Darah Campuran

Darah Campuran
Eps. 134 Penyebaran Aturan Baru


Pangeran Diaz menyusul istrinya dan memegang tangannya memasuki istana Samudra Dewata.


“Sayang ini rumahmu... apa kau tidak rindu pada ayah dan ibu... ?” tanya Pangeran Diaz pada istrinya yang seolah ingin kabur dari sana saja.


Putri Zoya hanya diam dan berjalan pelan masuk ke istana.


Sementara itu di dalam Istana tampak Ratu Arni yang turun dari kursi singgasana karena ingin pergi ke luar istana.


“tap... tap...tap...” Ratu Arni berjalan keluar istana dan langkahnya terhenti saat bertemu dengan putrinya.


“Zo-Zo... Zoya... apa itu benar kau ?” tanyanya terkejut tak percaya pada apa yang dilihatnya.


Ratu Arni berlari dan menghampiri Putri Zoya yang diam mematung dan memeluknya.


“Zoya... bagaimana kabarmu nak... ibu rindu sekali padamu.” ucap Ratu Arni yang kemudian meneteskan buliran bening di matanya setelah sekian lama tidak bertemu dengan rasa penyesalan yang mendalam.


Sementara itu Putri Zoya hanya diam tak merespon juga tidak membalas pelukan ibunya.


“Ibu tahu kamu masih marah padaku. Tak apa luapkan semua amarah mu padaku sampai kau puas.” ucapnya lagi masih memeluk Putri Zoya.


Pangeran Diaz dan Orion menghampiri Putri Zoya yang membuat Ratu Arni menatap mereka berdua.


“Gadis ini... bukankah dia gadis yang ku temui beberapa waktu yang lama saat aku ke suatu rumah makan... ?” batin Ratu Arni melepas pelukan menatap seorang gadis yang berada di sebelah Pangeran Diaz.


Orion baru melihat dari dekat wajah Ratu Arni dan sangat terkejut sekali saat melihat wanita itu ternyata adalah wanita yang pernah ditemuinya di rumah makan dulu.


“Jadi kau adalah...” ucap Orion dan Ratu Arni bersamaan.


Pangeran Diaz dan Putri Zoya saling berpandangan melihat Orion dan Ratu Arni.


“Nenek...” ucap Orion menghampiri neneknya.


“Orion...” ucap Ratu Arni memeluk Orion.


“Oh... cucu nenek... andai saja saat itu aku tahu kau adalah cucuku. Aku sangat rindu sekali padamu dan baru bertemu denganmu sampai kau sebesar ini....” tambahnya lagi sambil mengelus pipi Orion.


“Aku juga merindukan nenek. Selama ini ini ada di mana... ?” balas Orion sambil memeluk wanita itu.


“Maafkan nenek... selama ini nenek sudah mencari mu dan juga ibu mu, tapi tidak menemukan kalian...” ucapnya sambil terisak.


Terlihat Orion juga menitikkan air mata bahagia saat berjumpa dengan neneknya.


Pangeran Diaz menghampiri istrinya dan menariknya menghampiri Ratu Arni.


“Bukalah pintu hati mu Zoya, kau sudah lihat dan dengar sendiri tadi.”


Putri Zoya menatap wanita tua yang memeluk Orion. Dia menyimpan benci dan juga kerinduan yang sama besarnya. Melihatnya memperlakukan Orion seperti itu pikirannya menjadi terbuka. Dia pun berlari dan menghampiri ibunya.


“Ibu...... !” teriak Putri Zoya lalu memeluk ibunya.


Orion melepas pelukannya agar ibunya bisa melepas rindu dengan neneknya dan kembali ke samping ayahnya.


“Zoya... maafkan ibu nak... akhirnya kau mau memelukmu ini.” ucap Ratu Arni memeluk Putri Zoya.


“Aku juga minta maaf pada ibu...” jawab Putri Zoya yang juga ikut menangis.


Setelah beberapa saat kemudian Ratu Arni mengajak mereka bertiga masuk ke istana untuk menemui Raja Agastya.


“Itu kakek mu, nak.” ucap Pangeran Diaz pada Orion sambil menunjuk kursi singgasana.


“Lihat siapa yang datang...” ucap Ratu Arni saat berada di depan Raja Agastya.


“Zoya... Diaz... kalian semua kesini... ?!” ucap lelaki itu lalu turun dari kursi Singgasana nya dan menghampiri mereka bertiga.


Lelaki itu menatap Orion dan menghampiri nya.


“Gadis ini... apa kau adalah Orion, cucu ku ?” tanyanya pada Orion dan gadis itu mengangguk menjawabnya.


Raja Agastya lalu memeluk Orion dan Putri Zoya secara bergantian.


Mereka tampak senang sekali dengan kedatangan Putri Zoya dan keluarganya.


Sementara itu di lain tempat. Jauh di negeri amulet tampak para anggota dewan konstitusi vampir sudah selesai menyalin copy aturan baru dari ketua Desmon dan sekarang sedang mengirimkan kan semua golongan ke kerajaan yang ada di negeri amulet.


Beberapa yang sudah menerima gulungan itu segera menyampaikan kepada warganya masing-masing.


Di istana Cawan Suci tampak pengawal kepercayaan Raja Edwin menerima gulungan dari anggota Dewan Konstitusi Vampir.


Setelah menerimanya lelaki itu segera pergi mencari Raja Edwin untuk menyampaikannya.


“tok.... tok...”


Raja Edwin menaruh pena yang dipegangnya kemeja setelah mendengar ada yang mengetuk pintunya.


“Masuk...” ucapnya.


Ajudan kepercayaan Raja Edwin itu pun lalu berjalan masuk dan menghadap.


“Yang Mulia Raja Edwin hamba mau menyampaikan gulungan yang barusan diberikan oleh dewan Konstitusi Vampir pada Yang Mulia.” jawab menghitung kemudian menyerahkan gulungannya pada Raja Edwin.


“Apa ini....?” tanyanya pada lelaki yang berdiri di hadapannya.


“Maaf hamba kurang tahu Yang Mulia, tapi sepertinya itu aturan baru dari ketua Dewan Konstitusi Vampir.” jawab lelaki itu.


Raja Edwin segera membuka gulungannya dan membacanya. Lelaki itu menyerahkan kembali gulungan itu pada ajudan kepercayaannya setelah selesai membacanya.


“Segera umumkan aturan baru itu pada semua warga istana ini.” ucapnya memerintahkan.


“Baik Yang Mulia Raja Edwin, tambahkan segera menyebabkan Aturan ini pada seluruh warga yang ada di sini.” jawab ajudan kepegawaian Raja Edwin kemudian keluar setelah memberi hormat dan segera menyampaikan aturan baru dari Dewan Konstitusi.


Raja Edwin tampak duduk termenung setelah pengawal kepercayaannya keluar dari ruangannya.


“Jadi setelah ini tidak ada larangan menikah dengan manusia, atau pun dengan keturunan amulet tidak murni lainnya.... itu artinya Galen bisa menikah dengan gadis itu ?” gumamnya dan seketika wajahnya terlihat pucat.


“Tidak bisa.... satu minggu lagi akan di gelar cara perjamuan makan disini untuk memilih seorang putri yang akan menjadi pendamping hidup Galen. Aku tidak mungkin membatalkannya... dan menurutku lebih baik dia mendapatkan seorang istri dari keturunan amulet murni daripada keturunan campuran yang lemah dan akan merusak keturunannya.” batin Raja Edwin lagi. Lelaki itu kemudian kembali membenamkan diri dalam kesibukannya yang tak ada habisnya.


Berita mengenai aturan baru terkait amulet keturunan tidak murni dengan cepat tersebar merata ke seluruh negeri amulet. Bahkan berita itu juga sampai terdengar ke wilayah amulet hitam yang berada jauh sekali dari Negeri amulet berada sekarang.


Di suatu istana tampak seorang pengawal yang bergegas mencari rajanya untuk menyampaikan informasi yang didengarnya.


“Raja Berry... hamba mau menyampaikan berita yang sangat bagus untuk tuan.” ucap seorang lelaki berambut putih dan bermata merah menghadap rajanya.


“Ya katakan saja Informasi apa yang mau kau sampaikan.” balas seorang lelaki rambut panjang dan berwarna putih kemasan.


“Yang Mulia... ada aturan baru di Negeri amulet lain yang menyebutkan jika keturunan amulet tidak murni sekarang mendapatkan izin untuk menetap di wilayah itu.” jawab lelaki itu menjelaskan pada rajanya.


“Hahaha.... jika benar yang kau katakan itu maka akan sangat mudah bagi kita untuk berburu amulet berdarah campuran tanpa perlu susah-susah mencarinya.” jawab lelaki itu sambil tertawa lebar.


“Bagus sekali... mungkin beberapa saat lagi wilayah itu akan mulai banyak keturunan campuran dan kita bisa berburu di sana... ha ha ha...” ucap Raja Berry lagi Jangan tertawa lantang yang membahana ke seisi istana.


BERSAMBUNG...