Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Pembalasan Leo


"Hai, Farissa! Apa kabar?!" ucap Leo sambil mencoba mendekatiku.


Aku bangkit dari tempat duduk ku dan mencoba menjauhinya. Sedangkan ponsel ku masih terhubung dengan ponsel Julian dari seberang sana. Aku masih bisa mendengar Julian yang terus meneriakkan namaku dan menanyakan apa yang sedang terjadi kepadaku.


"Mau apa kamu kemari, Leo? Julian sedang tidak ada dirumah!" ucap ku sembari terus menjaga jarak darinya.


Leo menyeringai membuat aku semakin ketakutan. Aku sangat yakin Leo punya tujuan yang tidak baik.


"Aku tahu! Itulah sebabnya aku ketempat ini. Aku kemari bukan untuk Julian yang bodoh itu, tapi untukmu, Farissa. Aku ingin bermain sebentar dengan mainan baru Julian yang telah berani mengusik hubungan ku dengannya." sahut Leo.


Leo terus saja melangkah mendekatiku walaupun aku sudah berusaha menghindarinya. Leo melepaskan jacket tebal yang sedang ia kenakan dan melemparkan nya ke sembarang arah sambil menyeringai kepadaku.


"Kamu tahu, Farissa. Gara-gara kamu, rencana yang selama ini ku susun dengan sempurna, akhirnya hancur berantakan. Aku dan kekasih ku yang seharusnya sudah bersanding di pelaminan, juga batal akibat perbuatan mu. Jadi tidak salah kan, jika aku ingin bermain-main dengan mu sebentar?!" sambung Leo.


"Yang salah itu kamu, Leo! Kamu memanfaatkan kondisi Julian, saat ia sedang terpuruk. Dan kamu, bukannya membantu Julian untuk bangkit, kamu malah menjerumuskan dirinya. Aku hanya menyelamatkannya, Leo. Menyelamatkannya dari manusia serakah seperti dirimu!" sahut ku,


Leo meradang mendengar ucapan ku. Wajahnya memerah dan rahangnya menegas bahkan tangannya terlihat mengepal dengan sempurna hingga urat-uratnya kelihatan.


Jantungku berpacu dengan cepat, aku semakin ketakutan walaupun aku masih bisa memasang wajah tenang. Nafasku pun kini sudah tidak lagi beraturan tatkala melihatnya ekspresi Leo yang seperti singa lapar siap menerkam buruannya.


Disaat ada kesempatan, aku berlari menuju halaman depan untuk meminta pertolongan. Karena dirumah ini tak ada yang bisa menolong ku.


"Tolong!"


"Mau kemana kamu, Farissa! Kemarilah, kita bersenang-senang dulu." sahut Leo sambil mengejarku.


Aku terus berlari dan tanpa sadar aku membentur sebuah meja untuk meletakkan Vas cantik koleksi Julian. Aku terjatuh ke lantai bersama Vas cantik milik Julian. Vas itu pecah tak berbentuk dan beruntung tidak mengenai ku.


Leo tertawa lantang ketika melihat aku terjatuh. Ia menghampiri ku dan kini berdiri tepat dihadapan ku. "Sudahlah, Farissa! Percuma saja kamu menghindari ku. Kamu tidak akan bisa kemana-mana lagi sekarang. Jadilah milik ku hari ini, layani aku, maka aku akan mengampuni segala kesalahan mu padaku!"


"Lepaskan aku, Leo! Ku mohon..." ucap ku sambil beringsut. Airmata ini jatuh dan tak bisa ku bendung lagi.


Bukannya rasa iba yang ku dapat, Leo malah semakin bersemangat untuk menghukum ku. Leo berjongkok dan secepat kilat tangannya sudah mencengkeram rambutku yang sedang tergerai dengan sangat erat.


"Tolong!!!" teriak ku lagi sambil menahan sakit di kulit kepalaku. Saking eratnya cengkeraman Leo, kulit kepalaku seperti mau terlepas.


"Berteriak lah sepuas mu, Farissa. Tidak akan ada yang mendengar teriakan mu! Aku tahu pelayan mu sedang ke pasar dan penjaga keamanan didepan sudah ku bayar untuk berpura-pura tidak mendengar!" ucap Leo sambil menyeringai.


Leo menarik rambutku yang masih dalam cengkeraman nya. Sehingga mau tidak mau akupun mengikuti kemana Leo mengarahkan kepalaku.


"Sakit, Leo! Ku mohon lepaskan aku..." rintih ku,


Leo terus menyeret ku hingga kembali ke ruang tengah, dimana dia menemui ku pertama kali. Leo melemparkan tubuhku ke sofa dan menindih ku.


"Jika aku tidak berhasil menghancurkan mu, jangan pernah sebut namaku Leo!" ucap Leo sambil melepaskan baju kaos yang sedang ia kenakan dan kembali melemparkan nya secara sembarang.


Kini Leo sudah setengah telanjang dan masih menindih tubuhku hingga aku tidak bisa bergerak lagi. Tidak cukup sampai disitu, kini


"Puaskan aku hari ini, Farissa!" ucap Leo


Leo menciumi tubuhku dengan beringas dan penuh nafsu. Sedangkan aku hanya bisa berteriak sekuat tenaga ku dan berharap seseorang menyelamatkan aku darinya. Namun sampai suaraku serak, tak ada satu orangpun yang mendengar teriakan ku.


Setelah puas menciumi seluruh tubuhku hingga meninggalkan jejak-jejak merah menjijikan, kini lelaki bertubuh besar itu mulai melepaskan celananya dengan cepat dan hanya menyisakan celana boxer miliknya. Aku bahkan merasakan sebuah gundukan keras berada di area sensitif ku.


"Ku mohon, Leo! Jangan lakukan ini padaku..." lirih ku


"Memohon lah terus, Farissa... Aku semakin bersemangat melihat dirimu yang lemah seperti ini. Sekarang kamu tahu kan siapa aku, makanya jangan pernah berani bermain-main denganku, Farissa! Tapi semuanya sudah terlambat, aku sudah tidak bisa lagi memaafkan dirimu. Lagipula aku sudah terlalu bernafsu dan tidak mampu lagi membendung hasrat ku padamu. Jadi nikmatilah..."


Leo kembali menciumi tubuhku sedangkan kedua tangannya menahan tanganku agar tidak bisa melawannya. Kini aku pasrah dan hanya bisa berharap Julian atau siapapun akan menyelamatkan aku dari manusia bejat ini. Airmata ini bahkan tidak hentinya mengalir, membasahi kedua pipiku.


Hingga akhirnya,


Brengsekk! Apa yang kamu lakukan, bedebah!"


Seseorang menarik tubuh besar Leo dan menghajarnya tanpa ampun. Aku ketakutan dan segera beringsut dari sofa itu. Aku mengambil pakaian ku yang berserak di lantai kemudian mengenakannya kembali dengan tangan yang bergetar hebat.


Aku bersembunyi dari balik sofa sambil memperhatikan perkelahian kedua lelaki bertubuh besar itu.


"Kak, Kak Farissa! Kakak tidak apa-apa?!"


Tiba-tiba adikku menghampiri ku dan memeluk tubuhku dengan erat.


"Fiona!" sahut ku sambil terisak.


Ya, Fiona bersama Ibra datang pada saat yang tepat. Mereka tiba sebelum lelaki bejat itu benar-benar menghancurkan hidup ku.


"Kami sudah tahu semuanya, Kak! Kami sudah tahu siapa Julian brengsek itu!" ucap Fiona geram.


"Apa maksudmu, Fiona?" tanyaku.


"Julian itu hanya memperalat Kakak, kan? Dia menikahi Kakak hanya untuk menutupi status nya yang menjijikan itu! Daddy sangat marah, Kak! Begitupula Mama, mereka merasa sudah ditipu oleh Kak Julian, atau perlu ku sebut dia sebagai Mrs. Julia?!" ucap Fiona histeris.


"Itu dia, Pak. Tangkap dia!" teriak Julian yang tiba-tiba hadir bersama Polisi yang siap menggiring Leo.


Sedangkan Leo sudah babak belur dihajar Ibra walaupun Ibra juga mendapatkan beberapa luka lebam akibat perlawanan Leo. Julian bergegas menghampiri ku sedangkan Leo sudah dibawa oleh Anggota Polisi untuk diamankan.


"Farissa, maafkan aku. Kamu tidak apa-apa, kan?!" tanya Julian seraya menghampiri ku.


"Jangan sentuh Kakak ku! Kamu menjijikan Nyonya Julia!" ucap Fiona.


...***...


Maaf ya, Reader... kita kasih ujian dulu buat pasangan ini. Farissa sudah menunjukkan keberhasilannya memperjuangkan Julian selama ini. Dan sekarang kita ingin lihat sebesar mana perjuangan Julian untuk mendapatkan Farissa kembali ke pelukannya. 🙏🙏🙏