
Aku meraih beberapa buah dan sebotol minuman dingin kemudian membawanya keatas meja. Aku duduk disana tanpa memperdulikan Julian yang masih memperhatikan kelakuan aneh ku.
Ketika aku menikmati buah-buahan itu, Julian menghampiri ku dengan membawa sebuah piring berisi makanan untukku. Dia meletakkannya tepat didepanku dan dia sendiri duduk berseberangan denganku.
Aku menatap piring itu kemudian menatap dirinya yang masih memperhatikan diriku sambil tersenyum aneh. Dan yang lebih anehnya lagi lelaki itu mengenakan kimono tidur berwarna merah muda.
"Makanlah, Farissa. Jangan ditahan, nanti kamu sakit!" ucapnya.
Aku tidak menjawab, aku hanya bisa memutarkan bola mataku kemudian menyantap makanan itu.
Julian masih setia menemaniku sambil tersenyum simpul walaupun dia tidak bicara sepatah katapun lagi.
Hingga akhirnya aku selesai dengan urusan isi perutku. Kini aku sudah kenyang dan siap kembali ke kamar ku. Aku bangkit dan melangkah meninggalkan meja makan. Padahal saat itu Julian masih duduk disana.
"Farissa..."
Aku menghentikan langkah ku ketika mendengar Julian menyebut namaku. Aku berbalik kemudian menghadap nya.
"Apa?!" sahut ku ketus, jujur aku masih kesal dengannya.
"Maafkan aku karena sudah bersikap kasar padamu tadi pagi." ucapnya.
Aku tidak menjawabnya, aku langsung berbalik dan kembali ke kamarku. Setibanya didalam kamar, aku kembali termenung mengingat nasib pernikahan ku yang berbeda dari orang lain. Hingga akhirnya akupun tertidur nyenyak.
***
Pagi-pagi sekali aku terbangun dari tidur ku dan segera menuju kamar mandi kemudian membersihkan diriku disana. Hari ini aku ingin menemui Julian. Aku ingin bicara padanya soal hubungan ini. Mungkin saja dia masih butuh waktu untuk menerima ku dan aku akan memberikan waktu itu untuknya.
Setelah aku selesai berpakaian dan berberes tempat tidur, aku segera melangkah menuju kamar Julian. Aku ingin menemuinya di kamarnya.
Setibanya didepan pintu kamarnya, aku segera mendorong pintunya dan ternyata pintunya tidak terkunci sama sekali. Perlahan aku masuk dan memperhatikan sekeliling ruangan mewah itu. Entah mengapa aku merasa kamar Julian nuansanya lebih ke feminin, maksudku tidak seperti lelaki kebanyakan yang biasanya bernuansa maskulin.
Kamar itu nampak seperti kamar seorang ratu dengan tempat tidur mewah ala-ala seorang ratu. Dan warna kamarnya pun agak lebih mencolok dari pada kamar laki-laki kebanyakan.
Kulihat Julian sudah tidak ada ditempat tidurnya. Namun didalam kamar mandi terdengar suara gemericik air yang artinya Julian sedang membersihkan dirinya didalam sana.
Aku menghampiri tempat tidurnya kemudian duduk disana sambil menunggu Julian menyelesaikan ritual mandinya. Aku masih memperhatikan ruangan itu secara detail. Kurasa kamar Julian tidak ada kata macho-machonya. Malahan lebih ke feminin.
Tapi aku tidak curiga sedikitpun, hingga akhirnya mataku terfokus pada sebuah objek diatas tempat tidur yang tertutup selimut. Aku meraihnya dan menenteng benda yang berwarna merah muda itu. Ternyata benda itu adalah sebuah Lingerie seksi.
Aku menutup mulutku karena saking terkejutnya. Aku tidak percaya telah menemukan benda ini diatas tempat tidur Julian, suamiku!
Aku kembali menangis setelah melihat benda itu. Hatiku kembali terasa disayat-sayat. Aku tidak menyangka Julian telah berkhianat dan membawa seorang wanita lain kedalam kamarnya.
Hingga akhirnya Julian keluar dari dalam kamar mandi. Iapun begitu terkejut ketika mendapati diriku tengah terisak di tepi tempat tidurnya. Julian nampak panik, ia segera menghampiri ku,
"Apa yang kamu lakukan di kamarku, Farissa!" tanyanya,
Aku bangkit dan kini aku berdiri tepat di hadapannya. "Apa ini, Julian?!" ucapku seraya memperlihatkan lingerie seksi berwarna merah muda didepan wajahnya.
Wajah Julian memerah, ia menangkap lingerie itu dengan kasar kemudian menatap ku dengan tatapan tajamnya.
"Kamu benar-benar kejam, Julian! Kamu menikahi ku dan meletakkan ku dikamar bawah, lalu kamu tidur bersama wanita lain dikamar ini! Suami macam apa kamu ini?!"
Aku sangat kecewa dan menghardiknya sambil menatap wajahnya. Dia memang sangat tampan tapi sayang hatinya sangat jelek, sangat-sangat jelek!
Aku melewati tubuhnya kemudian melangkah menuju kamar mandi dan mencari keberadaan wanita sialan yang sudah tidur bersama suamiku.
"Apa yang kamu lakukan, Farissa?!" ucap Julian seraya mengikuti ku dari belakang.
Aku tidak menjawabnya. Aku terus menggeledah isi kamar Julian namun aku tidak menemukan sosok wanita sialan itu.
"Dimana kamu sembunyikan wanita sialan itu?!" ucap ku seraya memeriksa dibawah kolong ranjang mewah ala-ala kerajaan itu.
"Kamu bicara apasih, Farissa?!" ucap Julian, dia masih seperti bayangan ku yang terus mengekor dibelakang ku.
"Awas saja jika aku menemukannya! Aku akan potong-potong tubuhnya!" ucap ku kesal.
Bukannya marah, Julian malah tergelak mendengar ucapan ku, "Kau mengerikan, Farissa!" ucapnya disela gelak tawanya.
Aku masih tidak puas menggeledah kamar lelaki yang kini berstatus sebagai suami ku itu. Bahkan lemari nya pun tak luput dari aksiku. Aku menggeledah isi lemari nya, siapa tahu wanita sialan itu bersembunyi disana, namun aku tetap tidak menemukannya.
Hingga akhirnya aku menemukan sebuah lemari yang terkunci. Aku terus mencoba membuka pintu lemari itu namun tetap tidak bisa.
Aku berbalik dan berdiri dihadapan Julian, "Serahkan kuncinya!" ucap ku seraya mengulurkan tangan ku kepadanya.
"Oh, Ayolah Farissa!" ucap Julian sambil mengusap wajahnya dengan kasar,
"Berikan!!!" bentak ku,
Julian masih diam tak bergeming, dia sama sekali tidak ingin menyerahkan kunci lemari itu kepadaku.
"Heh, wanita sialan! Kamu pasti didalam, kan?!" hardik ku seraya menggedor-gedor lemari itu. Julian meraih tanganku kemudian menatap mataku lekat,
"Farissa! Sudah kubilang, tak ada siapapun disini. Percayalah padaku..." ucap Julian sambil memelas kepadaku.
Aku juga membalas tatapan matanya sambil memasang wajah kesal kepada lelaki dihadapan ku ini, "Kalau tidak ada siapa-siapa, lalu lingerie milik siapa itu?!" tanyaku lagi.
"Sebenarnya..."
Julian terdiam kemudian tidak lama setelah itu iapun melanjutkan ucapannya, "Sebenarnya, Lingerie itu untukmu. Tapi aku ketiduran ketika ingin memberikannya kepada mu, makanya lingerie itu berada diatas tempat tidur ku." ucapnya,
Dia kira aku sebodoh apa? Dia kira aku akan percaya begitu saja?! Tidak mungkin.
"Kau kira aku percaya? Aku akan tunggu wanita itu hingga ia keluar dari kamarmu! Dan aku tidak menjamin keselamatannya jika aku menemukan sosok wanita sialan itu!" hardik ku.
Aku bergegas melangkah keluar dari kamar itu kemudian menunggunya diruang tengah. Aku yakin sekali ada wanita yang menemaninya tidur tadi malam, tidak mungkin kan jika hanya kebetulan Lingerie seksi itu berada disana. Atau... Julian yang mengenakan lingerie itu untuk dia tidur?! Haha, bodoh! Membayangkan nya saja aku sudah mau muntah apalagi jika itu benar-benar terjadi.
***