Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Baby Kedua OTW


Enam bulan kemudian,


"Sayang, aku berangkat dulu ya!" ucap Julian seraya melabuhkan ciuman dipuncak kepala Farissa yang sedang menggendong anaknya yang kini sudah berusia enam bulan.


Bayi yang diberi nama Erick Alexander itu sekarang sudah pandai berceloteh sambil menyembur-menyemburkan air liurnya dan terlihat sangat menggemaskan.


"Erick sayang, Daddy berangkat dulu ya! Dan ingat, jangan rewel-rewel, jangan bikin Mommy kesel, OK?!" ucap Julian kemudian menciumi wajah Baby Erick yang belepotan dengan air liurnya. Bahkan kini hidung Julian pun ikut belepotan dengan air liur si kecil.


Farissa terkekeh pelan ketika melihat hidung Julian terlihat basah. Farissa meraih tissue kemudian membersihkan hidung suaminya. "Hati-hati dijalan ya, Sayang! Jangan ngebut, biar lambat asal selamat." ucap Farissa.


Julian tersenyum sambil menatap istrinya. "Terimakasih, Farissa. Karena sudah bersedia menjadi pendamping hidupku dan melahirkan sosok mungil ini kedalam kehidupanku. Aku tidak tahu, bagaimana nasib ku sekarang jika seandainya Tuhan tidak mempertemukan aku dengan mu..." sahut Julian sambil mengelus pipi Farissa.


"Sama-sama." balas Farissa.


Julian pun pamit, dia ingin segera ke butik miliknya. Bicara soal butik, sekarang butik Julian semakin berkembang pesat. Bahkan lebih maju daripada sebelumnya. Semua itu ia peroleh karena keuletannya dalam melakukan pekerjaannya.


"Jaga diri baik-baik, ya. Aku sayang kamu," ucap Julian seraya masuk kedalam mobilnya.


"Iya, Sayang..." sahut Farissa seraya melambaikan tangannya dan tangan si kecil Erick.


Tiba-tiba saja, Julian mengendus-endus didalam mobilnya dengan wajah aneh. "Ehm, bau apa ini?! Baunya mengerikan sekali, perutku jadi mual!" kata Julian seraya mencari sumber bau.


Farissa kebingungan dan mencoba mencium aroma didalam mobil suaminya itu. Tidak ada yang aneh di indera penciuman Farissa. Bahkan mobil Julian tercium sangat wangi karena diatas dashboard mobil Julian terdapat pewangi mobil beraroma kopi, kesukaan Julian.


"Tidak ada bau apapun, Sayang?!" sahut Farissa sambil mengernyitkan kedua alisnya.


"Masa sih? Tapi aku berani bersumpah, Sayang!Ini bau sekali." seru Julian.


Hingga akhirnya Julian menemukan sumber bau. Ternyata pewangi mobil beraroma kopi tersebut yang membuat indera penciuman Julian merasa terganggu.


"Huft! Ternyata benda ini?! Aneh, padahal aku baru saja membelinya. Mungkinkah pewangi ini sudah Expired?!" sambung Julian.


Julian memperhatikan tanggal kadaluarsa dari produk itu sambil menutup hidungnya dan mendadak Julian mengerutkan kedua alisnya setelah melihat tanggal kadaluarsanya.


"Masih bagus, tapi kenapa baunya berubah menjadi mengerikan seperti ini?!" ucap Julian sambil menenteng benda tersebut dan mencoba menahan rasa mualnya.


"Mana sini, biar aku coba!" sahut Farissa seraya mengulurkan tangannya kepada Julian. Julian pun segera menyerahkan pewangi itu kepada Farissa.


"Hati-hati, Sayang! Aku tidak ingin kamu mual karena mencium aromanya," ucap Julian sambil memperhatikan Farissa yang mulai mencium aroma pewangi tersebut dengan wajah aneh.


"Tidak ada yang aneh pada baunya?! Apa mungkin hidung mu yang bermasalah, Sayang? Soalnya pewangi ini masih sama seperti aroma aslinya," sahut Farissa.


"Masa?!" tanya Julian tidak percaya


"Iya. Aku serius, Sayang!" sahut Farissa.


"Sebaiknya aku panggil Dokter saja kalau begitu. Aku jadi khawatir dengan hidung ku, jangan-jangan ada yang tidak beres!" ucap Julian.


Julian keluar dari mobilnya kemudian meraih pewangi itu dari tangan Farissa kemudian membuangnya ketempat sampah.


"Ayo, Sayang!" ajak Julian.


Merekapun kembali memasuki rumah mereka. Julian segera meraih ponselnya dan menghubungi Dokter langganannya. Beruntung Dokter itu sedang tidak ada jadwal praktik di Rumah Sakit hari ini. Hingga ia bisa menemui Julian secepatnya.


Sembari menunggu kedatangan Dokter itu, Julian bersantai bersama Farissa dan juga si kecil Erick. Setelah beberapa saat, akhirnya Dokter yang ditunggu pun tiba.


"Kenapa lagi, Julian?" tanya Dokter itu seraya menghampiri Julian dan keluarga kecilnya.


Dokter itu mengerutkan kedua alisnya ketika mendengar penuturan Julian. "Ayo, kita periksa dulu..." ajak Dokter


Dokter itu mulai mengecek keadaan Julian dan semuanya masih normal dan Julian benar-benar sehat tanpa kurang apapun. Tapi Julian tetap bersikeras kalau Hidungnya sedang bermasalah.


"Memang aroma apa yang kamu cium, hingga membuat kamu merasa indera penciuman mu sedang bermasalah?" tanya Dokter itu lagi,


"Pewangi mobil ku itu, Dok! Aku rasa baunya mengerikan sekali tapi kata istri ku aromanya masih normal. Ah, sebentar!"


Julian bangkit dan melangkah menuju halaman depan kemudian mengambil pewangi mobilnya yang masih baru. Julian membawa benda itu kembali kedalam rumahnya dan menyerahkannya kepada Dokter.


"Nah! Seperti ini, Dok..."


Dokter memeriksa benda itu kemudian membuka bungkusnya. Dokter itu mencium benda itu dan ternyata masih bagus. "Coba kamu cium!" perintah Dokter kepada Julian.


Julian mencoba mencium benda itu sekali lagi dan alhasil, kali ini Julian langsung berlari menuju kamar mandinya dan mengeluarkan isi perutnya. Farissa dan Dokter sempat bertatap mata karena kebingungan melihat perilaku aneh Julian.


Farissa bergegas menyusul Julian ke kamar mandi dan membantu mengelus punggungnya. Julian masih saja mengeluarkan isi perutnya ketika Farissa sudah berada disana.


"Julian, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Farissa dengan wajah cemas.


Dokter menautkan kedua alisnya, "Aku rasa yang bermasalah disini kamu deh, Farissa!" ucap Dokter sambil terkekeh pelan.


"Lho kok saya, Dok?!" tanya Farissa heran setelah mendengar perkataan Dokter.


"Kapan terakhir kali mendapatkan tamu bulanan?" tanya Dokter sambil tersenyum kepada Farissa.


Tiba-tiba Farissa membulatkan matanya, "Oh, Tuhan! Mungkinkah?!" seru Farissa


"Mungkin saja!" sahut Dokter,


Tanpa mempedulikan Julian yang masih lemah, Farissa segera pergi ke kamarnya setelah menyerahkan Baby Erick kepada Dokter.


Tidak berselang lama, Farissa kembali dengan mata berkaca-kaca. "Anda benar, Dok! Coba lihat, hasilnya positif!" seru Farissa seraya berlari kecil menghampiri Julian.


Julian masih memasang wajah heran, ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Dokter dan istrinya. "Sebenarnya ada apa sih, Sayang?!"


"Oh, Julian sayang... selamat ya! Kita akan jadi orangtua lagi! Baby Erick akan segera punya adik!" seru Farissa seraya memeluk tubuh lemah Julian yang masih bersandar di dinding kamar mandi.


"Benarkah?!" pekik Julian sambil tersenyum lebar.


"Iya, sayang! Kita akan punya baby lagi!" ucap Farissa.


Julian begitu bahagia dan saking bahagianya, ia langsung memberitahukan berita bahagia ini kepada seluruh keluarganya. Tuan Alessandro dan Ge pun tidak kalah bahagianya, setelah mendengar bahwa Farissa tengah mengandung itu artinya mereka akan punya cucu lagi.


Tuan Alessandro dan Ge segera mengunjungi kediaman Julian dan Farissa untuk mengucapkan selamat secara langsung. Sekaligus menemui cucu kesayangan mereka, Baby Erick.


.


.


.


THE END ❤❤❤


Cerita Farissa dan Julian sampai disini dulu ya, Sayang-Sayang 😘😘😘 Mereka sudah bahagia dengan keluarga kecil mereka. Author tidak tega memberikan ujian lagi, dan untuk yang masih jomblo-jomblo, mungkin nanti bisa author tambah di Ekstra Part. Ok 😍😘 terimakasih...