
Tangan Galen kembali bergerak melepaskan sisa baju yang masih menempel di tubuh gadis itu. Dia pun melihat tubuh polos Orion yang berlekuk indah dan menelusuri setiap lekuk tubuh gadis itu dengan tangannya.
“Galen... kumohon berhentilah ! Apa yang ada dalam pikiranmu ?” ucap Orion berontak dan mendorong Galen menjauh dari tubuhnya. Namun tenaganya tak ada apa-apanya dibandingkan dengan tenaga Galen.
“Orion... ini bukti cintaku padamu. Harusnya kau senang karena aku yakin denganmu dan tak terpikirkan gadis lain. Menurutlah...” ucapnya menggenggam tangan Orion erat agar tak bisa bergerak. Dia pun kembali mencium bibir gadis itu agar tidak bersuara lagi.
“Aku akan memberi mu hadiah terindah, sayang...” bisik Galen di telinga Orion lalu menggigit telinga gadis itu.
Galen merasa adrenalin nya meningkat dan melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya karena merasa suhu tubuhnya meningkat.
“Galen... jangan... ku mohon...” ucap Orion meronta saat Galen mencium jari kaki Orion dan menjilatnya.
Galen tidak menghiraukan ucapan Orion dan dia terus bereksplorasi untuk mengungkapkan rasa cinta nya. Galen membuka lebar kaki Orion dan membenamkan kepalanya di sana untuk bermain-main.
“Argh... Galen... hentikan...” teriak Orion sambil mendesah saat Galen memainkan lidahnya di sana sambil menjambak rambut Galen agar menghentikannya. Namun Galen tidak berhenti dan malah intens menggerakkan lidahnya yang membuat gadis itu terus mendesah.
“Orion aku tahu ini adalah pertama kalinya kita... buatlah dirimu rileks dan jangan tegang...” ucap Galen menyudahi permainan lidahnya. Dia merasakan bagian tubuhnya mulai menegang dan mengeras.
“Orion kau sudah siap ?” bisik lembut Galen di telinga gadis itu sambil naik ke atas tubuh Orion. Galen mulai membenamkan tubuhnya dalam-dalam sambil menggenggam erat tangan Orion.
“Aah... Galen... sakit...” teriak Orion saat Galen mulai menggerakkan tubuhnya maju mundur sambil memejamkan mata.
“Ssts... Orion aku juga merasakan sakit yang nikmat...” Galen kembali mencium Orion dan memelankan gerakannya sambil bermain-main di tubuh bagian atas Orion yang membuat gadis itu semakin menggeliat di bawah tubuhnya.
Orion yang merasa tak kuat menahan rasa sakit bercampur nikmat itu memeluk erat pinggang Galen sambil menggigit leher lelaki itu.
Galen terus menggerakkan tubuhnya maju mundur dan membuat Orion terus berteriak di iringi ******* sambil memejamkan mata.
“Aaah...” desah mereka bersamaan setelah Galen mengeluarkan cairan kejantanan nya. Galen menarik tubuhnya dia melihat darah merah di sprei putihnya lalu berbaring disebelah Orion dan memeluknya.
“Sayang bagaimana tadi... ?” tanya Galen sambil menciumi bahu Orion.
“Galen... aku... aku sudah tidak...dan rasanya sakit... ” ucapnya tiba-tiba menitikkan air mata dan menyandarkan kepalanya pada dada Galen harus melepaskan mahkota berharganya pada Galen.
“Orang bilang jika yang pertama terasa sakit tapi untuk yang kedua dan seterusnya tak akan terasa sakit lagi...” ucapnya sambil mendekap erat Orion dan mencium kepalanya.
“Terima kasih Orion kau sudah memenuhi permintaanku. Setelah ini aku akan menuruti semua permintaanmu juga. Jangan menangis...” ucapnya sambil mengecup pipi gadis itu.
“Kau tak akan pernah meninggalkan aku kan ?” tanya Orion tiba-tiba setelah air matanya tak menetes lagi.
“Tentu saja tidak... amulet hanya bisa mencintai satu wanita seumur hidupnya.” ucapnya lagi lalu mencium bibir Orion yang membuat darah nya kembali bergejolak.
“Orion ku rasa aku tak kuat menahan lagi setelah mencium mu...” bisik Galen di telinga Orion lalu kembali menciumi leher gadis itu.
“Galen... hentikan. Pinggang ku nyeri.” ucap Orion bergeser menjauh dari Galen.
“Aku akan lebih lembut kali ini, sayang, aku janji.”
Belum tempat Orion menolak, Galen sudah berada di atas tubuhnya dan mulai membenamkan tubuhnya dalam-dalam.
“Orion biarkan aku menyatu dengan mu...” ucapnya lagi sambil mengangkat bokong Orion.
“Aaah... Galen...” Orion mulai mendesah dan kali ini dia sama sekali tidak merasakan sakit malahan dia merasakan kenikmatan yang tiada tara dan geli sampai ke ujung jari kakinya.
Orion menyilangkan dua kakinya di pinggang Galen dan memeluknya erat. Karena tak kuat menahan rasa yang membuatnya melayang dia pun kembali menggigit bahu Galen. Satu jam kemudian Galen menyudahi permainannya.
Dia kembali berbaring di sebelah Orion yang tampak lemas dan memeluknya erat. Beberapa menit kemudian mereka tertidur pulas.
“Masih jam dua siang rupanya.” ucapnya duduk dan melihat Galen yang masih tertidur pulas. Dia mengecup bibir Galen yang membuat lelaki itu bangun dan menari tubuhnya kembali agar tetap tidur di sampingnya.
“Galen... aku mau mandi dulu. Sebentar lagi aku harus kembali.” jawabnya sambil melepas tangan Galen dan memakai bajunya.
Seolah tak mau jauh dari Orion, dia pun mengikuti gadis itu masuk ke kamar mandi.
“Galen... apa kau mau mandi juga ?” tanya Orion saat melihat Galen yang berada di kamar mandi dan sudah menanggalkan bajunya.
Galen tidak menjawab dia pun kembali mencium bibir Orion yang membuat kelelakiannya bangkit kembali.
“Orion sepertinya lima belas jam pun aku masih kuat melakukannya dengan mu.” bisiknya lirih sambil menyalakan shower.
Karena sudah tidak merasakan perih, kali ini Orion yang berinisiatif. Dia menarik tubuh Galen merapat dengannya.
“Ahh Galen... aku masih lemas.” ucapnya mendesah saat Galen mulai membenamkan tubuhnya dalam-dalam. Galen pun menggendong tubuh Orion dan terus menggerakkan tubuhnya maju mundur.
“Aahh...” desah Galen dan Orion bersamaan saat merasakan kenikmatan berkali-kali yang teredam oleh suara shower.
Satu jam kemudian Galen mengakhiri permainannya dan menurunkan tubuh Orion dari gendongannya.
“Galen...” ucap Orion menarik tubuh lelaki itu ke bawah shower dan mengajaknya mandi bersama.
Mereka berdua nampak tersenyum dan saling menggosok tubuh bergantian.
Galen dan Orion keluar dari kamar mandi segera memakai baju. Orion duduk di depan cermin dan melihat banyak sekali kissmark di lehernya.
“Galen Apa yang harus kulakukan untuk menutupi ini ? Bagaimana jika Ibu melihatnya ?” ucapnya yang tampak cemas sambil menunjukkannya pada Galen.
Galen duduk di samping Orion dan berpikir. tiba-tiba dia berdiri dan membuka salah satu laci di kamarnya.
“Orion oleskan ini di leher mu. Ini akan menyamarkan tanda cintaku di leher mu. Tapi kau harus rutin mengoleskannya tiap tiga jam sekali.” jawab Galen membawa sebuah krim lalu mengoleskannya ke leher Orion.
“Galen Sebentar lagi Ibu akan pulang aku harus segera kembali sekarang.” ucapnya setelah Galen selesai mengoleskan krim pada lehernya.
“Baik aku akan mengantarmu pulang sekarang.” jawab Galen sambil memasukkan krim tadi ke tas Orion. Mereka berdua pun keluar dari rumah Galen dan menuju ke rumah Orion.
Tepat saat mereka tiba di rumah, Putri Zoya juga sampai ke rumah.
“Galen... Orion kalian darimana ?” tanya Putri Zoya berhenti di depan pintu saat melihat mereka berdua datang.
“Kami habis jalan-jalan sebentar ibu Zoya.” jawab Galen sambil tersenyum menatap nya.
Entah kenapa Putri Zoya memandangi mereka berdua lama. Orion yang merasa takut dengan tatapan ibunya menggenggam erat tangan Galen.
“Orion... Galen... ibu harap kalian berdua tidak melakukan hal yang melewati batas saat menjalin hubungan.” ucapnya pada mereka berdua.
“Tentu saja ibu...” jawab Galen dan Orion bersamaan dan merasa bersalah karena telah melanggarnya.
Ibunya Orion pun segera masuk rumah setelah ada yang ingin diucapkan lagi.
“Sekarang masuklah...” ucap Galen melepas tangan Orion lalu mencium keningnya. Dia pun segera kembali ke rumah setelah melihat Orion masuk dan menutup pintu rumah.
BERSAMBUNG.....