
Aku dan Julian segera menghampiri Tuan Joseph yang sudah sangat lemah. Aku tidak tega melihat keadaan Tuan Joseph yang semakin memprihatinkan.
Julian kembali terisak seraya meraih tangan Ayahnya dan mencium punggung tangannya berkali-kali.
"Daddy..." ucap Julian disela isak tangisnya,
"Julian, mungkin ini adalah permintaan terakhir Daddy untukmu. Berubah lah... Kembalilah seperti dulu. Dan untukmu, Farissa. Jagalah Julian untuk Daddy. Pertahankan rumah tangga kalian dan jangan pernah berpisah walau apapun yang terjadi." pinta Tuan Joseph dengan terbata-bata.
Aku menelan saliva ku dengan susah payah setelah mendengar permintaan Tuan Joseph yang begitu berat untukku lakukan. Bagaimana caranya mempertahankan rumah tangga ku yang aneh ini? Apalagi aku harus berjuang merubah sisi gelap kehidupan Julian.
"Jangan berkata seperti itu, Dad! Yakinlah, Daddy pasti bisa melalui masa ini dan kembali sehat seperti semula..." ucap Julian, masih terisak. Bahkan matanya yang rada sipit itu, kini mulai bengkak akibat terus menangis.
Namun sayang, takdir berkata lain. Tuan Joseph menghembuskan nafas terakhirnya setelah aku dan Julian mengiyakan permintaan terakhirnya.
Ya, aku dan Julian kini terikat Janji kepada Tuan Joseph untuk mempertahankan rumah tangga kami yang sangat aneh ini. Bahkan Julian pun berjanji akan berubah secara perlahan-lahan.
***
Acara pemakaman Tuan Joseph pun digelar. Banyak teman, kerabat serta rekan kerja Tuan Joseph berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.
Daddy, Mama, Fariz dan Fiona pun turut hadir di acara pemakaman Tuan Joseph. Daddy bahkan sempat menitikkan airmata nya karena Daddy dan Tuan Joseph sudah kenal sejak lama dan Daddy sudah menganggap Tuan Joseph seperti keluarganya sendiri.
Aku terus berdiri disamping Julian sambil memberinya semangat. Julian terlihat sangat down dan begitu terpuruk. Ia sempat bilang padaku, hanya Tuan Joseph lah yang begitu mengerti dirinya.
August Alexander, beberapa kali menghampiri Julian. Wajahnya memerah, sepertinya dia sangat marah kepada lelaki kemayu itu. Aku sempat mendengar August menghardik Julian dan mengatakan bahwa kematian Tuan Joseph adalah karena ulah Julian.
Hingga akhirnya acara pemakaman itupun selesai. Julian memintaku menemaninya tinggal di kediaman Tuan Joseph untuk sementara waktu. Sebagai istri yang baik, walaupun sebenarnya aku tidak pernah dianggap istri oleh Julian , akupun menurut saja.
Sopir pribadi Julian melajukan mobilnya menuju kediaman Tuan Joseph yang sekarang menjadi kediaman August. Setibanya disana, Julian segera mengajakku memasuki tempat itu namun baru saja aku dan Julian menginjakkan kaki kami di tempat itu, August menghampirinya dan kembali menghardiknya habis-habisan.
"Mau apa lagi kamu kemari, Hey Waria! Daddy meninggal pasti akibat kelakuan mu yang menjijikkan itu! Cuihhh!!! Memalukan!" hardik August sambil bertolak pinggang kepada Julian.
"Biarkan aku disini untuk sementara waktu, August. Aku ingin mengingat masa-masaku bersama Daddy ditempat ini..." pinta Julian sambil memelas kepada August.
Aku tidak tega melihat keadaan Julian yang seperti ini. Dia benar-benar hancur. Dan saudara satu-satunya bahkan tidak bisa menerima dirinya. Pantas saja Tuan Joseph meminta ku untuk menjaga lelaki kemayu ini. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Tuan Joseph ingin aku selalu menemani Julian.
"Tidak perlu! Sebaiknya kamu angkat kaki dari rumah ini, atau ku panggilkan keamanan untuk segera menyeret mu. Dan Kamu, Farissa! Sebaiknya jauhi Waria ini daripada masa depanmu hancur. Lagipula apa yang kamu harapkan berumah tangga bersamanya? Hahaha, mahluk seperti dia, bahkan membuat seorang anak pun tidak mampu!" hardik August.
"Hentikan, August! Kita masih dalam suasana berduka! Dan tidak bisakah kamu menghormati aku sebagai Kakak mu?!" ucap Julian, kali ini nada bicaranya sudah mulai naik.
Tiba-tiba,
Bukkkgh!!!
Aku meraih tubuh Julian dan membantunya bangkit. Julian kembali terisak sambil memegang pipinya yang memerah akibat pukulan sang Adik.
"Adik macam apa kau ini!" hardik ku,
Aku kesal melihatnya. Walaupun aku tidak tahu pasti apa masalah kedua saudara itu. Namun aku rasa August sudah sangat keterlaluan.
"Tenang saja, Farissa! Waria ini pantas mendapatkannya!" sahut August sambil tergelak,
Ya Tuhan, aku benar-benar kesal melihat lelaki itu. Aku rasa dialah yang Waria. Beraninya sama lelaki kemayu seperti Julian. Seandainya aku adalah laki-laki, pasti akan ku ajak adu jotos si August ini!
"Sebaiknya kita pulang saja, Julian!" ucap ku seraya mengajak Julian untuk kembali ke mobilnya.
"Ya! Pulang saja sana! Bikin anak yang banyak! Tapi ku rasa yang akan mengandung diantara kalian adalah Mrs. Julia bukan kamu Farissa!" teriak August sambil tergelak menertawakan kami.
Aku sempat mengacungkan jari tengah ku kepada August. Aku benar-benar kesal kepada lelaki itu.
Sopir Julian segera membukakan pintu mobil untukku dan juga Julian. Didalam mobil, Julian masih saja terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Aku terus mencoba menghiburnya sambil menepuk punggungnya dengan lembut.
"Farissa, kau lihat kan sekarang? Aku sudah tidak memiliki siapapun lagi..." ucap Julian, masih menutup wajahnya.
Aku mengambil beberapa tissue kemudian meraih tangan Julian yang sedang menutupi wajahnya. Kini Julian menghentikan isak tangisnya dan menatap ku dengan tatapan sendu. Airmata nya saja masih menggenang di pelupuk matanya.
"Tenang saja, Julian. Masih ada aku disini. Aku akan tetap menemani mu, seperti janji ku kepada Daddy Joseph." ucap ku seraya membersihkan darah yang masih menempel di sudut bibirnya.
Kini kristal bening itu kembali meluncur di pipi Julian. "Benarkah, Farissa?! Kamu serius... Aku berjanji padamu, Farissa. Aku akan mencoba berubah untukmu sama seperti janji ku kepada Daddy!" ucap Julian sambil menyeka airmata nya.
Aku menatapnya lekat, tidak ada kebohongan yang terpancar dari matanya. Namun aku tidak berani berharap banyak kepada sosok lelaki kemayu dihadapan ku.
Aku masih meragukannya. Aku belum yakin orang seperti dirinya bisa berubah menjadi lelaki seutuhnya.
Akhirnya, mobil yang dikemudikan oleh Sopir pribadi Julian tiba di halaman rumah Julian. Namun betapa terkejutnya aku, kekasih Mrs. Julia sudah menyambut kedatangan kami.
Baru saja Julian turun dari mobilnya, Leo sudah ingin menghampirinya. Tetapi aku tidak tinggal diam. Sama seperti janji ku kepada Tuan Joseph, aku akan menjaga Julian. Dan langkah pertama ku adalah menjaga Julian dari lelaki jadi-jadian ini, Leo.
Ya, sama seperti Julian yang merupakan lelaki jadi-jadian, berarti Leo pun lelaki jadi-jadian pula.
"Sebaiknya kamu pulang saja, Leo! Julian sedang ingin sendiri!" ucap ku seraya membawa Julian masuk kedalam rumahnya.
Leo sepertinya sangat kesal padaku, tetapi saat itu Julian pun nampak enggan menemui Leo. Mungkin karena suasana hatinya memang masih berduka saat ini.
***