Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 85 Keraguan


Keesokan harinya di pagi hari, Orion bersiap lebih awal dan segera pergi dari rumah sebelum Ariel datang menjemputnya.


Gadis itu yang masih merasa khawatir pada kondisi Galen yang terluka karena menyelamatkan dirinya, berjalan menyusuri jalan menuju ke tempat tinggal anak itu dan bermaksud untuk mengajaknya berangkat bersama ke Akademi.


Tak beberapa lama kemudian dia sampai di depan rumah Galen. Dia kembali mengambil koin yang ada di saku bajunya lalu mengetukkan tiga kali koin itu pada pagar berwarna hitam.


Dari dalam rumah kalian mendengar ada suara orang yang mengetuk pagarnya. Diapun segera keluar dari rumah untuk memeriksanya.


“Orion... ?!” ucapnya terperanjat saat melihat gadis itu sudah berdiri di depan pagar rumahnya.


Galen berjalan membukakan pagar rumah. Kondisinya sudah lebih baik dari hari sebelumnya, bahkan terlihat seperti sudah pulih.


“Bagaimana kondisimu ?” ucapnya bertanya karena merasa khawatir pada lelaki itu.


“Aku sudah baikan...” ucapnya setelah membuka pagar menatap gadis yang terlihat cemas di depannya.


Orion tersenyum mendengar perkataan dari Galen barusan dan merasa lega setelah melihat lelaki itu berjalan dengan lancar tidak terseok-seok seperti sebelumnya. Meskipun timbul pertanyaan karena merasa aneh dengan kondisi Galen yang cepat pulih setelah terluka seperti itu.


“Ayo kita berangkat ke akademi bersama.” ajak Orion.


Galen mengangguk dan memintanya menunggu sebentar setelah itu dia masuk kembali ke rumah untuk mengambil tasnya.


Orion melihat Galen dari belakang sambil menunggunya di pagar meskipun anak itu sudah memintanya untuk masuk.


“Kenapa luka Galen begitu cepat sembuhnya... padahal dia hanya manusia biasa.” batin gadis itu terus menatap cara berjalan Galen yang tampak baik-baik saja.


Belum sempat menemukan jawaban dari pertanyaan nya itu Galen keluar dari rumah dan sudah berada di pagar.


“Ayo kita berangkat sekarang sebelum terlambat.” ajaknya lalu mengunci pagar rumahnya. Mereka berdua pun berjalan bersama menuju ke akademi.


Sementara itu di lain tempat Ariel sudah bersiap dan sekarang berjalan menuju ke rumah Orion. Tepat saat dia tiba depan rumah, pintu terbuka.


“Ariel...?! Ibu kira Orion sudah berangkat tadi denganmu.” ucap Putri Zoya saat membuka pintu rumah dan bersiap pergi ke rumah makan miliknya. Seketika wajah Ariel terlihat terkejut mendengar pernyataan dari ibunya Orion barusan.


“Baiklah ibu Zoya kalau begitu aku akan berangkat sendiri sekarang.” ucapnya berpamitan lalu segera pergi menuju ke akademi.


Putri Zoya hanya tersenyum dan mengangguk membalas ucapan Ariel. Dia heran kemana putrinya pergi tadi jika tidak bersama Ariel lalu segera pengunci pintu dan segera menuju ke rumah makan.


Sementara itu selama berjalan Ariel terlihat kesal. karena dia yakin jika Orion pasti pergi bersama Galen.


“Lebih baik aku memastikannya...” gumamnya lalu mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di akademi.


Beberapa saat kemudian dia tiba di akademi. Matanya tertuju pada sesosok yang berjalan di tengah keramaian.


“Orion... benarkan dugaan ku dia bersama lelaki brengsek itu !” ucap nya yang tampak geram setelah melihat gadis itu tersenyum menatap Galen.


“Orion... aku menjemputmu ke rumah tapi tak ada. Ternyata kau bersama lelaki brengsek ini.” ucapnya menatap Galen dengan kesal dan marah.


“Ariel... kenapa kau marah seperti itu ?” tanyanya saat melihat anak itu yang berusaha untuk melepaskan pukulan pada Galen di tengah keramaian.


Sontak aksi itu membuat Orion syok dan terpaksa dia menarik Ariel pergi dari sana agar tidak terjadi perkelahian lagi di tengah keramaian.


Galen yang melihat Orion membawa pergi Ariel nasih berdiri di tempatnya dan memandang mereka berdua. Namun tiba-tiba datang seorang gadis yang berjalan dengan cepat menghampirinya dan mengajaknya pergi dari tempat itu.


Melihat Ariel yang sudah tenang Orion pun kembali mencari sosok Galen di tengah keramaian namun dia melihat lelaki itu sudah pergi bersama gadis lain. sesaat Entah kenapa dia merasakan tidak nyaman melihat keadaan bersama gadis lain. Dia pun segera kembali ke sisi Ariel dan segera berjalan menuju ke kelas.


“Ariel ayo kita pergi dari sini.” ucapnya ganti menarik pelanggan area karena tak ingin melihat Galen.


Sementara itu Galen yang sudah berjalan bersama seorang gadis menoleh ke belakang dan melihat Orion sudah pergi bersama Ariel. Entah kenapa sesaat dia juga merasa tak senang saat melihat gadis itu pergi bersama manusia serigala itu.


“Dengar Orion... kau jangan dekat-dekat dengan Galen, dia itu berbahaya.” ucapnya pada Orion yang hanya menarik nafas dalam-dalam pada sikap temannya itu.


“Aku rasa lelaki itu tidak baik. Dia punya maksud tertentu mendekati mu.” jelasnya lagi yang membuat Orion semakin kesal pada tingkahnya.


“Ariel... Galen tidak mungkin seperti itu. Kemarin dia menyelamatkanku saat aku hampir jatuh dari pohon dan merelakan dirinya terluka demi aku. Aku hanya khawatir saja padanya, tidak lebih.” ucap gadis itu membantah dan menjelaskan sikap Galen yang bertolak belakang dengan apa yang dicurigai oleh Ariel.


Ariel mencoba mencari cara untuk meyakinkan gadis itu agar mempercayai ucapannya.


“Percaya atau tidak... beberapa waktu yang lalu aku sempat menemukan sebuah kantong hitam yang dibuang oleh Galen dan Aku tidak tahu apa itu. Yang pasti menurutku si brengsek itu menyembunyikan sesuatu darimu.” ucap Ariel lagi untuk meyakinkan Orion. Namun gadis itu sekarang tampak sangat kesal mendengar penjelasan tak masuk akal dari temannya itu dan berjalan cepat meninggalkan Ariel.


“Orion... tunggu... !” teriaknya saat gadis itu marah dan meninggalkannya sendiri.


Orion hanya menoleh ke belakang lalu berbalik lagi ke depan dan terus berjalan meninggalkan Ariel. selama berjalan dia pun mulai memikirkan ucapan dari Ariel.


“Kantung hitam... ? Apakah yang dimaksud Ariel sama dengan kantong hitam yang kulihat sebelumnya saat berada di rumah Galen ? Lalu untuk apa Galen menggunakan serbuk itu... apakah dia sakit dan menyembunyikannya atau... ?” batin gadis itu menebak-nebak dan banyak pertanyaan yang mulai bermunculan dalam kepalanya.


Dia kembali memikirkan perkataan Ariel. Jika saja memang Galen punya penyakit pastinya dia akan terlihat lemah. Namun selama ini dia selalu melihat kondisi lelaki itu dalam keadaan prima.


Dia menghentikan pikiran liarnya itu saat dia sudah tiba di depan kelasnya dan segera masuk lalu mencari tempat duduk sebelum kelas dimulai.


Di dalam kelas dia tidak bisa konsentrasi dan kembali terpikirkan oleh apa yang dikatakan oleh Ariel tadi padanya. namun sekeras apapun dia berpikir tetap dia tidak menemukan jawaban dari kebingungannya itu dan rasa ragu serta rasa bimbang pada Galen mulai merayap dalam pikirannya.


Sementara itu Galen yang merasa tidak tenang keluar dari kelas dan berjalan menuju ke kelas Orion. Dia melihat dari kejauhan Gadis itu sedang melamun entah apa yang dipikirkannya.


Lelaki itu segera pergi dari sana saat melihat ada beberapa gadis dari belakang yang akan mengejarnya.


BERSAMBUNG...