
Keesokan paginya Orion bangun dengan mata yang sembab dan juga bengkak. Dia masuk ke toilet untuk bersiap meskipun sebenarnya dia masih malas keluar dari kamarnya.
Orion sudah berada lama di kamar mandi namun dia belum juga keluar dan masih berada di bawah guyuran shower.
“tok... tok...” terdengar suara pintu diketuk dari luar.
Pangeran Diaz yang saat itu dengarnya segera berjalan ke ruang tamu dan membukakan pintu.
Galen yang ada di balik pintu terlihat terkejut saat melihat Pangeran Diaz bagaimanapun juga pangeran dia yang terkejut saat melihat Galen.
“Pangeran Diaz...” ucap Galen menyapa saat melihat lelaki itu. Dia tak menyangka saja lelaki itu ternyata sudah bertemu dengan ibunya Orion.
“Pangeran Galen... ayo masuk dulu.” ucapnya menyapa balik dan mempersilahkannya masuk.
Setelah mereka berdua duduk terjadi percakapan diantara mereka.
“Pangeran Galen mencari Orion ?” tanya Pangeran Diaz pada lelaki itu karena sebelumnya pernah bertemu dan melihatnya bersama putrinya. Galen tersenyum dan mengangguk membalasnya.
“Pangeran Diaz...aku senang kau sudah kembali dan berkumpul bersama dengan ibu Zoya dan Orion. Orion juga pasti senang sekali.” ucap Galen yang merasa senang setelah melihat lelaki itu ada di sana meskipun dia penasaran kapan lelaki itu berkumpul kembali dengan mereka berdua, karena sebelumnya Orion tak pernah menceritakan hal itu padanya.
Tiba-tiba raut muka Pangeran Diaz berubah menjadi sedih mendengar ucapan Galen.
“Ya itu.... ada sedikit masalah. Sebenarnya Orion masih belum bisa menerima diriku karena salah paham dan membenci ku...” jawab Pangeran Diaz sambil tertunduk.
“Apa benar Orion seperti itu... karena sebelumnya gadis itu bersikeras untuk menemui Pangeran. Dia juga pernah menyusup ke negeri amulet bersama werewolf hanya sekedar untuk melihat pangeran yang mengakibatkan di bentuknya tim khusus untuk menyelidik hal itu.” ucap Galen tak percaya pada apa yang dikatakan oleh ayahnya Orion.
Pangeran Diaz terlihat terkejut dan seolah tak percaya pada apa yang diceritakan Galen padanya karena bertolak belakang dengan kenyataan yang ada. Dan membuat nya bingung kenapa putrinya bertindak nekat seperti itu.
“Iya... nanti kau akan melihatnya sendiri...” ujar Pangeran Diaz sambil menghela nafas panjang. Ada satu hal lagi yang membuatnya masih penasaran tentang hubungan mereka berdua.
“Maff Pangeran Galen... selama ini kau ada di negeri amulet dan sama sekali tak pernah menjamah negeri anubis. Lalu bagaimana kalian berdua bisa bertemu ?” tanyanya sambil menyandarkan bahunya ke kursi.
“Oh.... itu ceritanya panjang Pangeran. Sebenarnya aku bertemu Orion saat....” jawabnya menceritakan awal pertemuannya dengan Orion pada lelaki itu dengan terbuka karena lelaki itu adalah ayah dari gadis yang di cintanya.
Pangeran Diaz mendengarkan cerita Galen tampak tak percaya mendengar cerita awal pertemuan putrinya dengan Galen karena suatu misi dan meskipun begitu dia tak punya pikiran buruk pada lelaki itu saat ini.
“Pangeran Diaz... aku akan mencoba mengajak bicara Orion agar dia bisa membuka hatinya untuk mu. Aku yakin dia sebenarnya sangat merindukan ayahnya.” ucap Galen kemudian untuk membuat ayahnya Orion tak bersedih.
“Ya terima kasih...” jawab Pangeran Diaz tersenyum sambil menepuk bahu Galen.
Tak lama kemudian Orion sudah berada di depan mereka berdua setelah lama berada di depan cermin untuk mengatasi matanya yang bengkak.
“Sayang... ini minuman untuk mu.” ucap Putri Zoya yang keluar dari dapur dan membawakan secangkir kopi untuk suaminya yang ternyata ada di ruang tamu dan terlihat nyaman mengobrol dengan Galen.
“Galen... ayo kita berangkat sekarang.” Orion menghampiri Galen lalu menarik tangannya dan mengajaknya segera berjalan. Sebelum keluar dari rumah mereka berdua berpamitan.
“Kami berangkat dulu Ibu, ay...” ucap Orion berpamitan pada ibunya dan hanya menatap ayahnya saja lalu segera melangkahkan kaki keluar dari rumah.
“Hati-hati nak...” jawab Pangeran Diaz dan Putri Zoya bersamaan mengantar kepergian mereka berdua lalu kembali duduk di ruang tamu.
Putri Zoya kembali melihat perut bekas suaminya masih terlihat sedih dengan perlakuan Orion barusan dan mencoba untuk membesarkan hatinya.
Meskipun masih merasa sedih, Pangeran Diaz terlihat tersenyum saat dekat sama istrinya. Dia menggeser duduknya lebih mendekat dan mencium bibir wanita itu lalu mengangkat tubuhnya ke pangkuannya.
“Sayang... jangan sekarang...” ucap Putri Zoya memegang tangan suaminya saat meraba bagian sensitif tubuhnya.
“Kenapa sayang...” tanya sang pangeran kembali mencium leher istrinya.
“Aku akan ke rumah makan. Aku akan mengajakmu ke sana sekarang...” jawabnya turun dari pangkuan suaminya dan kembali duduk di sebelahnya.
“Kenapa kau mengajak ku ke sana ?” tanyanya yang penasaran pada kesibukan istrinya.
“Sayang... sebenarnya aku membuka sebuah rumah makan tak jauh dari sini.” ucap Putri Zoya menjelaskan pada suaminya lalu berdiri dan berjalan menuju ke kamar untuk ganti baju.
“Jadi selama ini istriku bekerja sendiri untuk menghidupi dirinya dan Orion...” batin Pangeran Diaz yang merasa bersalah pada mereka berdua karena membuat mereka kesulitan dan harus mencari nafkah sendiri untuk bertahan hidup.
“Sayang kenapa kau diam saja... apa kau tak mau ikut denganku ?” ucapnya bertanya saat melihat suaminya yang kembali duduk termenung.
“Ya Tentu saja aku mau sayang...” jawabnya agak lama lalu tersenyum menatap istrinya.
Putri Zoya masuk ke kamar untuk berganti baju dan Pangeran Diaz mengikutinya masuk ke kamar.
Saat Putri Zoya melepas bajunya, Pangeran Diaz memeluknya dari belakang dan mencium leher istrinya.
“Sayang...nanti saja...” ucap Putri Zoya sambil membelai rambut suaminya.
“Sayang... aku tidak tahan melihatmu seperti ini. Sebentar saja...” bisik Pangeran Diaz lalu membalik tubuh istrinya setelah melepas bajunya dan menggendongnya.
Sesaat kemudian terdengar ******* Putri Zoya di balik dekapan hangat Pangeran Diaz.
Di lain tempat, Orion dan Galen berjalan menuju ke akademi sambil bergandengan tangan.
“Orion... aku ikut senang ayah mu sudah kembali bersamamu. Sejak kapan ayah mu kembali...” ucapnya bertanya sambil terus berjalan.
“Ouh... itu... dua hari yang lalu ayah tiba-tiba sudah ada di rumah saat aku pulang.” jawabnya datar dan terlihat tidak senang Galen membicarakan ayahnya.
“Sayang... ku rasa kau tampak dingin pada ayah mu tadi... kenapa, bukankah selama ini kau sangat merindukan nya ?” tanya Galen sambil membelai rambut Orion. Namun Orion menyingkirkan tangan Galen dan menjauh dari lelaki itu seketika setelah mendengarnya mengungkit perihal ayahnya.
“Galen... kenapa kau tiba-tiba ada di pihak mereka dan tidak memihak ku ?” tanyanya yang sedikit kesal pada kekasihnya.
“Orion... aku tidak memihak mereka dan tentu saja aku akan selalu ada di pihak mu apapun yang terjadi. Aku sudah berada lama di negeri amulet dan aku Tahu betul bagaimana sifat Pangeran Diaz. Lelaki itu selalu tampak kesepian tanpa adanya keluarga di sisinya.” ucap Galen menceritakan bagaimana kesedihan ayahnya Orion selama ini.
Orion sedikit tersentuh mendengar cerita Galen. Namun dia masih belum bisa membuka hatinya dan berlari meninggalkan Galen.
“Orion... tunggu !” teriak Galen yang mengejar gadis itu yang berlari melewati pohon. Galen berhasil mengejarnya dan membuatnya berhenti di depan sebuah pohon.
"Pergi kau jangan ikuti aku... !” ucap Orion yang marah pada lelaki itu. Namun Galen tak bergeming dan menggenggam erat tangannya lalu menyandarkan tubuhnya ke pohon dan mencium bibirnya untuk meredakan amarah kekasihnya itu.
BERSAMBUNG...