
Setelah puas melihat-lihat ruko itu, Fania segera mengajakku pulang. Dan ternyata benar, EL sudah pulang.
Mobilnya sudah terparkir rapi di halaman rumah. Fania cuma mengantar ku hingga depan pagar, setelah membantu ku mengeluarkan si Kembar, diapun segera pamit.
Didepan pintu, Nur sudah menyambut ku dengan sumringah. Dia membentangkan kedua tangannya untuk menyambut kereta si Kembar.
"Oh, Nona! Aku sangat merindukan mereka..."
Ku biarkan Nur bermain bersama si Kembar sedang aku segera menuju kamarku. Aku ingin membersihkan diri kemudian mengganti pakaian ku.
Didalam kamar, kulihat EL sedang bertelanjang dada, duduk bersandar di sandaran tempat tidur. Ia segera menoleh kepadaku ketika aku memasuki kamarnya.
Akupun sempat menatapnya namun dengan cepat ku alihkan tatapan ku. Untuk saat ini aku masih sangat kesal kepadanya. Ia sudah membuat aku sakit hati.
Aku segera menuju kamar mandi kemudian mengganti pakaian ku dengan pakaian yang lebih simple untuk bersantai dirumah.
Ketika aku kembali memasuki kamar, ternyata EL sudah duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatapku kembali.
"Ge, duduklah... aku ingin bicara padamu." ucap EL.
Akupun duduk disampingnya dan berharap dalam pembicaraan kami kali ini akan ada penyelesaian yang lebih baik untuk kami berdua.
EL menghembuskan nafas panjang kemudian menggenggam tanganku dengan sangat erat.
"Aku tidak menyangka kehidupan rumah tangga kita akan seperti ini. Ini bukan kemauan ku, Ge. Jujur, jauh dilubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat-sangat mencintaimu. Namun keadaan memaksa ku berlaku tidak adil padamu. Aku mencintaimu namun aku juga tidak ingin kehilangan sosok Arini..."
EL tidak mampu melanjutkan kata-katanya. Dia terisak sambil menundukkan kepalanya. Kini aku kembali menemukan sosok EL yang lemah.
Aku usap lembut punggungnya hingga akhirnya ia menoleh kepadaku,
"Ambillah keputusan yang paling tepat untukmu, EL..." ucap ku,
Aku sudah pasrah. Hubungan yang kami jalin selama ini bukanlah hubungan yang sehat. Dan aku juga tidak menyalahkan EL sepenuhnya. Karena jika aku berada di posisi EL, mungkin akupun akan melakukan hal yang sama.
"Ge, aku terpaksa melepaskan mu demi Arini."
Dengan deraian airmata EL mengucapkan itu padaku. Dia bahkan memeluk tubuhku dengan tubuh yang bergetar. Aku tau, keputusan yang diambil oleh EL pasti sangat sulit dan sudah dipikirkan olehnya secara matang.
Ku balas pelukannya. Bahkan ku peluk ia lebih erat. Aku takut ini adalah pelukan terakhir ku untuknya. Sejujurnya aku sakit, tapi jika kami terus hidup seperti ini, aku akan jauh lebih sakit.
"Aku mencintaimu, EL! Terimakasih untuk semuanya, selama ini kamu selalu menemaniku dimasa-masa sulit ku dan kamu juga bersedia menjadi sosok Ayah untuk Fariz dan Farissa."
Akupun turut menangis dalam pelukannya. EL berkali-kali mencium puncak kepala ku dan juga seluruh wajahku.
"Jangan pernah lupakan aku, Ge! Aku sangat mencintai mu..." ucap EL seraya menyentuh kedua pipiku.
Akupun mengangguk dengan deraian airmata yang tiada henti mengalir dari sudut mataku. Perasaan ku saat ini campur aduk. Ada sakit dan juga lega.
Sakit, karena aku harus menerima kenyataan pahit bahwa aku dan EL sekarang memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Dan lega, karena akhirnya aku menepati janji ku kepada Arini.
"Aku akan segera mengurus surat perceraian kita dan kamu tenang saja, Ge. Aku akan tetap bertanggungjawab atas dirimu juga Fariz dan Farissa." ucap EL sambil menyeka air matanya.
Aku tersenyum kemudian memeluk lengannya, "Tidak usah, EL. Cukup berbahagia bersama keluarga kecil mu..."
EL kembali melabuhkan kecupan hangatnya ke puncak kepalaku. "Terimakasih, Ge. Sudah mengerti keadaan ku sekarang."
Sejenak kamar itu hening,
"Apa kamu akan kembali bersama Alessandro?"
"Apa kau lupa, Alessandro sudah pergi ke Amerika untuk menyelesaikan kontrak kerjanya." ucap ku,
EL mengusap wajahnya kasar, "Astaga! aku sampai melupakan hal itu, Ge!"
🌸🌸🌸
Sejak hari itu aku memutuskan untuk tinggal di Ruko pemberian Alessandro bersama Fariz dan Farissa juga Nur. Gadis itu menepati janjinya, ia akan ikut denganku jika Aku dan EL berpisah.
Sebenarnya EL tidak pernah mengijinkan aku meninggalkan rumahnya. Ia bersedia keluar dari rumah itu jika kami resmi berpisah.
Namun aku bersikeras untuk tetap meninggalkan rumah itu. Karena rumah itu bukanlah Hak ku, Arini lah yang paling berhak atas semua milik EL.
Kini aku memulai usaha kecil-kecilan ditempat ku yang baru dengan menggunakan uang tabungan ku sebelum menikah dengan EL. Aku menjual aneka macam kue, baik itu buatan ku sendiri maupun buatan orang lain.
Aku dibantu oleh Nur dan kadang-kadang Fania pun turut membantu ku disaat ia sedang memiliki waktu luang. Maklumlah, Fania juga berprofesi sebagai seorang Model sama seperti Alessandro.
Fania juga membantu mempromosikan aneka jualan ku di akun sosmed pribadinya. Tentu saja apa yang dilakukan olehnya itu berpengaruh besar dalam usaha kecilku.
Dan sekarang bukan hanya secara Offline, akupun menjualnya secara Online.
Dan Jangan lupakan Alessandro, lelaki itu juga menepati janjinya. Dia selalu menghubungi kami. Hampir setiap hari, Alessandro tidak pernah sekalipun absen menghubungi anak-anaknya.
Seperti hari ini, Alessandro kembali menghubungi kami via VC.
Aku meletakkan ponsel ku didepan Fariz dan Farissa dan membiarkan Alessandro ber VC ria bersama kedua anaknya yang sedang asik bermain.
"Ah! lucu sekali mereka!"
Aku terkejut ketika mendengar suara wanita-wanita memuji Fariz dan Farissa. Akupun segera melihat kearah layar ponsel ku.
Ternyata benar, Alessandro sedang dikerumuni oleh Wanita-wanita cantik dengan berbagai aneka rupa. Ada yang seperti Cinderella, ada yang seperti Mulan, ada yang seperti Pocahontas, dan lain-lain.
Maklumlah mereka berasal dari berbagai penjuru dunia dan berkumpul menjadi satu disana dengan satu profesi yang sama.
Aku sangat malu disaat menoleh ke layar ponsel ku. Aku terlihat acak-acakan dengan rambut yang disanggul secara sembarang. Belum lagi wajahku yang tanpa polesan sedikitpun.
Sedangkan Lelaki itu selalu terlihat Wow, dimanapun dia berada. Saat aku ingin pergi meninggalkannya, Alessandro menahan ku.
"Ge, aku ingin bicara padamu!" ucapnya,
Dengan terpaksa, akupun duduk disamping Si Kembar.
"Ada apa, Alessandro? Aku malu, aku terlihat kacau sekarang!" ucap ku
Alessandro terkekeh, kemudian salah satu wanita itu menyapa ku,
"Hai, Ge!"
"Hai!" akupun membalas sapaan wanita cantik bak Cinderella itu.
"Alessandro, mana satu milik mu?" goda ku kepada Alessandro yang sejak tadi senyam-senyum di layar ponselnya.
Alessandro tergelak setelah mendengar pertanyaan ku.
"Satu milik ku, yang sedang bertatap mata denganku di layar ponsel."
***