Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Nikmat membawa Penyesalan


Aku rasa obat itu sudah membuat Julian kehilangan akalnya. Ternyata ia tidak bisa untuk tidak membalas ciuman ku, dia bahkan lebih garang daripada aku yang hanya seorang pemula.


Tidak cukup sampai disitu, kini tangannya mulai berani menyentuh tubuhku dan kedua aset berharga ku pun sudah mulai ia jelajahi dengan jari-jari nakalnya.


Aku sebenarnya risih tapi ya sudahlah. Demi janji ku kepada Tuan Joseph dan semoga apa yang ku lakukan sekarang tidak akan sia-sia.


Perlahan aku lepaskan kimono mandi yang menutupi tubuh polosnya. Dan betapa terkejutnya aku ketika kimono mandinya terlepas, mata ini tidak sengaja melihat aset milik Julian yang ternyata sudah berdiri tegak.


Pantas saja ketika aku duduk di pangkuannya, aku merasa ada sesuatu yang bergerak-gerak dibawah sana. Ini pertama kalinya untukku dan ini pun bermodalkan nekad saja.


Tanpa basa-basi, aku melepaskan lingerie seksi yang ku kenakan dan melempar nya ke sembarang arah. Hingga akhirnya aku dan Julian sama-sama polos.


Baiklah aku coba mengingat-ingat cara melakukan pemanasan dengan benar, seperti yang aku lihat di Video. Aku sengaja menonton banyak Video aneh hanya untuk mempersiapkan diriku agar penyerangan yang aku lakukan tidak sia-sia.


Aku mulai menciumi leher jenjangnya, dada mulusnya kemudian dua buah chocochips yang menempel didada bidangnya. Julian terlihat pasrah dan menikmati semua permainan yang aku lakukan di tubuhnya sambil sesekali mendesah manja.


Aku merasa geli, perasaan di Video yang aku tonton, pihak laki-laki yang lebih garang. Lah aku kok, malah kebalikannya? Aku lebih dominan di permainan kami.


Aku juga searching di Google soal bagaimana melakukan hal ini untuk seorang pemula seperti diriku, agar tidak terlalu menyakitkan. Aku sering dengar cerita dari teman-teman ku yang pernah melakukannya, mereka bilang hal itu sangat menyakitkan. Dan jujur aku sangat takut tapi mau bagaimana lagi.


Aku menghela nafas panjang sebelum melakukan aksi nekad ku, nekad atau bodoh? Ah, terserah!


Perlahan namun pasti, aku mulai meraba miliknya dan mencoba mengarahkannya ketempat sasaran. Astaga! Aku membulatkan mataku ketika milik Julian mulai menerobos pertahanan ku. Sakitttt!


Rasanya aku ingin menyerah saja! Tapi rasanya tidak mungkin, sudah kepalang tanggung. Baiklah, kita lanjutkan!


Dengan kenekatan yang luar biasa, aku menghentakkan tubuhku diatas pangkuan Julian dan hingga akhirnya Julian benar-benar menerobos pertahanan ku yang selama ini aku jaga dari siapapun. Dan sekarang, aku malah memberikannya dengan sangat mudah kepada lelaki kemayu ini! Beruntung dia sudah sah menjadi suamiku.


"Farissaa..." desah Julian,


Hah, beruntung dia masih sadar kalau dia sedang bersamaku, bukan bersama lelaki jahat itu, Leo.


Akhirnya Julian sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membalas ku. Dia mengangkat tubuhku dan membawaku keatas tempat tidur tanpa melepaskan sesuatu yang sudah menempel dengan sempurna. Sekarang posisiku berada dibawahnya.


Julian membelai wajahku kemudian melabuhkan sebuah ciuman ke bibirku. Aku sempat terkejut, namun setelah itu akupun membalasnya.


Akhirnya lelaki gemulai itu menunjukkan sifat aslinya. Ternyata dia normal, dia melakukan seperti laki-laki yang aku tonton di Video. Mencumbui ku, menjamah seluruh tubuhku bahkan kedua chocochips ku pun menjadi mainannya.


Sekarang giliran ku yang mendesah manja dan Julian semakin bersemangat melakukan aksinya. Dari gerakan alon-alon menjadi gerakan cepat. Keringat menghiasi tubuh ku, apalagi Julian. Rasa sakit yang tadi aku rasakan, kini berganti dengan rasa nikmat yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.


Sejuknya udara yang keluar dari AC yang ada dikamar Julian tidak mampu mengalahkan panasnya pergulatan kami berdua. Hingga akhirnya aku dan Julian merasakan puncak kenikmatan itu secara bersamaan.


Julian mengerang diatas tubuhku dan aku membalasnya dengan mencengkeram kuat di punggungnya. Julian pun terjatuh disampingku sambil memejamkan matanya. Nafasnya terengah-engah dan perlahan mulai normal hingga akhirnya iapun tertidur disampingku.


Jangan tanyakan apakah aku mencintai lelaki ini? Aku sendiri tidak tahu, tapi yang aku tahu, aku adalah istrinya dan aku berkewajiban melayaninya, bukan seperti itu?


Aku mencoba menutup mataku sambil memeluk tubuhnya dan membenamkan wajahku ke dada bidangnya. Hingga akhirnya akupun tertidur.


***


Pagi pun menjelang,


Aku terbangun dari tidur ku karena mendengar suara isak tangis disamping ku. Perlahan ku buka mataku dan melihat ke sekeliling ruangan. Dan tatapan ku akhirnya fokus pada sosok Julian yang tengah duduk di tepi tempat tidur sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Julian?!"


Aku bangkit sambil menutup tubuh polos ku dengan menggunakan selimut. Aku menghampirinya kemudian memeluk tubuhnya.


Namun aku begitu terkejut ketika Julian melepaskan pelukan ku dengan kasar. Aku tidak mengerti mengapa ia berbuat kasar kepadaku pagi ini.


"Sudah cukup, Farissa! Kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Aku akan melakukannya jika aku sudah siap. Tapi untuk sekarang, aku belum siap!" ucap Julian dengan nada setengah berteriak kepadaku.


Astaga! Jadi karena hal itu hingga ia tega berbuat kasar kepadaku. Julian seolah-olah menyalahkan aku atas kejadian ini. Ya, aku akui, ini semua kesalahan ku, aku sengaja menjebaknya tapi semua ini kulakukan untuk kebaikannya.


"Ketika kamu sudah siap? Tapi kapan? Ketika Leo sudah mengubah dirimu sepenuhnya, begitu maksudmu, Julian?!"


Akupun tidak mau kalah, aku kesal ketika Julian tidak bisa menerima kejadian ini. Julian menatapku dengan tatapan kesal, ia bahkan mulai berani menunjuk wajahku dengan jari-jari mulusnya lagi.


"Berhentilah berpikir buruk tentang Leo! Kamu tidak mengenal Leo, Farissa! Mungkin dia lebih baik darimu!" ucap Julian,


Oh, Tuhan! Hatiku hancur ketika aku harus dibandingkan dengan lelaki licik itu. Julian bahkan menganggap Leo lebih baik dari diriku. Tak terasa airmata ku kembali mengalir dikedua pipiku, hatiku teramat sakit! Ternyata usaha ku sia-sia saja. Aku bahkan rela kehilangan kesucian ku untuk lelaki kemayu ini.


"Baiklah, Julian! Aku menyerah. Mulai sekarang aku sudah tidak peduli lagi denganmu! Lakukanlah sesuka hatimu dan jika suatu saat nanti Tuhan membuka kedok Leo yang sebenarnya, maka jangan pernah meminta maaf padaku!"


Aku sangat kesal dan marah kepada lelaki itu. Aku kembali ke kamar ku di lantai bawah dengan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polos ku.


Aku sudah putus asa dan tak ingin berusaha lagi. Aku rasa percuma, jika hanya aku yang ingin merubah sifatnya. Namun lelaki kemayu itu sama sekali tidak ingin berusaha untuk merubah sifatnya.


Sesampainya dikamar, aku kembali terisak diatas tempat tidur ku. Aku menyesal telah melakukan hal senekad ini kepada Julian. Sekarang aku pasrah, aku tidak peduli walaupun Julian akan menggugat cerai kepadaku.


Semoga saja, cepat atau lambat, Tuhan akan membongkar kedok Leo, biar Julian tahu sifat lelaki yang selalu ia bela-bela selama ini.


...***...