
Orion berlari mengejar Galen sebelum dia benar-benar pergi jauh darinya.
“Galen... tunggu !!” teriak Orion namun lelaki itu sama sekali tak menoleh ke belakang.
Karena Galen tak mau berhenti Orion pun menarik tangannya untuk menghentikan nya.
“Galen... apa yang terjadi pada mu ? Kau bilang pada ku sebelumnya tak akan pernah meninggalkanku. Tapi sekarang ini bahkan kau dingin pada ku... ?!” ucap Orion sambil berjalan karena lelaki itu tetap tidak mau berhenti.
Galen menatap ke samping karena dia merasa tindakan Orion padanya sudah keterlaluan.
“Putri Orion... sudah cukup jangan di lanjutkan lagi ! Kau semakin keterlaluan !” balas Galen dengan nada keras.
“Galen... lalu bagaimana dengan janjimu padaku... lalu bagaimana dengan yang kita lakukan di ruang dimensi lukisan ?” tanya Orion lagi yang akhirnya bisa membuat lelaki itu menghentikan langkahnya.
“Ruang dimensi lukisan... ?Aku tak ingat pernah mengajak mu ke sana.” balas Galen menatap Orion dengan tajam.
“Galen... sayang... apa kau bercanda ? Bercanda mu sudah keterlaluan dan kau membuat ku ketakutan.” ucap Orion lagi.
“Bercanda... ? Siapa yang bercanda... ? Satu lagi jangan panggil aku sayang, aku bukan kekasih mu !” ucap Galen sambil menyingkirkan tangan Orion dengan kasar.
Namun Orion masih menganggapnya jika Galen tidak sungguh-sungguh dengan apa yang diucapkannya barusan. Dia pun menyentuh pipinya.
“Galen... kau bilang akan mencintai ku selamanya. Dalam hidup mu hanya ada diri ku...”
“Cinta kau bilang ?! Cukup... ! Kesabaran ku sudah habis putri ! Selama ini aku tak pernah berhubungan dengan mu, bagaimana bisa aku mencintaimu ?!” balas Galen yang menjadi emosi dan menyingkirkan Orion dengan kasar dari wajahnya.
“Apa... yang barusan kau katakan... kau tidak mencintai ku...” ucap Orion dengan terbata-bata dan merasa syok mendengarnya.
“Galen ada apa dengan mu... kau bukan lah diri mu yang biasanya. Siapa yang telah mencuci otak mu ?” ucap Orion saat lelaki itu meninggalkan dirinya dan sama sekali tidak mempedulikan dirinya.
Galen segera masuk ke kamar nya dan berpesan pada pengawal yang kebetulan menjaga area di sekitar kamarnya.
“Pengawal usir keluar Putri Orion jika dia masih di istana ini. Jangan pernah biarkan dia masuk ke istana ini lagi !” perintah Galen dengan nada yang masih emosi.
Pengawal itu tampak tertegun karena sepengetahuannya Putri Orion adalah kekasihnya Pangeran Galen, dan hal itu membuatnya bingung.
“Tapi pangeran... putri Orion kan ke...” balas pengawal tadi yang di potong oleh Galen.
“Tak ada tapi-tapian mulai dari sekarang. Kau harus menuruti semua perintah ku !” bentak Galen marah pada pengawalnya.
Pengawal tadi mengangguk dan segera pergi dari sana dan dia merasa heran pada perubahan sikapnya yang biasanya lembut namun sekarang menjadi pemarah.
“Putri Orion tolong segera keluar dari istana ini... kami hanya mengikuti perintah dari Pangeran Galen saja. Jangan sampai kami bertindak kasar pada putri.” ucap salah satu pengawal meminta Orion untuk segera pergi dari istana karena gadis itu sedari tadi masih menunggu Galen.
Orion pun akhirnya keluar dari istana Cawan Suci menuju ke Villa jantung emas.
Gadis itu berjalan di tengah salju yang sedang turun. Dia teringat pada kolam harapan yang konon katanya bisa mengambilkan semua permintaan.
Setibanya di kolam harapan dia mengeluarkan koin kesayangan nya yang menurutnya sebagai ikon keberuntungan.
Gadis itu menggenggam koinnya sambil memanjatkan doa.
“Aku tidak tahu kenapa Galen berubah dan melupakan cinta di antara kami. Tolong kembalikan lah Galen seperti semula...” gumam Orion membaca doa dengan khusyuk lalu melempar koinnya ke kolam harapan.
Setelah selesai melempar koin Orion pun kembali berjalan menuju ke Villa.
“brrr....” Orion menggigil kedinginan di tengah Salju yang semakin lebat.
“Kurang sedikit lagi aku sampai ke rumah.” gumamnya terus berjalan melawan lebatnya salju meskipun sebenarnya dia sudah tak tahan pada cuaca dingin di luar saat itu.
Tiga puluh menit kemudian gadis itu tiba di depan pintu rumah.
“tok... tok...” Orion mengeluarkan sisa energinya untuk mengetuk pintu.
“bruk....” gadis itu jatuh dan ambruk ke tanah karena sudah tak kuat lagi menahan dinginnya cuaca.
Ratu Zoya saat itu sedang ada di rumah segera berlari setelah mendengar suara seseorang yang mengetuk pintu.
“kriek”
“Orion... !” teriak Ratu Zoya saat melihat Orion yang tergeletak di tengah tak sadarkan diri.
Dia pun segera membawa tubuh Orion ke dalam rumah dan menyalakan perapian untuk menghangatkan tubuh Orion yang sedingin es.
“Sayang... apa yang terjadi padamu ? Kenapa kau keluar tidak mengenakan mantel ?” ucap wanita itu meskipun Orion masih dalam kondisi pingsan. Dia lalu menutupi tubuh Orion dengan tiga selimut tebal.
Kembali ke istana Cawan Suci.
Galen sedang berada di kamarnya seorang diri. Dia duduk merenung menatap ke luar jendela.
Dia teringat pada Orion dan semua yang diucapkan oleh gadis itu padanya.
“Kenapa gadis itu bilang padaku jika aku adalah kekasihnya... ? Aku sama sekali tak ingat pernah menjalin hubungan dengannya.” gumamnya.
“Apa benar yang dikatakan oleh Putri Orion tadi ? Atau semua yang dia katakan pada ku hanyalah dusta belakang untuk mendapatkan simpati dari ku ?” gumamnya lagi.
Galen mencoba mengingat-ingat kejadian di masa lampau yang ada kaitannya dengan Orion.
“Argh... Argh.... !” Galen berteriak kesakitan saat mencoba memikirkan Orion.
Galen yang masih merasakan pusing yang hebat mengambil air minum yang ada di meja dan menghabiskannya. Setelah itu dia segera merebahkan dirinya ke tempat tidur untuk meredakan sakit kepalanya.
BERSAMBUNG....