Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Kemalangan Julian


Aku emosi dan segera bangkit dari tempat duduk ku. Aku menghampiri meja pasangan itu dan meraih sebuah gelas minuman yang berada dihadapan Leo.


Byurrr!!!


Air di gelas itu meluncur ke wajah Leo. Ya, aku menyiramkan minuman itu ke wajah Leo. Hingga ia terkejut dan benar-benar emosi setelah mengetahui bahwa yang menyiramkan minuman itu adalah aku.


"Dasar wanita aneh! Apa yang kau lakukan kepadaku?!" hardik nya seraya melotot kepadaku.


Aku tersenyum sinis kepada pasangan itu. Aku menatap wajah mereka secara bergantian. Leo dan Wanita cantik itu.


"Ya, aku memang wanita yang aneh! Dan yang lebih aneh lagi, diri mu! Kamu mempermainkan perasaan Julian. Bagaimana jika Julian mengetahui hal ini, aku yakin sekali kamu akan ditendang olehnya!" sahut ku,


Lelaki bertubuh besar itu bangkit dari tempat duduknya kemudian menghampiri ku. "Jangan pernah berani ikut campur urusan ku, Nona! Aku tidak ingin menyakiti mu. Sebaiknya kamu berpikir ribuan kali jika ingin berurusan denganku!" sahutnya seraya mengacungkan jari telunjuknya kedepan wajahku.


"Apa kau pikir aku takut dengan ancaman mu, Tuan Leo?! Maaf mengecewakan mu, tapi aku tidak takut sama sekali dengan ancaman cemen mu itu!" ucap ku,


Tiba-tiba Leo mengangkat tangannya ke udara. Dia ingin melayangkan sebuah tamparan di wajahku. Aku terkejut namun untuk menghindar dari pukulannya, aku rasa tidak mungkin.


Aku memejam kan mataku dan mencoba menahan tamparan dari lelaki bertubuh besar yang sedang marah besar kepadaku.


Tetapi baru saja aku memejam kan mataku, tiba-tiba terdengar suara berat Om Fikri disamping ku. Perlahan aku membuka mataku dan memperhatikan Om Fikri yang tengah berdiri dengan gagah disamping kiri ku.


"Malu lah pada tubuh mu yang besar itu, Tuan! Kamu mempermalukan dirimu dengan memukul seorang wanita. Jika kamu memang seorang pemberani, hadapi aku!" ucap Om Fikri seraya menahan tangan Leo yang masih menggantung di udara.


Leo mendengus kesal kemudian melepaskan genggaman tangan Om Fikri dengan kasar. Dia meraih teman wanitanya dan membawanya pergi dari Kafe milik Om Fikri.


Namun sebelum beranjak, Leo sempat mengancam ku. "Awas saja kamu, Farissa! Aku akan buat perhitungan dengan mu!" ucapnya,


"Sebelum kamu menyentuh keponakan ku, kamu akan berhadapan denganku, Tuan!" sahut Om Fikri.


Om Fikri ingin mengejar Leo namun sempat ku tahan. "Jangan, Om! Biarkan dia. Aku rasa dia hanya menggertak saja." ucap ku.


Om Fikri menghampiri ku kemudian menatap mataku tajam, "Kamu tidak apa-apa, kan?!" tanya Om Fikri.


Aku tersenyum kepadanya, "Aku baik-baik saja, Om. Om tenang saja! Maafkan aku ya, Om. Karena Farissa, Kafe milik Om jadi pusat perhatian..." ucap ku


Om Fikri tersenyum kemudian menepuk pundak ku dengan lembut. "Tidak apa, sebaiknya kamu kembali ke Toko mu. Para karyawan mu sudah pada bengong, tu lihat!" sahut Om Fikri,


"Baik, Om. Terimakasih atas bantuannya!" ucap ku seraya beranjak dari tempat itu.


"Kalau lelaki itu macam-macam padamu, jangan sungkan untuk mengatakannya kepada Om. Biar Om kasih pelajaran lelaki cemen seperti dia!" ucap Om Fikri setengah berteriak karena aku sudah lumayan jauh darinya.


Aku tersenyum kemudian mengacungkan jempol ku kepadanya, "Baik, Om!"


Akupun kembali ke toko ku dan melanjutkan pekerjaan ku. Salah seorang karyawan ku bertanya padaku, "Siapa laki-laki tadi, Non? Sumpah deh, aku ikutan kesal melihatnya. Beraninya sama cewek aja!"


Akhirnya tidak terasa, sore pun menjelang. Aku bergegas kembali ke kediaman Julian. Mengingat Julian, aku jadi teringat akan kejadian tadi siang di Kafe milik Om Fikri. Dimana aku dan Leo tengah bertengkar.


Aku merasa bodoh, kenapa tidak ku rekam saja pembicaraannya dengan teman Wanitanya tadi? Dengan begitu, aku punya bukti yang kuat untuk meyakinkan Julian bahwa dia hanya dimanfaatkan oleh Leo.


Namun nasi sudah menjadi bubur. Tapi ku harap Julian mempercayai kata-kata ku daripada Leo si penipu itu.


Setibanya di halaman rumah Julian, aku melihat sebuah mobil mewah terparkir disana. Akupun segera memarkirkan mobil ku tepat disamping mobil mewah itu.


Aku tidak tahu siapa pemilik mobil ini karena aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Setelah puas memandangi mobil mewah itu, aku bergegas memasuki rumah mewah milik Julian. Langkah kakiku tiba-tiba terhenti ketika melewati ruang utama.


Ku lihat Julian tengah terisak di sofa dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dan seseorang berdiri sambil bertolak pinggang di hadapannya.


Perlahan aku menghampiri Julian dan memperhatikan seseorang yang berdiri dihadapan Julian. Ternyata orang itu adalah August, adiknya Julian.


Aku begitu iba dengan nasib lelaki kemayu ini. Bagaimana tidak, dia selalu di injak oleh orang-orang disekitarnya. August yang seharusnya memberi dukungan untuk Julian agar ia bisa berubah menjadi lelaki seutuhnya, malah semakin mengucilkan dirinya. Begitupula Leo, lelaki yang begitu dipercaya olehnya malah memanfaatkan dirinya.


Aku duduk disamping Julian sambil merengkuh pundaknya. Kemudian mataku tertuju pada sosok menyebalkan dihadapan ku.


"Masih belum puas kamu menghina saudara mu sendiri, August?!" ucap ku,


August tersenyum sinis padaku, "Aku tidak sudi menganggap lelaki menjijikkan ini sebagai saudaraku! Aku kesini cuma ingin memperlihatkan surat wasiat dari Daddy. Bahwasanya Daddy telah mewariskan seluruh harta kekayaannya kepadaku. Dan itu artinya Julian tidak berhak mengusik seluruh harta kekayaan serta aset-aset berharga milik Daddy, karena sekarang, semua itu adalah milik ku." sahutnya seraya memperlihatkan sebuah berkas yang sedang ia pegang.


Aku menggelengkan kepalaku. Ternyata di kepala August hanya penuh dengan harta dan harta.


"Dan satu lagi, kalian tidak boleh lagi menginjakkan kaki kalian dirumahku. Kau dengar itu, Mrs. Julia?! Itu juga berlaku untukmu Farissa!" ucap August


"Baik! Akupun tidak akan menginjakkan kaki ku ketempat itu lagi!" ucap ku,


"Bagus! Kalau begitu, semuanya sudah jelas. Aku permisi dulu, semoga hari kalian menyenangkan!" ucapnya lagi, seraya beranjak dari ruang utama.


Setelah kepergian August, kini perhatian ku kembali tertuju kepada lelaki yang masih terisak disamping ku. Aku mengelus punggungnya dengan lembut.


"Julian..."


Julian mengangkat kepalanya kemudian menatapku, "Aku akan urus surat perceraian kita. Aku tidak ingin kamu turut merasakan akibat dari perbuatan ku." ucapnya


Aku membulatkan mataku, aku tidak percaya Julian akan mengatakan hal itu padaku.


"Tidak! Aku tidak mau, Julian. Aku akan tetap bertahan bersama mu walau apapun yang terjadi!" ucap ku,


Tiba-tiba saja, Julian memeluk ku. "Maafkan aku, Farissa! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi..." ucap Julian yang sudah putus asa dengan kehidupannya.


...***...