
Aku terbangun dari tidur ku dan mencoba mengingat kejadian yang terjadi tadi malam. Astaga, setelah teringat kejadian itu, aku segera menoleh ke samping ku dan ternyata benar. Pergulatan panas tadi malam benar-benar terjadi dan bukan mimpi.
Aku menatap wajah lelaki kemayu yang masih tertidur lelap disampingku. Wajahnya begitu tampan dan seandainya lelaki ini normal seperti lelaki pada umumnya, mungkin dia sudah menjadi rebutan para wanita.
Disaat aku masih memperhatikan wajahnya tiba-tiba saja mata lelaki kemayu itu terbuka. Ia membalas tatapan ku, kemudian tersenyum hangat.
"Selamat pagi, Farissa." ucap Julian seraya mengucek matanya.
"Pagi juga, Julian." sahut ku.
Sekarang Julian tersenyum aneh kepadaku sambil menatapku dengan tatapan nakalnya. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh lelaki kemayu ini. Yang jelas firasat ku mengatakan, ini bukanlah hal yang baik.
"Apa kamu ingin mengulanginya lagi, Farissa?!" sahutnya sambil menarik selimut yang sedang menutupi tubuh kami berdua.
"A-apa maksudmu?" tanyaku gugup,
Aku tau apa maksudnya tapi aku cuma berpura-pura bodoh saja. Julian menyeringai kepadaku dan tatapan nya semakin mengerikan.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang dari luar. Mungkin sudah kebiasaan Julian tidur tanpa mengunci pintu kamarnya. Sontak, aku dan Julian kelabakan dan saling berebut selimut untuk menutupi tubuh polos kami.
"Julian, aku..."
Ucapannya terhenti ketika melihat aku dan Julian dalam satu tempat tidur yang sama. Apalagi saat ini aku dan Julian berusaha menutupi tubuh polos kami dengan satu selimut yang sama.
"Astaga, Leo!!!" batin ku
Ya, laki-laki aneh itu tiba-tiba saja masuk kedalam kamar Julian tanpa permisi. Dan yang lebih anehnya lagi lelaki itu bertamu sepagi ini. Memang sudah menjadi kebiasaan Leo, keluar masuk ke kamar ini dengan semaunya dan Julian pun tidak pernah keberatan dengan prilaku Leo yang seperti itu.
Dia sangat shok ketika menyaksikan pemandangan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Matanya bahkan membulat sempurna.
"L-Leo!" sapa Julian,
"Apa yang telah kalian lakukan?!" tanya Leo dengan wajah marah.
"Kami kan suami istri, tentu saja melakukan kewajiban kami sebagai suami istri. Ya kan, Sayang?!" sahut ku seraya memeluk lengan Julian sambil terus menutupi tubuh polos ku dengan selimut.
Julian hanya diam, bibirnya terkunci rapat tetapi matanya tetap tertuju kepada Leo yang sepertinya sedang marah besar. Apalagi setelah mendengar ucapan ku tadi.
"Apa kamu lupa akan janjimu padaku, Julian?" ucap Leo sambil menahan amarahnya.
Julian tertunduk dan masih tidak berkata sepatah katapun. Sedangkan aku kebingungan, sebenarnya Julian sudah berjanji apa kepada lelaki aneh itu.
"Aku tunggu jawaban mu, Julian!" sambung Leo kemudian ia berbalik dan keluar dari kamar Julian. Ia sempat membanting pintu kamar dengan keras sebelum menghilang dari pandangan ku.
"Julian, janji apalagi yang kamu ucapkan kepadanya?! Katakan padaku, Julian!" ucap ku,
Entah mengapa firasat ku sangat buruk tentang hal ini. Aku takut Julian sudah berjanji yang aneh-aneh kepada lelaki jahat itu.
"Julian!" Kini nada bicara ku sedikit naik karena aku sangat kesal. Sedangkan Julian masih saja diam dan tidak ingin menjelaskan apapun kepadaku.
Aku melangkah dengan tergesa-gesa menuju kamarku dan setibanya disana, aku segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diriku.
Aku kembali kecewa untuk kesekian kalinya. Julian masih belum bisa menolak kehadiran Leo, lelaki jahat yang hanya mengincar hartanya saja.
Setelah selesai bersiap-siap, aku segera menuju ke halaman depan dan melajukan mobil ku ke toko kue. Saking kesalnya, aku bahkan pergi tanpa sarapan karena aku tak ingin melihat wajah Julian untuk saat ini.
Disepanjang perjalanan aku terus menggerutu. Menggerutui sikap Julian yang plin plan, yang masih belum bisa menentukan pilihannya.
Setibanya di toko, aku segera masuk dan membantu karyawan ku yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Tiba-tiba saja disaat aku masih berkutat dengan pekerjaan ku, aku kedatangan tamu yang tidak diundang. Dia menghampiriku dengan wajah yang sangat kesal.
"Sini kamu! Kamu itu memang harus dikasih pelajaran!" ucapnya dengan emosi berapi-api.
Leo, lelaki itu dengan beringas nya menyeret ku hingga ke ruang pribadi ku kemudian menutup pintunya.
"Lepaskan aku! Tolong..." teriak ku
Namun Leo membekap mulut ku dengan tangannya. Beruntung, banyak karyawan ku yang menyaksikan kebrutalan Leo. Dan aku harap mereka meminta bantuan kepada Om Fikri untuk menyelamatkan aku dari lelaki jahat ini.
"Mau apa kamu!!!" ucap ku ketika Leo sudah melepaskan aku. Aku mencoba menghindari lelaki itu, yang terus mencoba menghampiri aku sambil menyeringai jahat.
"Aku ingin memberi mu sedikit pelajaran karena sudah berani mencampuri urusan ku." sahutnya.
Sekarang aku terjebak antara dirinya dan juga dinding ruangan ku. Aku sangat ketakutan, aku yakin sekali Leo adalah lelaki jahat yang bisa melakukan apa saja kepadaku.
Tiba-tiba saja Leo menahan tubuhku, "Beruntung kamu cantik, Farissa! Dan aku masih mengampuni mu asalkan kamu mau melayaniku!" ucapnya,
"Cih, lebih baik aku mati daripada harus melayani lelaki jahat seperti dirimu!" hardik ku,
Leo semakin meradang, ia bahkan menciumi wajahku dengan paksa. Aku berusaha memberontak tapi sayang tenaga ku tak sebanding dengan lelaki bertubuh besar itu.
"Lepaskan dia!"
Seseorang menarik kemeja yang sedang dikenakan Leo dan kemudian mendaratkan sebuah tamparan ke wajahnya.
Bugh!!!
Om Fikri datang tepat waktu, ia memukul lelaki bertubuh besar itu hingga ia terjungkal ke lantai. Leo bangkit dan perlahan melangkah mundur. Dia tersenyum sinis kepadaku dan juga Om Fikri.
"Nasib mu masih mujur, Farissa. Tapi lain kali, kamu tidak akan bisa menyingkir dariku!" ucapnya seraya pergi sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya.
Om Fikri mengejar Leo tetapi aku kembali mencegatnya. "Tidak usah, Om. Farissa tidak ingin lelaki itu menyakiti mu." pinta ku.
"Tapi dia sudah keterlaluan, Farissa! Kalau tidak dikasih pelajaran, dia akan semakin menjadi-jadi! Memangnya dia siapa, Farissa? Dan apa hubungannya denganmu hingga ia sangat berniat untuk menyakiti mu?!" sahut Om Fikri kesal.
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Om Fikri. Apakah aku harus jujur dan mengatakan kalau lelaki itu adalah kekasih suamiku?! Tidak mungkin, aku yakin jika salah satu keluarga ku mengetahui hal menjijikkan ini, mereka akan memisahkan aku dengan Julian. Dan itu artinya, aku kalah dan tidak bisa memenuhi janji ku kepada Tuan Joseph.
...***...