Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Menunggu


Aku masih terdiam sambil menatap jarum jam yang terus bergerak. Sudah berjam-jam aku duduk disini, menunggu kepulangan nya.


Bahkan sudah tiga kali Nur mendekatiku dan mengajakku untuk kembali ke kamarku. Namun aku masih ingin menunggu EL sama seperti biasanya. Duduk di sofa ruang utama, berharap EL cepat pulang.


Bahkan sudah lewat tengah malam, EL belum juga pulang. Jika ia memang harus pulang larut, paling tidak ia bisa menghubungi ku agar aku tidak terlalu mencemaskannya.


Hingga akhirnya kantuk ku tidak bisa ku tahan lagi. Dan akupun tertidur.


💔💔💔


"Nona, Ge! Bagunlah Nona!"


Samar-samar, kudengar suara Nur memanggil ku. Tubuhku pun serasa ada yang menggoyang-goyangkan.


Ternyata benar. Setelah ku buka mataku, Nur sudah berada disamping ku mencoba membangunkan aku dari tidur singkat ku.


"Nona, ini sudah pagi... Apa Tuan EL belum juga kembali?" tanya Nur,


Aku bangkit dan mengubah posisiku. Aku duduk sambil mengusap wajahku kasar. Ternyata aku ketiduran di sofa karena menunggu kedatangan EL.


Nur menatapku dengan tatapan sendu, mungkin ia iba akan nasibku. Ku sentuh pipinya sambil tersenyum,


"Mungkin EL ada keperluan mendadak yang tidak bisa ia tinggalkan. Makanya ia tidak pulang tadi malam," sanggah ku,


Kemudian aku bangkit dan segera menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi ku seperti biasanya.


Setelah selesai dengan urusan dapur dan mengisi perut, aku dan Nur memutuskan untuk duduk bersantai sambil menemani si kembar diruang utama.


Akhirnya jam menunjukkan pukul 09.00 pagi, terdengar suara deru mobil EL dari halaman depan.


Aku dan Nur saling tatap. Nur reflek menoleh kearah jam dinding. Selang beberapa saat akhirnya EL sudah berdiri didepan kami.


Setelah kedatangan EL, Nur segera bangkit dan membawa Fariz dan Farissa ke halaman depan. Kini tinggal aku dan EL yang berada diruangan itu.


EL menjatuhkan dirinya tepat disampingku. Ia tersenyum kemudian meraih tanganku,


"Ge, maafkan aku... Tadi malam, Arini merengek agar aku tidur di rumah mereka. Aku sempat menolak, namun Arini malah menangis dan aku tidak tega untuk menolaknya..." ucap EL,


Aku masih menatapnya. Aku sudah menduga hal ini dari awal dan itulah sebabnya mengapa aku memilih untuk mundur.


"Seharusnya kau hubungi aku, EL. Apa kau tahu, aku duduk disini menunggu mu hingga lewat tengah malam. Bahkan akupun tertidur disini..." ucap ku


EL menghembuskan nafas panjang, "Maafkan aku, Ge! Ponsel ku lowbatt ketika aku ingin menghubungi mu..." sahut EL memelas,


"Apa kamu masih mencintai Bella, EL? Katakanlah sejujurnya... jauh dari lubuk hatimu!" ucap ku sambil ku sentuh dada bidangnya.


El menghembuskan nafas panjang. Dan ku harap EL bersedia mengatakan yang sejujurnya kepadaku, tentang perasaannya yang sebenarnya kepada Bella.


"Inilah yang membuat aku kacau, Ge! Aku tau semua ini pasti akan terjadi... Aku berada diantara dua pilihan sulit. Yang pertama anakku dan yang kedua dirimu..."


"Jawab pertanyaan ku, EL! Apa kamu masih mencintai Bella?!" potong ku,


"Aku tidak mencintainya, Ge! Harus bagaimana lagi aku menjelaskannya padamu?!" sahut EL dengan wajah serius membalas tatapan ku.


"Apa kamu yakin dengan jawaban mu, EL?" tanyaku sekali lagi.


EL mengubah posisi duduknya dan sekarang ia duduk menghadap ku.


"Ge, percayalah padaku! Dan ku mohon padamu, beri aku waktu. AKu dan Bella sudah membicarakan masalah ini. Kami akan memberikan pengertian kepada Arini secara perlahan bahwa aku dan Bella tidak bisa hidup bersama seperti keinginannya." sambung EL


Aku menelan saliva ku dengan susah payah ketika mendengar jawaban darinya.


"Tapi, EL... aku bersedia mundur jika seandainya aku hanya menjadi penghalang untuk kalian. Aku ikhlas..." ucap ku


💔💔💔


Beberapa hari kemudian,


Setelah hari itu, EL memang tidak pernah lagi menginap di kediaman Bella tetapi ia masih pulang larut malam, sama seperti biasanya.


Dan akupun tidak ingin menunggu kepulangan nya lagi. Aku sudah lelah dan tak ingin berharap lagi padanya.


Setelah EL berangkat ke butiknya, aku bersantai sambil menemani si Kembar diruang utama. Sedangkan Nur lagi sibuk merapikan mainan Fariz dan Farissa yang berserakan.


"Nur... jika seandainya aku dan Tuan EL berpisah, kamu akan bekerja dimana? Tetap bersama Tuan EL atau bekerja ketempat lain?"


Tiba-tiba saja aku mempertanyakan hal itu kepada Nur. Nur tersentak kaget, kemudian segera menghampiriku.


"Kenapa Nona berkata seperti itu?!"


Nur membelalakan matanya dan saat aku melihatnya seperti itu, aku jadi terkekeh. Wajahnya terlihat sangat lucu,


"Ya, itu kan cuma seumpama saja, Nur!" sahut ku


"Ih, Nona jangan bicara seperti itu lagi! Tidak baik, Nona!" ucap Nur sambil menekuk wajahnya,


Disaat ia ingin beranjak meninggalkan aku, aku menarik tangannya dan mengajaknya untuk duduk bersamaku di sofa itu.


"Duduklah, Nur. Temani aku..."


Nur pun duduk disamping ku sambil terus memperhatikan ekspresi ku.


"Nur... seandainya itu terjadi, bagaimana?" tanya ku lagi.


Ku balas tatapan Nur yang memiliki wajah manis itu sambil tersenyum. Ekspresi wajah Nur berubah menjadi sedih,


"Nona... jika Nona mengijinkan aku, aku akan ikut sama Nona untuk merawat Fariz dan Farissa. Aku sudah terlanjur menyayangi mereka, Nona. Mereka bahkan seperti keponakan ku sendiri dan Nona sudah seperti Kakak untukku..." sahut Nur dengan mata yang berkaca-kaca.


Aku menghela nafas panjang kemudian merengkuh tubuhnya yang jauh lebih besar dariku.


"Sebenarnya aku ingin memulai sebuah usaha, Nur. Aku ingin menyibukkan diriku. Kira-kira usaha apa ya, Nur yang tepat untukku?!" tanyaku,


Sebenarnya aku sudah lama memikirkan tentang usaha ini. Aku ingin membuat diriku sibuk, hingga aku tidak terlalu memikirkan masalah rumah tangga ku yang makin hari kurasa semakin ruwet.


Dan sejujurnya, tujuan ku membuka usaha bukan hanya untuk menyibukkan diri. Namun juga untuk membekali diriku.


Nur nampak berpikir sedangkan aku memperhatikan dirinya yang sedang berpikir sambil tersenyum simpul.


"Usaha seperti apa dulu, Non?" tanya Nur


"Bagaimana kalau aku membuka toko kue ya, Nur?! Kira-kira cocok, gak?" tanyaku balik,


Nur menatapku dengan seksama kemudian tersenyum,


"Cocok-cocok saja, Tapi... emang Nona bisa bikin kue?!" ucapnya.


Aku tergelak mendengar ucapan Nur yang begitu jujur. Aku memang tidak terlalu mengerti dengan dunia baking-baking'an namun aku ingin sekali belajar.


"Aku ingin belajar, Nur. Doakan saja ya, semoga semua keinginan ku tercapai... Aku ingin mandiri dan tak tergantung pada siapapun lagi."


Nur kembali tersenyum padaku, "Semangat, Nona! Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu." sahut Nur


...----------------...