Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 156 Kembalinya Ingatan Galen


Di dalam sel Galen berusaha melepaskan rantai yang mengikat Orion, namun ternyata sulit untuk dilepaskan.


“Sepertinya rantai ini terkunci oleh suatu mantera. Bagaimana cara membukanya...?” batin Galen saat memegang rantai yang mengikat tangan Orion dan mencari cara untuk melepasnya.


Galen berpikir dan mengingat berbagai mantra pembuka kunci sementara itu Orion hanyut dalam pikirannya sendiri.


Orion merasa sedih mendengar secara langsung kabar pernikahan Galen langsung dari lelaki itu. Hatinya serasa hancur dan tak ada gunanya jika dia terus berharap padanya.


Dalam keputusannya dia mencoba berusaha dengan sisa-sisa kekuatannya untuk membuat Galen sadar dan mengingat semua hubungan dengan dirinya.


“Galen... apa kau benar-benar mencintai wanita yang besok akan menemani seumur hidupmu ?” ucap Orion menatap Galen yang berada tepat di depannya.


“Kau ini bicara apa... ? Tentu saja aku mencintai calon istri ku.” balas Galen masih memegang rantai yang mengikat tangan Orion dan melihat kesakitan untuk memastikan kondisi mereka tetap aman.


Sejenak Galen terdiam setelah mendengar pertanyaan dari Orion.


“Cinta... apakah itu sebuah getaran yang bisa ku rasakan di hati ku saat bersamanya ?” batinnya bertanya pada dirinya sendiri.


“Selama ini aku memang tidak pernah merasakan getaran itu saat bersama dengan Putri Shirein. Namun aku merasakan getaran aneh saat aku dekat dengan gadis ini.” batin Galen yang mulai merasa ragu dan menatap Orion, namun dia tetap menyangkal rasa itu.


“Galen... apa kau tahu jika kau telah meminum sebuah ramuan yang bisa menghapus ingatanmu tentang hubungan kita ?” ucap Orion lagi sambil berharap lelaki itu percaya pada ucapannya.


“Apa... ?! Kau jangan bicara omong kosong ! Tidak mungkin aku mau meminum ramuan seperti itu.” balas Galen kesal mendengar perkataan Orion yang semakin tak masuk akal baginya.


Meskipun Galen menyangkalnya namun dalam hati dia memikirkan perkataan Orion meskipun dia ragu ada orang terdekatnya yang melakukan hal itu padanya.


Orion melihat Galen mulai tampak goyah dari sorot matanya yang bergetar menyembunyikan rasa takutnya dalam dirinya.


“Jika kau tak percaya kau bisa buktikan sendiri.” ucap Orion lagi dan dia mencondongkan tubuhnya ke depan lalu mencium bibir Galen.


Entah kenapa Galen merasa familiar dengan ciuman itu dan dia pun membalasnya tanpa sadar. Dia merasa rindu sekali pada ciuman manis itu. Namun dengan cepat dia mendorong tubuh Orion menjauh dari dirinya.


“Mungkin kau bisa membohongi perasaanmu tapi tidak dengan tubuh mu yang bisa mengenali diriku...” ucap Orion lagi. Namun kali ini Galen tak mendengarkan ocehan Orion.


Galen tetap fokus dan membaca mantra lain untuk membuka rantai yang masih mengikat tangan Orion setelah madra sebelumnya tidak bekerja.


Di lain tempat salah satu pengawal kerajaan masuk ke ruang bawah tanah tempat Orion ditahan. Pengawal itu melakukan pengecekan rutin setiap tiga jam sekali untuk memastikan Orion tidak kabur dari sel.


Seorang pengaman menuruni tangga bawah tanah yang menuju ke tempat Orion ditahan.


“Ada aroma amulet lain yang bukan dari wilayah ini.” ucap pengawal itu saat mencium aroma amulet kuat di sana.


“Gawat... ada penyusup yang masuk ke sini. Aku harus cepat sebelum dia berhasil membawa kabur tawanan.” batin pengawal tadi dan mempercepat langkahnya.


Pengawal tadi tiba di depan sel dan melihat seorang lelaki berusaha membebaskan Orion. Dia pun bergerak dengan cepat dan masuk ke dalam sel tanpa diketahui.


“Zap...” pengamatan dia sudah berdiri di belakang Galen.


Orion terkejut mengetahui kedatangan pengawal itu. Dia melihat lelaki itu menarik pedang dan akan menghujam ke jantung Galen.


“klik....” Galen berhasil membuka ikatan rantai di tangan Orion.


Begitu rantai yang mengikat tangan Orion yang sudah terlepas, dia segera menarik tubuh Galen dalam pelukannya sambil bertukar posisinya untuk melindunginya.


“Tak ada gunanya juga aku hidup karena Galen besok akan bersanding dengan wanita lain dalam pelaminan...” batin Orion yang berpikir lebih baik dirinya mati daripada hidup tersiksa melihat Galen bersama wanita lain.


“Galen... kali ini kau jangan menolak ku. Ini adalah salam perpisahan dariku.” ucap Orion memejamkan mata dan mencium bibir Galen sambil bersiap menerima serangan dari pengawal tadi.


“jleb.... !” Pengawal tadi menguruskan pedangnya tepat ke jantung Orion.


Sementara Galen kembali merasakan ciuman yang lama sekali pernah dia rasakan dan rindukan sebelumnya. Perlahan-lahan ingatan nya tentang hubungannya dengan Orion terlintas di benaknya satu per satu. Dia bisa mengingat lagi semua kenangan bersama dengan gadis itu.


“Argh... !” Orion merasakan sakit yang luar biasa dan mengakhiri ciumannya.


Galen melihat darah mengucur dari tubuh Orion dan membasahi bajunya.


“Orion... sayang... Orion... aku bisa mengingatmu kembali. Apa yang terjadi padamu ?” ucap Galen setelah tersadar lalu menoleh ke belakang dan melihat seorang pengawal mencabut pedang yang berlumuran darah.


“Uhuk... aku senang kau akhirnya bisa mengingatku kembali dan terbebas dari ramuan peluntur rasa.” ucap Orion sambil tersenyum lebar saat memuntahkan darah dan memegang pipi Galen.


“Sayang... jangan banyak bicara dulu. Tunggu di sini aku akan membereskan pengawal itu.” jawab Galen lalu menurunkan tubuh Orion dari pelukannya.


Galen berdiri dan menghadapi pengawal tadi.


“Kau tak akan ku ampuni karena berani melukai kekasihku !” teriak Galen dengan marah. Dia pun segera mengejar pengawal tadi hingga babak belur.


Saat pengawal tadi sudah tak berdaya dan tergeletak di lantai kalian kembali berlari menghampiri Orion.


Galen berusaha menyalurkan kekuatannya untuk menyembuhkan Orion, namum gadis itu menolaknya.


“Galen... jangan kau buang tenaga mu sia-sia. Aku sudah tidak bisa menahannya lagi, sampai jumpa...” ucap Orion sambil tersenyum dalam pelukan Galen dengan tubuh terkulai lemas.


Galen merasakan tubuh Orion yang semakin dingin, dia pun memeriksa denyut nadi Orion yang semakin melemah hingga akhirnya Gadis itu menghembuskan nafas terakhirnya.


“Orion.....tidak...jangan pergi... jangan tinggalkan aku !” teriak Galen memeluk erat tubuh Orion dan meneteskan air matanya.


BERSAMBUNG....