
Keesokan harinya setelah Fredi menghapus semua memori para warga di tempat tinggal Orion, mereka kembali beraktivitas seperti biasa.
Pagi itu seorang warga bertemu dengan Orion yang sedang berangkat sekolah.
“Pagi bibi...tante...”panggil Orion saat berpapasan dengan tetangga mereka.
“Pagi Orion...” jawaban mereka membalas sapaan Orion sambil melihat anak itu berjalan kaki meninggalkan mereka.
Mereka merasa biasa saja saat melihat anak itu dan sudah tidak ada pikiran tentang pertumbuhan anak itu yang cepat dan berbeda dari anak lainnya.
Orion merasa ada yang aneh dengan tetangga mereka. Entah kenapa dia merasa para tetangga itu jadi sedikit aneh padanya entah apa sebabnya. Dia pun juga merasa aneh saat menatap tetangganya itu. dia merasa seperti ada sesuatu yang terhapus dan dia lupa apa itu. Namun dia tidak mempedulikan hal itu karena dia akan segera terlambat sekolah.
Ketika di sekolah dia bertanya pada Ariel tentang apa yang terjadi padanya semalam. Yang dia ingat terakhir kali Paman Fredi memegang kepalanya dan setelah itu dia tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya.
“Ariel apa kau tahu apa yang di lakukan oleh ayah mu semalam pada ku ?” tanyanya saat berjalan bersama anak itu sepulang sekolah.
Ariel yang sebenarnya tahu yang dilakukan Ayahnya adalah menghapus dan mengganti ingatannya dengan ingatan baru namun tidak mungkin dia mengatakan hal itu padanya. karena ayahnya melakukan itu demi kebaikan anak itu sendiri.
“Aku juga tidak tahu apa yang dilakukan Ayah padamu. tapi menurutku dia tidak melakukan apapun yang membahayakan diri mu. Mungkin saja dia memberikan kekuatan padamu.” ucapnya berbohong sambil tersenyum.
Orion tersenyum menatap anak yang membohongi dirinya itu.
Dan dia mengira mendapatkan kekuatan dari ayahnya Fredi.
“Maksudmu aku punya kekuatan seperti dirimu ? atau aku bisa berubah menjadi manusia serigala seperti dirimu ?” tanyanya riang.
“Emm... aku kurang tahu apa yang kau dapatkan. Kau oba saja lain kali sendiri agar kau tahu.” ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena semakin pusing dengan pertanyaan anak itu.
Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah. Orion mengantar Ariel pulang dan menunggunya ganti baju setelah itu mereka ke rumah Orion.
Di rumah terlihat ramai, Orion tidak tahu kenapa ada banyak orang di rumahnya. kalau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, anak itu langsung masuk rumah dan bertanya pada ibunya.
“Ibu... Kenapa di sini ramai sekali. dan banyak orang berkumpul di sini ?” menghampiri ibunya yang duduk di dekat pintu.
Putri Zoya bergeser mendekati anak itu untuk menjelaskan padanya.
“Ini acara syukuran nak. Karena Ibu mau membuka rumah makan baru...” bisiknya pada Orion.
“Rumah makan... ? Wow...” ucap anak itu tak menyangka jika ibunya mau membuka rumah makan.
Selama ini Putri Zoya menyisihkan uang dari hasil uang pesan tetangga yang memesan catering untuk acara hajatan atau acara lainnya. Dia sendiri bahkan tidak menyangka juga dia bisa mengumpulkan uang yang cukup untuk membangun rumah makan kecil-kecilan di Kota.
Dia berani membuka usaha itu karena dia yakin akan kemampuan memasaknya yang sering dipuji oleh banyak orang. Dan dia berpikir harus punya usaha pasti untuk menghidupi Orion ke depannya agar anak itu bisa terus bersekolah sampai ke jenjang pendidikan yang tinggi. Karena dia harus mandiri tanpa adanya kehadiran sang suami di sisinya dan tanpa bantuan dari orang tuanya agar putrinya tumbuh seperti yang diharapkan.
“Ariel ke sini, nak...” ucap sang putri memanggil anak itu untuk masuk dan duduk bersama Orion.
Ariel masuk dan duduk di dekat Orion. Dia lalu ikut makan bersama yang lainnya.
Di sana juga tampak ayahnya Ariel dan beberapa warga dari daerah nya ikut berbaur dengan warga lainnya memeriahkan acara itu.
Satu bulan berikutnya setelah acara syukuran di rumah dengan para warga, hari ini Putri Zoya resmi membuka Rumah Makan kecilnya di suatu kota yang bisa di tempuh dalam satu jam perjalanan dari rumahnya.
“Rumah Makan Orion” ucap anak itu membaca spanduk yang terpasang di depan rumah makan yang baru dibuka oleh ibunya itu. dia merasa senang sekali
Namanya dijadikan nama rumah makan oleh ibunya yang menunjukkan ibunya sayang sekali dengan dirinya.
Rumah makan itu letaknya strategis. Meski tidak berada di pusat kota namun terletak di dekat pusat perbelanjaan dan kompleks sekolah yang tergolong ramai.
Karena Rumah Makan itu kecil, Putri Zoya hanya mempekerjakan satu orang di sana untuk membantu nya dari ras werewolf yang masih merupakan kerabat dekat Fredi. Dia sengaja mempekerjakan kerabat Fredi dan bukannya mempekerjakan pelayan dari ras anubis di karenakan para werewolf sudah mengetahui jati dirinya sebagai seorang vampir. Sehingga dia akan merasa aman di saat dia sedang haus dan melepas dahaganya tanpa rasa khawatir.
“Arvin... bagaimana dengan persiapan hari ini... apakah semua menu sudah siap ?” tanyanya pada pelayan barunya yang masih ada di dapur.
“Iya nyonya, enam puluh menit lagi dan semua siap.” jawabnya sambil menyajikan beberapa hidangan yang sudah selesai dan membawanya ke etalase yang ada di rumah makan itu.
Orion berjalan sendiri melihat ruangan yang ada di rumah makan itu karena dia tidak mau mengganggu ibunya yang masih sibuk dan melakukan persiapan lainnya untuk acara soft opening kali ini.
Anak itu melihat ada ruang memasak, ruang untuk menaruh barang-barang, ruang istirahat kecil yang bisa di gunakan sekedar untuk meluruskan kaki saat merasa lelah.
Dia berhenti saat melewati ruang kecil yang ada di balik ruang memasak. Ruang itu terkunci rapat dan terpasang tulisan di luarnya dilarang masuk bagi siapapun selain pemilik.
“Ruangan apa ini ya...? Apa mungkin ini adalah ruang tempat menyimpan uang? Makanya Ibu melarang siapapun masuk ke sana?“ gumam anak itu berspekulasi dan menebak-nebak sendiri ruangan apa itu sebenarnya.
Hal itu masih mengganggu pikirannya namun dia tak mau berpikir macam-macam dan mengabaikan rasa penasarannya saat itu.
Beberapa saat kemudian Rumah Makan itu resmi dibuka. untuk soft opening Putri Zoya memberikan diskon 40% pada para pengunjung yang datang hari itu.
Melihat adanya diskon yang lumayan besar, para pengunjung ramai berdatangan ke rumah makan itu.
Putri Zoya tampak puas dengan pengunjung dari pertama yang tergolong banyak itu. Dan pengunjung terus berdatangan sampai sore hari.
Malam hari sebelum Rumah Makan tutup Putri Zoya tanpa kelihatan tidak sehat.
“Ibu... kenapa ibu berkeringat ?” tanya Orion melihat ibunya yang tampak tidak enak badan.
“Tunggu sebentar di sini nak. Ibu tidak enak badan.”ucapnya yang di angguki oleh Orion.
Orion melihat ibunya masuk ke ruangan yang terkunci tadi sambil duduk di kursi kosong menunggu ibunya kembali.
Beberapa saat kemudian ibunya keluar dari ruangan itu dan wajahnya tampak kembali berseri.
“Ayo kita pulang sekarang nak...” ucapnya pada Orion sambil tanda tangannya jangan keluar dari rumah makan itu setelah mengunci nya.
BERSAMBUNG...