Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Aksi Nekad Kedua


Setelah mendapatkan ciuman mendadak dariku, sepertinya Julian agak menjaga jarak dariku. Apa aku melakukan kesalahan? Aku rasa tidak, bukankah aku sudah berjanji akan merubah Julian menjadi lelaki tulen. Dan ini adalah langkah pertama ku dan jika ini masih tidak berhasil, maka aku akan melakukan yang lebih ekstrim lagi.


Julian masih bersikap hangat namun ia terus menjaga jarak. Heh, percuma jaga jarak! Saat ku cium saja, Julian sempat membalas ciuman ku. Paling juga dia masih gengsi!


"Ehm, Farissa. Bagaimana kalau kita mengelilingi Taman ini?" ajak Julian,


Aku begitu bersemangat mendengarnya. Aku masih punya kesempatan untuk menggoda lelaki kemayu ini. Julian mengulurkan tangannya kepadaku kemudian akupun segera menyambutnya.


Aku memeluk erat tangannya seraya melangkah bersamanya. Julian beberapa kali melirik ku, aku yakin sekali dia merasa risih saat aku peluk lengannya.


Aku tidak peduli. Bodo amat! Aku tidak akan melepaskan tangannya walaupun ia meminta aku melepaskannya.


Ehm, Farissa sebaiknya kita pulang saja, ya! Aku rasa, aku sudah lelah." ajak Julian lagi.


Hmm, ku rasa bukan lelah tapi karena ia risih ketika aku terus menempel di tubuhnya seperti ulat bulu.


"Baiklah," sahut ku tanpa melepaskan pelukan ku. Bahkan hingga kami tiba didepan mobil Julian yang terparkir.


"Bisakah kamu melepaskan aku, Farissa? Aku tidak bisa masuk kedalam mobil jika kamu masih menempel padaku." ucapnya


"Owh Iya, maaf!" sahut ku


Setelah aku melepaskan lengannya, Julian bergegas masuk kedalam mobil. Kemudian akupun mengikutinya dan duduk disampingnya.


Didalam mobil Julian masih terlihat salah tingkah. Bahkan sudah berkali-kali aku memergoki Julian melirik kearah ku. Aku tersenyum hangat padanya dan diapun membalasnya.


"Akh, stop! stop! Berhenti, ada yang ingin aku beli!" ucap ku ketika mobil Julian melewati sebuah apotik terbesar dan terlengkap di Kota ini.


Julian sempat terkejut namun setelah itu ia segera menepikan mobilnya.


"Mau apa, Farissa?" tanya Julian.


"Ada yang ingin aku beli di Apotik itu. Kamu tunggu sebentar, ya!" ucap ku seraya membuka pintu mobil.


Julian pun mengangguk seraya tersenyum kepadaku. "Baiklah, tapi jangan lama-lama ya! Aku sudah kebelet." sahut Julian.


"Owh, Ok! Aku janji tidak akan lama." sahut ku.


Akupun segera melangkah dan menuju Apotik itu. Sesampainya disana, aku segera meminta Apoteker untuk memberikan obat yang aku inginkan.


Setelah Apoteker itu menyerahkannya obat yang aku inginkan, akupun segera membayar dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.


Aku menghampiri mobil Julian dan masuk kedalam mobilnya. Julian kembali tersenyum kepadaku kemudian kembali melajukan mobilnya.


"Apa yang kamu beli, Farissa?" tanya Julian


"Bukan apa-apa, cuma obat untuk melancarkan tamu bulanan ku." sahut ku sembarang.


Julian manggut-manggut tanpa curiga sedikitpun kepadaku. Padahal aku membeli obat ini untuknya. Aku ingin melancarkan aksi nekat ku yang kedua dan jika ini masih tidak berhasil berarti tamat sudah riwayat ku.


Setibanya di kediaman Julian, aku segera memasuki kamarku dan membersihkan diriku. Ini pertama kalinya aku melakukan ritual mandi ku dengan waktu yang cukup lama. Berbagai ritual aku lakukan demi kelancaran aksi ku malam ini.


Setelah selesai dengan kamar mandi, aku segera menuju lemari pakaian ku. Mengambil sebuah Lingerie terseksi yang pernah aku beli. Lingerie berwarna cerah namun transparan.


Setelah itu, aku berhias secantik mungkin. Menggunakan lipstik berwarna cerah secerah lingerie yang aku kenakan.


Aku sempat terkekeh ketika melihat bayangan ku didalam cermin. Aku tidak menyangka, aku akan senekat ini hanya untuk memenuhi janji ku kepada Tuan Joseph.


Setelah selesai, aku segera meraih obat yang aku beli di apotik tadi sore kemudian membawanya ke dapur. Aku sempat meraih kimono tidur dan mengenakannya untuk menutupi tubuhku. Aku tidak ingin para pelayan membulatkan mata mereka ketika melihat aku dengan pakaian yang tidak senonoh ini.


Setibanya di dapur, aku meminta salah satu pelayan membuatkan minuman untukku dan Julian. Pelayan itu sempat memperhatikan riasan wajah ku yang tidak seperti biasanya.


"Kenapa, Bi? Apa aku terlihat aneh?" tanya ku


Pelayan itu tersenyum padaku, "Tidak Nona, malah sebaliknya. Anda terlihat sangat cantik malam ini." sahut Pelayan itu. Aku tersenyum ketika mendengar jawaban Pelayan itu walaupun aku tidak yakin apakah Pelayan itu berkata jujur padaku.


Setelah selesai membuatkan minuman itu, pelayan segera menyerahkannya kepadaku. Aku memasukkan obat yang tadi aku beli, kedalam minuman milik Julian. Kemudian membawanya ke kamar Suami kemayu ku.


Tanpa mengetuk pintunya, aku langsung masuk kedalam kamar dengan sebuah nampan di tanganku. Tepat disaat itu Julian baru saja keluar dari kamar mandi dengan kinomo mandi yang menutupi tubuh polosnya. Wajah tampannya semakin terlihat sempurna dengan rambut yang masih setengah basah.


"Farissa?!"


Julian tersenyum tipis sambil memperhatikan penampilan ku. Kamu belum tahu saja, Julian! Apa yang tersembunyi dibalik kimono tidurku. Aku yakin kamu akan lari setelah aku membuka kimono ku.


"Kenapa memperhatikan aku seperti itu? Apa aku terlihat cantik?" tanyaku seraya duduk di tepi tempat tidurnya sambil memperhatikan Julian yang mematung menatapku.


Julian terkekeh pelan, "Ya, kamu terlihat sangat cantik malam ini, tapi... kamu mau kemana dengan riasan seperti itu?!" tanya nya


Aku meraih minuman yang sudah ku kasih obat dan menyerahkannya kepada Julian. Aku juga mengajaknya untuk duduk disamping ku. Julian menurut saja, setelah menyambut minumannya, kini dia duduk disamping ku sambil terus memperhatikan wajahku.


"Aku ingin menikmati minuman ini bersama mu sebelum aku pergi tidur." sahut ku seraya meraih tangan Julian yang sedang memegang gelas minumannya dan menuntun Julian agar segera meminum minuman itu.


Tanpa curiga, Julian pun segera meneguk minumannya bahkan sampai tetes terakhir. Aku tersenyum puas ketika Julian menghabiskan minumannya. Dia terlihat bingung namun tidak bertanya apapun kepadaku.


Matanya tetap tertuju padaku hingga akhirnya aku bangkit dari posisi duduk ku dan kini berdiri tepat di depannya.


"Apa yang kamu lakukan, Farissa?!" tanya Julian seraya memperhatikan aku yang sedang melakukan aksi nekat ku di hadapannya.


Perlahan ku lepaskan ikatan kimono tidurku. Kemudian sedikit demi sedikit, kimono itu meluncur dari tubuhku hingga akhirnya kimono itu tergeletak dibawah kakiku.


Mata Julian membulat sempurna ketika ia harus dihadapkan dengan pemandangan yang aku ciptakan didepan wajahnya.


"Fa-Farissa?!"


Obat itu sepertinya sudah mulai bereaksi. Aku melihat Julian menelan saliva nya ketika menatap tubuhku. Dia berkali-kali mengelus tengkuknya dan mengacak rambutnya.


Sepertinya ia sudah mulai kepanasan. Mari kita buat Julian semakin panas!


Tidak cukup sampai disitu, aku menghampirinya dan duduk diatas pangkuannya.


"Fa-Farissa, aku tidak... Ehmmm..."


Aku tau apa yang ingin dia ucapkan, maka dari itu ku tutup mulutnya agar tidak melanjutkan ucapannya dengan cara melabuhkan ciuman hangat ku lagi.


...Bersambung......