Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Ruko


Di bandara,


Alessandro menatap lekat kepadaku. Wajahnya sendu dan matanya terlihat berkaca-kaca. Dia menggapai tanganku kemudian menggenggam nya dengan sangat erat.


"Ge, aku pasti akan sangat merindukan mu..."


Akupun sebenarnya sama. Aku sedih ketika Alessandro harus pergi jauh dariku dan anak-anaknya. Namun apalah daya ku, dia bukan siapa-siapa ku dan aku tidak bisa melarangnya.


"Aku juga akan merindukan mu, Alessandro."


Kemudian Alessandro memeluk ku dengan tubuh bergetar. Aku rasa dia tengah menangis sekarang. Aku hanya bisa menepuk punggungnya dengan lembut hingga ia melepaskan pelukannya.


Seandainya EL melihat ini, aku yakin sekali EL pasti akan membunuh ku. Alessandro menyeka air matanya kemudian merogoh saku jacket yang sedang ia kenakan.


Alessandro memberikan sebuah kunci padaku sambil tersenyum. Aku sambut kunci itu dan ku perhatikan, aku bingung sebenarnya itu kunci apa.


"Kunci apa ini, Alessandro?"


"Nanti Fania yang akan memberitahu mu."


Aku masih menimang-nimang kunci itu kemudian memasukkan nya kedalam tas ku.


"Ini sudah saatnya aku berangkat..."


Alessandro kelabakan, ia segera menghampiri Fariz dan Farissa. Ia terus menciumi wajah kedua anaknya sambil terisak. Sekarang aku benar-benar yakin, Alessandro sangat mencintai anak-anaknya.


"Ayah akan sangat merindukan kalian..."


Alessandro menyeka air matanya untuk kedua kalinya kemudian perlahan ia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya kepada kami.


Aku terus menatap kepergiannya hingga ia menghilang dari penglihatan ku. Aku masih mematung sambil menatap tempat, dimana Alessandro menghilang dari pandangan ku.


Tiba-tiba Fania meraih tanganku, "Ayo! kita pulang, Ge..."


Akupun mengangguk dan mengikuti langkah kaki Fania yang sedang mendorong kereta si Kembar.


"Ini pertama kalinya aku melihat Kak Aley menangis seperti itu... Sepertinya dia sangat mencintai kalian." ucap Fania tanpa menoleh padaku.


"Aku sudah pernah melihatnya menangis, bahkan lebih parah dari itu..." sahut ku


Fania menoleh kepadaku sambil mengerutkan keningnya, "Benarkah?!"


Sepertinya Fania tidak mempercayai kata-kata ku. Ia terus menatap ku dengan tatapan anehnya.


"Ya, dulu saat kejadian itu. Alessandro sedang mabuk berat dan dia terisak, menangisi hubungannya dengan Sarra."


Fania kembali menoleh kepadaku sambil terkekeh pelan. Aku yakin sekali dia sudah mengetahui semua cerita tentang Alessandro. Karena aku pernah dengar, hubungan Alessandro dan adik perempuannya sangat dekat.


-


"Maaf ya, Ge! Aku memanggil mu Ge, karena jika aku memanggil mu dengan sebutan Kakak Ipar, kok aku merasa lucu. Usia ku kan, jauh lebih tua dari mu..." ucap Fania


"Tidak apa... Memang berapa usia mu?"


Fania kembali tersenyum, "Usia ku sudah 28 tahun, Ge! Sedangkan kamu masih 21 tahun, kan?" ucap Fania lagi.


Akupun mengangguk sambil membalas senyuman Fania.


Setibanya ditempat parkir, Fania segera memasukan Fariz dan Farissa kedalam mobil. Disusul oleh ku kemudian Fania.


Fania menggantikan posisi Alessandro, kini ia yang menyetir mobilnya dan membawa ku ke suatu tempat.


"Kita mau kemana, Fania? Sepertinya ini bukan jalan menuju pulang, kan?!" ucap ku sambil memperhatikan jalan.


Fania menoleh ku sambil terkekeh, "Aku akan menunjukkan sesuatu kepada mu." sahutnya,


Akupun manggut-manggut saja, terserah lah kemanapun Fania membawaku.


Tiba-tiba saja aku teringat akan Nyonya Liliana. Walaupun wanita itu sudah pernah menyakiti hatiku. Namun biar bagaimanapun juga, dia adalah Ibu dari suamiku dan juga nenek dari kedua anakku.


Fania menghembuskan nafas panjang sambil terus fokus kearah jalan.


"Sekarang, Mami sering sakit-sakitan. Dia bahkan sering terlihat melamun dan bersedih. Kamu bisa menjenguknya, Ge. Aku yakin Mami pasti senang. Ajak serta ponakanku yang ganteng dan cantik itu..." ucap Fania


Aku menghela nafas panjang, "Sebenarnya aku tidak yakin, dia mau menerima kehadiran ku dan aku juga takut bertemu dengan Nyonya Liliana. Aku takut dia akan semakin marah padaku..."


Ya, mengingat kejadian terakhir, disaat dia menyerang dan menyeret ku di hari pernikahan ku membuat aku bergidik ngeri. Aku semakin ketakutan akan sosoknya. Dia sudah sering menyakiti perasaan ku dan aku tak ingin itu terjadi lagi.


"Tidak akan, Ge! AKu berani jamin." ucap Fania yakin sambil tersenyum hangat padaku.


"Mungkin nanti..." sahut ku


Selang beberapa menit, Fania menghentikan mobilnya didepan sebuah ruko kecil bertingkat dua.


"Ayo, Ge!"


Fania mengajak ku keluar dari mobilnya kemudian ia juga mengeluarkan si kembar. Aku sempat bingung mengapa Fania mengajak ku berdiri didepan ruko itu,


"Mana kunci yang diberikan oleh Kak Aley padamu tadi?"


Fania mengulurkan tangannya meminta kunci yang tadi diberikan oleh Alessandro kepadaku. Aku merogoh tas kecil ku kemudian menyerahkan kunci itu kepada Fania.


Fania tersenyum menyambutnya kemudian ia membuka kunci Ruko tersebut dengan menggunakan kunci yang kuserahkan tadi.


Akhirnya ruko itu terbuka, Fania mengajakku masuk kedalam. Aku memperhatikan ruko tersebut secara seksama.


"Ruko ini milik mu, Ge! Kak Aley yang memberikannya untukmu. Kamu bisa memulai usaha kecil-kecilan mu disini. Dan di lantai atas bisa kamu gunakan untuk beristirahat jika kamu kelelahan."


Aku membulatkan mataku, aku tidak percaya Alessandro akan memberikan aku hadiah yang sebesar ini.


"Tapi aku tidak bisa menerimanya, Fania! Hadiah ini terlalu besar."


Fania tersenyum kemudian ia meraih tanganku dan meletakkan kunci itu kembali kedalam genggaman ku.


"Jika kamu tidak bisa menerimanya untuk dirimu, paling tidak anggap ini hadiah Kak Aley untuk kedua anaknya."


Aku terdiam sambil memperhatikan kunci yang ada di telapak tanganku. Aku memang membutuhkan sebuah tempat untuk memulai usaha ku. Tapi bukan seperti ini maksudku, aku bisa sendiri. Aku tak butuh bantuan Alessandro maupun EL.


"Sudahlah, Ge! Terimalah... Demi kedua ponakanku yang ganteng dan cantik ini!"


Ucap Fania seraya mencubit-cubit kedua pipi Fariz dan Farissa sambil terkekeh pelan.


Aku menyimpan kembali kunci itu dan memperhatikan ruangan ruko itu. Ruko nya sangat sesuai dengan keinginan ku.


Tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil. Semua peralatannya juga sudah tersedia, tinggal ditempati saja.


Aku melangkah menaiki anak tangga menuju lantai dua. Setelah ku buka pintunya, ternyata sebuah ruangan yang sangat nyaman digunakan untuk beristirahat.


Aku tersenyum, aku berhutang banyak pada Alessandro. Memang sebelumnya aku pernah membicarakan hal ini kepada lelaki itu. Dia terlihat manggut-manggut saja ketika aku bercerita.


Dan aku benar-benar tidak menyangka ternyata Alessandro memikirkannya hingga sedetail ini.


"Bagaimana Ge, kamu suka?" tanya Fania dari lantai dasar.


Aku tersenyum sambil menuruni anak tangga dan menghampiri mereka, "Aku suka, sangat-sangat suka!"


"Baguslah kalau begitu. Jadi kapan kamu mulai membuka usaha mu?!" tanya Fania lagi,


"Mungkin dalam beberapa hari lagi. Aku harus mempersiapkan bahan-bahan nya dulu." sahut ku,


Fania tersenyum, "Hubungi aku, ya! Aku siap membantu mu!"


***