
Fredi menghirup aroma samar amulet dari pohon itu. Untuk memastikannya, dia lalu naik ke atas pohon dan memeriksanya.
“Ada bekas kaki dan tangan di batang pohon ini...” ucap Fredi saat melihat ada bekas jejak kaki dan tangan yang tertinggal di sana.
Dia juga melihat ada sedikit serbuk yang jatuh menempel di batang pohon.
“Apa ini... apa ini semua ada hubungannya ?”
Fredi mengambil sampel serbuk yang tersisa di batang pohon lalu membawanya nya untuk diteliti lebih lanjut.
Dia masih melihat pohon itu dan mencoba menghubungkannya.
“Apa mungkin serbuk ini ada hubungannya dengan aroma amulet yang tipis sekali dan hampir tak tercium sama sekali.” ucapnya lagi menduga-duga.
“Tapi untuk apa amulet menyusup ke sini ?” tanyanya heran karena sudah lama dia tak membuat masalah dengan para amulet.
“Jika bukan merencanakan serangan , lalu... apa mungkin mereka hanya ingin memantau saja tapi untuk apa ?” ucapnya lagi sambil memegang kepalanya agar menemukan ide.
“Apa mungkin ada penghuni sini ini yang datang ke negeri amulet duluan... ?” ucapnya tiba-tiba terlintas buah pikiran.
Wajahnya seketika berubah pucat setelah dia teringat beberapa waktu yang lalu pada Orion yang sempat bertanya padanya tentang negeri amulet, juga pada Ariel.
“Anak itu... !” ucapnya dengan marah yang tergambar jelas di wajahnya.
Fredi seketika melesat dengan cepat menuju ke rumahnya. Dia membuka pintu dengan tergesa-gesa untuk mencari Ariel.
Wajahnya semakin memerah saat melihat anak itu ternyata sedang rebahan di kamarnya.
“Ariel.... !” ucapnya berteriak pada anak itu. Dia langsung menghampiri anak itu dan menarik kerah bajunya.
Ariel yang tidak tahu ada masalah apa dan kenapa tiba-tiba ayahnya marah pada dirinya melepaskan cengkraman tangan sang ayah.
“Ayah ada masalah apa ? Kenapa tidak bicara baik-baik saja ?” tanyanya sambil mundur menghindari ayahnya yang akan mencengkeram lehernya.
“Bicara baik-baik kata mu ? Katakan padaku apa kau dan anne-marie ya pernah ke negeri amulet ?” ucapnya sambil melayangkan pukulan ke anak itu namun berhasil ditangkis oleh Ariel meskipun itu membuatnya terdorong ke tempat tidur.
“Ayah tidak seperti yang kau pikirkan, biar ku jelaskan dulu.” ucapnya baik-baik sambil mengajak ayahnya untuk duduk di sebelahnya.
“Jadi apa masalahnya katakan pada ku... !” ucapnya sambil duduk disebelah anak itu masih dengan amarah yang menguasai dirinya.
“Baiklah tolong redam emosi ayah, ceritanya begini...” ucap anak itu lalu menceritakan kronologis kejadian yang sebenarnya pada ayahnya itu.
Setelah mendengar cerita dari putranya, emosi Fredi sedikit menurun.
“Kau tahu karena tindakan mu itu kita harus menanggungnya. Baru saja Ayah menemukan jejak amulet yang menyusup ke perkampungan ini. Coba pikir kenapa mereka ke sini ?” tanya yang kembali emosi.
Sementara Ariel hanya bisa diam dan menelan ludah mendengar perkataan ayahnya. Dia tidak menyangka ternyata begitu cepat reaksi dan gerakan dari amulet.
“Sebentar lagi acara pelelangan akan dimulai. Aku harus mempersiapkan agar acara ini sukses. Dan kau malah menambah masalah dengan menyusup ke negeri amulet.” ucapnya sambil memegang kepalanya yang terasa berat sekali.
Sementara Ariel hanya diam tertunduk karena merasa bersalah.
Fredi berpikir cepat dan harus mengambil langkah cepat sebelum terlambat.
Beberapa saat kemudian lelaki itu tiba di depan rumah tetua. Tetua Casper yang mendengar derap langkah dari kejauhan segera membuka pintu rumahnya.
Tepat saat dia membuka pintu rumah Fredi sudah ada di depannya.
“Kenapa kau kembali lagi apa ada perubahan pada rencana kita ?” tanya tetua Casper yang merasa heran melihat ready belum lama pergi dan sudah kembali lagi ke tempatnya.
Melihat wajah Fredi yang super serius tetua pun langsung mengajak lelaki itu masuk dan segera mengunci pintu rapat-rapat.
“Jadi ada masalah apa...” tanya tetua Casper pada Fredi setelah mereka berdua duduk di kursi.
“Kita kedatangan tamu yang tak diundang dan itu merupakan musuh lama kita.” ucapnya pada tetua.
Tetua Casper tampak mengerutkan dahinya mendengar cerita dari Fredi.
“Maksud mu amulet menyusup ke sini ? Lalu apa tujuannya ?” tanyanya pada Fredi.
“Aku juga tidak tahu pasti apa tujuannya tetua. Ini hanya dugaan ku saja. Sebenarnya mereka ke sini karena Ariel.” jawabnya menjelaskan pada tetua Casper.
“Ariel... apa yang di lakukan anak itu ?” tanya tetua kembali dengan penasaran.
Fredi Kemudian menceritakan kronologis kejadian yang sebenarnya pada tua Casper.
“Jadi begitu ceritanya. Mereka pasti menyelidiki kita dan juga mencari saxion.” ucap ketua Casper setelah mendengar cerita lengkap dari Fredi.
Tetua Casper yang terkenal sebagai sosok banyak akal pun diam. Dia berpikir tindakan apa yang sebaiknya harus dilakukan nanti.
“Apa sebaiknya kita undur saja pelaksanaan pelelangan nya tetua ?” ucap Fredi memberi saran setelah mempertimbangkan beberapa alasan. Salah satunya adalah demi keselamatan semua penghuni perkampungan werewolf. Dengan menunda atau mungkin bahkan meniadakan acara pelelangan itu maka dipastikan keadaan akan aman.
Namun ternyata tetua Casper sepertinya punya pemikiran yang berbeda dengan Fredi.
“Menurutku kita tak perlu meniadakan atau mengundur acara pelelangan itu. Biarkan saja semua berjalan seperti apa adanya untuk menghindari kecurigaan mereka jika kita sudah tahu. yang terpenting adalah kita harus siaga setiap saat dan mempersiapkan semua mulai dari sekarang untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu hal yang terburuk.” jelas tetua Casper yang punya pemikiran berbeda dan lebih berpengalaman dari Fredi.
“Baik tetua...” jawab Fredi menerima usulan dari tetua yang dianggapnya tepat.
“Kalau begitu segera beritahukan pada tetua yang lain mengenai rencana kita.” ucap tetua Casper lagi.
Fredi pun segera keluar dari rumah tetua Casper dan mendatangi satu persatu rumah tetua lainnya yang ada di sana dan memberitahukan rencana yang akan dilakukan tetua Casper.
Sementara itu di istana Bulan Dingin, Bruno yang sudah menerima laporan dari Krish tampak memikirkan apa rencana selanjutnya yang akan mereka lakukan. Walaupun tim siluman melaporkan tak ada pergerakan dari werewolf yang berencana untuk menyerang para amulet, tapi itu tak membuat dia menurunkan kewaspadaannya.
Dia sudah menyusun rencana yang akan dilakukan dan selanjutnya dia menuliskannya pada secarik kertas sebagai bahan materi untuk pertemuan diskusi berikutnya.
Di lain tempat Ariel yang sudah kena marah habis-habisan oleh ayahnya segera bergegas menuju ke rumah Orion. Dia ingin gadis itu mengetahui akibat dari tindakan nekatnya sebelumnya agar gadis itu tidak mengulangi kembali perbuatannya.
“tok... tok...” suara pintu rumah Orion yang di ketuk.
Gadis itu segera keluar membukakan pintu. Terlihat di depan pintu Ariel yang berdiri dengan wajah yang tampak tegang.
BERSAMBUNG....