
Setelah aku diperbolehkan pulang oleh Dokter. Kini aku kembali beristirahat dirumah. Disaat aku sedang bersandar ditempat tidur ku dengan ditemani oleh Fariz dan Farissa yang berceloteh ria, EL mendekatiku.
"Bagaimana keadaan mu, Sayang?!" tanya EL,
EL duduk disamping ku dan mengangkat tubuh Farissa yang sedang tiarap kemudian memangkunya.
"Apa kamu tidak menjenguk anakmu?" tanya ku balik
EL menoleh padaku kemudian tersenyum.
"Aku sudah bilang sama Bella, kalau aku ingin menemani mu hari ini." sahut EL.
Aku menghela nafas panjang,
"Sebaiknya kamu temui Bella dan juga anakmu. Mungkin mereka lebih membutuhkan mu daripada aku. Lagipula aku baik-baik saja." ucap ku.
"Ayolah, Ge! Jangan bicara seperti itu!" ucap EL memelas.
"Aku kecewa padamu, EL! Jika seandainya kamu jujur sejak awal, mungkin aku tidak akan seperti ini..." ucap ku kesal
EL menatapku dengan tatapan sendu, "Sebenarnya aku takut untuk berkata jujur padamu, Ge. Aku begitu mencintaimu! Aku takut kamu kecewa kemudian meninggalkan aku. Aku tidak ingin terluka untuk kedua kalinya, aku ingin hidup bahagia bersamamu." sahut EL
"Dan apa kamu kira dengan menyembunyikan hal ini akan membuat aku bahagia?! Ternyata aku lebih kecewa, EL!" sahut ku,
EL menghembuskan nafas berat, "Maafkan aku..."
Aku tidak tahu bagaimana kisah rumah tangga ku setelah ini. EL benar-benar sedang berada di pilihan yang sangat sulit. Apakah ia akan memilih ku atau akan memilih Bella dan anaknya.
Aku rasa EL akan memilih Bella dan anaknya. Lagipula aku dan EL tidak memiliki anak yang akan menjadi penguat dalam hubungan kami.
Akupun sudah memiliki perencanaan jika seandainya EL memilih Bella dan anaknya. Aku akan melanjutkan hidup ku bersama Fariz dan Farissa. Hanya bertiga, tanpa siapapun lagi.
***
Beberapa hari kemudian.
Aku sudah bisa beraktivitas seperti biasanya. Setelah bangun tidur, melakukan ritual mandi, berpakaian kemudian berkutat di dapur.
Tapi sayang, walaupun kesehatan ku sudah kembali seperti semula. Namun tidak dengan hatiku. Jujur rasa kecewa itu masih ada. Aku masih belum bisa menerima semua yang terjadi didalam rumah tangga ku.
Aku belum bisa menerima hadirnya sosok Bella dan juga anak mereka. Sebenarnya aku ingin menyerah dan membiarkan EL kembali bersama keluarga kecilnya. Namun aku masih sangat mencintainya.
Hari ini aku meminta EL untuk mengajakku menjenguk anaknya dengan membawa serta Fariz dan Farissa.
"EL, aku ingin menjenguk anakmu, bolehkan?" ucap ku
EL nampak berpikir sejenak, namun setelah itu iapun mengangguk sambil tersenyum padaku.
"Tentu saja, kapan?" tanya EL,
"Sekarang pun boleh, itupun kalau kamu tidak sibuk." jawabku,
"Baiklah, aku akan memanaskan mesin mobil ku dulu." sahut EL,
EL segera melangkah keluar, dimana mobilnya berada kemudian memanaskan mesin mobilnya. Sedangkan aku segera bersiap-siap, mempersiapkan apa saja yang harus aku bawa. Yang pasti perlengkapan untuk si kembar karena aku akan mengajak serta mereka.
Setelah selesai mempersiapkan keperluan si kembar, aku segera menghampiri EL yang masih berkutat di halaman depan.
"Kalian sudah siap?" tanya EL seraya mendekati ku kemudian merengkuh pinggang ku.
Jika biasanya, disaat EL merengkuh pinggang ku seperti itu, aku pasti akan membalasnya dengan melingkarkan tanganku ke lehernya. Namun untuk sekarang, aku tidak bisa melakukannya.
"Ya, tinggal menunggu dirimu." sahut ku.
EL terus memberikan senyuman terbaiknya kepadaku. Tapi aku hanya bisa menatap wajahnya tanpa membalas senyuman nya.
EL membantu ku mendudukkan Fariz dan Farissa di car seat. Kemudian aku duduk disamping EL yang akan mengemudikan mobilnya.
Kini Mobil EL sudah melaju menuju kediaman Bella.
"EL, Bagaimana perasaan mu sama Bella? Apa kamu masih mencintainya?"
Tiba-tiba saja, aku menanyakan hal itu kepada EL. EL sempat menoleh kepadaku kemudian ia kembali fokus kejalan. Aku tetap memperhatikan reaksinya, aku ingin tahu bagaimana perasaan EL yang sebenarnya kepada mantan istrinya itu.
"Aku tidak mempunyai perasaan apapun padanya, Ge! Aku hanya mencintai mu. Hanya kamu!" sahutnya,
Dia memang tidak menoleh kearah ku saat mengatakannya. Aku tidak melihat matanya saat mengatakan hal itu. Namun bisa di maklumi karena kami sedang di perjalanan. EL tidak mungkin terus fokus kepadaku.
"Semoga saja itu benar!" sahut ku,
"Ya ampun, Ge! Kamu masih tidak percaya padaku?!" sahut EL sambil menghela nafas panjang.
Setelah pembicaraan singkat itu, baik aku maupun EL tidak ada yang mengeluarkan sepatah katapun lagi. Hanya terdengar suara deru mobil sedangkan kedua bayiku tengah tertidur lelap di jok belakang.
Kini mobil EL sudah tiba di halaman depan rumah Bella. Bella sudah menyambut kami dengan senyuman hangat. Mungkin EL sudah menceritakan perihal kedatangan ku.
Setelah aku keluar dari mobil, Bella segera menghampiri kemudian memeluk tubuhku.
"Hai, Ge! Apa kabar? Aku sangat senang akhirnya kamu bersedia berkunjung ke tempatku." ucap Bella.
"Aku baik, terimakasih!" sahut ku.
Bella mengajak ku masuk kedalam rumahnya. Begitupula EL, dia mengikuti langkah ku dan Bella dengan membawa Fariz dan Farissa yang masih tertidur nyenyak.
"Mari sini, Ge! Aku kenalkan sama Arini, putri ku."
Bella mengajakku memasuki kamar anaknya yang bernama Arini. Aku membulatkan mataku ketika Bella membuka pintu kamar Arini dan melihat kondisinya saat ini.
"Ge, ini Arini... putri ku. Arini sayang, ini tante Ge." ucap Bella memperkenalkan aku dan Arini.
Ya, Tuhan! Hatiku bagai tersayat-sayat! Bagaimana tidak, gadis cantik yang masih berusia 5 tahun, masih lucu-lucunya, harus mengalami hal seperti ini.
Aku mendekatinya, tak terasa airmata ku menetes di sudut mataku. Aku tidak tahu, hati Bella terbuat dari apa, hingga ia begitu tegar melihat kondisi anak semata wayangnya seperti ini. Jujur, aku tidak mungkin setegar Bella.
"Hallo, Sayang?" sapa ku,
Arini tersenyum kepadaku, gigi susunya terlihat menggemaskan ketika ia tersenyum. Tangannya masih terpasang infus, perban di tubuhnya pun masih melekat.
Kata Bella, Arini masih sering merasa kesakitan. Dia juga tidak mau makan hingga tubuhnya terlihat sangat kurus. Makanya Infus masih dipasang di tubuhnya.
"Hallo juga, Tante..." sahutnya. Begitu menggemaskan!
"Tante, Tante Ge, kan?! Tante cantik ya..." sambung Arini.
Aku tersenyum dan duduk disampingnya.
"Oh ya, Ge. Aku ke dapur dulu, ya! Kalian ngobrol aja dulu. Arini anaknya asik lo!" sambung Bella, kemudian ia segera pergi meninggalkan kamar Arini.
Kini tinggal aku dan Arini didalam kamar itu. Sedangkan EL, kulihat dia masih duduk diruang tamu bersama Fariz dan Farissa yang masih tertidur.
"Boleh tante lihat?!" ucap ku sambil menyentuh selimut yang menutupi bagian kakinya.
Dengan sangat hati-hati, aku menanyakan hal itu kepadanya. Aku tidak ingin dia sedih, tapi ternyata aku salah. Dia malah tersenyum kepadaku sambil mengangguk.
Dengan gemetar aku membuka selimut yang menutupi kaki Arini. Aku segera menutup mataku ketika melihat kondisi kakinya. Apa yang diucapkan oleh Bella itu benar.
Kaki kecil Arini sudah diamputasi karena kecelakaan yang ia alami bersama Bella. Oh Tuhan! Aku tidak tega melihat kondisinya. Aku segera merapikan selimut nya dan kembali menatap wajah polosnya.
***