
Suatu hari Orion duduk bersama ibunya di depan rumah untuk menikmati udara bebas dan sekedar melihat jalanan saat itu.
Jalanan di sekitar rumahnya terhitung ramai. Saat di pagi hari banyak orang berlalu lalang sekedar untuk berolah raga pagi atau pun hanya berjalan-jalan.
Suatu ketika saat duduk menghirup udara segar tatapan Orion tertuju pada seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahunan yang berjalan dengan ayah dan ibunya.
“bruk...” gadis kecil itu jatuh terpeleset setelah menginjak kerikil.
“Auww....” ucap gadis itu yang merintih kesakitan lalu melihat lututnya yang berdarah.
“Ayo bangun... anak ayah kuat. Luka kecil begini tak akan membuat mu menangis.” ucap sang ayah pada putrinya sambil berjongkok dan memegang tangan gadis kecil itu.
“Ayo bangun... tak apa... nanti sampai rumah ibu obati.” ucap sang ibu memegang tangan gadis kecil itu juga.
Kedua orang tuanya membantunya berdiri. Gadis kecil itu yang semula tampak ingin menangis terlihat tersenyum menatap kedua orang tuanya bergantian.
Mereka bertiga lalu pergi berlalu dari jalan itu dan menyisakan suara tawa yang masih terdengar oleh Orion.
“Senangnya punya ayah dan ibu yang selalu menemani seperti gadis kecil itu. Sedangkan aku hanya mendapat kasih sayang dari ibuku saja... seandainya saja aku tahu informasi tentang ayahku...” batin gadis itu tersenyum pahit menerima kenyataan hidupnya.
Selama ini dia sama sekali tidak mengetahui informasi apa pun mengenai ayahnya. Siapa namanya ? Seperti apa rupanya ?Dan dimana tinggalnya ?
Putri Zoya melihat kesedihan yang tergambar jelas di wajah putrinya itu saat masih menatap kepergian keluarga kecil yang barusan lewat di depan mereka.
“Maafkan ibu Orion... karena ibu kau jadi berpisah dengan ayah mu. Aku juga ingin kita berkumpul dan jadi keluarga yang lengkap seperti dulu. Mungkin sudah saatnya aku memberitahu mu nak... kau sudah cukup dewasa sekarang...” ucapnya dengan rasa bersalah dan dan kesedihan yang mendalam.
Putri Zoya lalu menepuk lembut bahu putrinya itu.
“Ada apa ibu....” tanyanya menoleh menatap ibunya.
“Ibu tahu kau rindu pada sosok ayah mu dan selama ini ibu tak pernah memberi tahukan apa pun menyangkut ayah mu....” ucapnya sambil berkaca-kaca teringat pada sosok lelaki yang di kasihinya itu.
Melihat ibunya yang mulai menitikkan air mata, gadis itu memeluk ibunya untuk menenangkan.
“Dulu aku masih kecil bu... sekarang aku sudah mengerti dan tak akan pernah mengungkit masalah ayah lagi jika itu membuat ibu merasa terluka. Lebih baik aku tidak tahu selamanya mengenai dia...” ucapnya menutupi rasa keingintahuannya demi ibunya agar tidak larut dalam tangis.
“Orion... kurasa sudah saatnya kau tahu. Ibu akan ceritakan padamu. Tapi ingat jangan cari ayah mu. Ibu tak mau sesuatu terjadi pada mu. Cukuplah bagi ibu melihat kau aman di sini meski harus berpisah dengan ayah mu.” ucapnya sambil menghapus air matanya dan memegang tangan putrinya.
“Ayah mu bernama Diaz, seorang pangeran dari negeri amulet tepatnya dari istana Bulan Dingin. Sedangkan ibu berasal dari istana Samudera Dewata. Dulu ibu seorang manusia dan karena suatu hal ayah mu merubah ibu menjadi vampir agar kita bertiga bisa tetap berkumpul. Namun karena hal itu kita harus berpisah dengan ayah mu...” ucapnya panjang lebar menceritakan masa lalunya.
Gadis itu terkejut sekali mendengar cerita dari ibunya. Dia tidak percaya jika dirinya adalah keturunan dari suatu kerajaan.
“Jadi... aku adalah seorang putri ?” tanyanya ragu dan mengira hal itu hanya mimpi belaka. Namun ibunya mengangguk untuk meyakinkan apa yang telah di ragukannya.
Di satu sisi gadis itu senang mengetahui bahwa dirinya keturunan keluarga kerajaan. Di lain sisi dia merasa sedih. Kenapa meski dia anggota keluarga suatu kerajaan, tapi harus hidup menderita dan jauh dari keluarga asli mereka. Lalu apa yang di lakukan ayahnya selama ini ? Kenapa dia tidak mencari dirinya dan ibunya ? Apa dia tidak tahu jika ibunya sangat menderita selama ini ?
“Sayang... ibu merasa dingin...ibu masuk dulu.” ucapnya berdiri dan mengajaknya masuk ke rumah.
“Ibu masuk dulu... aku masih ingin di sini. Aku akan menyusul ibu nanti.” ucapnya meminta agar ibunya segera masuk rumah.
Setelah ibunya masuk ke rumah, gadis itu menundukkan kepalanya menatap butiran debu yang terhempas angin.
“Jadi... ayah membuang aku dan ibu dari hidupnya ? Dia sengaja membuat kami menderita ?” gumamnya mengambil kesimpulan tanpa mencari informasi untuk membuktikan argumen naifnya itu.
Gadis itu mendongakkan kepala ke atas dan menatap langit yang mulai menyilaukan pandangannya.
“Maaf ibu... jika aku menjadi putri yang buruk bagi mu. Aku akan pergi menemui ayah dan minta pertanggungan jawab darinya. Ayah harus tahu keadaan ibu saat ini.” ucapnya lagi menggenggam erat tangannya.
Dia lalu berdiri dan berjalan menuju ke pintu rumahnya. Tiba-tiba ada yang menarik tangannya dan menghentikan langkahnya.
Saat anak itu berbalik dia melihat Ariel yang tersenyum dan kembali mengajaknya duduk.
“Ariel... aku tidak tahu kedatangan mu...” ucap gadis itu terkejut karena tidak merasakan kehadiran lelaki itu sebelumnya.
“Hei... hari masih pagi kenapa kau buru-buru masuk rumah ?” tanyanya setelah mereka berdua kembali duduk.
“Ah tidak... aku hanya ingin masuk ke rumah saja...” jawabnya singkat dengan raut wajah yang rumit dan sulit di deskripsikan.
“Ada apa dengan mu ? Apa kau ada masalah ?” tanyanya menebak dan gadis itu menggeleng.
Tapi dia yakin ada yang menganggu pikiran gadis itu melihat dari raut mukanya.
“Apa kau ada masalah dengan ibu Zoya lagi ?” tanyanya lagi menebak dan gadis itu lagi-lagi menggeleng.
Lelaki itu tak mau melihat Orion bersedih dan mencoba menghiburnya.
“Apa kau mau jalan-jalan sebentar ? Kudengar ada taman hiburan baru yang di buka di sekitar sini. Kau perlu refreshing agar segala penat mu hilang...” ucapnya mengajak gadis itu meluapkan sejenak masalahnya dan siapa tahu nanti gadis itu mau menceritakan masalahnya saat mood nya membaik.
Orion berpikir sejenak dan menatap lelaki yang duduk di sampingnya itu. Benar juga apa yang di katakan Ariel padanya. Jika di pikir selama ini dia tidak pernah menyenangkan dirinya sendiri.
“Kau tahu juga jika ada taman hiburan baru di sini...” ucapnya sambil tersenyum dan berdiri lalu berjalan.
“Tunggu apa lagi ? Ayo kita jalan sekarang...” ucap gadis itu yang berbalik dan melihat lelaki itu masih duduk di kursi panjang.
“Aku tahu itu pasti berhasil...” ucapnya lalu berdiri dan berjalan bersama gadis itu menuju ke taman hiburan yang terletak tak jauh dari rumah Orion
BERSAMBUNG....