Bayi Kembar Tuan AL

Bayi Kembar Tuan AL
Pisah Kamar


Setelah selesai berkemas, aku bergegas menuju lobby hotel. Dan ternyata Julian sudah menunggu ku disana. Wajahnya nampak biasa-biasa saja, tak sedikitpun ada rasa bersalah di wajahnya.


"Julian, kenapa kamu..." belum selesai aku berkata-kata, Julian sudah menarik tanganku dan menuntun ku menuju mobilnya.


"Ikut aku!" ucapnya,


Dengan tergopoh-gopoh aku melangkah mengikuti langkah kaki jenjang nya sambil menyeret koper ku.


Julian memasukkan tubuhku kedalam mobilnya dengan kasar. Aku bingung kenapa ia memperlakukan aku seperti ini. Padahal sebelum pernikahan, dia baik-baik saja padaku.


Julian masuk kedalam mobilnya dan duduk disamping ku. Ia bahkan tak menoleh sedikitpun kepadaku. Aku terus menatap wajahnya yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun. Padahal ia sudah meninggalkan aku di hotel itu sendirian, di malam pertama kami.


"Apa maksudmu memperlakukan aku seperti ini, Julian?! Kenapa kamu meninggalkan aku tadi malam?! Sebenarnya aku punya salah apa padamu?!" hardik ku,


Aku sudah tidak sanggup menahan pertanyaan itu di benakku. Aku tidak peduli walaupun Julian akan semakin marah padaku.


Julian menoleh kearah ku sambil tersenyum tipis. "Aku tidak punya maksud apapun. Aku meninggalkan mu karena aku ada pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggalkan." sahutnya,


Aku mengerutkan kening ku. Dengan semudah itu dia mengatakan alasannya. Apa dia tidak memikirkan bagaimana perasaanku tadi malam?!


"Di malam pertama kita, Julian? Kau masih memikirkan pekerjaan yang tidak bisa kau tinggalkan. Sepenting itukah pekerjaan mu? Hingga kau tega meninggalkan aku sendiri di hotel itu. Dan aku juga sudah berkali-kali menghubungi mu, namun kamu selalu memutus panggilan ku! Kenapa?!" ucap ku setengah berteriak kepadanya.


Julian kesal padaku, ia berpaling kearah ku kemudian menunjuk-nunjuk wajahku dengan jari telunjuknya.


"Baru satu hari jadi istri ku, kamu sudah bawel seperti ini! Diam, dan jangan campuri urusan ku. Bukankah sudah ku katakan padamu, bahwa pekerjaan ku adalah nomor satu di dalam hidupku. Jadi biasakanlah dirimu!" sahutnya,


Julian berbalik ke posisinya semula. Ia menekuk wajahnya dan tak ingin menatapku lagi.


"Kamu kejam, Julian!" ucap ku sambil membuang muka. Kini aku menatap jalan dengan tatapan kosong. Hatiku sakit menerima kenyataan ini. Julian tidak pernah benar-benar mencintaiku. Dia hanya mempermainkan perasaanku saja. Pantas saja, selama ini hatiku tidak terlalu yakin dengan pernikahan ini.


Julian tidak menjawab ucapan ku, dia tetap fokus menatap kedepan. Sopir Julian membawa mobil itu ke kediamannya. Dan setibanya disana, Julian mengajakku masuk kedalam rumahnya.


"Mulai sekarang kamu tinggal disini. Kamarku ada diatas dan kamarmu dibawah. Dan lakukan apa saja, tapi jangan ikut campur urusan pribadi ku! Paham?!" ucap Julian


Aku membulatkan mataku, aku tidak percaya dengan apa yang barusan ia katakan. "Apa kau bilang? Kamarku dibawah dan kamar mu diatas, berarti kita pisah kamar?! Pernikahan macam apa ini?!" hardik ku,


"Terima saja, Farissa. Beginilah pernikahan kita! Dan maaf, aku tidak bisa tidur bersamamu karena kau bukanlah tipe ku! Jadi biasakanlah dirimu!" sahutnya dengan enteng.


"Jadi untuk apa kau menikahi ku jika ternyata aku bukanlah tipe mu, Julian?!"


Aku teramat kesal, aku menyerangnya dengan pukulan berkali-kali ke dadanya. Julian nampak kesakitan kemudian ia menangkap tanganku dan menahannya.


"Jaga sikap mu, Farissa! Kau akan tau nanti, tapi untuk saat ini aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada mu!" sahutnya,


Julian melepaskan tanganku dengan kasar kemudian ia melenggang pergi menaiki anak tangga kemudian masuk kedalam kamarnya.


Hanya aku yang masih terdiam dengan airmata menatap kepergiannya. Aku tidak menyangka pernikahan ku akan jadi seperti ini. Seorang Pelayan menghampiri ku kemudian meraih koper ku,


Aku melangkah gontai menuju kamarku. Pikiran ku kacau. Semangat ku bahkan menghilang entah kemana. Setibanya didalam kamar, aku segera menjatuhkan tubuhku dan terisak ditempat tidur.


Tiba-tiba Pelayan yang tadi menuntun ku, menyentuh pundak ku sambil mengelusnya dengan lembut.


"Yang sabar ya, Nona." ucapnya, aku yakin sekali Pelayan itu tahu bagaimana kelakuan Julian yang sebenarnya. Kemudian Pelayan itu pamit padaku setelah membereskan barang bawaan ku dan meletakkannya didalam lemari.


Seharian aku mengurung diriku didalam kamar. Aku tidak ingin keluar, bahkan nafsu makan ku pun menghilang. Sepanjang hari aku hanya menangis meratapi nasib pernikahan ku yang begitu menyedihkan.


Beberapa kali Pelayan bolak-balik membujuk ku untuk makan namun aku menolaknya. Hingga akhirnya lelaki itu masuk kedalam kamar ku.


Ketika aku melihat Julian masuk kedalam kamar ku, aku segera berbalik dan membelakanginya. Julian melangkah mendekati tempat tidur ku kemudian duduk disamping tubuhku.


"Farissa, makanlah. Aku tidak ingin kamu sakit. Kalau kamu sakit, apa yang akan dikatakan oleh kedua orangtuamu? Mereka pasti akan menyalahkan aku. Aku akan sangat malu kalau kamu sakit. Masa istri dari seorang Desainer ternama seperti ku bisa sakit?!" ucapnya,


"Apa peduli mu?!" sahut ku,


"Ya peduli lah, kamu kan istri ku sekarang!" sahutnya.


"Heh! Istri kamu bilang? Istri diatas kertas, iya!"


Aku tersenyum sinis namun tetap pada posisi membelakanginya. Ingin sekali aku bangkit dan menghajar lelaki itu. Dengan mudahnya ia bicara seperti itu padaku.


"Terserah kamu mau bilang apa, yang pasti dimata hukum dan semua orang, kamu adalah Istri ku! Sebaiknya kamu cepat bangun dan segera ke ruang makan, makanan sudah disiapkan. Ayo, kurang baik apa coba aku sama kamu?!" ucapnya


"Kamu menyebalkan!" ucap ku seraya bangkit dan kini posisi kami saling berhadapan.


Julian hanya tersenyum manis kepadaku seraya mencubit dagu ku dengan lembut, "Kamu terlihat cantik ketika marah-marah seperti ini, Farissa!" ucapnya seraya bangkit dan melangkah menuju pintu kamarku.


"Akh!!!" aku berteriak kesal dan melemparinya dengan bantal. Julian hanya terkekeh sambil menutup pintu kamarku kembali. Ia sempat tersenyum lagi seraya melambaikan tangannya kepadaku.


Aku tetap tidak mau makan walaupun Julian yang memintaku. Namun keras kepalaku hanya bertahan hingga tengah malam. Ditengah malam, perutku sudah tidak dapat diajak kompromi lagi.


Aku kelaparan dan butuh makan. Sudah berkali-kali perutku berdendang ria meminta jatah mereka. Dengan terpaksa akupun keluar dari kamar kemudian menuju dapur.


Aku ingin mencari sesuatu untuk dimakan. Aku berjalan mengendap-endap agar orang-orang didalam rumah ini tak ada yang menyadari bahwa aku sedang kelaparan. Aku memeriksa Kulkas, siapa tahu ada makanan yang dapat mengganjal perutku malam ini.


"Kenapa, Farisaa. Kamu lapar?!"


Tiba-tiba Julian berada tepat dibelakang ku yang sedang berdiri didepan kulkas yang pintunya sedang terbuka.


"Bukan urusan mu!"


"Ah, ayolah... Farissa!" ucapnya sambil tergelak


***