
Pagi hari setelah melakukan ritual suami istri berulang kali mereka pun tertidur pulas hingga sinar matahari menyilaukan menerobos jendela dan menyinari tubuh polos mereka.
“Ah sudah jam berapa ini...” ucap Putri Zoya bangun dan menarik selimutnya.
Dia melihat suaminya yang masih terlelap dan mencium bibirnya yang membuat sang pangeran terbangun dan menarik kembali tubuhnya dalam pelukannya.
“Sayang... sudah saatnya aku pergi...” bisik Putri Zoya di telinga suaminya yang enggan untuk bangun dengan wajah sendu.
Pangeran Diaz segera terbangun mendengar bisikan perpisahan dari istrinya yang sekarang duduk membelakanginya.
“Zoya... tinggallah sebentar lagi. Aku masih membutuhkan mu. Sebentar saja sayang...” ucap sang pangeran memohon pada sang putri yang membuatnya membalikkan badan menghadap suaminya.
Pangeran Diaz menuntun tubuh istrinya ke atas tubuhnya. Sambil duduk, sang putri terus menggenggam erat tangan suaminya dan menggerakkan tubuhnya berirama.
“Sayang...aku tak mau berpisah dari mu.” ucap sang putri sambil membuat tanda di dada pangeran.
Pangeran Diaz duduk lalu berdiri sambil terus menggendong putri dan memeluknya erat.
“Aku mencintai mu sayang... aku akan sering mengunjungi mu saat malam hari di manapun kau berada.” bisik sang pangeran lembut di telinga istrinya yang terus mengerang dalam dekapannya.
Dua jam berlalu. Putri Zoya yang sudah memakai baju lengkap keluar dari kamar di ikuti oleh pangeran yang baru selesai memakai bajunya.
Putri Zoya memanggil Niki yang sudah menggendong Orion kecil keluar dari kamarnya.
“Kemari, nak...”panggil Putri Zoya pada putrinya.
Orion kecil turun dari gendongan pengasuhnya dan menghampiri ibunya.
Satu hari sebelumnya Putri Zoya mengatakan pada Orion kecil bahwa hari ini mereka akan berjalan-jalan dan mengunjungi nenek.
“Ibu... apakah kita akan ke rumah nenek ?” tanyanya pada sang putri yang di jawab dengan anggukan dan senyum kecil.
“Ayah.... ayah kenapa belum ganti baju, apa ayah tidak akan ikut dengan kami ?” tanyanya pada sang pangeran sambil menggandeng tangan ayahnya lalu menggandeng tangan ibunya bersamaan.
“Orion... ayahmu masih ada banyak tugas di sini yang harus di selesaikan. Nanti setelah ayah menyelesaikan semua urusan di sini ayah akan datang menjemput kita.” ucap Putri Zoya menjelaskan pada putrinya agar tidak bersedih dengan perpisahan mereka.
Pangeran Diaz menggendong putrinya itu untuk terakhir kalinya. Dia mencium kening putri kecilnya itu sambil memeluknya erat.
“Sayang kemana tujuan mu kali ini ?” tanya Pangeran Diaz pada istrinya.
“Mungkin aku akan kembali ke istana Samudera Dewata, sayang.” jawab sang putri sambil memeluk pinggang suaminya itu.
“Apakah mereka mau menerima mu ?” tanyanya kembali sambil memeluk istrinya itu.
“Semoga saja sayang...”ucapnya lalu memeluk suami dan putrinya. Pangeran Diaz mencium bibir istrinya lalu mengakhiri ciuman itu dan menyerahkan Orion kecil pada istrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Aku akan mengunjungi kalian di sana, sayang.” kembali mencium bibir istrinya yang melangkah keluar dari villa itu.
“Sayang...kami pergi dulu...” ucap putri Zoya mengakhiri ciuman itu dan menggandeng Orion kecil masuk ke kereta yang sudah menunggu mereka dari tadi.
Beberapa saat kemudian kereta kuda itu sudah keluar dari villa jantung emas menuju ke luar meninggalkan wilayah kerajaan Bulan Dingin. Pangeran Diaz masuk ke villa setelah melihat kereta kuda yang membawa sang istri menghilang dari pandangannya.
Dua jam kemudian kereta sudah ada di wilayah perbatasan antara kerajaan amulet dengan kerajaan anubis.
“Putri kita mau turun dimana ?” tanya kusir kuda pada Putri Zoya.
Putri Zoya sudah berpikir sebelumnya jika dia kembali ke istana Samudra Dewata mungkin dia tak akan di terima oleh orang tuanya. Namun tak ada lagi tujuan untuknya selain di sana.
“Tolong turunkan kami di Istana Samudera Dewata saja...”jawab Putri Zoya pada kusir itu sambil membuka tirai penutup kereta itu.
“Baik Putri...” jawab kusir itu dengan sopan dan kembali meneruskan perjalanan ke tempat tujuan yang di sebutkan sang putri tadi.
Tak lama kemudian kereta kuda berhenti. Kusir kereta membuka tirai kereta.
“Kita sudah sampai di tempat tujuan seperti permintaan putri.”ucap sang kusir yang melihat Putri Zoya segera turun dari kereta kuda bersama Putri Orion.
“Terima kasih sudah mengantarkan kami berdua.” ucap Putri Zoya pada kusir itu yang di balas dengan senyuman.
Putri Zoya berjalan setelah kereta kuda yang mengantarnya pergi. Dia menggandeng Orion kecil berjalan di sekitar istana Samudera Dewata. Dia berhenti agak jauh dari pintu gerbang istana dan menatap lama tempat tinggalnya dulu. Dia tersenyum membayangkan sosok ibunya yang sekarang ia rindukan.
“Ibu... apakah rumah nenek di sana ?” tanya Orion kecil menunjuk ke istana yang ada di depannya itu.
“Iya nak, di sana rumah nenek mu, Ratu Arni...” jawabnya menatap putrinya sambil tersenyum.
“Kenapa ibu masih di sini ?Ayo kita masuk ke sana sekarang.” ajak Orion kecil menarik tangan ibunya berjalan menuju ke istana itu dengan riang.
Sang putri menarik kembali Orion kecil mundur, agar tidak masuk ke istana.
“Kenapa ibu kita tidak masuk ke rumah nenek ?” tanya Orion kecil berhenti dan menatap ibunya dengan bingung.
“Nenek dan kakek mu sedang ada urusan di luar kota nak, jadi istana itu kosong.” ucap Putri Zoya beralasan supaya putrinya tidak masuk ke sana.
Putri Zoya melihat wajah sedih putrinya itu yang gagal ingin bertemu dengan kakek dan neneknya lalu mengajaknya berjalan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu di dalam istana Samudera Dewata, Ratu Arni duduk termenung sendiri. Dia selalu memikirkan dan menantikan Putri Zoya yang pergi dari istana itu kembali bersamanya.
Sudah hampir satu tahun tak ada kabar sama sekali dari putrinya itu. Dan Ratu Arni selalu merindukan kehadiran putrinya kembali.
“Zoya... bagaimana kabar mu sekarang, nak ? Kenapa kau tak pernah memasuki rumah mu ini lagi...” ucap Ratu Arni sedih memandang ke luar pintu dengan tatapan menerawang jauh ke angkasa.
Ratu Arni pernah mengirim pengawalnya secara rahasia untuk mencari keberadaan Putri Zoya di istana Bulan Dingin, namun pengawal itu menyampaikan padanya kalau Putri Zoya tidak ada di Istana Bulan Dingin dan tidak di ketahui dimana keberadaanya setelah melakukan pencarian di sana.
Tiba-tiba saja Ratu Arni ingin sekali keluar rumah dan berjalan ke pintu gerbang istana. Perasaannya kuat mengatakan Putri Zoya memanggilnya di luar sana.
Ratu Arni berjalan sampai ke pintu gerbang masuk istana. Dia tidak melihat siapa pun ada di sana. Orion kecil yang sudah berjalan jauh bersama ibunya menoleh ke belakang dan sekilas melihat seorang wanita yang berjalan memasuki gerbang istana neneknya.
BERSAMBUNG....