
Hari ini Fania berkunjung ke Ruko dan memilih menemani Fariz dan Farissa. Sedangkan aku dan Nur melayani para pembeli.
"Ge, boleh minta satu ya...!"
Ucap Fania sambil menciumi wajah Farissa. Aku menekuk wajahku sambil tersenyum kecut. Bagaimana tidak, Fania ingin minta salah satu diantara Fariz dan Farissa.
Ya, walaupun sebenarnya ia cuma bercanda ketika mengatakannya.
"Sebaiknya kamu cepat-cepat menikah! Biar dapat Bocil seperti mereka." sahut ku sambil menepuk lembut pundaknya.
"Ehmm..."
Kini Fania yang menekuk wajahnya seraya menatapku. Kemudian ia bangkit sambil menggendong Farissa di pundaknya. Ia mendekatiku yang sedang menata kue-kue ku didalam Cake Showcase.
"Ge, sebenarnya aku ingin mengajak mu menemui Mami. Mami sendiri yang memintanya. Mami ingin bicara denganmu." ucap Fania sambil menepuk lembut punggung Farissa yang sepertinya memang sedang mengantuk.
Aku berpikir keras. Sebenarnya aku masih takut untuk bertemu Nyonya Liliana. Pertemuan terakhir ku dengannya membuat aku sedikit trauma. Namun melihat wajah Fania yang sepertinya sangat mengharapkan kata Ya dari ku, entah mengapa aku jadi tidak tega.
"Baiklah..."
Akhirnya aku menyetujuinya walaupun sebenarnya aku belum yakin akan jawaban ku. Setelah mendengar jawaban dariku, Fania terlihat sangat bahagia. Ia bahkan melebarkan senyumnya.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang, yuk!" ajak Fania.
"Sebentar, aku harus bilang dulu sama Nur, sapa tau dia kewalahan dan tidak bisa ditinggal sendirian, kan kasian Nur." sahut ku.
Setelah aku mengatakan hal itu, Nur menjawab sebelum aku bertanya padanya. Rupanya gadis manis itu mendengarkan pembicaraan ku dengan Fania.
"Silakan saja, Kakak! Aku bisa menanganinya sendiri. Kakak tenang saja!" seru Nur sambil melayani pembeli.
Aku tersenyum kearah Nur kemudian segera bersiap. Aku bergegas menaiki lantai dua dan segera mengganti pakaian ku. Aku memilih baju kaos berwarna gelap dan celana jeans ketat, pakaian favorit ku ketika masih gadis.
Setelah selesai berpakaian dan memoles sedikit wajahku, akupun segera menghampiri Fania dan siap berangkat menuju kediaman Nyonya Liliana.
Fania tersenyum ketika melihatku. Ini pertama kalinya ia melihatku dengan pakaian seperti ini. Biasanya ia hanya melihatku memakai dress panjang ataupun selutut.
"Wah, memang ya... kata orang cewek itu kalau sudah jadi janda, hmmm gadis pun lewat!" goda Fania.
"Apaan sih!" ucap ku sambil meraih car seat kedua anakku.
Fania tergelak, kemudian segera melangkah menuju mobilnya. Sedangkan aku mengikutinya dari belakang.
Setelah memasukkan kedua anakku, akupun segera masuk dan duduk disamping Fania yang akan menyetir mobilnya.
Disepanjang jalan Fania terus saja mengoceh. Ia juga senang menggoda ku dan mencoba menjodoh-jodohkan aku sama Alessandro.
"Ayolah, Ge! Kembalilah sama Kak Aley. Paling tidak demi Fariz dan Farissa. Mereka membutuhkan Ayah kandungnya." bujuk Fania.
Aku menoleh kearah Fania sambil tersenyum kepadanya,
"Kamu itu, ya! Memangnya Mami mu setuju? Aku tidak akan menikah tanpa restu orangtua lagi. Karena pengalaman ku menikah tanpa restu, berakhir dengan perceraian." ucap ku
Fania membalas senyuman ku, "Kali ini Mami pasti meretui hubungan kalian!" sahutnya.
Aku menghela nafas panjang. Aku tidak tahu harus beralasan apa lagi setelah ini. Hingga akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Fania tiba di kediaman Nyonya Liliana yang mewah itu.
Aku harap Fania berkata jujur, Nyonya Liliana tidak akan berbuat jahat lagi padaku. Aku sudah cukup di kecewakan oleh keluarga ini dan ku harap kali ini Fania tidak akan mengecewakan aku.
"Mari, Ge!"
Fania mendorong kereta Fariz dan Farissa memasuki rumah mewahnya. Sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Fania sempat menoleh kearah ku kemudian dia tersenyum.
"Kenapa, Ge? Kamu gugup!" ucapnya sambil terkekeh pelan.
Aku kembali menghela nafas panjang, "Bukan lagi, Fania!" sahut ku,
Fania malah tergelak ketika mendengar jawaban ku. Bisa-bisanya dia tergelak seperti itu. Dia tidak tahu saja bagaimana perasaanku saat ini. Perasaan ku campur aduk menjadi satu bahkan detak jantungku saja sudah tidak teratur lagi.
Akhirnya Fania menghentikan langkahnya disebuah ruangan dimana Nyonya Liliana sedang duduk di sofa dengan keadaan yang terlihat sangat lemah.
Jujur, aku sangat terkejut melihat keadaan Nyonya Liliana. Dia yang dulunya selalu berpenampilan anggun dan sangat menarik.
Sekarang terlihat sangat berbeda. Tubuhnya semakin kurus dan wajahnya nampak tidak terawat lagi. Pakaian yang ia kenakan pun terlihat asal-asalan.
Mungkin inilah Karma, Karma yang harus diterima oleh Nyonya Liliana. Karena selama ini, dia selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain terutama kepada anak-anaknya.
Perlahan aku mendekatinya dan menatap wajah pucat Nyonya Liliana. Yang tadinya dia menatap kosong kearah jendela, kini mengalihkan tatapan nya kepadaku.
Aku berjaga-jaga, siapa tahu wanita itu akan menyerang ku secara tiba-tiba. Namun ternyata aku salah, Nyonya Liliana tersenyum kepadaku sambil menyebut namaku.
"Ge?!"
"Ya, Nyonya. Ini saya, Geanna." sahut ku
Nyonya Liliana kembali mengembangkan senyuman nya, dia bahkan menyentuh pundak ku dengan lemah lembut.
"Ge, Maafkan Mami, ya... karena selama ini Mami selalu berusaha menyakiti mu..."
Tiba-tiba Nyonya Liliana meneteskan air matanya. Mungkin inilah yang disebut airmata penyesalan. Entah mengapa akupun menjadi iba melihatnya.
Ku balas senyuman nya dan kuraih tangan Nyonya Liliana yang masih menyentuh pundak ku.
"Aku sudah memaafkan Nyonya bahkan sebelum Nyonya meminta maaf padaku. Dan aku juga minta maaf sama Nyonya atas semua sikap ku yang sudah membuat Nyonya kesal selama ini."
Nyonya Liliana bangkit dengan tubuh gemetar, akupun segera bangkit untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh.
Nyonya Liliana merentangkan tangannya kepadaku. Dia ingin aku memeluknya dan akupun memeluknya.
Nyonya Liliana terisak disaat kami berpelukan. Dia bahkan berkali-kali mengucapkan kata maaf kepadaku. Sepertinya dia benar-benar menyesali perbuatannya selama ini.
"Ge, Mami sudah mengetahui perihal Fariz dan Farissa. Mami juga sudah tahu kalau mereka adalah darah daging Alessandro jauh sebelum kau dan EL berniat untuk menikah. Saat itu Alessandro mengakui perbuatannya dan ingin bertanggungjawab atas dirimu dan juga anaknya. Namun dengan teganya, Mami melarang Alessandro dan memaksanya untuk menikahi Sarra. Dan Mami pula yang menyarankan Alessandro untuk memaksa mu melakukan Aborsi. Maafkan Mami, Ge! Mami adalah penjahat yang sebenarnya..."
Nyonya Liliana kembali menangis histeris. Fania sudah berusaha menenangkan Mami nya namun Nyonya Liliana tetap menangis.
Aku terdiam setelah mendengar pengakuan Nyonya Liliana. Aku tidak habis pikir, ternyata ada orangtua seperti dirinya. Tapi beruntung, sekarang Nyonya Liliana sudah menyadari semua kesalahannya. Akupun sudah memaafkannya dan sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padaku.
***