang kau perlukan hanya satu tetes saja.” ucapnya lagi menyesali telah memberikan masukan yang kurang tepat padanya.


“Ku bilang aku tidak mau... aku bukan setan... !” ucapnya lagi dan sekarang terlihat marah karena merasa lelaki itu terus memaksanya.


“Yah... kalau begitu kau harus belajar berburu binatang buas sekarang. Kau pasti akan tega menghisapnya karena dia pengganggu bukan binatang lembut seperti kucing itu.”ucapnya memberi saran lain yang mungkin tepat dan cocok untuk gadis itu.


Gadis itu berpikir sejenak, yang di katakan Ariel ada benarnya juga. Tapi apa iya sekarang dia harus pergi ke hutan dan mencari binatang buas ? Berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk ke sana ? Dan butuh waktu yang tidak singkat juga menaklukkan binatang buas.


“Ariel kurasa untuk berburu binatang buas itu kita bisa melakukannya lain waktu tidak sekarang. Kita juga harus segera berangkat ke kampus...” ucap gadis itu lagi-lagi menolak saran dari lelaki itu.


Ariel sekarang bingung mau memberi saran apa lagi pada gadis itu, karena semua saran yang sudah dia berikan tak ada yang cocok dengannya.


“Aku tidak tahu lagi cara lain...” jawab anak itu yang merasa sudah tidak menemukan ide lagi.


Orion tiba-tiba merasa badannya panas sekali. Rasa haus itu sekarang benar-benar sudah tak tertahankan lagi. Matanya kini berubah menjadi merah dan telinganya berubah menjadi sedikit meruncing di ujungnya. Pandangannya mulai berkunang-kunang dan menjadi kabur.


“Orion... !” teriaknya saat melihat gadis itu ambruk. Dia langsung menangkap tubuhnya sebelum jatuh dan membawanya ke tempat tidur lalu membaringkan tubuh gadis itu yang tampak lemah.


“Orion... bertahanlah. Aku akan mencari cara.” ucapnya memegang tangan gadis itu yang terasa semakin panas.


“Ya semoga saja cara ini berhasil...” ucapnya setelah menemukan ide.


Ariel menarik tubuh Orion dan membuatnya duduk. Dia lalu berbisik di telinga gadis itu.


“Tak ada cara lain lagi. Aku akan berikan darah ku pada mu.” ucapnya lirih.


Orion yang sudah lemas sekali tak bisa menerima saran bodoh dari temannya itu yang melukai temannya sendiri dan dia hanya bisa menggelengkan kepala untuk menolaknya.


“Tak apa... aku rela memberikan darah ku padamu asal kau segera pulih kembali seperti sebelumnya. Ayo hisap darah ku sekarang, kau boleh menghisap lebih dari setetes...” ucap anak itu memerintahkan Orion yang masih keras kepala dan semakin nampak lemas.


Tanpa pikir panjang, Ariel pun memeluk gadis itu.


“Cepat hisap darah ku, sebelum terjadi hal yang lebih menakutkan dari itu.” ucap anak itu terus memaksa Orion.


Di kisahkan jika seorang keturunan amulet yang mencapai usia remaja akan mulai merasa haus. Dan dia harus menghisap setetes darah untuk menghapus dahaga. Jika untuk pertama kali rasa dahaga tidak teratasi maka vampir baru itu akan menjadi pengisap darah manusia dan menjadi monster pembunuh. Di katakan juga setetes darah pertama yang di hisap menentukan besarnya kekuatan yang di milikinya nanti.


“Apa aku akan menjadi setan pembunuh jika terlambat meneguk darah kali ini ?” batin gadis itu yang ketakutan setelah mendengar ucapan temannya itu barusan.


Dia lalu memeluk Ariel dan menempelkan bibirnya di leher lelaki itu dan mulai menghisap darahnya yang terasa manis.


Ariel terlihat menahan kesakitan saat taring gadis itu menembus lehernya dan tanpa sadar memeluk gadis itu semakin erat.


“Aahh...”


Beberapa saat kemudian Orion selesai menghisap setetes darah Ariel. Dia merasakan darah itu mulai mengalir di seluruh tubuhnya dan menghapus rasa panas yang menjalar di sekujur tubuhnya.


Matanya kembali normal, tidak berwarna merah lagi. Telinganya juga kembali ke bentuk manusia. Dan tubuhnya yang sekarang sudah tidak terasa lemas lagi.


“Terima kasih Ariel... kau merelakan darah mu untuk ku. Kau selalu ada di saat aku membutuhkan mu.” ucap gadis itu masih memeluk lelaki itu.


Melihat wajah Orion dari dekat, lelaki itu merasa jantungnya kembali berdetak kencang seakan mau meledak dan dia tak kuat menahannya lagi.


Untung saja Orion segera melepas pelukannya dan detak jantung Ariel kembali normal


“Aku senang kau sudah tidak lemas lagi. Cepat ganti bajumu... kita hampir terlambat.” ucapnya sambil bergeser menjauh dari gadis itu.


Orion tersenyum menatap lelaki itu lalu turun dari tempat tidur dan pergi ke ruang ganti untuk ganti baju.


“Ayo kita berangkat... lusa aku akan mengajak mu ke hutan dan mengajari mu berburu.”


Ariel segera bergegas keluar dari rumah itu setelah Orion siap. Gadis itu merasakan sel-sel di tubuhnya beregenerasi dan dia merasakan adanya aliran tenaga yang meluap-meluap di tubuhnya setelah menghisap darah anak itu.


BERSAMBUNG....