
Pangeran mencoba menenangkan diri. Dia mencoba kembali ke kesadarannya dan berpikir siapa yang telah melakukan ini semua.
“Apakah ini ada hubungannya dengan Dewan Konstitusi Vampir ? Apakah dia mengirim utusannya untuk melakukan ini semua? Karena hanya dia satu-satunya orang yang membenci vampir tidak murni dan saxion !”
Pangeran Diaz berpikir dan mencari kemungkinan penyebab peristiwa berdarah itu yang membuatnya tak bisa mengampuni pelakunya.
“Zoya... Orion... kalian ada dimana ? Bari saja kita berkumpul lagi sekarang kita sudah di pisahkan lagi. Apakah ini takdir kita ? Sungguh aku sangat menyesal tak menghiraukan kata-kata mu sebelumnya. Seharusnya aku menempatkan pengawal untuk menjaga mu agar semua ini tak terjadi....” ucap pangeran merasa sedih dan menyesali kenapa dirinya tidak waspada sebelumnya.
“Zoya... Orion... apa kalian baik-baik saja ?”
Pangeran Diaz berdiri dan meninggalkan buket bunga lavender yang terkena darah di rumah itu. Dia lalu keluar dari rumah itu dan dengan cepat melesat ke udara ke suatu arah mengikuti jejak Karomah istri dan anaknya.
Pangeran sudah terbang sejauh satu mil untuk mencari keberadaan istri dan putrinya namun ia tak menemukan keberadaan mereka. Dia lalu terus mencari di tengah gelapnya malam yang merupakan teman baginya. Sudah sepuluh mil dia melacak jejak istrinya yang semakin memudar itu hingga akhirnya dia berhenti di suatu tempat.
Pangeran turun di tengah hutan di suatu tempat yang dia sendiri juga tidak tahu tempat apa itu. Dia merasakan aroma istrinya kuat di sana dan segera memeriksanya.
Betapa sedih dan kecewanya dia saat melihat kembali bekas darah yang ada di rumput itu adalah darah istrinya.
“Sayang... kau terluka parah... kau ada dimana sebenarnya ? Hampir saja aku menemukan mu...” ucapnya lemas melihat bekas darah yang telah mengering itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Pangeran Diaz segera melesat ke udara dan mencari Putri Zoya dan Orion berada. Dia mencari sampai bermil-mil jauhnya dan tetap tidak menemukan dua keluarganya.
“Aku akan menuntut keadilan untuk mu sayang. Ketua Dewan Konstitusi bajingan ! Ini pasti ulah mu ! Bodohnya aku percaya pada kata-kata mu !” mengepalkan tangan dan melepaskan kemarahannya pada pohon-pohon yang ada di sana dan membuatnya tumbang hanya dengan sekali tebasan kekuatan kecil dari tangannya.
Sang pangeran pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke villanya dan akan mencari lagi keesokan harinya.
Dua jam sebelumnya
Orion kecil terus menangis memanggil ibunya dan sesekali dia berteriak meminta tolong.
“Tolong... tolong... tolong ibu ku...” teriak anak itu keras-keras namun tak ada yang mendengar suaranya di tengah hutan seperti itu.
“Ibu... jangan tinggalkan Orion...” kembali memeluk ibunya sambil terus menangis. Bajunya yang putih bersih pun kini bernoda darah, darah milik ibunya.
Orion kecil sekali lagi berteriak untuk meminta tolong setelah berkali-kali meminta bantuan. Dia tak menyadari kekuatan yang ada pada dirinya. Dia juga tidak mengetahui identitas dirinya yang merupakan keturunan vampir.
“Tolong.... tolong... tolong ibu ku terluka parah... tolong.... !” teriaknya kencang.
Suaranya kali ini teraliri oleh energi vampir yang membuat suara itu terdengar sampai jauh jaraknya.
Tiga kilometer dari tempat Orion berteriak ada seorang nenek tua yang mencari kayu bakar dan akan kembali pulang.
“Suara seorang anak kecil yang minta tolong...” ucapnya menghentikan langkah karena mendengar suara itu.
Nenek itu memutar arah dan mengikuti arah asal suara itu. Dia terus berjalan dan mengikuti teriakan anak yang malang itu. Dan akhirnya dia berhenti dan menemukan seorang anak kecil yang memeluk seorang wanita yang terluka parah.
“srak....” Orion mendengar dan bisa merasakan ada suara langkah kaki dari kejauhan dengan pendengaran vampirnya itu.
“Semoga saja benar itu adalah suara langkah orang...” ucapnya lagi melihat ke arah datangnya suara.
“Nak... bagaimana keadaan mu dan Ibu mu ?” tanya nenek itu setelah tiba di depan mereka dan melihat noda darah pada baju mereka berdua.
“Aku baik-baik saja nek... tapi ibuku...kumohon tolong ibuku, tolong selamatkan dia...” ucapnya kembali sambil menangis melihat ibunya khawatir jika ibunya akan meninggalkan dirinya sendiri di dunia yang dia tidak tahu ini.
“Semoga ibu mu masih bisa di selamatkan, nak. Biar nenek periksa dulu...” Nenek itu langsung memeriksa denyut nadi di tangan wanita yang di panggil ibu oleh anak kecil itu.
Denyut nadi wanita itu lemah sekali dan mungkin masih bisa di selamatkan kika dia segera memberikan pertolongan.
“Ayo nak, bantu nenek memapah ibu mu ke rumah nenek. Aku akan mengobatinya di sana.”
Orion kecil langsung berdiri dan mengusap air matanya mendengar ibunya bisa di selamatkan. Dia ikut membantu nenek itu memapah ibunya keluar dari hutan itu.
Tak beberapa saat kemudian setelah berjalan tiga kilometer sampai lah mereka di depan sebuah rumah kecil yang asri dengan deretan pohon bambu kuning yang tumbuh di depan rumah itu membentuk sebuah pagar.
“Itu rumah nenek, nak. Ayo kita masuk dulu.” ucapnya sambil tersenyum.
Mereka masuk ke rumah dan nenek tadi membaringkan tubuh sang putri ke tempat tidur.
“Tunggu sebentar... duduklah dan jaga ibu mu. Nenek akan merebus obat dan mengambil air hangat untuk ibumu.”
Nenek itu keluar dari kamar dan masuk ke dapur. Dia mencari rempah-rempah berbagai obat yang selama ini dia simpan untuk stoknya sendiri saat penyakitnya kambuh lalu merebusnya sambil merebus air panas.
Tiga puluh menit kemudian, nenek itu kembali dengan membawa sebaskom air hangat beserta kain dan sapu tangan, juga membawa semangkuk obat yang barusan dia rebus dan masih hangat.
“Tolong bantu nenek meminumkan obat ini pada ibu mu.”
Nenek itu menyerahkan semangkuk obat pada gadis kecil itu lalu dia menahan tubuh wanita itu dalam posisi duduk. Orion segera meminumkan obat itu pada ibunya.
Setelah itu sang nenek membuka baju wanita itu dan membersihkan lukanya. Dia juga mengoleskan beberapa dedaunan yang sudah di tumbuknya yang di percaya sebagai penyembuh luka pada luka wanita itu lalu membebat lukanya dengan kain bersih sebelum dia membaringkan kembali tumbuhnya.
Nenek itu lalu menanyakan apa yang terjadi sampai ibunya terluka parah seperti itu. Namun. Orion kecil bereaksi di luar dugaan. Dia terlihat ketakutan sekali sampai tubuhnya gemetar mengingat kembali kejadian itu serta kekerasan yang di lakukan oleh seorang lelaki yang menghajar ibunya tanpa ampun dan memberikan luka yang cukup dalam.
Melihat reaksi anak kecil yang trauma mendalam itu, nenek tadi tak mengusut kejadian sebenarnya yang menimpa mereka dan dia menduga mereka dua adalah korban perampokan.
“Siapa nama mu gadis cantik... ?”
“Orion, nenek...” jawabnya singkat.
“Orion sekarang tidurlah di dekat ibumu. Besok ibumu akan sadar. Panggil nenek Hera jika ada sesuatu yang kau perlukan.” ucapnya membawa baskom dan mangkuk kosong keluar dari kamar itu
“Terima kasih nenek Hera sudah menyelamatkan ibu ku...” ucapnya sambil tersenyum tulus pada nenek itu.
Orion kecil pun merasa lega dan bersyukur ibunya sudah di selamatkan dan dia segera tidur di sebelah ibunya sambil terus memeluknya.
BERSAMBUNG....